Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




DARI PENCIPTAAN KE PETI MATI

(KHOTBAH #75 DARI KITAB KEJADIAN)
FROM CREATION TO A COFFIN
(SERMON #75 ON THE BOOK OF GENESIS)
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 17 Maret 2013

“Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: ‘Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.’ Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: ‘Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.’ Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:24-26).


Kitab Kejadian adalah sebuah kitab tentang permulaan. Kata “Kejadian” benar-benar berarti “kelahiran” atau “permulaan.” Para rabi kuno yang menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Yunani, menyebutnya “Genesis” (“Kejadian”) karena kitab ini mulai dengan perkataan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Kitab Kejadian menjelaskan permulaan dari langit dan bumi – juga permulaan dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh sebab itu Kitab Kejadian adalah sebuah kitab kehidupan!

Namun kitab ini juga adalah sebuah kitab kematian. Asal usul kematian dijelaskan di sini. Dampak-dampak yang sangat mengerikan dari kematian dijelaskan. Hubungan dosa dan kematian dijelaskan. Dalam pasal empat kematian pertama dicatat, yaitu pembunuhan terhadap Habel. Dalam pasal lima kematian dari para leluhur diriwayatkan. Dalam pasal enam kematian dari seluruh umat manusia dalam Air Bah, dengan kekecualian Nuh dan keluarganya, dicatat. Dua tema ini, yaitu kehidupan dan kematian dijelaskan dan merangkai sepanjang Kitab Kejadian.

Inilah tujuan saya malam ini untuk memfokuskan pada kematian Yusuf dalam teks kita sebagai suatu perikop, bagian singkat yang menerangkan kebenaran-kebenaran tentang kehidupan dan kematian ini.

“Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: ‘Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.’ Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: ‘Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.’ Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:24-26).

Kitab Kejadian mulai dengan penciptaan kehidupan di Taman Eden dan diakhiri “dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:26). Ini sungguh menakjubkan sehingga saya merasa kita harus mulai dengan pesan negatif dari kematian, dan mengakhiri dengan pesan positif dari kehidupan.

I. Pertama, Kitab Kejadian dengan jelas menggambarkan hukum
dosa dan maut.

Rasul Paulus berbicara tentang “hukum dosa dan hukum maut” dalam Roma 8:2. Hukum dosa dan hukum maut itu mengatakan, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yehezkiel 18:4). Sekarang itulah apa yang Allah telah katakan kepada orangtua kita yang pertama. Ia telah memperingatkan mereka untuk tidak memakan buah terlarang, “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Itulah hukum dosa dan hukum maut. Allah berfirman, akibatnya, “Jika engkau melakukan dosa ini engkau akan mati.” Namun mereka tidak percaya Allah. Sehingga mereka makan, dan kemudian mati!

Ketika saya masih kecil ibu saya menjaga seorang anak kecil yang dijuluki “Joker” setiap sore. Kompor sedang menyala, dan Ibu berakata, “Joker, jangan main-main api dengan jarimu, nanti terbakar.” Tentu saja, dengan nama seperti Joker, Anda tahu apa yang terjadi! Ia memasukkan jarinya ke dalam api dan kemudian mulai menjerit. Ibu berkata, “Saya sudah mengatakan kepada kamu apa yang akan terjadi.” Ya, namun ia tidak mendengarkannya. Ia cucukkan jarinya ke dalam nyala api, dan jarinya terbakar. Itu menggambarkan hukum dosa dan hukum maut. Allah berfirman, “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Mereka tidak percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu mereka memakannya. Dan oleh sebab itu mereka mati. Itu adalah hukum dosa dan hukum maut! Seseorang mungkin berkata, “Itu tidak adil!” Maafkan saya, keadilan sama sekali tidak berhubungan dengan itu! Jika Anda melempar batu ke udara dan batu itu jatuh dan mengenai kepala Anda, Anda tidak dapat berkata, “Itu tidak adil.” Keadilan sama sekali tidak berhubungan dengan itu. Itu adalah hukum gravitasi. Jika Anda melempar sesuatu, itu pasti akan jatuh ke bawah! Itu hukumnya. Hal yang sama adalah benar berhubungan dengan hukum dosa dan hukum maut. Jiwa yang berdosa akan mati. Orangtua kita yang pertama telah berdosa, dan mereka mati. Itulah hukumnya – hukum dosa dan hukum maut! Masalah keadilah sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu! Apa yang naik, harus turun. Itulah hukumnya. Ia yang berdosa harus mati. Itulah hukumnya. Orang-orang tidak menyukainya, namun itu tetap hukumnya – dan itu tidak dapat dibatalkan lebih dari pada hukum gravitasi yang tidak dapat dibatalkan.

Selanjutnya orangtua kita yang pertama jatuh ke dalam dosa di Taman Eden, dan mereka mati di Taman Eden. Itulah hukum dosa dan hukum maut. Pertama-tama mereka mati secara rohani, dan kemudian mereka mengalami kematian fisik karena benih kematian telah masuk ke dalam diri mereka ketika mereka jatuh ke dalam dosa.

Sungguh tragis, dosa mereka bukan hanya membawa kematian bagi diri mereka saja, namun juga kepada semua keturunan mereka. Orang-orang mungkin berkata, “Itu tidak adil.” Saya tahu mereka mungkin mengatakan itu, namun keadilan sama sekali tidak berhubungan dengan itu. Itulah hukumnya, hukum dosa dan hukum maut. Suatu hari saya membaca tentang seorang bayi yang dilahirkan dengan HIV. Bayi itu tidak berdosa. Namun ibunya yang berdosa. Oleh sebab itu bayinya dilahirkan dengan keadaan seperti itu. Keadilan sama sekali tidak berhubungan dengan itu. Itu adalah hukum dosa dan hukum maut. Ketika seseorang berdosa itu juga akan membawa dampak kepada yang lainnya. Itu selalu demikian.

Dan seperti itulah yang tercatat sepanjang Kitab Kejadian, mulai dengan dosa dan kematian dari orangtua kita yang pertama. Namun kutuk dosa dan kematian tidak berakhir di sana. Alkitab berkata,

“Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19).

Seperti bayi yang dilahirkan dengan HIV, kita semua “telah menjadi orang berdosa” oleh dosa orangtua kita yang pertama. The Heidelberg Catechism mengatakan bahwa natur dosa kita datang “dari kejatuhan dan ketidaktaatan orangtua kita yang pertama, yaitu Adam dan Hawa, di Taman Eden. Kejatuhan ini juga meracuni natur kita sehingga kita dilahirkan sebagai orang-orang berdosa – rusak sejak dari dalam kandungan” (The Heidelberg Catechism, pertanyaan tujuh). Pengakuan Iman Baptis 1689 mengatakan bahwa oleh orangtua kita yang pertama “… dosa mereka diperhitungkan pada semua keturunannya. Keturunan Adam dan Hawa ketika dilahirkan mendapatkan warisan dosa yaitu suatu sifat yang telah cemar. Semua manusia diperanakkan dalam dosa dan oleh karena sifatnya menjadi sasaran murka Allah, hamba dosa dan sasaran kematian. Manusia diserahkan Tuhan pada penderitaan yang tak terkatakan, baik penderitaan rohani, penderitaan sementara dan yang abadi kecuali dibebaskan oleh Tuhan Yesus Kristus” (The Baptist Confession of Faith 1689, pasal 6:2, 3).

“Kecuali [kita] dibebaskan oleh Tuhan Yesus Kristus” kita “menjadi sasaran murka Allah, hamba dosa dan sasaran kematian.” Alkitab berkata,

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).

Kitab Kejadian menunjukkan bahwa ayat ini benar. Anak pertama dari Adam dan Hawa adalah seorang pembunuh. Ia dilahirkan sebagai orang berdosa karena orangtuanya telah berdosa. Kejadian pasal lima adalah sebuah katalog tentang kematian para leluhur sebelum Air Bah, karena “seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang.” Pada zaman Nuh,

“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5).

Bagaimana itu terjadi?

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang” (Roma 5:12).

Turun sampai akhir Kitab Kejadian para leluhur adalah orang-orang berdosa menurut naturnya, dan mereka mati sebagai akibat dari dosa Adam. Dan oleh sebab itu kitab Kejadian berakhir, bukan dengan kemenangan dan kesuksesan manusia, namun dengan kematian sebagai akitab dari dosa.

“Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:26).

Kejadian mulai dengan Allah yang menciptakan kehidupan, dan diakhiri dengan dosa yang menghasilkan kematian, dan Yusuf “ditaruh dalam peti mati di Mesir.”

Selanjutnya, bagaimana ini berdampak pada Anda? Apakah pengaruh itu berpengaruh dalam hidup Anda? Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada yang menyangkut dengan Anda kecuali yang satu ini! Pada tempat yang pertama, Anda akan mati secara fisik sebagai akibat dari dosa. Saya ingat pertama kali saya menyadari bahwa saya akan mati. Saya berusia sekitar delapan tahun pada waktu itu. Anjing kecil saya berlari di jalan dan tertabrak sebuah mobil. Ketika saya memegang tubuhnya yang hancur di tangan saya saya memahami untuk pertama kalinya bahwa saya juga akan mati. Itu adalah pikiran yang menyerang. Saya yakin bahwa sebagian besar dari kita, entah kita ingat atau tidak, terguncang ketika pertama kali kita menyadari bahwa kita akan mati. Dan kematian bukan sesuatu yang Anda pernah pikirkan satu kali atau dua kali. Para Psikiater berkata bahwa rata-rata orang memikirkan tentang kematiannya sendiri lebih dari sekali setiap jamnya. Itu benar, kita berpikir tentang kematian kita lebih dari apapun. Kita dihantui olehnya. Kita mencoba untuk melupakannya. Kita berusaha menyingkirkannya. Namun pikiran kita kembali ke sana lagi dan lagi. Kita tidak dapat menyingkirkannya dari pikiran kita, tidak peduli apapun yang kita lakukan. Bahkan ketika kita tidur kita kadang-kadang berpikir tentang kematian. Kita benar-benar tidak dapat lari dari memikirkan kematian itu!

Jadi, Anda tahu, jika pikiran tentang kematian dulu adalah satu-satunya hasil dari dosa, betapa dampak yang luar biasa itu menimpa hidup kita. Namun sekarang itu bukan satu-satunya akibat dari dosa. Ada banyak dampak lainnya. Salah satunya adalah pikiran yang gelap dan jahat yang timbul dari hati Anda yang penuh dosa. Yesus berkata, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat… Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam” (Markus 7:21, 23). Saya tidak harus membuktikan itu kepada Anda, bukan? Anda tahu lebih dari pada siapapun tentang pikiran yang gelap dan penuh dosa yang ada di dalam pikiran Anda, pikiran-pikiran yang Anda tidak mampu kendalikan. Anda tidak dapat menghentikannya, tidak peduli apapun yang Anda lakukan. Ini juga merupakan dampak dari dosa asal, natur dosa yang kita warisi dari orangtua kita yang pertama.

Dan kemudian ada kesulitan bagi Anda untuk berdoa. Namun tentu saja! Anda pasti menemukan kesulitan dalam berdoa, bukan? Itu seharusnya tidak begitu berat. Anda tahu itu seharusnya tidaklah berat. Namun itulah yang terjadi, dan Anda tidak dapat melakukannya bukan? Anda tahu bahwa orang Kristen yang baik seharusnya senang berdoa. Namun Anda tidak menyukainya. Sesungguhnya, kita harus hadapi itu, Anda benar-benar tidak suka berdoa untuk waktu yang lama – bukan?

Selanjutnya, kemudian, bukankah itu menunjukkan gambaran gelap dan sangat jahat dari pikiran batin Anda? Anda memikirkan tentang kematian. Anda memiliki pikiran-pikiran yang sangat memalukan. Anda tidak suka berdoa. Pada kenyataannya, jika Anda ada bersama seseorang yang berdoa sangat lama, Anda benar-benar benci itu. Bukankah itu merupakan gambaran dari kehidupan batiniah Anda? Pada kenyataannya, jika Anda mengijinkan diri Anda sendiri untuk banyak memikirkan tentang itu, Anda harus berkata seperti sang Rasul,

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24).

Anda lihat, hukum dosa dan hukum maut telah memerangkap Anda, atau seperti yang Alkitab katakan, “mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa” (Efesus 2:1). Bukankah itu benar – secara rohani dan psikis, Anda mati seperti tubuh Yusuf ketika “ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:26). Namun, puji Tuhan, kita tidak ditinggalkan di sana! Dan itu membawa kita kepada poin kedua dari khotbah ini.

II. Kedua, Kitab Kejadian dengan jelas menjelaskan satu-satunya
pengharapan manusia.

Perhatikan kembali dua ayat pertama dari teks kita,

“Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini"” (Kejadian 50:24-25).

Ada banyak pelajaran yang kita dapat pelajari dari dua ayat ini, namun saya hanya akan menyampaikan salah satu darinya, salah satu yang sangat sederhana: Yusuf tahu bahwa satu-satunya pengharapannya adalah di dalam Allah. Ia berkata, “Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.” “Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.” Yusuf memiliki iman untuk percaya bahwa Allah akan membawa mereka keluar dari Mesir, ke Kanaan. Mesir adalah tipe dari dosa dan kematian. Kanaan adalah tipe dari kehidupan dan keselamatan. Yusuf memiliki iman bahwa Allah akan membawa mereka keluar dari negeri kematian, menuju negeri pengharapan dan kehidupan. Ibrani 11:22 mengatakan,

“Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya” (Ibrani 11:22).

Saya tidak dapat berpikir tentang cara yang lebih baik untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Allah adalah satu-satunya sumber pengharapan Anda. Jika Allah tidak menyelamatkan kita, kita dihukum oleh hukum dosa dan hukum maut. Dan Allah harus melakukan semua dari penyelamatan itu. Yusuf berkata, “Tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub” (Kejadian 50:24). “Allah akan… membawa kamu keluar” dari negeri kematian ke dalam negeri kehidupan!

Jika Anda membaca Kitab berikutnya dari Alkitab, Kitab Keluaran, Anda akan menemukan bahwa Allah yang telah melakukan semuanya. Umat itu memberontak, dan berdosa, dan sama sekali tidak membantu diri mereka sendiri. Allah yang melakukan semua penyelamatkan itu. Allah membawa mereka keluar dari perbudakan. Allah membawa mereka menuju tanah perjanjian. Dan para Murid bertanya kepada Yesus,

“Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan? Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah…."” (Markus 10:26, 27).

Kemudian, apa yang harus Anda lakukan? Seseorang berkata, “Yah, saya tidak mau melakukan apapun. Saya akan duduk saja di gereja seperti seonggok sampah dan menunggu Allah menyelamatkan saya.” Yah, jika Anda melakukan itu, Anda akan pergi ke Neraka. Ada sesuatu yang harus Anda lakukan sekarang. Alkitab berkata,

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” (Kisah Rasul 16:31).

Percayalah kepada Yesus! Percayalah kepada Dia – dan Dia akan melakukan semua penyelamatan itu! Ia telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa-dosa Anda. Ia telah bangkit dari kubur untuk memberikan kehidupan kepada Anda, dan membebaskan Anda dari hukum dosa dan hukum maut!

Saya katakan kepada Anda malam ini – percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus! Hempaskanlah diri Anda sendiri ke atas-Nya! Percayalah kepada Dia! Lakukan itu sekarang! Anda telah menunggu terlalu lama! Percayalah kepada Dia! Ia akan menyelamatkan Anda! Ia mengasihi Anda! Ia akan mengampuni dosa-dosa Anda! Ia akan menyelamatkan Anda dari penghukuman! “Belas-kasihan-Nya, oh, betapa besar!” Mr. Griffith, silahkan maju ke depan untuk menyanyikan pujian ini kembali!

Ia memandang aku hancur oleh kejatuhan,
   Namun tak tahan tuk tidak mengasihi aku;
Ia menyelamatkan aku dari keadaanku yang terhilang,
   Belas-kasihan-Nya, oh, betapa besar!
Belas-kasihan-Nya, belas-kasihan,
   Belas-kasihan-Nya, oh, betapa besar!
(“His Loving-Kindness” oleh Samuel Medley, 1738-1799).

Jika Anda siap untuk percaya Yesus, silahkan melangkah ke belakang ruangan ini sekarang dan kami akan mengajak Anda ke tempat yang tenang untuk berbicara dan berdoa. Pergilah sekarang sementara Mr. Griffith menyanyikan bait itu lagi. Dr. Chan, mohon memimpin kita di dalam doa bagi orang-orang yang telah berespon.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Kejadian 50:22-26.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“His Loving-Kindness” (oleh Samuel Medley, 1738-1799).


GARIS BESAR KHOTBAH

DARI PENCIPTAAN KE PETI MATI

(KHOTBAH #75 DARI KITAB KEJADIAN)
FROM CREATION TO A COFFIN
(SERMON #75 ON THE BOOK OF GENESIS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: ‘Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.’ Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: ‘Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.’ Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir” (Kejadian 50:24-26).

(Kejadian 1:1)

I.   Pertama, Kitab Kejadian dengan jelas menggambarkan hukum dosa dan
maut, Roma 8:2; Roma 6:23; Yehezkiel 18:4; Kejadian 2:17; Roma
5:19, 12; Kejadian 6:5; Markus 7:21, 23; Roma 7:24; Efesus 2:1.

II.  Kedua, Kitab Kejadian dengan jelas menjelaskan satu-satunya
pengharapan manusia, Kejadian 50:24-25; Ibrani 11:22; Kejadian
50:24; Markus 10:26, 27; Kisah Rasul 16:31.