Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




PENDERITAAN KRISTUS DI GETSEMANI

(CHRIST’S AGONY IN GETHSEMANE)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 18 Maret 2012

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).


Minggu malam yang lalu saya berkhotbah tentangn “Air Mata Yesus.” Klik di sini untuk membacanya. Poin terakhir khotbah itu adalah, “Yesus menanggis di Taman Getsemnai. Saya berkata, “Di Taman Getsemani, malam sebelum Ia dipakukan di kayu Salib, Yesus menderita dan berdoa sendirian. Di sana di kegelapan Getsemani sang Juruselamat mencurahkan jiwa-Nya di dalam doa kepada Allah. Menurut Ibrani 5:7 Ia berdoa ‘dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan’ (Ibrani 5:7). Apa yang Ia takutkan? Saya percaya bahwa Yesus takut bahwa Ia akan mati di sana di Taman itu, sebelum Ia dapat pergi ke kayu Salib untuk menebus dosa-dosa kita.”

Saya juga mengutip Dr. John R. Rice yang berkata, “Yesus berdoa agar cawan kematian itu akan berlalu dari Dia malam itu sehingga Ia dapat hidup untuk mati di kayu salib hari berikutnya.” Saya juga mengutip Dr. J. Oliver Buswell, seorang teolog terkenal, yang berkata bahwa Yesus “berdoa agar selamat dari kematian di taman itu, supaya Ia dapat memenuhi tujuan-Nya ke kayu salib.” Saya juga mengutip Dr. J. Vernon McGee yang berkata, “Sobatku, Ia didengar; Ia tidak mati di Taman Getsemani.” Saya juga berkata bahwa Yesus ada dalam penderitaan luar biasa ketika dosa-dosa kita diletakkan atas-Nya oleh Allah.

Seseorang yang membaca khotbah itu bertanya mengapa Yesus harus pergi ke kayu Salib. Mengapa Ia tidak dapat mati demi dosa-dosa kita Taman itu? Saya menjawab dia dengan berkata bahwa ini tidak mungkin. Alkitab berkata,

“Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (I Korintus 15:3).

Kristus harus mati “sesuai denngan Kitab Suci” – kata tas graphas. Jika Ia mati di Taman Getsemani Ia tidak akan menjadi Juruselamat sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Ia akan menjadi seorang penipu ulung, bukan Juruselamat yang dinubuatkan Ia harus mati kata tas graphas, “sesuai dengan Kitab Suci.” “Kitab Suci” di sini mengacu pada Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru belum ditulis pada waktu itu. Tepat sebelum Yesus masuk Getsemani Ia berkata, “Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi” (Lukas 22:37). Ia mengutip Yesaya 53:12, yang berkata bahwa Ia harus menggenapi ayat itu dengan disalibkan di antara dua penjahat. Jika Ia mati di Getsemani Ia tidak akan menggenapi Yesaya 53:12’ Ia tidak akan mati “kata tas graphas, “sesuai dengan Kitab Suci,” Ia tidak akan menjadi Juruselamat yang dinubuatkan oleh Yesaya!

Yesaya pasal 53 memberikan nubuatan yang paling lengkap dalam Perjanjian Lama tentang penyaliban Kristus. Sesungguhnya perikop itu mulai dengan Yesaya 52:13 dan seterusnya sepanjang 15 ayat dalam Alkitab Bahasa Inggris. Ini memberikan satu nubuatan berhubungan tentang penyaliban Kristus. Sangat sedikit dari nubuatan-nubuatan tentang penyaliban-Nya akan digenapi bila Yesus mati di Getsemani. Yesaya 50:6, yang menubuatkan Ia dicambuk, diludahi dan direndahkan tidak akan digenapi. Mazmur 22:16 yang menubuatkan kedua tangan dan kaki-Nya yang ditembus paku tidak akan digenapi, demikian juga dengan Zakharia 12:10 yang mengatakan, “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam.” Mazmur 22 juga memberikan salah satu nubuatan yang tidak akan digenapi jika Yesus mati di Getsemani. Dan banyak bagian lain dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang berlalu tanpa penggenapan jika Yesus mati di Taman itu. Tidak heran bila Yesus berdoa di Getsemani ‘dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan’ (Ibrani 5:7). Ia takut bahwa Ia akan mati di Taman itu, dan tidak dapat mati di kayu Salib pada hari berikutnya! Ia harus mati kata tas graphas, “sesuai dengan Kitab Suci.” Kristus menggenapi nubuatan Perjanjian Lama dengan detail ketika Ia disalibkan. Jika Ia mati di Getsemani tak satupun dari nubuatan-nubuatan tersebut yang digenapi – dan Kristus akan menjadi seorang penipu ulung, bukan Juruselamat umat manusia yang telah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Kristus tidak akan “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (I Korintus 15:3). Tidak heran Ia berdoa di Getsemani, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku” (Lukas 22:42).

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Kata Yunani yang diterjemahkan “ketakutan” di sini adalah “agonia.” Ini berbicara tentang “ketegangan emosional dan kesedihan mendalam” (Vine). Yesus mengalami penderitaan ekstrim, tersiksa dan sengsara di sana di taman itu. Marilah kita memikirkan tentang penderitaan-Nya di Getsemani selama beberapa menit malam ini.

I. Pertama, penderitaan-Nya dijelaskan.

Yesus makan Paskah bersama para murid-Nya. Di sana Ia mengadakan Perjamuan Tuhan pertama bersama dengan mereka. Yudas meninggalkan kelompok itu dan pergi menemui para imam kepala untuk mengkhianati Dia. Orang-orang itu masih menyanyikan nyanyian pujian dan kemudian keluar menyeberangi Sungai Kedron, naik ke Bukit Zaitun, masuk ke dalam Taman Getsemani yang gelap. Di tepi Taman itu Yesus meninggalkan depalan murid, berkata kepada mereka, “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa” (Markus 14:32). Ia kemudian membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama Dia masuk lebih dalam ke Taman itu di mana Ia “sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah” (Markus 14:33-34). Joseph Hart berkata,

Banyak derita Ia telah pikul,
   Banyak cobaan berat Ia hadapi,
Kesusahan, dan rasa sakit yang luar biasa:
   Namun pencobaan yang paling menyakitkan
Adalah demi menyelamatkan engkau,
   Getsemani yang penuh kesusahan!
Adalah demi menyelamatkan engkau,
   Getsemani yang penuh kesusahan!
(“Many Woes He Had Endured” oleh Joseph Hart, 1712-1768;
     menala “Come, Ye Sinners”).

Matius berkata bahwa Ia “mulai merasa sedih dan gentar” (Matius 26:37). Berhubungan dengan kata Yunani yang diterjemahkan “gentar” di sini, Goodwin berkata bahwa ada gangguan dalam penderitaan Yesus, karena kata itu berarti “terpisah dari manusia – orang yang dipisahkan dari umat manusia.” Itulah maksudnya! Yesus diarahkan ke tepi gangguan, sampai pada titik hampir gila, dengan intensitas penderitaan-Nya. Matius mengutip sang Juruselamat ketika berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Matius 26:38). Kata Yunani yang diterjemahkan “sangat sedih” di sini berarti “dipenuhi dukacita, sungguh amat sedih” (Strong) diliputi oleh dukacita. “Kepala dan telinga-Nya ditenggelamkan dalam dukacita dan tidak dapat bernafas,” kata Goodwin. Rienecker berkata Ia “Dikelilingi oleh dukacita, diliputi oleh kesusahan.” Yesus ditenggelamkan dalam dukacita dan kesengsaraan mendalam. Markus menjelaskan kepada kita bahwa Ia “sangat takut dan gentar” (Markus 14:33). Kata Yunani yang diterjemahkan “sangat takut dan gentar” di sini berarti “sepenuhnya dikejutkan” (Strong), “sedang berada dalam genggaman kengerian” (Rienecker), “mengalami kesusahan luar biasa, dilemparkan ke dalam…. Terror, ancaman yang sepenuhnya menakutkan, diserang oleh kengerian” (Wuest). Joseph Hart berkata,

Datanglah, kamu semua umat pilihan Allah,
   Yang rindu merasakan darah-Nya yang menyucikan,
Yang berduka bergabunglah denganku kini,
   Tuk nyanyikan tentang kesedihan di Getsemani

Di sana Tuhan dari kehidupan nampak,
   Dan menderita, mengerang , dan berdoa dan sangat takut,
Semuanya ditanggung oleh Allah yang menjelma,
   Dengan cukup kekuatan, dan tiada yang terelakkan
(“Gethsemane, The Olive-Press!” oleh Joseph Hart, 1712-1768;
     menala “‘Tis Midnight, and on Olive’s Brow”).

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

II. Kedua, penyebab dari penderitaan-Nya.

Apa yang menyebabkan dukacita Kristus di Taman itu? Saya dulu berpikir bahwa penderitaan-Nya disebabkan oleh karena serangan Setan. Namun saya serakang meragukan bahwa ini adalah penyebabnya. Iblis tidak ditekankan dalam catatan tentang penderitaan-Nya di Getsemani. Tepat pada permulaan pelayanan-Nya Ia dicobai oleh Iblis. Tiga kali di padang gurun “si pencoba datang kepada Dia” (Matius 4:3). Namun kita tidak pernah membaca bahwa Yesus “sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh” pada saat pencobaan itu. Tidak ada penekanan seperti keluar peluh darah-Nya di Getsemani. Pada saat pencobaan-Nya di padang gurun Yesus mengalahkan Iblis dengan mudah dengan mengutip Firman Allah. Namun di Getsemani penderitaan-Nya begitu besar sehingga membawa Dia ke tepi kematian. Dr. McGee berkata, “Ketika Ia berdoa di Taman itu, ‘Biarlah cawan ini berlalu dari-Ku’ (Lukas 22:42), ‘cawan’ itu adalah kematian. Ia tidak ingin mati di Taman Getsemani” (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, volume V, hlm. 540; catatan untuk Ibrani 5:7).

Ini nampak bagi saya bahwa penderitaan yang lebih pahit di Getsemani datang dari Allah Bapa. Saya percaya itu, di Taman itu,

“TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6).

Spurgeon berkata, bahwa di Getsemani, Allah Bapa membuat “Dia yang tidak mengenal dosa… menjadi dosa karena kita” (II Korintus 5:21). “Ia pada waktu itu… menanggung kutuk yang seharusnya ditanggung orang-orang berdosa, karena Ia berdiri di tempat orang berdosa dan harus menderita menggantikan orang berdosa… Ia pada waktu itu sadar, mungkin untuk pertama kalinya, apa itu maksudnya menjadi penanggung dosa… karena semua dosa diletakkan atas-Nya” (C. H. Spurgeon, “The Agony in Gethsemane,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1971, volume XX, hlm. 593).

Ada dua kambing yang digunakan Harun pada Hari Penebusan. Kristus di Taman itu adalah gambaran dari kambing kedua. Kambing kedua mengalami ketakutan yang luar biasa ketika ia akan dijadikan korban bagi dosa. Ketakutan dan rasa sakit yang dirasakan oleh binatang ini hanyalah gambaran kecil atau tipe dari penderitaan Kristus. Penderitaan Kristus di Taman itu adalah antitypenya, penggenapannya

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Nabi Yesaya berkata,

“Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah...” (Yesaya 53:10).

Tentu ini telah mulai di Taman Getsemani!

‘Malam itu; dan demi kesalahan orang lain
   Seorang yang penuh kesengsaraan mengangis darah;
Namun Ia belutut dalam kesengsaraan
   Tidak ditinggalkan oleh Allah-Nya
(“‘Tis Midnight, and on Olive’s Brow” by William B. Tappan, 1794-1849).

“Malam itu; dan demi kesalahan orang lain, Seorang yang penuh kesengsaraan mengangis darah.” Dr. John Gill berkata, “Ia diremukkan, dan diserahkan kepada kesengsaraan oleh Bapa-Nya; penderitaan-Nya barulah mulai, karena penderitaan itu tidak berakhir di sini, namun di kayu salib… Semua itu menunjukkan bagian dari berbagai penderitaan-Nya: dan menjadi sangat berat; dengan beban dosa umat-Nya, dan murka Allah, yang olehnya Ia sangat tertekan… Ia telah menjadi lemah, dan hampir mati… bahkan seperti Ia dibawa ke debu kematian; atau dukacita itu tidak akan meninggalkan Dia, Ia diharuskan mengalami semua itu, sampai jiwa dan tubuh-Nya terpisah satu dengan yang lainnya” di kayu Salib (John Gill, D.D., An Exposition of the New Testament, The Baptist Standard Bearer, 1989 reprint, volume I, hlm. 334).

Adalah di Getsemani bahwa “TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6). Joseph Hart said,

Di sana [Anak Allah] menanggung semua kesalahanku;
   Ini anugerah yang dapat dipercaya;
Namun penderitaan yang Ia rasakan
   Terlalu luas untuk dipahami.
Tak seorangpun dapat menyelami Engkau,
   Penderitaan-Mu, dalam Getsemani yang gelap!
(“Many Woes He Had Endured” oleh Joseph Hart, 1712-1768;
     menala “Come, Ye Sinners”).

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Pandanglah penderitaan Anak Allah
   Rintihan, erangan, peluh darah!
Kasih Allah yang tak terhingga
   Yesus, kasih yang engkau miliki!
(“Thine Unknown Sufferings” oleh Joseph Hart, 1712-1768;
     menala “‘Tis Midnight, and on Olive’s Brow”).

“TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6).

Kristus memikul dosa-dosa kita atas diri-Nya sendiri di Taman Getsemani, dan Ia membawa dosa-dosa kita “dalam tubuh-Nya” ke kayu Salib, di mana Ia mati pada hari berikutnya. Dosa kita adalah yang meremukkan Dia sampai Ia berpeluhkan darah!

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Ya, Ia menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu Salib.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (I Petrus 2:24).

Pergilah ke Taman Getsemani dan lihatlah apa yang Yesus telah lakukan bagi Anda dan saya. Kita harus pergi ke Neraka karena dosa-dosa kita. Namun Yesus menanggung dosa-dosa kita, dan melewati neraka kehidupan di Taman itu dan di kayu Salib, untuk membayar hukuman atas kesalahan-kesalahan kita.

Setiap orang Kristen harus sering merenungkan tentang Getsemani dan kayu Salib. Getsemani dan kayu Salib tidak dapat dipisahkan. “Bagi kita yang diselamatkan pemberitaan [Salib] itu adalah kekuatan Allah” (I Korintus 1:18). Kita dikuatkan untuk hidup bagi Allah oleh karya Kristus di Getsemani dan di kayu Salib! Kita diilhami untuk hidup bagi Kristus dengan memikirkan penderitaan-Nya!

Pada kaki salib-Mu,
   Ku ingat korban-Mu;
Dalam jalan hidupku,
   Jiwaku bahagia
Salib-Mu, salib-Mu
   Yang ku muliakan,
Hingga dalam surga k’lak,
   Ada perhentian
(“Near the Cross” oleh Fanny J. Crosby, 1820-1915/
     Terjemahan Nyanyian Pujian No. 235)

Dan bagi Anda yang belum diselamatkan saya berkata, Bagaimana Anda dapat melihat Dia yang tenggelam dalam penderitaan dan darah, di dalam kegelapan Getsemani, menderita bagi Anda, namun Anda masih berpaling dari Dia? Ia menderita karena dosa-dosa Anda! Bagaimana Anda dapat menyangkal Dia, dan menolak kasih seperti ini?

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Pandanglah penderitaan Anak Allah
   Rintihan, erangan, peluh darah!
Kasih Allah yang tak terhingga
   Yesus, kasih yang engkau miliki!

Yesus menanggung dosa-dosa Anda di Getsemani karena Ia mengasihi Anda!

Dosa melawan Allah yang suci;
   Dosa melawan hukum-Nya yang benar;
Dosa melawan kasih-Nya, darah-Nya;
   Dosa melawan nama-Nya;
Dosa menenggelamkan bagai lautan –
   Sembunyikan ku, Oh Getsemani!
Dosa menenggelamkan bagai lautan –
   Sembunyikan ku, Oh Getsemani!
(“Many Woes He Had Endured” oleh Joseph Hart, 1712-1768;
     menala “Come, Ye Sinners”).

Maukah Anda percaya Dia malam ini? Maukah Anda datang kepada Dia yang mengasihi Anda dengan kasih yang kekal? Percayalah di dalam Juruselamat yang menderita! Percayalah kepada-Nya sekarang! Dosa-dosa Anda akan diampuni oleh-Nya, dan Anda akan memiliki kehidupan yang kekal!

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here) – or you may
write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Markus 14:32-41.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
         “‘Tis Midnight, and on Olive’s Brow” (oleh William B. Tappan, 1794-1849).


GARIS BESAR KHOTBAH

PENDERITAAN KRISTUS DI GETSEMANI

(CHRIST’S AGONY IN GETHSEMANE)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

(Ibrani 5:7; I Korintus 15:3; Lukas 22:37;
Yesaya 53:12; Yesaya 50:6; Mazmur 22:16;
Zakharia 12:10; Luke 22:42)

I.   Pertama, penderitaan-Nya dijelaskan., Markus 14:32, 33-34;
Matius 26:37-38.

II.  Kedua, penyebab dari penderitaan-Nya, Matius 4:3;
Yesaya 53:6, II Korintus 5:21; Yesaya 53:10;
I Petrus 2:24; I Korintus 1:18.