Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




ORANG YANG TAK TAHU TERIMAKASIH – KHOTBAH
PENGUCAPAN SYUKUR

(KHOTBAH #65 DARI KITAB KEJADIAN)
THE MAN WHO FORGOT TO BE THANKFUL –
A THANKSGIVING SERMON
(SERMON #65 ON THE BOOK OF GENESIS)
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Pagi, 18 November 2012

“Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kejadian 40:23).


Kepala juru minuman itu telah membuat kesalahan terhadap Firaun. Sehingga ia dimasukkan ke dalam penjara, yaitu penjara yang sama di mana Yusuf berada. Yusuf adalah seorang Ibrani, dituduh melakukan tindakan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan. Namun karena Tuhan bersama dengannya, kepala penjara telah mempercayakan semua narapidana di bawah pengawasannya. Pada malam pertamanya di penjara, kepala juru minuman Mesir itu bermimpi. Ia bertanya kepada Yusuf apa arti mimpinya itu. Yusuf berkata bahwa ia akan menjelaskan mimpi itu atas pertolongan Tuhan. Kemudian Yusuf menafsirkan mimpi juru minuman itu, menjelaskan kepadanya bahwa ia akan dibebaskan dan dikembalikan pangkatnya oleh Firaun. Juru minuman itu berjanji untuk menjelaskan kepada Firaun bahwa Yusuf tidak bersalah ketika ia telah dibebaskan. Tiga hari kemudian tafsiran Yusuf tentang mimpi itu menjadi kenyataan, dan kepala juru minuman itu dibebaskan dan kembali menerima pangkatnya di istana Firaun.

Yusuf yakin bahwa ia telah memiliki seorang sahabat di istana yang akan berbicara kepada Firaun, dan menjelaskan kepadanya bahwa ia tidak bersalah. Namun minggu demi minggu dan bulan demi bulan telah berlalu, dan tidak ada kabar dari kepala juru minuman itu. Juru minuman itu tidak sepenuhnya melupakan Yusuf. Namun ia ragu dan takut untuk menyampaikan kasusnya kepada Firaun. Karena itu mungkin saja membuat Firaun murka dan melempar dia kembali ke dalam penjara. Atau mungkin ada alasan lainnya. Dalam beberapa kasus kepala juru minuman itu melupakan Yusuf. Jika Yusuf telah merugikan kepala juru minuman itu, tentu saja ia tidak akan pernah melupakan dia. Namun karena Yusuf telah menolongnya, ia cepat melupakannya. “Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kejadian 40:23).

Betapa ini merupakan gambaran dari orang yang tidak tahu berterimakasih! Betapa umum bagi manusia yang telah mengalami kebobrokan untuk menjadi tidak tahu berterimakasih! Kepala juru minuman itu adalah seorang yang tidak tahu berterimakasih. Itu adalah karakteristik manusia yang terus meningkat pada hari-hari yang jahat ini. Rasul Paulus berkata,

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama” (II Timotius 3:1-2).

“Berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterimakasih, tidak mempedulikan agama.” Betapa ini adalah gambaran dari generasi ini di “hari-hari terakhir”! Kepala juru minuman ini menggambarkan kebanyakan orang hari ini, “tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kejadian 40:23). Ini adalah generasi yang “tidak tahu berterimakasih” dan “tidak mempedulikan agama.” Ada tiga area utama di mana banyak anak muda tidak tahu berterimakasih.

I. Pertama, banyak orang tidak tahu berterimakasih terhadap orangtua mereka.

Alkitab berkata, “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Itu dikatakan dua kali dalam Perjanjian Lama (Keluaran 20:12; Ulangan 5:16) dan enam kali dalam Perjanjian Baru (Matius 15:4; 19:19; Markus 7:10; 10:19; Lukas 18:20; Efesus 6:2). Itu adalah perintah yang diberikan tanpa syarat. Itu tidak dikatakan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu jika mereka baik kepada kamu.” Tidak demikian. Perintah itu mengatakan hormatilah mereka. Ketika Anda melihat bayi menangis dalam pelukan ibunya, apakah itu dapat mengingatkan bagaimana ibumu melakukan hal yang sama terhadap engkau? Pernahkah Anda memikirkan tentang apa yang ibu Anda telah lakukan untuk Anda, mengganti popok Anda yang telah kotor, mengawasi Anda, menyuci dan menyetrika pakaian Anda, memberi makan kepada Anda, berdoa untuk Anda, menunggu Anda ketika Anda pulang terlambat, mengkwatirkan Anda karena berpikir bahwa Anda adalah hartanya yang paling berharga?

Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena ibu saya mengajar saya untuk berbicara pada umur enam bulan. Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena ia membacakan sesuatu untuk saya ketika saya sakit yang begitu sering mendera ketika saya masih kanak-kanak, dengan tanpa televisi pada zaman itu. Saya bahkan sekarang masih dapat merasakan bagaimana tangannya mengelus dahi saya, dan ciumannya pada kening saya setelah ia telah tiada bertahun-tahun yang lalu. Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena kasih sayang ibu saya setiap hari. Bagaimana dengan Anda? Kapan terakhir kali Anda mengatakan kepada ibu Anda betapa Anda menyanyanginya?

Thaddeus Stevens adalah seorang negarawan Amerika yang paling berkuasa pada masa Perang Saudara. Satu kakinya lumpuh. Ibunya bekerja siang dan malam untuk membiayai pendidikan putranya. Ketika ia menjadi pengacara yang sangat sukses ia memberikan kepadanya kepingan emas setiap minggu untuk dimasukkan ke dalam kantung persembahan di gereja Baptis yang ia hadiri. Sampai hari ini, setiap musim semi dan musim panas Anda akan menemukan mawar atau bunga-bunga lainnya terus bertumbuh di kuburannya. Dalam wasiatnya Thaddeus Stevens meninggalkan sejumlah besar uang untuk memelihara agar bunga-bunga itu terus tumbuh di kuburan ibunya.

Di halaman sebuah gereja di Skotlandia didirikan batu nisan oleh seorang misionaris tersohor Dr. David Livingstone, dan saudara-saudara serta saudari-saudarinya. Berikut ini adalah kata-kata yang terukir di sana,

Untuk menunjukkan tempat peristirahatan dari
   Neil Livingstone
Dan Agnes Hunter, istrinya,
Dan untuk mengekspresikan ucapan syukur kepada Tuhan
   Dari anak-anak mereka
Untuk orangtua yang miskin dan saleh.

Shakespeare memperdengarkan dalamnya kesedihan di dalam King Lear, di mana raja dan seorang ayah yang sudah tua itu berseru, “Yang lebih tajam dari gigi ular adalah menjadi anak yang tidak tahu berterimakasih.” Tidak tahu berterimakasih selalu adalah hal yang buruk, namun yang paling buruk ketika itu ditampilkan oleh seorang anak terhadap orangtuanya. Shakespeare berkata,

Tidak tahu berterimakasih, engkau adalah iblis dengan hati sekeras batu
Lebih mengerikan, ketika engkau melihat itu dalam seorang anak,
Dari pada monster samudera!

Kapan terakhir kali Anda mengatakan kepada ibu Anda bahwa Anda menyanyanginya? Kapan terakhir kali Anda berterimakasih kepada ayah Anda yang bekerja demi membesarkan Anda? Tidak tahu berterimakasih kepada orangtua adalah hal yang jahat dan kejam di dalam anak. “Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.”

II. Kedua, banyak orang tidak tahu berterimakasih kepada sahabat-sahabat dan orang-orang yang pernah berbuat baik kepadanya.

Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta dan mengutus mereka kepada para imam untuk menyatakan bahwa mereka telah bersih. Namun hanya satu dari antara mereka yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus. Juruselamat berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Lukas 17:17-18).

Kita mengingat hal yang menyakitkan dan penghinaan, namun betapa sedikit dari antara kita yang berterimakasih kepada orang yang menolong kita. Setelah melewati begitu banyak kesulitan dan pencobaan sebagai seorang anak, saya selalu terharu dengan seseorang yang telah menolong saya atau menguatkan saya. Pagi ini saya mengucap syukur kepada Tuhan atas orang-orang itu. Saya mengingat Dr. dan Mrs. Henry M. McGowan, yang pertama kali membawa saya ke gereja Baptis, dan yang mengijinkan saya datang ke rumahnya malam demi malam, ketika saya masih usia remaja yang terhilang dan kesepian. Saya mengingat Mr. Ray Phillips, yang pertama mengajar saya untuk berbicara di depan umum. Saya mengingat Murphy dan Lorna Lum, yang membuat saya merasa diterima ketika saya adalah satu-satunya anak kulit putih di gereja Tionghoa. Saya mengingat Mr. Gene Wilkerson, sahabat saya selama lima puluh tahun. Betapa nyamannya tahu bahwa saya dapat pergi ke apartemennya banyak malam dan tidur di sana ketika tidak ada tempat lain untuk disinggahi. Pikiran seperti itu mungkin nampak aneh bagi seseorang yang selalu memiliki tempat untuk tidur. Namun bagi anak laki-laki miskin seperti saya pada waktu itu, itu sungguhlah membahagiakan memiliki seorang teman seperti Mr. Wilkerson. Saya mengingat Dr. Timothy Lin. Ia sangat keras terhadap saya di banyak kesempatan, namun tanpa dia saya bukanlah apa-apa hari ini. Saya mengasihi dia dengan segenap hati saya karena ia mengajar saya hampir segala yang saya tahu tentang pelayanan. Saya mengingat istri saya, yang selalu ada, yang selalu mencintai, yang selalu menolong, yang selalu melayani. Saya mengingat Dr. Cagan, sahabat terdekat dan terbaik yang pernah saya miliki. Saya mengingat setiap dari “the 39,” orang-orang yang telah berkorban sehingga kita tidak akan kehilangan bangunan gereja kita ini. Mereka ini, dan banyak lainnya, adalah orang-orang yang dengan tulus saya syukuri dalam doa-doa saya. Apakah Anda pernah membuat daftar seperti itu? Apakah Anda pernah mengatakan kepada orang-orang seperti itu bahwa betapa bersyukurnya Anda karena mereka?

Menjadi anak miskin, dengan sedikit orang yang mendorong dan menolong saya, saya sangat dipenuhi dengan rasa syukur sehingga saya sungguh berterimakasih kepada orang-orang, seperti orang-orang yang telah saya sebutkan, berulang-ulang sepanjang hidup saya. Itu selalu menghangatkan hati ketika melakukannya. Itu selalu membuat saya merasa baik untuk berterimakasih kepada mereka. Dan saya menyarankan agar Anda melakukan hal itu juga! Seorang teman yang baik, dan seorang mentor yang sejati, adalah emas yang benar-benar berharga!

Bukanlah belati Brutus, namun hati yang tidak tahu berterimakasih dari Brutus, yang telah membunuh Kaisar. Sebagaimana Shakespeare tuliskan,

Karena ketika Kaisar yang mulia melihat dia yang menusuk,
Tidak tahu berterimakasih, lebih kuat dari tangan si pengkhianat,
Cukup mengalahkan dia: kemudian meledakkan hatinya;
Dan, dengan jubahnya menutup wajahnya,
Bahkan di dasar patung Pompey,
Dengan berlumuran darah, Kaisar yang agung itu jatuh.
     – Julius Caesar, III, 2.

Saya selalu terkejut dan sungguh sedih oleh karena mereka yang “mengambil” dari orang-orang dalam gereja kita – dan kemudian pergi tanpa mengucapkan terimakasih. Saya sedang berpikir tentang seorang pemimpin di gereja kita yang telah disekolahkan, demikian juga istrinya, yang pergi tanpa mengucapkan terimakasih, dan memecah belah gereja. Saya sedang berpikir tentang anak muda yang pernah dibantu dengan luar biasanya oleh ibu saya, namun pergi di suatu malam, dan mencuri hadiah pernikahan ibu saya, satu set pisau dan garbu perak, dan membuatnya menangis, karena ia telah menganggapnya sebagai putra kedua. Tuhan telah menolong Anda tidak pernah menginginkan Anda menjadi orang yang tidak tahu berterimakasih seperti itu! Saya heran bagaimana orang-orang seperti itu dapat mengaku bahwa mereka adalah manusia! Manusia tercela! Orang-orang yang seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus,

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:21-22).

Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.”

Saya harus berhenti di sini sejenak dan berterimakasih kepada Dr. Clarence Macartney (1879-1957), seorang pendeta Presbyterian yang saleh, karena ide khotbah ini, dan untuk beberapa ilustrasi. Dr. Macartney telah meninggal pada tahun 1957.

III. Ketiga, banyak orang tidak tahu berterimakasih kepada Tuhan.

Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang Yunani dari dunia ini telah menjadi penyembah berhala karena mereka tidak memuliakan Allah, dan tidak tahu berterimakasih kepada Dia. Tentang bangsa-bangsa Yunani ini ia berkata,

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Roma 1:21).

Tidak tahu berterimakasih adalah dosa melawan Tuhan. Kita sering lupa mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat-berkat yang telah Ia berikan kepada kita. Itu adalah dosa. Rasul Paulus berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal” (I Tesalonika 5:18).

Ibu saya baru bertobat ketika ia berumur 80 tahun. Ia begitu sedih dan tertekan akan hidup, namun semua itu berubah ketika akhirnya ia datang kepada Yesus dan bertobat. Dalam percakapan terakhir saya dengannya, saya melihat bagaimana Kristus telah mengubah hatinya. Di sana di rumah sakit, setelah menjalani operasi besar. Namun ia meluap dengan ucapan syukur kepada Tuhan, walaupun ia sedang menghadapi kematian. Kami berbicara tentang presiden pujaannya, Lincoln. Kami berbicara tentang liburan kesukaannya, Thanksgiving. Ia menyanyikan lagu ini bersama dengan saya,

Bila laut hidup-mu jadi garang,
   Hati jadi takut dan iman goncang,
Hitunglah berkat-mu satu persatu,
   Ingat cara Tuhan memberkati-mu.
(“Count Your Blessings” oleh Johnson Oatman, Jr., 1856-1926).

Kemudian Ibu berkata, “Robert, aku sungguh terkesan dengan apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita!” Walaupun ia sedang menghadapi kematian di rumah sakit, Tuhan telah memberikan dia hati yang penuh syukur atas begitu banyak berkat yang Ia telah berikan bagi kami.

Ketika saya sedang menulis bagian khotbah ini seorang wanita menelepon saya karena kwatir akan anak perempuannya yang hidup dalam dosa. Saya membacakan untuknya apa yang saya baru katakan tentang ibu saya. Saya memintanya untuk mengucap syukur karena anak perempuannya masih hidup, sehingga ia masih dapat berdoa untuknya, sehingga ia menikmati banyak berkat dalam hidupnya sendiri, seperti Rasul Paulus dapat berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal” walaupun ia telah melewati begitu banyak pencobaan dan kesulitan di dalam pelayanannya.

Hitunglah berkat-mu satu persatu,
Ingat cara Tuhan memberkati-mu.

Pemberian terbesar Allah yang diberikan kepada kita adalah Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Paulus memiliki kosa kata yang luas, namun ketika ia berbicara tentang Yesus, kata-katanya tidak mampu melukiskan betapa besarnya karunia itu. Ia hanya dapat berkata, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (II Korintus 9:15).

Pastor Richard Wurmbrand menghabiskan 14 tahun di penjara Komunis Romania karena memberitakan Injil. Selama berbulan-bulan ia dipenjarakan sendiri, tahun-tahun penyiksaan secara fisik, terus menderita karena lapar dan kedinginan, kekejaman dari usaha cuci otak dialami oleh Pastor Wurmbrand. Bagaimana ia melewati semua itu dan masih dapat keluar dengan kemenangan sebagai orang Kristen? Ia berkata,

Jika hati itu telah disucikan oleh kasih Yesus Kristus, jika hati itu mengasihi Dia, orang itu dapat menghadapi semua siksaan… Jika Anda mengasihi Kristus seperti Maria, yang menggendong Kristus sebagai bayi dalam lengannya… maka Anda dapat menghadapi siksaan-siksaan seperti itu (Richard Wurmbrand, Th.D., Tortured for Christ, Living Sacrifice Books, edisi 1998, hlm. 38).

Jadi, pertanyaan yang benar-benar bermuara dari sini – apakah Anda mengasihi Kristus? Jika iya, Anda dapat mengucap syukur kepada Tuhan karena Anak-Nya tidak peduli apapun pencobaan yang menghampiri Anda. Namun jika Anda tidak mengasihi Kristus, maka cepat atau lambat sakit hati akan hadir dalam hidup Anda yang akan mengeringkan Anda dari semua harapan.

Saya minta Anda pagi ini untuk datang kepada Yesus, percayalah pada-Nya, dan berilah dirimu diselamatkan! Di dunia ini sungguh tiada pengharapan tanpa Kristus. Namun jika Anda mengenal Dia, tidak peduli apapun yang terjadi, Anda akan dapat berkata bersama Rasul, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu.” Ucapan syukur sejati datang dari hati orang-orang yang pernah mengalami kasih Kristus, yang telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa-dosa kita dan bangkit dari antara orang mati untuk memberikan kehidupan dan pengharapan yang mengalahkan dunia.

Mari kita berdiri dan menyanyikan pujian nomer tiga pada lembar lagu Anda. Ini adalah lagu kesukaan ibu saya.

Bila laut hidup-mu jadi garang,
   Hati jadi takut dan iman goncang,
Hitunglah berkat-mu satu persatu,
   Ingat cara Tuhan memberkati-mu,
Hitunglah berkat-mu s‘kalian.
   Hitunglah sehari-harian;
Hitung berkat janganlah enggan,
   Hitunglah berkat-mu yang dib‘ri Tuhan.

Sulit dan kacaukah keadaan-mu?
   Salibmu beratkah di atas bahu?
Hitunglah berkatmu pasti kau lega,
   Dan menyanyi t’rus penuh bahagia.
Hitunglah berkat-mu s‘kalian.
   Hitunglah sehari-harian;
Hitung berkat janganlah enggan,
   Hitunglah berkat-mu yang dib‘ri Tuhan.

Bila kau melihat orang banyak uang,
   Ingat harta Kristus tidak terbilang;
Hitunglah berkatmu, sungguh tak terp’ri
   Surga milik ahli waris ilahi.
Hitunglah berkat-mu s‘kalian.
   Hitunglah sehari-harian;
Hitung berkat janganlah enggan,
   Hitunglah berkat-mu yang dib‘ri Tuhan.

Dalam susah dan segala cobaan,
   Ingat, Tuhan Allah yang menguatkan;
Hitunglah berkatmu, Malakpun serta
   S’panjang umur hidupmu di dunia.
Hitunglah berkat-mu s‘kalian.
   Hitunglah sehari-harian;
Hitung berkat janganlah enggan,
   Hitunglah berkat-mu yang dib‘ri Tuhan.
(“Count Your Blessings” oleh Johnson Oatman, Jr., 1856-1926/
     Terjemahan Nyanyian Pujian No. 348).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here) – or you may
write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Kolose 3:12-15.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Great is Thy Faithfulness” (oleh Thomas O. Chisholm, 1866-1960).


GARIS BESAR KHOTBAH

ORANG YANG TAK TAHU TERIMAKASIH – KHOTBAH
PENGUCAPAN SYUKUR

(KHOTBAH #65 DARI KITAB KEJADIAN)
THE MAN WHO FORGOT TO BE THANKFUL –
A THANKSGIVING SERMON
(SERMON #65 ON THE BOOK OF GENESIS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya” (Kejadian 40:23).

(II Timotius 3:1-2)

I.   Pertama, banyak orang tidak tahu berterimakasih terhadap orangtua
mereka; Keluaran 20:12; Ulangan 5:16; Matius 15:4; 19:19;
Markus 7:10; 10:19; Lukas 18:20; Efesus 6:2.

II.  Kedua, banyak orang tidak tahu berterimakasih kepada sahabat-sahabat
dan orang-orang yang pernah berbuat baik kepadanya,
Lukas 17:17-18; Roma 1:21-22.

III. Ketiga, banyak orang tidak tahu berterimakasih kepada Tuhan,
Roma 1:21; I Tesalonika 5:18; II Korintus 9:15.