Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




FESTIVAL KUE BULAN
DAN ALLAH YANG MEMBUAT BULAN

(THE MOON CAKE FESTIVAL
AND THE GOD WHO MADE THE MOON)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Pagi, 11 September 2011

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, ami” (Roma 1:25).


Walaupun saya tamatan dari California State University di Los Angeles, dan tiga seminari teologi, saya telah menerima pelajaran praktikal saya untuk pelayanan paling banyak dari pendeta Tionghoa saya, Dr. Timothy Lin, yang pernah mengajar bahasa-bahasa Semitik dan teologi di program pascasarjana Bob Jones University pada tahun 1950-an. Ia adalah pendeta saya di tahun 1960-an dan 1970an, dan pernah pergi menggantikan James Hudson Taylor III sebagai rektor di China Evangelical Seminary di Taiwan. Dr. David Innes mengingatkan saya tentang garis besar dari Roma 1:18-23 yang pernah dibuat oleh Dr. Lin. Garis besar yang dibuat Dr. Lin tersebut adalah (1) Terang dinyatakan, Roma 1:18-20; (2) Terang ditolak, Roma 1:21-25; (3) Terang ditiadakan, Roma 1:26-32.

Ini adalah gambaran yang terjadi di dunia kuno. Pada mulanya “seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya” (Kejadian 11:1). Namun karena dosa, di Menara Babel, “dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi” (Kejadian 11:9).

Ketika kelompok-kelompok manusia diserakkan pada peristiwa Menara Babel, beberapa dari mereka telah menempuh perjalanan jauh ke arah Timur ke tanah yang kemudian sekarang dikenal sebagai Cina. Dr. James Legge (1815-1897) adalah seorang Sinolog terkenal. Ia pernah menjadi professor Bahasa dan Literatur Cina di Oxford University selama dua puluh tahun. Dalam bukunya, The Religions of China (Charles Scribner’s Sons, 1881), Dr. Legge menekankan bahwa permulaan agama Cina adalah monoteisme, percaya pada satu Tuhan, yang mereka sebut Shang Ti (Raja Sorga). Ia menunjukkan bahwa pada mulanya orang Cina menyembah satu Tuhan, dua ribu tahun sebelum Kristus. Ini berarti sekitar 1,500 tahun sebelum Confucius (551-479 BC) dan Buddha (563-483 BC) lahir. Buddhisme dibawa ke Cina dari India, dan oleh sebab itu, itu adalah agama asing yang pernah dibawa ke Cina. Namun agama yang lebih tua adalah penyembahan kepada satu Tuhan, Shang Ti, yang bertahan selama sekitar 1,500 tahun sebelum Confucius atau Buddha dilahirkan. Berabad-abad kemudian, roh-roh mulai ditambahkan dan disembah, namun Shang Ti masih disembah sebagai Tuhan tertinggi dalam budaya Cina kuno. Pandangan Dr. Legge ini mirip dengan pandangan Dr. Wilhelm Schmidt (The Origin and Growth of Religion, Cooper Square Publishers, 1972 edition). Shang Ti, Raja Sorga, telah menjadi Allah sejati dari Cina purba selama ratusan tahun!

Sangat awal dalam sejarah Festival Pertengahan Musim Gugur menjadi liburan yang sangat penting dalam kalender orang Tionghoa. Itu terjadi pada saat waktu siang dan malam sama lamanya di musim gugur dari kalender solar, ketika bulan purnama penuh. Orang-orang Tionghoa pada zaman dulu tidak percaya bahwa Bulan adalah sebuah dewa. Mereka percaya bahwa Shang Ti adalah Allah yang menciptakan Bulan dan bintang-bintang. Kemudian banyak dongeng muncul yang puncaknya adalah penyembahan terhadap Bulan.

Ini seperti yang terjadi pada Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur) di Amerika. Hari Pengucapan Syukur dimulai oleh para Musyafir. Mereka adalah orang-orang Kristen yang datang ke Amerika dari Inggris untuk mencari kebebasan beragama. Pada Hari Pengucapan Syukur yang pertama mereka menyembah Tuhan, mengucap syukur kepada Dia atas perlindungan dan pemelihara Tuhan bagi mereka. Itu pada tahun 1621. Hari Pengucapan Syukur terus menjadi hari orang Kristen untuk mengingat kemurahan Tuhan. Ini dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Abraham Lincoln (1809-1865). Namun hari ini, hampir 400 tahun setelah perayaan Hari Pengucapan Syukur pertama, kebanyakan orang Amerika tidak lagi memikirkan Tuhan pada Hari Pengucapan Syukur. Kata “Pengucapan Syukur” itu sendiri mengimplikasikan bahwa ada Tuhan yang kita harus syukuri. Bagi banyak orang Amerika sekarang ini, bahkan menyinggung sedikit tentang keberadaan Tuhan saja tidak dapat diterima. Itulah sebabnya mengapa begitu banyak dari mereka sekarang menyebutnya sebagai “Turkey Day” (“Hari Raya Kalkun”). Daripada menjadi hari untuk mengucap syukur kepada Tuhan, bagi mereka ini adalah hari untuk makan kalkun mereka dengan rakusnya, minum bir sambil nonton TV. Jadi, orang-orang Amerika ini sama seperti orang-orang zaman purba,

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya…” (Roma 1:25).

Perubahan berhubungan dengan Hari Pengucapan Syukur di Amerika terjadi hanya setelah 400 tahun. Jadi ini seharusnya tidak mengejutkan bagi kita bahwa Festival Pertengahan Musim Gugur dari orang-orang Tionghoa purba secara bertahap berubah menjadi Festival Bulan. Ini tidaklah mengejutkan bagi kita bila orang-orang Tionghoa perlahan-lahan lupa untuk menyembah Tuhan (Shang Ti) dan secara bertahap mulai menyembah dua manusia (Houyi dan Chang’e, Dewi Bulan) atau “Jade Rabbit” pada Bulan, dan bahkan menyembah Bulan itu sendiri – sama seperti orang-orang Amerika secara bertahap mulai menyebut Hari Pengucapan Syukur dengan “Hari Kalkun.” Jadi, baik orang-orang Amerika maupun orang-orang Tionghoa “telah menggantikan kebenaran Tuhan dengan kebohongan, dan menyembah serta melayani ciptaan dari pada sang Pencipta …” (Roma 1:25).

Hari ini, apakah salah makan Kue Bulan orang Tionghoa di musim gugur? Saya tidak berpikir demikian -- demikian juga tidak salah makan kalkun pada Hari Pengucapan Syukur! Kue Bulan Cina diberi kuning telur di tengahnya untuk menyimbulkan Bulan. Namun selama kita menyembah Tuhan yang telah menciptakan Bulan itu, dari pada menyembah Bulan itu sendiri, saya pikir tidaklah berdosa memakan kuning telur pada Festival Pertengahan Musim Gugur. Mungkin ada beberapa petani Tionghoa miskin yang masih menyembah Bulan. Namun saya tidak pernah menjumpainya, walaupun saya telah bersama orang-orang Tionghoa selama hampir lima puluh tahun. Saya pernah memberikan sekotak Kue Bulan kepada Dr. Lin, pendeta saya untuk jangka waktu yang lama, beberapa minggu sebelum beliau meninggal dunia; saya yakin ia memakannya paling tidak satu. Tidak ada pemujaan berhala di dalamnya. Dr. Lin pernah mengkhotbahkan Injil selama lebih dari delapan puluh tahun. Ia mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Namun ia tidak melihat bahwa salah bila kita makan kue dengan kuning telor di tengahnya itu, sama halnya tidak salah makan kalkun pada Hari Pengucapan Syukur!

Ada orang-orang yang berpikir bahwa pohon Natal adalah salah karena beberapa orang zaman dulu menyembah berhala yang terbuat dari kayu dan membalutnya dengan emas dan perak (Yeremia 10:3-4). Satu penginjil terkenal mengatakan ini tentang pohon Natal – dan berkhotbah menentang pohon Natal dari perikop ini setiap bulan Desember. Namun bagaimana ini mungkin dapat menjadi pohon Natal, sejak Yeremia menulis enam ratus tahun sebelum Kristus lahir pada Natal pertama? Menulis berdasarkan perikop di dalam Yeremia ini, Dr. John R. Rice berkata,

Tidak, Alkitab tidak melarang pohon Natal. Memang benar bahwa para penyembah berhala kadang-kadang menyembah pohon-pohon. Mereka juga menyembah binatang, menyembah angin, menyembah samudera, menyembah matahari. Namun tidak ada penyembah berhala yang membuat pohon Natal yang menghijau sebagai dekorasi… Tidak lebih dari sekedar menghias kuburan dengan bunga-bunga pada Hari Peringatan… Siapa yang berpikir lampu-lampu pada pohon, untuk membuat sukacita anak-anak kecil dan untuk menerangi rumah ketika orang menyanyikan nyanyian Natal, itu dosa? Saya menyukai Natal dan dekorasi Natal, dan saya tidak berpikir itu salah. Semua itu adalah ekspresi sukacita yang ada di dalam hati ketika memikirkan bagaimana Allah menjadi manusia, bagaimana sang Pencipta menjadi bayi, bagaimana “yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya,” II Korintus 8:9 (John R. Rice, D.D., I Love Christmas, Sword of the Lord Publishers, 1955, pp. 11-12).

Demikian juga dengan orang-orang Kristen di China, Taiwan, Korea, Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, dan di antara orang-orang Tionghoa di Indonesia, Amerika, dan banyak bangsa lainnya, yang duduk untuk makan bersama dengan keluarga, mengucap syukur kepada Tuhan di dalam doa, dan makan Kue Bulan pada Festival Pertengahan Musim Gugur. Biarkan mereka mengingat bahwa orang-orang Tionghoa pada mulanya menyembah satu Tuhan, yang telah menciptakan Bulan. Biarkan mereka mengingat bahwa penyembahan kepada Bulan adalah perkembangan selanjutnya, namun Yesus datang membawa kita kembali kepada Tuhan yang sejati, Tuhan dari kebanyakan nenek moyang kita di masa lalu. Nabi Yesaya berkata,

“Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim” (Yesaya 49:12).

Strong’s Exhaustive Concordance; Brown, Driver and Briggs; Gesenius; Dr. John Gill; Keil dan Delitzsch, dan James Hudson Taylor, mereka semua berkata bahwa kata “Sinim” (dibaca si nim) mengacu kepada China (klik di sini untuk membaca khotbah saya, “China dalam Nubuatan Alkitab”).

Yesaya 49:12 adalah nubuatan yang sangat penting, menubuatkan tentang orang-orang Tionghoa yang kembali kepada Allah di akhir zaman. Kebangunan rohani besar yang sedang terjadi sekarang di Republik Rakyat Cina adalah tuaian terbesar dari orang-orang Kristen baru dalam sejarah modern. Hari ini kita menyaksikan ratusan ribu umat manusia berbalik kepada Allah yang sejati, yang pernah disembah oleh kebanyakan nenek moyang kita dari segala bangsa. Kristus telah datang untuk membawa kita kembali kepada Allah. Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa Anda. Ia telah bangkit dari antara orang mati untuk memberikan kelahiran baru dan hidup yang kekal kepada Anda. Mari kita berdiri dan menyanyikan pujian nomer tujuh pada lembaran lagu Anda!

Puji Allah bapa yang maha kuasa,
   Putra-nya dibrikan sebab kasih-nya;
Almasih dislaib demi yang sesat,
   Terbukalah pintu menuju s’lamat.
Puji yang mulia hai dengar sabda-nya,
   Puji yang mulia giranglah manusia;
Marilah menghadap yang maha kudus,
   Diantar putra Allah sang penebus.

Darah Yesus Kristus tebusan dosa,
   Itu janji-nya bagi yang percaya;
Yang paling durhaka bila bertobat,
   Di saat itulah beroleh s’lamat.
Puji yang mulia hai dengar sabda-nya,
   Puji yang mulia giranglah manusia;
Marilah menghadap yang maha kudus,
   Diantar putra Allah sang penebus.
(“To God Be the Glory,” oleh Fanny J. Crosby, 1820-1915).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here) – or you may
write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Roma 1:18-25.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“How Great Thou Art” (oleh Carl G. Boberg, 1859-1940;
diterjemahkan oleh Stuart K. Hine, 1899-1989).