Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




RAHASIA KEBANGUNAN ROHANI DI CHINA
(KHOTBAH YANG DISAMPAIKAN PADA PERAYAAN PERTENGAHAN MUSIM GUGUR CHINA)

(THE SECRET OF REVIVAL IN CHINA )
(A SERMON GIVEN AT THE CHINESE MID-AUTUMN FESTIVAL)
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Pagi, 22 September 2013

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8).


Ayat tujuh menjelaskan kepada kita bagaimana Paulus setelah beroleh selamat,

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Filipi 3:7).

Hidupnya berbalik ketika ia bertobat. Apa yang sebelumnya dia pikir itu baik, kini ia perhitungkan sebagai sesuatu yang buruk. Sebelum ia bertobat ia membenci orang-orang Kristen dan menolak Kristus. Tetapi ketika ia bertobat ia menolak ketidakpercayaannya dan menempatkan seluruh imannya kepada Yesus Kristus.

Ada selang waktu antara ayat 7 dan 8. Itu adalah periode antara pertobatan Paulus dan waktu ia menulis surat ini kepada jemaat Filipi. Selama periode ini ia melakukan perjalanan misinya. Tetapi sekarang atau ketika menulis surat ini dia sedang berada di dalam penjara di Roma, dan dia berkata,

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:8).

Paulus berkata bahwa ia telah hidup bagi Kristus sejak hari ia bertobat. Dia telah menderita dan kehilangan segala sesuatu. Tetapi segala yang hilang itu ia anggap tidak berharga – bukan apa-apa selain kotoran. Itu bahasa yang kuat! Dia membuang semua hal yang ia dulu cintai ke dalam toilet. Dia mencari Kristus saja! Apa yang ia dulu pikirkan sebagai hal yang paling penting dalam hidup, kini dia membuangnya seperti kotoran! Kristus adalah gol dan tujuan hidupnya!

Ketika saya masih remaja saya pergi ke rumah beberapa kerabat. Mereka memiliki banyak uang. Tetapi mereka tampak kosong dan palsu bagi saya. Saya pikir Tuhan menunjukkan itu kepada saya. Mereka memiliki segalanya - tetapi mereka tidak pernah dipuaskannya. Saya pikir, “Orang-orang ini tidak memiliki apapun yang saya inginkan.”

Beberapa tahun kemudian saya pergi ke sebuah rumah di mana beberapa misionaris lanjut usia, pensiunan para misionaris tinggal. Saya bisa mengingat wajah-wajah mereka dalam pikiran saya bahkan sampai sekarang. Mereka begitu damai, dan begitu bersukacita! Mereka tidak memiliki apa pun di dunia ini. Mereka harus tinggal di sebuah rumah untuk para misionaris, karena mereka tidak memiliki rumah mereka sendiri. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang para kerabat kaya saya tidak miliki - mereka puas dengan kehidupan. Mereka memiliki kedamaian dalam hati mereka. Saya ingat satu orang yang sangat tua nampak begitu berwibawa dengan rambut putih semua. Namanya Mr. Foxe. Dia memiliki mata biru, dan suara lembut. Dia pernah menjadi misionaris ke Cina sebelum Komunis mengambil alih kekuasaan. Saya ingat ketika saya berpikir, “Saya ingin menjadi seperti dia ketika saya sudah tua nanti, tidak seperti kerabat saya yang kaya itu.”

Saya ingat ketika pergi ke sebuah rumah di daerah Long Beach pada tahun 1962. Itu penuh dengan manusia – kemacetan dapat dilihat di setiap jengkal ruang. Kemudian Gladys Aylward datang untuk berbicara. Dia adalah seorang misionaris yang sangat terkenal yang pernah pergi ke Cina. Pada waktu itu dia sudah berusia lebih dari tujuh puluh lima tahun. Saya pikir dia memiliki mata paling bahagia yang pernah saya lihat! Dia tidak memiliki apa-apa. Dia tidak memiliki uang. Tetapi ia memiliki sukacita yang kerabat kaya saya tidak pernah alami. Saya ingat ketika itu saya berpikir, “Saya tidak ingin menjadi seperti mereka.” Saya ingin menjadi seperti Miss Aylward.” Dia telah pergi ke Cina untuk menjadi seorang misionaris ketika masih seorang gadis muda. Dia adalah salah satu misionaris terakhir di Cina. Dia masih di sana sampai 1952. Ketika dia meninggalkan China, dia mengambil sekelompok besar anak-anak Cina yang ada bersama dengan dia, mempertaruhkan hidupnya saat ia memimpin mereka naik ke atas pegunungan berbahaya untuk mencari kebebasan. Hollywood membuat film berdasarkan kisah ini dengan judul , “The Inn of the Sixth Happiness.” Mereka sedikit mengubah kisahnya, tetapi cerita dasar itu ada dalam film itu. Dia telah belajar tentang rahasia penyangkalan diri yang Rasul Paulus bicarakan tentang dirinya,

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8).

Miss Aylward menghidupi hidupnya seperti yang dituangkan dalam sebuah lagu oleh Dr. Rice,

Mengasihi dengan sepenuh hatiku, dengan segala yang mampu ku bayangkan,
   Menjadikan semunya, Tuhan Yesus, hanya bagi Engkau.
Semua sebagaimana adanya aku, semua yang aku bisa,
   Bawa aku, Tuhan Yesus, menjadi milikMu
(“All My Heart’s Love” oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).

Pendeta saya, Dr. Timothy Lin, datang ke Amerika Serikat dari China pada tahun 1940 untuk mendapatkan gelar Master di bidang teologi, dan Ph.D. dalam bidang bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa yang terkait dengan bahasa Ibrani. Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di sekolah pascasarjana Universitas Bob Jones untuk menjadi pendeta dari First Chinese Baptist Church pada tahun 1961, beberapa bulan setelah saya bergabung dengan gereja itu sebagai seorang anak berusia sembilan belas tahun. Dr. Lin membaptis saya setelah pertobatan saya di Biola College. Dia juga mengepalai komite yang menahbiskan saya sebagai hamba Tuhan, di gereja Tionghoa itu, pada tahun 1972. Itu adalah kehormatan bagi saya untuk berada di sana, di gerejanya selama waktu Tuhan mengirim kebangunan rohani, dimulai pada akhir 1960-an, dan berlanjut dalam gelombang sampai tahun 1970-an. Saya hadir dalam berbagai pertemuan doa yang dipenuhi Roh Kudus, dan pertemuan pengakuan terbuka dan kesaksian, yang sering berlangsung selama berjam-jam, sampai larut malam. Saya mendapat kehormatan untuk berkhotbah beberapa kebaktian pada masa terjadinya kebangunan rohani tersebut. Dalam satu kebaktian ketika saya berkhotbah ada 46 orang muda percaya Kristus. Sebagian besar dari mereka masih menghadiri gereja lebih dari empat puluh tahun kemudian. Dr. Lin mengajarkan kami bahwa kebangunan rohani sejati mungkin dicurahkan atas gereja jika para anggota gereja hidup kudus dan berdoa tanpa henti untuk kehadiran Allah di antara mereka.

Dr. Lin tidak pernah benar-benar menjadi orang yang ter-Amerikanisasi. Dia selalu bertindak seperti seorang pendeta Tionghoa. Dia benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk Yesus Kristus. Dia menghabiskan banyak waktu dalam puasa dan doa. Saya percaya itulah sebabnya mengapa Allah mengirimkan kebangunan rohani, dan gereja itu tumbuh dari sekitar 80 anggota ketika saya bergabung pada tahun 1961, menjadi beberapa ribu pada saat kebangunan rohani itu berakhir. Kemudian Dr. Lin pergi untuk menjadi presiden China Evangelical Seminary di Taiwan. Jadi saya memiliki hak istimewa sebagai seorang pemuda untuk hadir dalam gerakan Allah yang dalam banyak hal sangat mirip dengan kebangunan rohani yang datang ke “gereja-gereja rumah” di Republik Rakyat Cina. Saya adalah saksi mata untuk kebangunan rohani seperti yang belum pernah saya lihat sebelumnya, kecuali satu kali pada kesempatan lain dengan skala yang lebih kecil di sebuah gereja Kaukasia. Kebangunan rohani tidak datang ke gereja Dr. Lin melalui penggunaan speaker atau teknik-teknik khusus. Itu datang selama pengakuan dosa secara intens, doa yang terus menerus dan khotbah yang berapi-api tentang dosa, penghakiman, penyangkalan diri dan salib Kristus! Salah satu lagu yang kita nyanyikan berulang-ulang pada masa kebangunan rohani itu adalah “Lebih Putih dari Salju.”

Ya Tuhan, rindulah ku disembuhkan;
   Hancurkan segala yang kudewakan;
Diamlah selalu di dalam aku;
   Sucikan hatiku di dalam RohMu.

Ya Tuhan, bertakhta di surga megah,
   Inilah korbanku: Sempurnakanlah,
Agar kuserahkan hidupku penuh;
   Sucikan hatiku di dalam RohMu.
Tuhan Yesus, ubahlah aku;
   Sucikan hatiku di dalam RohMu.
(“Sucikan Hatiku di Dalam Roh-Mu” (Whiter Than Snow)
       oleh James Nicholson, 1828-1896/ Nyanyian Pujian No. 90).

Untuk mengalami pertobatan sejati, dan kebangunan rohani sejati, kita harus mengikuti teladan Paulus, yang mengatakan,

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:7-8).

Mengasihi dengan sepenuh hatiku, dengan segala yang mampu ku bayangkan,
   Menjadikan semunya, Tuhan Yesus, hanya bagi Engkau.
Semua sebagaimana adanya aku, semua yang aku bisa,
   Bawa aku, Tuhan Yesus, menjadi milikMu

Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu ini bersama saya!

Mengasihi dengan sepenuh hatiku, dengan segala yang mampu ku bayangkan,
   Menjadikan semunya, Tuhan Yesus, hanya bagi Engkau.
Semua sebagaimana adanya aku, semua yang aku bisa,
   Bawa aku, Tuhan Yesus, menjadi milikMu

Anda dipersilahkan duduk kembali.

World Magazine (5 Augustus 2013) melaporkan bahwa Pendeta Samuel Lamb (1924-2013) meninggal dunia bulan lalu, pada tanggal 3 Agustus 2013 pada usia 88 tahun. Dia adalah salah satu yang paling terkenal dari antara pendeta “gereja rumah” di Cina. Pendeta Lamb (Lin Xiangao dalam bahasa Cina) adalah anak seorang pendeta Baptis. Dia mulai berkhotbah ketika ia berusia 19 tahun. Ketika Cina berada di bawah kekuasaan komunis Mao Zedong, pihak berwenang menangkap Lamb pada tahun 1955. Dia didakwa sebagai seorang “anti-revolusioner,” yaitu tindakan menolak untuk bergabung dengan gereja “Three-Self Church” yang disponsori oleh Komunis. Dia menolak bergabung karena gereja yang dikelola Komunis melarang untuk mengajar anak di bawah usia 18 tahun, dan tidak memungkinkan pendeta untuk berkhotbah tentang kebangkitan Kristus dan Kedatangan-Nya yang Kedua. Setelah hampir dua tahun dipenjara, dia dibebaskan pada tahun 1957. Lima bulan kemudian dia ditangkap lagi dan dikirim ke kamp kerja paksa selama 19 tahun. Istrinya harus bekerja di tambang batu bara, di mana istrinya meninggal saat ia berada di penjara.

Setelah lebih dari 20 tahun berada di balik jeruji besi, dia dibebaskan. Dia segera membuka kembali “gereja rumah”-nya di Guangzhou. Namun ia masih menolak untuk bergabung dengan gereja “Three-Self Church” yang dikendalikan Komunis. Dia bersikeras bahwa orang Kristen harus taat kepada pemerintah kecuali jika itu bertentangan dengan Alkitab. Namun dia mengatakan, “Hukum-hukum Allah lebih penting daripada hukum manusia.”

Di bawah kepemimpinannya, gereja rumah itu tumbuh dari 400 anggota pada 1997 menjadi 4.000 anggota saat ini. Sebuah klip berita diputar di gereja ini pada tahun 2011 yang menunjukkan Pendeta Lamb sedang berkhotbah kepada orang-orang di ruangan yang penuh sesak. Sebuah video live-streaming menunjukkan khotbah disampaikan di banyak ruangan lain di gedung itu. Setiap ruangan itu penuh sesak oleh anggota jemaatnya. Ketika kebaktian berakhir kerumunan besar orang keluar dari pintu dan memenuhi jalan-jalan di sekitar gedung.

Penguasa komunis tahu bahwa gereja ini tidak terdaftar, tetapi tidak lagi mencoba untuk menutupnya. Pada tahun 1997 Pendeta Lamb mengatakan kepada seorang kolumnis Amerika yang bernama Cal Thomas bahwa ini adalah karena mereka telah belajar dari pengalaman mereka. Ia mengatakan, “Setiap kali mereka menangkap saya dan mengirim saya ke penjara, gereja bertumbuh. Penganiayaan itu baik bagi kami. Semakin mereka menganiaya kami, semakin banyak gereja bertumbuh. Itulah yang terjadi di sepanjang sejarah gereja.”

Sikap Cina terhadap gereja-gereja rumah berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Sementara beberapa, seperti gereja Pastor Lamb, relatif menikmati kebebasan, yang lain masih menghadapi penindasan. Pada bulan Juli (2013) Polisi Komunis menyerbu dua gereja rumah di provinsi Xinjiang. Mereka menangkap pemimpin dan mendendanya karena “mengadakan pertemuan secara ilegal.”

Pendeta Lamb sering mengatakan kepada para pemimpin gereja rumah di Cina bahwa penderitaan merupakan bagian dari kehidupan Kristen. Ia mengatakan, “Kita harus siap untuk menderita. Kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa kita mungkin akan ditangkap. Sebelum saya dikirim ke penjara, saya sudah menyiapkan tas dengan beberapa pakaian, sepatu dan sikat gigi. Hari ini pemerintah tidak mengganggu kita, tapi besok mungkin berbeda. Saya berdoa agar kita memiliki kekuatan untuk tetap berdiri teguh.” Pendeta Lamb dikenal karena perkataannya, “Lebih banyak penganiayaan, lebih banyak pertumbuhan.”

Hari ini secara konservatif diperkirakan bahwa ada lebih dari 100 juta orang Kristen di gereja-gereja rumah di Cina. Ini terletak di setiap bagian wilayah China, termasuk kota-kota besar, dan universitas-universitas. Diperkirakan bahwa 1 dari setiap 10 mahasiswa di universitas besar sekarang adalah orang Kristen, dengan puluhan ribu petobat baru bertambah setiap tahunnya! Ini termasuk orang-orang profesional, dokter, pengacara, dosen, dan bahkan beberapa pejabat Komunis (lihat David Aikman, Ph.D., Jesus in Beijing: How Christianity is Transforming China and Changing the Global Balance of Power, Regnery Publishing, Inc., 2003; paperback edition published in 2006).

Buku Dr. Aikman ini didedikasikan “Untuk mengenang semua orang Kristen, baik Cina maupun asing, yang meninggal di Cina sebagai martir karena iman mereka, dari tahun 635 M sampai Zaman Modern.” “All My Heart’s Love” – mari kita nyanyikan ini!

Mengasihi dengan sepenuh hatiku, dengan segala yang mampu ku bayangkan,
   Menjadikan semunya, Tuhan Yesus, hanya bagi Engkau.
Semua sebagaimana adanya aku, semua yang aku bisa,
   Bawa aku, Tuhan Yesus, menjadi milikMu

Api kebangunan rohani sedang berkobar dan jutaan orang datang kepada Yesus di Cina. Tetapi kita tidak boleh melupakan darah, keringat dan air mata yang tercurah untuk membuka jalan bagi berkat Tuhan yang sedang datang kepada mereka. Berikut ini adalah kisah dari tiga pendeta Cina. Mereka benar-benar mengikuti contoh dari Paulus, dengan menganggap “sampah” segala sesuatu supaya “memperoleh Kristus.”

Pertama, adalah seorang pendeta yang tidak diketahui namanya dari tahun 1960-an, selama masa pertumpahan darah pada masa “Revolusi Kebudayaan.” Pendeta ini dijerat lehernya dan dipaksa oleh Komunis untuk berdiri di atas tiga meja yang ditumpuk di atas satu sama lain. Istri pendeta ini, serta anak-anak dan keluarganya dipanggil oleh polisi untuk menyaksikan adegan itu. Para petugas berkata kepadanya, “Kamu memiliki dua pilihan! Apakah kamu memilih untuk terus percaya kepada Yesus, atau kamu menyangkal Yesus. Buatlah pilihanmu sekarang!”

Pendeta tua itu menatap mata keluarga dan teman-temannya, tetapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dia berkata, “Bahkan jika Anda memenggal kepala saya dan darah saya menutupi tanah, saya tidak akan pernah menyangkal Yesus.” Segera para petugas itu menendang meja yang di bagian bawah, menyebabkan tumpukan meja itu runtuh. Dalam sekejap mata tali itu menjerat tenggorokannya dan pendeta itu pergi bersama Yesus untuk selamanya (Living Water, Zondervan, 2008, hlm. 17).

Kedua, saya akan memberikan Anda sedikit lagi dari kisah dari Pendeta Samuel Lamb. Ia dibebaskan setelah satu tahun dipenjara, pada tahun 1958, ketika ia berusia 33 tahun. Dia diminta untuk tidak memberitakan Injil lagi. Tetapi dalam beberapa bulan ia berkhotbah lagi! Ia ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun. Mereka mengirimnya ke tambang batubara selama dua puluh tahun untuk kerja paksa dalam iklim yang sangat dingin. Sebagian besar tahanan lainnya meninggal, tetapi entah bagaimana ia bertahan hidup melalui semua ini dengan kasih karunia Allah. Ketika dia dibebaskan dia diberitahu bahwa istri dan ayahnya telah meninggal. Ibunya sakit parah dan meninggal beberapa waktu setelah itu. Alih-alih mencoba untuk melarikan diri dari China dan pergi ke Hong Kong, atau tempat lain yang akan lebih aman, Pendeta Lamb kembali ke Guangzhou, mengumpulkan beberapa mantan anggota gerejanya, dan membuka gereja lamanya lagi. Meskipun telah menjalani tahun-tahun mengerikan di penjara, dan hilangnya keluarganya, ia memiliki wajah gembira ketika saya melihat dia berkhotbah dalam rekaman video belum lama ini (Crimson Cross, published by Back to Jerusalem, 2012, hlm. 65, 66).

Ketiga, adalah pendeta saya sendiri, Dr. Timothy Lin (1911-2009). Istri pertama Dr. Lin dan putrinya ditembak mati di depannya oleh tentara Jepang tidak lama sebelum Perang Dunia II. Istri keduanya, Gracie, adalah teman saya. Gracie bersama dengan Dr. Lin ketika ia sedang berkhotbah di sebuah gereja Presbyterian Tionghoa di San Francisco. Pada sore hari sebelum kebaktian itu Mrs. Lin mengalami stroke. Ia pergi mendampingi dia di dalam ambulans ke rumah sakit. Dia meninggal beberapa jam kemudian. Segera Dr. Lin mencari taksi dan pergi ke gereja itu dan berkhotbah, seperti yang telah direncanakan. Setelah khotbah selesai orang-orang di gereja itu terkejut mengetahui bahwa istrinya telah meninggal hanya beberapa menit sebelum kebaktian dimulai. Saya tahu betapa dalamnya Dr. Lin mencintai istrinya. Ketika saya mendengar cerita itu, hal itu membuat kesan yang takan pernah terhapuskan dalam diri saya. Saya tidak pernah lagi melihat pelayanan hampir seperti suatu “pekerjaan.” Saya tahu dari teladan Dr. Lin bahwa penggembalaan adalah sebuah komitmen hidup atau mati!

Itu adalah tiga kisah dari pendeta Cina kuno yang “menganggap sampah” apa yang dulu mereka pikir keuntungan supaya “memperoleh Kristus.” Orang-orang muda di Amerika sering memiliki contoh dari pendeta malas dan duniawi dalam pikiran mereka. Itulah salah satu alasan utama tidak ada kebangunan rohani di Amerika. Namun remaja di China memiliki contoh pengorbanan diri dari orang-orang seperti ketiga pendeta itu di dalam hati mereka. Tidak heran mereka rela mengorbankan segalanya demi Kristus! Tidak heran anak-anak muda Kristen di Cina dapat berkata bersama dengan Paulus, “Aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Filipi 3:8). Tidak heran, jika sekarang Cina sedang mengalami kebangunan rohani terbesar dalam sejarah kekristenan.

Apakah Anda mau menjadi seperti mereka? Apakah Anda mau menganggap segala sesuatu “sampah” suapaya “memperoleh Kristus”? Apa yang menahan Anda untuk berbalik kepada Kristus? Anggaplah itu tidak lebih dari pada sampah! Anggaplah itu tidak lebih dari pada sampah! Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa-dosa Anda, dan bangkit secara fisik dari kematian pada hari ketiga untuk memberikan kehidupan kepada Anda. Apakah Anda mau menyerahkan hidup Anda bagi Kristus sekarang? Nyanyikan lagu ini lagi!

Mengasihi dengan sepenuh hatiku, dengan segala yang mampu ku bayangkan,
   Menjadikan semunya, Tuhan Yesus, hanya bagi Engkau.
Semua sebagaimana adanya aku, semua yang aku bisa,
   Bawa aku, Tuhan Yesus, menjadi milikMu

Jika Anda ingin berbicara dengan kami tentang bagaimana mempersembahkan diri menjadi orang Kristen sejati, silahkan pergi ke ruang belakang auditorium ini sekarang. Dr. Cagan akan membawa Anda ke sebuah ruangan yang tenang untuk berdoa dan konseling. Jika Anda tertarik untuk menjadi orang Kristen sejati, pergilah ke belakang auditorium ini sekarang. Dr. Chan, tolong berdoa kiranya seseorang mau percaya Kristus pada pagi ini. Amin.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Filipi 3:7-11.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“All My Heart’s Love” (oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).