Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




PERJALANAN YAKUB KE MESIR

(KHOTBAH #73 DARI KITAB KEJADIAN)

JACOB’S PILGRIMAGE TO EGYPT
(SERMON #73 ON THE BOOK OF GENESIS)
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 3 Maret 2013


Anak-anak Yakub telah turun ke Mesir untuk membeli makanan, karena ada kelaparan hebat di Tanah Kanaan. Sementara mereka di sana, mereka dikejutkan karena saudara mereka yang lebih muda yaitu Yusuf telah menjadi penguasa atas seluruh Mesir. Mereka telah menjual Yusuf sebagai budak, namun Allah beserta dengannya dan menaikan dia menjadi penguasa besar. Kemudian saudara-saudaranya pulang dan memberitahukan kepada ayah mereka, yaitu Yakub kabar baik bahwa Yusuf masih hidup. Pertama-tama Yakub tidak mempercayai anak-anaknya itu, namun mereka segera meyakinkan kepadanya bahwa itu benar, dan Yakub berkata,

“Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati” (Kejadian 45:28).

Itu membawa kita kepada teks kita malam ini. Mari kita berdiri dan membaca Kejadian 46:1-4.

“Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya. Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: ‘Yakub, Yakub!’ Sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ Lalu firman-Nya: ‘Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti.’” (Kejadian 46:1-4).

Anda dipersilahkan duduk kembali. Tolong tetap biarkan Alkitab Anda terbuka pada bagian tersebut.

Ketika saya kuliah di seminari liberal empat puluh tahun yang lalu, mereka menjelaskan kepada kami bahwa ayat-ayat ini menyebut nama Yakub dan Israel secara berganti-gantian, karena bagian tersebut ditulis oleh beberapa penulis yang berbeda, atau “para redaktur.” Penulis “E” selalu menyebut dia “Yakub,” sementara redaktur “R” memasukkan nama “Israel.” Saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana Anda tahu itu?” Mereka tidak pernah mampu meyakinkan saya tentang teori mereka itu. Dr. H. C. Leupold, seorang ahli tafsir Alkitab Lutheran, menolak teori liberal tersebut, dan berkata, “Dengan muslihat-muslihat kritis seperti itu hampir segala sesuatu dapat dibuktikan” (H. C. Leupold, D.D., Exposition of Genesis, Baker Book House, edisi 1985, volume II, hlm. 1106; komentar atas Kejadian 46:1-4).

Dr. Leupold menyarankan bahwa penggunaan dua nama di sini memang disengaja – Yakub mengacu kepada pribadi, dan Israel mengacu kepada bangsa yang lahir dari keturunannya. Itu mungkin benar, namun ini nampak bagi saya bahwa penjelasan Spurgeon adalah alasan utama untuk penggunaan nama-nama itu silih berganti. Spurgeon berkata bahwa nama lamanya yaitu “Yakub” digunakan di sini ketika ia berpaling, dan nama barunya, yaitu “Israel” digunakan ketika ia dihidupkan kembali, sebagaimana kita lihat dalam Kejadian 45:27 dan 28: “...maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu. Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati"” (Kejadian 45:27, 28). Saya yakin bahwa itu adalah cara menjelaskan perubahan nama tersebut. “Yakub” berarti “penipu licik.” “Israel” berarti “pangeran Allah.” Semua orang percaya memiliki natur lama, serta natur baru. Ketika ia dipengaruhi oleh natur lamanya, Allah menyebut dia “Yakub.” Namun ketika ia “bangkit” ia dipengaruhi oleh natur barunya, dan oleh sebab itu disebut “Israel.” Penjelasan itu benar menurut Kitab Suci, dan itu benar menurut pengalaman hidup – setiap orang Kristen tahu itu melalui pengalaman. Spurgeon berkata, “’Yakub’ adalah nama dari natur kelahiran alaminya, ‘Israel’ adalah nama dari natur baru dan rohaninya” (C. H. Spurgeon, Metropolitan Tabernacle Pulpit, Number 2,116, hlm. 1). Dalam natur barunya, ia siap untuk mentaati Allah di dalam iman, dan pergi ke Mesir, kapada Yusuf, putranya. Namun dalam natur lamanya ia takut untuk pergi. Oleh sebab itu Allah menguatkan dia sebelum dia pergi. Sehingga kita akan melihat iman dan ketakutan dalam perjalanan Yakub ke Mesir. Dengan penjelasan ini, kita langsung melihat teks kita, di mana kita belajar dua kebenaran agung yang menolong kita dalam hidup kita sebagai orang Kristen.

I. Pertama, kita belajar tentang iman Yakub.

Ketika Yakub dan keluarganya mulai melakukan perjalanan untuk menjumpai Yusuf, mereka berhenti di Bersyeba, suatu tempat yang masih ada di tanah Kanaan. Mereka berhenti di sana dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan. Mari kita berdiri dan membaca Kejadian 46:1 dengan lantang.

“Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya” (Kejadian 46:1).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Arthur W. Pink berkata, “Jadi, hal pertama yang tercatat tentang Yakub setelah perjalanan jauhnya ke Mesir mulai dilakukan, ia mempersembahkan korban sembelihan kepada Allah. Bertahun-tahun lamanya ia dididik dalam sekolah pengalaman yang telah… mengajar dia untuk mendahulukan Allah; [sebelum] ia pergi untuk menemui Yusuf ia datang menyembah Allah dari Ishak ayahnya!” (Gleanings in Genesis, Moody Press, edisi 1981, hlm. 313).

Di awal pengalaman saya sendiri sebagai orang Kristen saya pernah mendengar orang-orang berkata bahwa mereka “dipimpin” oleh Roh Kudus untuk melakukan hal-hal tertentu, seperti mengubah keanggotaan gereja mereka ke gereja lain. Namun saya melihat, lagi dan lagi, itu biasanya memiliki hasil yang buruk. Sejak awal saya telah memutuskan bahwa saya tidak akan membuat perubahan yang terburu-buru, dan saya akan menyerahkan kepada Allah terlebih dahulu dalam hal keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Bahkan walau saya merasa tidak suka untuk tetap tinggal, saya tidak akan pindah kecuali jika pendeta saya, dan orang-orang Kristen senior lainnya di gereja saya, menyarankan saya untuk pindah. Bahkan walaupun kadang-kadang ini terasa sangat berat untuk dilakukan, saya akan dengan sangat hati-hati tidak mengikuti perasaan dan keinginan saya, namun saya terlebih dahulu menyerahkan kepada Allah; dan akan selalu berhati-hati untuk memikirkan Ibrani 13:17,

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu” (Ibrani 13:17),

dan I Tesalonika 5:12, 13,

“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain” (I Tesalonika 5:12, 13).

Saya selalu berkonsultasi dengan pendeta saya Dr. Timothy Lin, dan penasehat dan pembina saya Dr. Murphy Lum, ketika harus membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Saya telah memutuskan bahwa saya akan mengikuti nasehat mereka bahkan walaupun itu tidak nampak benar bagi saya pada saat itu. Berulangkali hal itu ternyata menjadi hal yang benar untuk dilakukan. Alkitab berkata,

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu…. Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian” (Amsal 3:5-8, 11-13).

Iman Yakub memimpin dia untuk berhenti dan mempersembahkan korban sembelihan kepada Allah di Bersyeba, dan ketika ia melakukannya, Allah membuat kesempurna-Nya akan membersihkan dia, walaupun sebelumnya Yakub takut untuk mentaati Dia.

Sungguh aneh, ketika saya menulis ini, secara kebetulan saya mengambil sebuah buku kecil di meja saya yang sebelumnya saya tidak pikir ada sesuatu yang dapat saya ambil untuk khotbah ini. Buku itu jatuh dan terbuka pada halaman 17 dan saya membaca nasehat dari seorang pendeta tua dari Baptis Selatan, yang telah ditulis bertahun-tahun yang lalu – sebelum beliau meninggal. Dr. W. Herschel Ford berkata,

      Amsal 3:6 menjelaskan bimbingan itu, “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Saya secara pribadi tahu bahwa ketika saya telah mengikuti pimpinan-Nya saya menemukan damai sejahtera dan kemenangan. Ketika saya menolak mengikuti Dia saya menemukan kesedihan dan kekalahan.
      Ada banyak keputusan dibuat hari ini. Misalkan Anda ditawari suatu pekerjaan di kota lain dengan gaji yang lebih tinggi. Akankah Anda secara terburu-buru menerima pekerjaan itu atau Anda akan menunggu petunjuk Tuhan? Ada keputusan-keputusan yang dibuat berhubungan dengan pendidikan Anda atau bagi anak-anak Anda. Sekolah mana yang terbaik bagi Anda atau mereka? Ada keputusan-keputusan berhubungan dengan anak. Seberapa besar kebebasan yang harus Anda berikan kepada mereka, seberapa besar Anda harus mengendalikan mereka? Ada keputusan-keputusan berhubungan dengan membangun rumah baru atau membeli mobil baru. Yah, seorang pembuat keputusan besar datang dalam menunggu… Kita lari dari hadapan Tuhan, kita mencari kemuliaan dan keuntungan kita sendiri, kita berjalan di jalan kita sendiri. Dan cukup sering kita berakhir dengan patah hati (W. Herschel Ford, D.D., Simple Sermons on Life and Living, Zondervan Publishing House, edisi 1971, hlm. 17, 18).

Saya berkata bahwa ini “aneh” karena ketika saya mengambil buku itu dan tiba-tiba buku itu jatuh terbuka pada halaman itu, sama seperti yang saya tuliskan ini. Saya tidak terlalu percaya dalam hal semacam itu, namun saya pikir bahwa Allah membawa halaman-halaman itu kepada perhatian saya sehingga Anda mendengar nasehat Dr. Ford. Hal utama yang ia katakan adalah menunggu, bukan terburu-buru dalam mengambil keputusan dalam hidup. Ia berkata, “Pembuat keputusan besar datang dalam menunggu.” Dan saya akan menambahkan bahwa adalah bijaksana meminta nasehat dari pendeta Anda, dan para pemimpin Kristen yang berpengalaman di gereja Anda. Saya tidak akan pergi kepada para pemimpin di luar gereja lokal Anda. Beberapa pengkhotbah akan memanfaatkan kebingungan Anda demi mencoba untuk menarik Anda pindah ke gereja mereka, yang sungguh sangat tidak etis. Selain itu, hanya para pemimpin di gereja Anda sendiri yang tahu sepenuhnya detail-detail kebutuhan Anda. Yakub berhenti di Bersyeba, mempersembahkan korban sembelihan kepada Tuhan, dan menantikan pimpinan-Nya. Itulah iman Yakub!

II. Kedua, kita belajar dari ketakutan Yakub.

Sekarang kita menemukan alasan mengapa Yakub berhenti dalam perjalanannya menuju Mesir. Ia ragu-ragu di Bersyeba karena ia takut. Dalam ayat tiga kita membaca bahwa Allah berfirman kepadanya, “Janganlah takut pergi ke Mesir” (Kejadian 46:3). Ia berhenti untuk memberikan persembahan sembelihan di Bersyeba karena ia takut pergi ke Mesir, dan ia menunggu Allah menunjukkan kehendak-Nya dengan jelas kepadanya.

Spurgeon berkata bahwa Yakub berhenti dan memberikan persembahan sembelihan kepada Allah di Bersyeba untuk meminta petunjuk Tuhan apakah ia benar-benar harus pergi ke Mesir. Saya tahu bahwa orang-orang yang keras kepala memandang rendah seseorang yang ragu dan takut melakukan hal yang salah. Itulah sebabnya mengapa banyak orang yang mengaku Kristen (Kristen KTP) tersandung ke dalam kesalahan-kesalahan dan tidak pernah dipulihkan lagi. Yang terbaik adalah tidak menjadi seperti mereka. Spurgeon berkata, “Tuhan senang melihat anak-anak-Nya ingin menjadi benar; karena kecemasan itu adalah titik besar di dalam bimbingan benar mereka… Kita dibuat hati-hati: kita ditolong untuk menimbang apakah itu kudus, dan kemudian ketenangan kita, dengan penilaian yang tenang membuat keputusan-keputusan, dan kita memilih cara yang paling memuliakan Allah” (Metropolitan Tabernacle Pulpit, volume 35, khotbah nomer 2,116, hlm. 639).

Ketakutan Yakub adalah alami karena ia adalah orang yang sudah tua. Orang-orang yang lebih tua tidak suka membuat perubahan. Itulah salah satu dari alasan banyak orang dewasa membuat lebih sedikit kesalahan dari pada mereka yang masih muda. Dan itu adalah salah satu dari alasan-alasan utama bagi anak muda untuk meminta saran kepada orang-orang Kristen yang lebih tua di gereja lokal mereka. Anda jauh dari mudah membuat kesalahan ketika Anda meminta saran kepada para penatua di gereja Anda, dan mengindahkan saran mereka.

Demikian juga, tidak diragukan lagi Yakub takut pergi ke Mesir karena ia mengingat apa yang Allah pernah firmankan kepada kakeknya, yaitu Abraham. Yakub mulai berpikir bahwa Mesir telah menjadi negeri yang menyebabkan Abraham mengalami “gelap gulita yang mengerikan,” seratus tahun sebelumnya (Kejadian 15:12). Sehingga ia ragu untuk pergi ke Mesir karena ia takut bila keturunannya akan menderita di sana selama empat ratus tahun.

Juga, tidak diragukan bahwa Yakub takut bahwa Mesir akan memperhadapkan keluarganya dengan berbagai pencobaan baru. Ketika orang-orang membawa anak-anak mereka pindah dari suatu daerah ke kota besar mereka sering merasakan ketakutan ini, karena banyak kota besar adalah tempat dari pencobaan yang lebih besar. Namun saya ingat apa yang misionaris besar kita C. T. Studd pernah katakan, “Satu-satunya tempat aman kita adalah tinggal di dalam kehendak Allah.” Ketika Allah berfirman kepada Yakub, “Janganlah takut pergi ke Mesir” ia pergi ke sana dengan iman. Dan Mesir adalah satu-satunya tempat yang aman, karena itu adalah kehendak Allah bagi Yakub dan keluarganya di sana.

Saya ingat dengan baik bagaimana saya meninggalkan gereja asal saya di Los Angeles, dan pergi ke San Francisco, untuk kuliah di seminari liberal. Saya pergi dengan ketakutan luar biasa, karena saya tahu sebelumnya seberapa liberalnya Golden Gate Baptist Theological Seminary pada saat itu. Namun saya tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan kuliah di seminari yang lebih konservatif. Pendeta saya memberitahu saya untuk pergi ke San Francisco ke seminari liberal itu. Ia memberitahu saya bahwa seminari itu tidak akan menyakiti saya. Di satu sisi ia benar. Seminari itu hampir membinasakan saya, namun tidak dapat “menyakiti” saya! Saya tidak akan menjadi pengkhotbah sebagaimana saya hari ini jika saya tidak pernah pergi ke sana. Saya tidak akan merekomendasikan anak muda lainnya untuk pergi ke sebuah seminari liberal. Namun sungguh itu adalah tempat yang tepat untuk saya pergi!

Allah berfirman kepada Yakub, “Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kejadian 46:4). Itu persis seperti yang Allah telah lakukan bagi saya. Ia pergi bersama saya ke seminari liberal, seminari tak bertuhan itu, dan Ia tentu saja telah membawa saya kembali dari situ! Seminari itu adalah Mesir saya dan Getsemani saya. Namun Tuhan memimpin saya melewatinya, dan menguatkan saya dengan pengalaman itu. Sebuah pujian lama mengungkapkan itu dengan sangat baik!

“Karna pada Yesus tetap imanmu,
   Tak akan engkau dikalahkan set'ru.
Walaupun neraka siap menelan,
   Tak akan, tak akan Aku tinggalkan!”

Di waktu sedih, sakit, atau senang,
    “Di waktu mewah, makmur, atau kurang,
Janganlah engkau bimbang, takut sesat:
   Akulah Allahmu, selalu dekat.”

“Di kala cobaan membayangimu,
   Ketika bencana menindih kalbu,
Rahmatku cukup, jangan kau mengeluh:
   Hidupmu teruji, imanmu teguh.”
(“How Firm a Foundation,” “K” in Rippon’s Selection of Hymns, 1787/
     Terjemahan Nyanyian Pujian No. 245.)

Namun ada satu aplikasi lain dari perikop ini yang saya ingin sampaikan malam ini. Beberapa dari Anda takut untuk datang kepada Yesus. Anda memiliki ketakutan untuk percaya sang Juruselamat. Ijinkan saya berkata kepada Anda dalam istilah yang paling tegas – ketakutan itu adalah dari Iblis! Itu bukan dari Allah; itu adalah ketakutan dari setan, yang dikirim oleh Setan untuk mempertahankan Anda, dan memperbudak Anda! Allah berfirman kepada Yakub, “Janganlah takut pergi ke Mesir…” (Kejadian 46:3). Takut untuk tidak pergi mengalami keinsafan akan dosa. Biarkanlah hati Anda turun ke sana, dan melihat bahwa dosa di dalam hati Anda adalah Mesir sesungguhnya dari kebobrokan.

Dan jangan takut untuk pergi kepada Yesus sang Juruselamat. Ingatlah bahwa Yusuf adalah tipe dari Kristus! Allah akan turun bersama Anda ke dalam keinsafan. Allah akan pergi bersama Anda kepada Yesus, Yusuf kita, dan Allah akan membawa Anda kembali dari dosa! Silahkan berdiri dan membaca ayat tiga dan empat dengan lantang.

“Lalu firman-Nya: ‘Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti’” (Kejadian 46:3, 4).

Anda dipersilahkan duduk kembali. “Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti”! Yusuf akan mengatupkan mata Yakub ketika ia mati. Namun Yesus, Yusuf kita, akan mengatupkan mata Anda dan Anda akan melihat dengan iman! “Janganlah takut” – karena Yesus akan menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda! Allah adalah yang berbicara kepada Anda malam ini,

“Karna pada Yesus tetap imanmu,
   Tak akan engkau dikalahkan set'ru.
Walaupun neraka siap menelan,
   Tak akan, tak akan Aku tinggalkan!”

Datanglah kepada Yesus dengan iman. Tidak ada hal yang harus ditakutkan – TIDAK ADA yang harus ditakutkan!

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15).

Betapa kami berdoa kiranya Anda mau percaya kepada Dia sekarang, malam ini juga!

“Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti” (Kejadian 46:4).

Jika Anda ingin berbicara dengan kami tentang keselamatan Anda, silahkan melangkah ke belakang ruang ibadah ini. Dr. Cagan akan membawa Anda ke tempat yang tenang di mana kami dapat berbicara dengan Anda tentang bagaimana percaya Yesus sementara Mr. Griffith menyanyikan lagu, “Dasarnya Teguh.”

“Karna pada Yesus tetap imanmu,
   Tak akan engkau dikalahkan set'ru.
Walaupun neraka siap menelan,
   Tak akan, tak akan Aku tinggalkan!”

Di waktu sedih, sakit, atau senang,
   “Di waktu mewah, makmur, atau kurang,
Janganlah engkau bimbang, takut sesat:
   Akulah Allahmu, selalu dekat.”

“Di kala cobaan membayangimu,
   Ketika bencana menindih kalbu,
Rahmatku cukup, jangan kau mengeluh:
   Hidupmu teruji, imanmu teguh.”

Dr. Chan, silahkan maju ke dapan dan berdoa untuk mereka yang telah berespon.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Kejadian 45:25-46:4.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“How Firm a Foundation” (“K” in Rippon’s Selection of Hymns, 1787).


GARIS BESAR KHOTBAH

PERJALANAN YAKUB KE MESIR

(KHOTBAH #73 DARI KITAB KEJADIAN)

JACOB’S PILGRIMAGE TO EGYPT
(SERMON #73 ON THE BOOK OF GENESIS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya. Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: ‘Yakub, Yakub!’ Sahutnya: ‘Ya, Tuhan.’ Lalu firman-Nya: ‘Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti.’” (Kejadian 46:1-4).

(Kejadian 45:27, 28)

I.   Pertama, kita belajar tentang iman Yakub, Kejadian 46:1; Ibrani 13:17;
I Tesalonika 5:12, 13; Amsal 3:5-8, 11-13.

II.  Kedua, kita belajar dari ketakutan Yakub, Kejadian 46:3; 15:12; 46:4;
I Timotius 1:15.