Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




PENGINJILAN PADA ZAMAN JEMAAT MULA-MULA –
SEBUAH MODEL UNTUK HARI INI!

(EVANGELISM IN THE EARLY CHURCHES –
A MODEL FOR TODAY!)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 10 Juli 2011

“Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua” (Markus 6:7).


Dua belas orang ini baru bersama Yesus dalam beberapa minggu. Namun saat itu juga Ia mengutus mereka berdua-dua untuk memberitakan Injil (Markus 6:12). Bahkan pada saat Yesus memanggil mereka, Ia juga “menetapkan… untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3:14). Pasti Anda tahu bahwa orang-orang ini belum begitu rohani. Pastilah Anda tahu bahwa Yudas belum bertobat, bahkan Tomas belum percaya Injil, bahwa Petrus kemudian mencoba untuk menghalangi Yesus pergi ke kayu Salib. Namun Kristus mengutus mereka segera untuk memberitakan Injil! Hal yang paling pertama Yesus katakan kepada Petrus dan Andreas adalah, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia” (Matius 4:19-20).

Lagi, sekitar setahun kemudian, Kristus memanggil tujuh puluh murid-Nya, “lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya” (Lukas 10:1). Mari kita membuka perikop dalam Lukas 10. Mari kita berdiri dan membaca ayat 1 sampai 3.

“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:1-3).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Ini adalah metode Kristus untuk mengutus para murid untuk memberitakan Injil berdua-dua. Saya berpikir bahwa persis seperti itulah yang kita butuhkan hari ini. Juga perhatikanlah bahwa orang-orang ini adalah orang-orang baru, bayi-bayi Kristen yang paling baik, namun Ia mengutus mereka saat itu juga. Ia tidak menghabiskan banyak tahun mengajar Alkitab kepada mereka sebelum mengutus mereka. Tidak! Ia berkata kepada mereka,

“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:3).

Perhatikan juga bahwa Kristus menjelaskan kepada para pengikut muda yang belum berpengalaman ini apa yang harus didoakan. Dan Ia memberitahu mereka apa yang harus mereka doakan itu di dalam ayat dua,

“Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”
       (Lukas 10:2).

Ia memberitahukan ini kepada tujuh puluh murid muda yang belum berpengalaman untuk meminta kiranya Allah mau mengirimkan lebih banyak lagi orang untuk tuaian itu! Dr. John R. Rice menjelaskan ini dengan sangat baik dalam salah satu lagunya yang menggerakkan hati,

Kita harus berdoa kepada Tuhan dari Tuaian,
   “Para penuai yang diutus ke ladang-Nya.”
Penuai sedikit; putih dan boros
   Betapa ladang itu, betapa kayanya ladang itu.
Aku di sini! Aku di sini! Utuslah aku, Oh Tuhan dari Tuaian,
   Hembusilah aku dengan Roh Kudus-Mu.
Aku di sini! Aku di sini!
   Utuslah aku untuk memenangkan jiwa yang berharga hari ini.
(“Here Am I” by Dr. John R. Rice, 1895-1980).

Di akhir pelayanan-Nya di bumi ini, Kristus memberitahu mereka hal yang sama,

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20).

Di akhir Injil Markus Kristus berkata,

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Di akhir Injil Lukas Kristus berkata,

“...dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Lukas 24:47).

Menjelang akhir Injil Yohanes Kristus berkata,

“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21).

Dan perkataan terakhir Kristus sebelum Ia naik ke Sorga adalah,

“Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”
       (Kisah Rasul 1:8).

Suatu kali ada seseorang yang memecah belah gerejanya dengan berkata bahwa perintah ini hanya untuk para Rasul, dan orang-orang Kristen tidak perlu melaksanakannya hari ini. Ia mengenakan jubah hyper-Calvinisme untuk menarik orang mengikuti dia dan meninggalkan gereja mereka. Namun tidak ada hasilnya, karena tidak pernah dapat ada berkat jika perkataan Yesus diputar-balikkan dan tidak ditaati.

Spurgeon adalah seorang Calvinis yang memegang lima pokok Calvinisme, namun ia bukan seorang hyper-Calvinis. Seperti yang akan kita lihat, ada perbedaan antara keduanya. Spurgeon berkata,

Oh! Aku mau agar Gereja ini mau mendengarkan Juruselamat mengalamatkan kata-kata ini kepada jemaat sekarang; karena perkataan-perkataan Yesus adalah firman yang hidup, tidak hanya memiliki kuasa di dalamnya kemarin saja, namun untuk hari ini juga. Perintah-perintah dari sang Juruselamat adalah terus menerus di dalam tugas mereka: perintah-perintah itu bukan hanya untuk para Rasul saja, namun bagi kita juga, dan bagi setiap orang Kristen untuk memikul kuk ini, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Kita tidak dibebaskan dari pelayanan pertama dari para pengikut pertama Anak Domba; aturan-aturan perang kita sama seperti aturan-aturan mereka, dan Kapten kita mengharuskan kita untuk mentaati perintah-Nya sama sempurnanya dengan yang mereka telah lakukan (C. H. Spurgeon, The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1986 reprint, volume VII, hlm. 281).

Mari setiap kita berkata bersama dengan Dr. Rice,

Aku di sini! Aku di sini! Utuslah aku, Oh Tuhan dari Tuaian,
   Hembusilah aku dengan Roh Kudus-Mu.
Aku di sini! Aku di sini!
   Utuslah aku untuk memenangkan jiwa yang berharga hari ini.

Dalam Perumpamaan tetang Perjamuan Besar Yesus berkata, “Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh” (Lukas 14:23). Dalam Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin Yesus berkata, “pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu” (Matius 22:9).

Jemaat lokal yang Yesus dirikan di Yerusalem mentaati perintah-Nya untuk memberitakan Injil secara literal. Beberapa minggu setelah Pentakosta imam besar mengeluh karena mereka “telah memenuhi Yerusalem dengan ajaran” mereka (Kisah Rasul 5:28). Kemudian di dalam Kisah Rasul 5:24 kita diberitahu, “Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” Dalam Kisah Rasul 6:1 kita membaca, “jumlah murid makin bertambah.” Kemudian, di dalam Kisah Rasul 12:24, kita membaca “Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.” Dr. John R. Rice berkata,

      Di Samaria, di mana Diaken Filipus pergi memberitakan Injil, kita diberitahu di dalam Kisah Rasul 8:6, “Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus… mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.” Lagi dalam ayat 12, “Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.” Kesan luar biasa dari kuasa Tuhan sepeti itu dan orang-orang diselamatkan adalah hal yang normal bagi jemaat-jemaat Perjanjian Baru.
      Sesungguhnya, Kisah Rasul 9:31 berkata, “Selama beberapa waktu jemaat… berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
      Jemaat-jemaat “semakin bertambah,” yaitu, para petobat bertambah dan jemaat-jemaat bertumbuh. Itu adalah pola yang selalu terjadi dan konsisten dari jemaat-jemaat Perjanjian Baru di mana orang-orang Kristen menetapkan diri untuk memenangkan setiap orang yang dapat mereka menangkan dan bersaksi setiap hari (John R. Rice, D.D., Why Our Churches Do Not Win Souls, Sword of the Lord Publishers, 1966, hlm. 25).

Dr. Rice melanjutkan perkataannya, “Di samping penganiayaan, di antara para penyembah berhala, orang-orang yang dibutakan, mereka memenangkan banyak orang… Pertumbuhan menakjubkan dari jemaat-jemaat Perjanjian Baru hampir melampaui pengertian kita. Warnock, dalam bukunya yang berjudul History of Protestant Missions, mengatakan bahwa di akhir abad pertama [enam puluh tujuh] tahun setelah hari Pentakosta, ada sekitar 200,000 orang Kristen. Ia berkata bahwa sebelum akhir abad ketiga ada [8,000,000] orang Kristen di tengah penganiayaan dan ribuah menjadi martir. Mereka kemudian menjadi seperti lima persen dari penduduk Kekaisaran Romawi! [Itu berarti satu dari setiap 15 orang adalah seorang Kristen]… di tengah penganiayaan berdarah di seluruh Kekaisaran Romawi. Di samping kemartiran Stefanus dan Yakobus di Yerusalem, dan banyak yang lainnya, penganiayaan ‘sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan ditangkap dan diserahkan ke dalam penjara’ (Kisah Rasul 22:4), dan dalam penjara dan usaha pembuhunan terhadap Paulus, ribuan orang dimenangkan dari antara orang-orang Yahudi. Di samping penganiayaan di bawah Nero, yang mana Paulus dan yang lainnya dipenggal kepalanya; penganiayaan di bawah Hadrian dan khususnya di bawah Antonius Pius, Marcus Aurelius dan Septimus Severus, semangat pemberitaan Injil terus menyala. Workman berkata,

      Selama dua ratus tahun, untuk menjadi seorang Kristen berarti menghadapi penolakan besar, bergabung dengan sekte yang direndahkan dan dianiaya, berenang melawan arus prejudis popular, datang ke bawah kutukan kekaisaran, dan kemungkinan segera dipenjarakan dan mati dengan cara yang sangat mengerikan. Selama dua ratus tahun ia yang mengikut Kristus harus membayar harga, dan siap untuk membayar… dengan kebebasan dan hidupnya. Selama dua ratus tahun hanya sekedar menjadi orang Kristen dianggap sebagai kejahatan” (Rice, ibid., hlm. 27-28).

Dr. Rice berkata, “Di tengah-tengah keadaan yang sangat buruk, kebencian yang kejam, penganiayaan dan ‘penolakan-penolakan,’ orang-orang Kristen Perjanjian Baru melaksanakan pekerjaan memenangkan jiwa mereka yang sangat menakjubkan. Bagaimana membandingkan pekerjaan memenangkan jiwa dari gereja-gereja kita dengan pengajaran dan praktik Perjanjian Baru?” (Rice, ibid.). “Dibandingkan dengan jemaat-jemaat Perjanjian Baru dan orang-orang Kristen Perjanjian Baru ini, jemaat-jemaat kita dan orang-orang Kristen hari ini pada umumnya sangat menyedihkan dan memalukan” (Rice, ibid., hlm. 29).

Lagi, Dr. Rice berkata, “Hanya dengan usaha sekuat tenaga yang dapat menandingi pekerjaan memenangkan jiwa Perjanjian Baru… ada di dalam natur kedagingan kita yang menyedihkan suatu kecenderungan untuk mengapung dari pada mentaati dengan sekuat tenaga, dari pada semangat yang menyala-nyala sebaliknya justru melakukan pekerjaan Allah dengan setengah hati. Sebagaimana lagu klasik yang agung mengatakan,

Cenderung mengembara, Tuhan, aku merasakannya,
Cenderung meninggalkan Allah yang aku kasihi

Jadi ada kebutuhan lagi dan lagi dalam jemaat untuk suatu kebangunan rohani yang luar biasa, untuk suatu kebangunan dari semangat memenangkan jiwa, suatu kebangunan kuasa Allah atas kita. Tidak ada cara lain bagi jemaat untuk memenangkan jiwa kecuali mengikuti pola Perjanjian Baru dengan usaha sekuat tenaga” (Rice, ibid., hlm. 149-150).

Saya tahu bahwa ada orang-orang yang akan berkata bahwa penekanan Dr. Rice bagi setiap orang yang melakukan penginjilan tidak akan memiliki waktu untuk “bekerja.” Sehingga banyak yang berpaling kepada hyper-Calvinisme – bukan lima pokok Calvinisme – namun hyper-Calvinisme, ide bahwa Anda tidak perlu pergi mencari mereka yang terhilang; Allah akan membawa mereka dengan anugerah-Nya yang berdaulat tanpa orang-orang Kristen harus melakukan pekerjaan penginjilan. George Whitefield, William Carey, Spurgeon dan para pemenang jiwa lainnya adalah Calvinis yang menerima lima pokok Calvinisme, namun mereka bukanlah hyper-Calvinist. Mereka percaya bahwa kita semua harus “melakukan pekerjaan pemberitaan Injil” (II Timotius 4:5). Saya ingin setiap pendeta Reformed mau membaca Spurgeon v. Hyper-Calvinism, oleh Rev. Iain H. Murray (Banner of Truth Trust, 1995). Klik di sini untuk memesannya. Ini adalah buku yang luar biasa yang akan menginspirasi Anda, menghangatkan hati Anda, dan memperbaharui semangat penginjilan Anda bagi mereka yang terhilang!

Dr. Rice tidak salah menghimbau orang-orang Kristen untuk meletakkan hati dan jiwa mereka dalam pekerjaan penginjilan. Kelemahan datang karena banyak gereja yang mengikuti dia tidak menghabiskan cukup waktu untuk memperhatikan orang terhilang yang telah dibawa masuk. Mereka pada umumnya memiliki orang-orang yang pernah “berdoa terima Yesus” tanpa mengambil waktu untuk memastikan apakah mereka telah bertobat, dan mengalami pertobatan sejati di dalam Kristus Yesus, sebelum membaptiskan mereka. Dr. Cagan dan saya telah menulis buku tentang masalah “decisionisme” yang Anda dapat baca dengan cuma-cuma pada website ini dengan klik di sini Today’s Apostasy: How Decisionism is Destroying Our Churches.

Jangan lemparkan bayi itu keluar dengan menyelamkannya ke dalam air! Saya sepenuhnya setuju dengan kutipan yang telah saya berikan dari Dr. John R. Rice. Kita harus memeriksa kembali semangat penginjilan dari jemaat mula-mula, dan mengikuti teladan mereka! Marilah kita menyerahkan diri kita sendiri dalam penginjilan bagi yang terhilang! Dan marilah kita juga dengan sangat hati-hati membuat seyakin mungkin bahwa mereka benar-benar telah bertobat sebelum kita membaptiskan mereka! Di atas semua, marilah kita mengingat perintah Kristus,

“Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh”
      (Lukas 14:23).

Marilah kita berdiri dan menyanyikan lagu luar biasa karangan Dr. Oswald J. Smith -- “Evangelize! Evangelize!”

Berikan kami semboyan pada saat ini, kata yang menggentarkan, kata yang penuh kuasa,
Seruan perang, semangat membara untuk menyerukan menang atau mati.
Kata tuk bangunkan gereja dari ketertiduran, Tuk penuhi amanat Tuhan
Panggilan yang diberikan, bangunlah, semboyan kami adalah, Beritakan Injil!

Sukacita malaikat bergema s’karang, Seluruh bumi memuji, dalam nama Yesus;
Kata ini bergema sampai ke langit: Beritakan Injil! Beritakan Injil!
Manusia yang sekarat, umat yang telah jatuh, Buatlah mereka mengenal anugerah Injil;
Dunia yang sekarang ada dalam kegelapan, Beritakan Injil! Beritakan Injil!
   (“Evangelize! Evangelize!” by Dr. Oswald J. Smith, 1889-1986;
        menala “And Can It Be?” by Charles Wesley, 1707-1788).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here)
or you may write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015.
Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr Kreighton L. Chan: Lukas 9:1-6.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr Benjamin Kincaid Griffith:
“Here Am I” (oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).