Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




DICAMBUK, DINODAI DAN DILUDAHI

(THE SCOURGING, SHAME AND SPITTING)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 1 April 2012

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).


Bersama sida-sida dari Etiopia kita mungkin bertanya, “Tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” (Kisah Rasul 8:34). Sama seperti dengan pasal 52, kita tidak dapat meragukan bahwa Yesaya di sini berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus. Yang pasti ini adalah salah satu dari nubuatan-nubuatan yang Yesus acu ketika ia berbicara kepada para Murid ketika mereka naik ke Yerusalem dan berkata,

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit” (Lukas 18:31-33).

Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah akan mengolok-olok, menghina dan meludahi, menyesah dan membunuh Dia. Dan Ia berkata bahwa semua ini telah dinubuatkan “oleh para nabi.” Sehingga teks kita tentu menjadi salah satu dari ayat-ayat yang Ia acu,

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Kemudian lihat betapa secara literal nubuatan itu digenapi. Pontius Pilatus, gubernur Roma, mencambuk Dia. Kemudian para tentara Roma

“...menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!” Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya…” (Markus 15:17-19).

Oleh sebab itu saya yakin bahwa ini adalah Yesus dari Nazaret, Penebus kita, yang telah menggenapi kata-kata nubuatan ini,

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Biarlah Joseph Hart menggambarkan adegan itu,

Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
Terhina di tempat yang sangat mengerikan ini
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
Dan meludahi wajah Pencipta mereka.

Dengan duri menusuk dan melukai kepala-Nya
Mengalir darah dari setiap luka itu;
Punggung-Nya yang penuh dengan luka cambukan,
Namun cambuk yang lebih tajam menusuk jantung-Nya.
   (“His Passion” oleh Joseph Hart, 1712-1768; diubah oleh Pendeta).

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Saya berkhotbah tentang Juruselamat yang menderita malam ini. Dan saya berkata bersama Pilatus, “Lihatlah orang ini.” Palingkan hati Anda dan pandanglah Dia dalam penderitaan-Nya. Lihatlah siapa Dia, contoh apa yang telah Ia tinggalkan, dan apa yang telah Ia lakukan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dari api kekal.

I. Pertama, lihatlah Dia sebagai Allah yang menjelma.

Allah menjelma menjadi manusia untuk hidup di antara manusia di dunia ini. Ia berkata dalam Yesaya 50:2, “Aku telah datang.” Allah Putra “telah datang” dari Sorga dan hidup di antara kita.

“Pada mulanya adalah Firman… Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:1, 14).

“Allah, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia”
       (I Timotius 3:16).

Orang-orang Kristen purba benar memanggil Yesus, “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah sejati dari Allah sejati, dilahirkan bukan diciptakan.”

Pikirkan ini dan Anda akan melihat itu adalah doktrin yang paling luar biasa yang pernah masuk ke dalam pikiran manusia. Spurgeon berkata,

Bukankah ini terbukti, ini akan menjadi benar-benar luar biasa bahwa Allah yang tidak terbatas yang memenuhi segala hal, yang dulu dan sekarang, dan akan datang, Yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahahadir, sungguh berkenan untuk menutupi dirinya dalam pakaian tanah liat kita yang hina. Dia yang telah menjadikan segala sesuatu, namun ia berkenan untuk mengambil daging dari ciptaan ke dalam persatuan dengan dirinya sendiri… Kemanusiaan Tuhan kita bukan suatu khayalan… bukan hanya kelihatan seperti manusia: melampaui segala keraguan “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” “Sentuhlah Aku dan lihatlah,” Dia berkata, “roh tidak memiliki daging dan tulang seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (C. H. Spurgeon, “The Great Mystery of Godliness,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1979 reprint, volume 28, hlm.698).

Yesus adalah Allah dalam daging manusia, melalui penyatuan hipstatik. Ia adalah Allah yang menjelma, Pribadi kedua dari Trinitas Kudus, Firman yang telah menjadi manusia!

Itu mengungkapkan teks kita menjadi tak terselami bagi pikiran manusia! Ia yang adalah Allah dalam daging manusia memberikan diri-Nya sendiri untuk direndahkan dan disiksa! Itu melampaui pikiran manusia bahwa Allah dapat berkata,

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Di sini Sang Pencipta alam semesta, dan segala yang ada di dalamnya, mengijinkan orang-orang berdosa untuk memukul punggung-Nya dan mencabut janggut-Nya! Di sini Allah ku membiarkan orang-orang berdosa yang keji meludahi wajah-Nya yang suci!

Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
   Terhina di tempat yang sangat mengerikan ini
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
   Dan meludahi wajah Pencipta mereka.
(“His Passion” oleh Joseph Hart).

II. Kedua, lihatlah Dia sebagai teladan kita.

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Sebagai hamba Allah, Yesus mengijinkan orang-orang berdosa memukul punggung-Nya, mencabut janggut-Nya, dan meludahi wajah-Nya. Ia dapat saja membuat bumi terbuka dan menelan mereka seperti yang dialami oleh Korah, atau mengirimkan api untuk menghanguskan mereka, seperti yang Elia lakukan. Namun Ia “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7). Dan Rasul Petrus berkata,

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (I Petrus 2:21-23).

Kita mungkin saja rela memberikan hidup dan uang kita kepada Allah, namun ketika kita diserang dan difitnah kita cenderung menariknya kembali. Namun Yesus rela dihina dan disebut penipu oleh orang-orang berdosa yang sangat jahat itu tanpa membela diri-Nya sendiri. Apa yang kita katakan ketika teman-teman dan kerabat menyebut kita munafik, dan berbicara jahat tentang kita karena menjadi orang Kristen? Kita harus ingat bahwa Yesus “tetap diam,” tidak mengatakan apa-apa ketika Ia dituduh oleh saksi-saksi palsu pada malam sebelum penyaliban-Nya (Matius 26:63). Ketika Pilatus berkata kepada Dia, “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Yesus “tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran” (Matius 27:13-14).

Saya mempelajari pelajaran ini dengan susah payah ketika saya membela Yesus selama demonstrasi kami menentang film penghujatan yang berjudul “The Last Temptation of Christ.” Para saksi palsu keluar untuk menuduh saya sebagai anti-Semitisme dan pengkhianat. Ini adalah sama sekali salah. Saya mengasihi orang-orang Yahudi dan negara Israel dengan sepenuh hati dan jiwa saya, dan saya selalu memiliki kasih itu. Tapi saya belajar untuk menderita menerima serangan tersebut dalam keterdiaman ketika teman-teman berbalik melawan saya demi membela Yesus. Selama dua puluh tahun saya hanya sedikit membela diri saya sendiri. Hanya baru-baru ini saya membuat pernyataan untuk melindungi saksi dari gereja kami melawan para penuduh palsu. Yesus berkata,

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi” (Lukas 6:22-23).

Kata-kata dari sang Juruselamat ini telah menjadi penghiburan besar bagi saya selama masa pencobaan itu. Saya tidak berpikir bahwa kita harus membela diri kita sendiri dengan begitu cepat ketika dunia menuduh kita atas nama Yesus. Pada waktu demonstrasi menentang “The Last Temptation” itu seorang pria benar-benar meludahi wajah saya. Saya berdiri di depan puluhan kamera berita dengan ludah mengalir di wajah saya. Saya belajar dari Yesus untuk tidak membalas, karena Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya “dinodai dan diludahi.” Saya berusaha sebaik mungkin untuk bersikap baik kepada orang ini setelahnya. Orang yang patut dikasihani! Karena kemudian dia terbunuh. Allah mengetahui kesedihan yang saya rasakan dan air mata saya curahkan untuk orang itu dan bagi keluarganya.

Dalam sebuah khotbah dari teks kita ini Spurgeon berkata, “Anda harus menjadi berkurang, dan semakin berkurang, bahkan walaupun engkau harus dihina dan dihindari orang, karena ini adalah jalan menuju kemuliaan yang kekal” (“The Shame and Spitting,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1972 reprint, volume 25, hlm. 431).

Marilah setiap dari kita mengingat teladan Yesus ketika orang-orang mencemooh kita dan berbicara melawan kita karena kita menjadi para pengikut-Nya pada hari-hari yang jahat ini. Spurgeon berkata,

Apakah Anda penuh dengan rasa sakit dan nyeri ...? Yesus tahu semua tentang itu, karena Ia "memberikan punggung-Nya untuk dipukul." Apakah Anda menderita ... karena fitnah? "Dia tidak menyembunyikan wajah-Nya ketika dinodai dan diludahi." Apakah Anda pernah diejek ...? Pernahkah kesalehan Anda dibuat sebagai lelucon? Yesus dapat bersimpati dengan Anda, karena Anda tahu penghinaan yang mereka perbuat atas Dia. Dalam setiap kepedihan dan kehancuran hati Anda Tuhan Anda telah menanggung bagian-Nya. Pergi dan katakan padanya. Banyak orang tidak akan memahami Anda. Anda adalah burung rintik, berbeda dari yang lainnya, dan mereka akan mematuk Anda, tetapi Yesus tahu ini, karena Ia adalah seekor burung rintik juga...Serahkan diri Anda pada-Nya dan dia akan bersimpati dengan Anda (Spurgeon, ibid.).

Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
   Terhina di tempat yang sangat mengerikan ini
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
   Dan meludahi wajah Pencipta mereka.

III. Ketiga, lihatlah Dia sebagai penebus orang-orang berdosa.

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

Ingatlah bahwa Yesus tidak menderita oleh karena dosa-dosa-Nya sendiri, karena Ia tidak memiliki dosa.

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).

Ayat dalam Yesaya 53 ini menjelaskan kepada kita dengan jelas bahwa Dia tertikam dan diremukkan, dan mati adalah demi menyelamatkan orang-orang berdosa. Yesus menanggung dosa-dosa kita. Dan Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah membuat “Dia yang tidak mengenal dosa menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (II Korintus 5:21). Ketika Yesus menderita, Ia menderita karena dosa-dosa kita, untuk membayar hukuman atas dosa-dosa kita. Dosa layak untuk diludahi. Dosa layak untuk disalibkan. Dan karena Yesus mengambil dosa-dosa kita, Dia harus dicambuk. Dia harus diludahi. Dia harus mendapat malu. Jika Anda ingin tahu apa yang Allah pikirkan tentang dosa, lihatlah Putra-Nya, dicambuk punggung-Nya, dicabut jenggot-Nya, diludahi wajah-Nya oleh para prajurit ketika Ia membuat korban penghapus dosa bagi kita. Jika Anda dan saya yang dicambuk dan dicabut jenggot atau rambut kita dan diludahi karena dosa kita itu tidak akan mengejutkan. Tetapi Dia yang menanggung dosa kita adalah Allah Anak. Yesus berdiri di tempat kita dan “tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah” (Yesaya 53:10). Bahkan walaupun dosa-dosa kita diletakkan atas Yesus melalui imputasi, itu telah menyebabkan penderitaan dan rasa malu yang paling dalam sebelum itu dibayar di kayu salib.

Perhatikan teks kita berkata, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku.” Yesus dengan sukarela memberikan diri-Nya sendiri untuk dipukul, membiarkan orang-orang itu mencabut jenggot-Nya, dan meludahi wajah-Nya. Ia memberikan diri-Nya sendiri untuk mati di kayu salib. Tak seorangpun dapat membuat Dia menderita karena dosa-dosa kita. Ia memberikan diri-Nya dengan sukarela. Anak Allah dengan sukarela menjadi terkutuk bagi kita, sebagai pengganti kita, untuk membayar hukuman atas dosa-dosa kita – sehingga kita dapat diampuni oleh Allah dan dinyatakan benar dalam pandangan-Nya.

Dapatkah Anda mendengar ini dan tidak merasa terharu? Dapatkah kita mengingat Anak Allah dipukul, dicabut jenggot-Nya, diludahi, dan tidak dipenuhi oleh keharuan, kekaguman dan pujian? Dia yang menutupi langit dengan awan tidak menutupi wajah-Nya ketika dinodai dan diludahi. Dia yang menciptakan punggung gunung, pun tidak menyayangkan punggung-Nya sendiri dicambuk sampai hancur. Dia yang membalut alam semesta memberikan dirinya dirantai dan ditutup mata-Nya oleh orang-orang yang Ia sendiri ciptakan. Ketika malaikat di Surga menyanyi lagu yang gemuruh dalam memuji Dia, mengapa Dia dipakukan di kayu salib? Saya kira itulah sebabnya bekas paku selamanya akan berada di tangan dan kaki-Nya, sehingga kita tidak akan dapat melupakan apa yang Dia lakukan bagi kita ketika kita melihat Dia di Surga nanti. Bagaimana saya dapat melihat wajah-Nya dalam kemuliaan tanpa mengingat bahwa orang berdosa pernah mencabut jenggot-Nya sementara ludah membasahi pipi-Nya yang kudus!

Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
   Terhina di [tempat yang sangat mengerikan ini]
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
   Dan meludahi wajah Pencipta mereka.

Wajahnya! Mengapa tidak meludahi malaikat? Apakah tidak ada tempat bagi Anda untuk meludah selain pada wajah indah-Nya? Wajahnya! Tuhan tolonglah kami! Wajahnya! Mereka meludahi wajah suci Yesus! Spurgeon berkata, “Saya bisa berharap orang itu tidak pernah diciptakan, atau bahwa ... ia tersapu ke dalam kehampaan daripada hidup hanya untuk melakukan hal mengerikan seperti itu” (ibid., hlm. 428). Tuhan Tolonglah kami! Mereka meludahi wajah Penebus kita!

Jika Anda masih terhilang, saya minta Anda percaya kepada Dia sekarang. Dosa Anda berkahir ketika Anda percaya Dia, karena Dia telah menanggung segala dosa dan kesalahan kita ketika Ia dipakukan di kayu salib. Penghukuman atas Anda dihapus, karena Yesus telah menanggung semuanya – pada punggung-Nya, pada pipi-Nya, pada wajah-Nya, dan dalam luka pada tangan dan kaki-Nya. Percayalah Dia dan semua penghukuman atas dosa-dosa Anda dihapuskan, dan Anda diselamatkan, dibenarkan selama-lamanya oleh kasih penebusan-Nya! Mari kita berdiri dan menyanyikan himne nomer 7, “Oh, What a Fountain!” oleh Dr. John R. Rice.

Kami memiliki kisah kasih yang melampaui segalanya,
   Kami menceritakan bagaimana orang-orang berdosa beroleh pengampunan
Ada pengampunan cuma-cuma dari Yesus yang telah menderita,
   Dan melakukan penebusan di kayu salib Kalvari.
Oh, betapa sungai rahmat sedang mengalir.
   Turun dari Juruselamat manusia yang tersalib,
Darah yang mahal yang Ia curahkan demi menebus kita,
   Anugerah dan pengampunan bagi semua dosa kita.
(“Oh, What a Fountain!” oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here) – or you may
write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Lukas 18:31-33.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Lead Me to Calvary” (oleh Jennie Evelyn Hussey, 1874-1958).


GARIS BESAR KHOTBAH

DICAMBUK, DINODAI DAN DILUDAHI

(THE SCOURGING, SHAME AND SPITTING)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yesaya 50:6).

(Acts 8:34; Lukas 18:31-33; Markus 15:17-19)

I.   Pertama, lihatlah Dia sebagai Allah yang menjelma,
Yesaya 50:2; Yohanes 1:1, 14; I Timotius 3:16.

II.  Kedua, lihatlah Dia sebagai teladan kita., Yesaya 53:7;
I Petrus 2:21-23; Matius 26:63; 27:13-14; Lukas 6:22-23.

III. Ketiga, lihatlah Dia sebagai penebus orang-orang berdosa,
Yesaya 53:5; II Korintus 5:21; Yesaya 53:10.