Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




MENARA BABEL

(KHOTBAH #60 DARI KITAB KEJADIAN)

THE TOWER OF BABEL
(SERMON #60 ON THE BOOK OF GENESIS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Malam, 28 November 2010

“Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:4).


Setelah Air Bah Allah berfirman kepada keturunan anak-anak Nuh untuk “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kejadian 9:1). Allah memerintahkan mereka untuk memenuhi bumi, untuk mendiaminya. Sebagaimana Dr. McGee menjelaskan ini demikian,

Allah telah berfirman kepada manusia bahwa ia akan terserak ke seluruh bumi dan memenuhi bumi. Namun manusia menanggapinya, “Itu tidak akan terjadi. Kami tidak akan terserak; kami akan selalu bersama. Kami jemu dengan Engkau.” Menara Babel adalah pemberontakan terhadap Allah… menara ini menyatakan arogansi, pemberontakan manusia terhadap Allah (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, 1981, volume I, hal. 53; catatan dalam Kejadian 11:4).

Nimrod (Kejadian 10:8-10) memimpin orang-orang itu untuk membangun sebuah menara setinggi yang mereka dapat usahakan di lembah Tigris-Efrat. Ada banyak reruntuhan kuno dari bangunan itu di seluruh area itu. Mereka membangun dasar untuk menara yang menjulang tinggi. Jika mereka berhasil membangunnya dari puncak menara itu mereka akan menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang. Ini nampaknya seperti menara-menara yang dibangun oleh orang Bebilonia sebagai tempat untuk menyembah dewa Marduk mereka. “Menara-menara” ini juga kelihatnya seperti kuil-kuil bangsa Maya di Amerika Tengah, tinggi bangunan-banguan itu menjulang, di mana orang-orang Maya mempersembahkan korban manusia kepada dewa-dewa mereka. Rasul Paulus mengacu kepada penyembahan berhala dari orang-orang zaman dulu ini dalam Roma pasal pertama,

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin” (Roma 1:21-25).

Menara Babel tidak berhasil dibangun sesuai dengan tujuan mereka. Mereka ingin menara itu “mencapai langit.” Namun itu tidak terjadi. Mereka menginginkan itu menjadi pusat budaya mereka, dan menjaga agar mereka tidak “terserak” seperti yang telah diperintahkan oleh Tuhan. Namun, mimpi mereka tidak tercapai, namun justru seluruh proyek itu berakhir dengan kekacauan. “Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel” (Kejadian 11:9). Kata “Babel” berarti “kekacauan.” Ini sungguh merupakan “Menara Kekacauan,” karena di sana Allah menghakimi mereka dengan mengacaukan bahasa mereka ke dalam berbagai bahasa. Dari sanalah semua bahasa di dunia ini berasal, ketika Allah mengacaukan bahasa mereka dan menyerakkan mereka.

Allah mengirim kekacauan sebagai penghukuman kepada kita hari ini. Lihatlah universitas-universitas kita, dengan kesombongan dan para profesor kacau mereka mengacungkan tinju mereka ke wajah Tuhan. Lihatlah para politisi kita, saling menyalahkan antara satu dengan yang lainnya, saling menyerang satu dengan yang lainnya, saling menunjuk – mereka semua tidak mampu menyelesaikan krisis keuangan kita, mereka semua dalam keadaan kacau total. Lihatlah anak-anak muda kita, banyak pengangguran, kacau, tanpa pengharapan masa depan,

“tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”
       (Efesus 2:12).

Lihatlah keluar-keluarga kita, secara total berada dalam kekacauan, dan hancur. Lihatlah bangsa kita, hancur dan sedang terjadi disintegrasi tepat di depan mata kita! Lihatlah kekacauan di seluruh dunia yang Anda baca setiap hari di surat-surat kabar!

Umat manusia sedang dalam kekacauan hari ini. Kekacauan yang sangat mengerikan kita lihat di dunia ini tidak dapat dijelaskan secara psikologis, atau pun sosiologis. Alkitab sendiri memberikan alasannya. Akar dari kekacauan manusia adalah kesombongan dan pemberontakan melawan Allah.

“Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:4).

Apa yang menyebabkan kesombongan dan arogansi, serta pemberontakan melawan Allah yang telah menciptakan kita? Tidak ada satu pun natur manusia yang telah berubah. Masalah terbesar manusia adalah sombong dan memberontak melawan Allah. Itu berawal dari kejatuhan Setan dari Sorga,

“Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah…. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!”
       (Yesaya 14:13-14).

Kesombongan Setan adalah dosa pertama di alam semesta ini. Namun Allah melempar dia keluar dari Sorga ke dalam atmosfir di sekitar bumi ini. Kesombongan dan pemberontakan dibawa oleh dia turun ke bumi ini.

Dan itu juga oleh dosa Adam,

“Oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa…” (Roma 5:19).

Seluruh umat manusia menjadi orang berdosa ketika Adam tidak mentaati Allah dalam kesombongan dan pemberontakan. Kita semua mewarisi natur berdosa Adam ketika ia jatuh ke dalam dosa. Tidak ada yang berubah dalam natur manusia sejak kejatuhan itu. Kesombongan dan pemberontakan umat manusia masihlah sama. Perhatikan bagaimana mereka semua bergabung dalam nyanyian di Menara Babel. Saya percaya bahwa Nimrod, pendiri Babel, yang memimpin nyanyian ini,

“Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi”
       (Kejadian 11:4).

Mereka menyanyikan itu lagi dan lagi – ribuan dari mereka sedang menyanyikan dengan serentak. Namun perhatikan ini – tak seorang pun berdiri melawan pemberontakan ini. Mereka semua bergabung dalam kesepakatan dan menyanyikan ini,

“Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi”
       (Kejadian 11:4).

Tak seorang pun yang memprotes. Mereka semua bergabung dalam nyanyian, dan pemberontakan melawan Allah ini!

Ini menunjukkan kepada kita kesatuan umat manusia di dalam dosa,

“Seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Roma 3:10-11).

Dalam garis besar khotbah tentang Menara Babel, Dr. Martyn Lloyd-Jones berkata,

Masalah terbesar manusia adalah kesombongan. Ini bermula dari kejatuhan awalnya. [Manusia semua telah menjadi] sama sejak itu. Manusia berdosa selalu percaya bahwa ia dapat menjadi sama dengan Allah dan menggantikan Allah. [Manusia] juga percaya ia dapat mencapai keamanan, kebahagiaan dan keamanan dengan usahanya sendiri. Ini selalu memimpin kepada bencana dan kekacauan. Kebodohan yang sungguh tragis dari [kebohongan dalam diri manusia] ini tidak menyadari kebesaran Allah; tidak menyadari kesusahan dirinya sendiri; tidak menyadari bahwa Allah [menawarkan keselamatan melalui] Kristus. Satu-satunya jalan ke Sorga adalah Kristus (Martyn Lloyd-Jones, M.D., quoted by Iain H. Murray in Lloyd-Jones: Messenger of Grace, The Banner of Truth Trust, 2008, hal. 89).

Fyodor Dostoyevsky, seorang penulis Russia terkenal, benar ketika ia berkata, “Semua perancang pranata sosial mulai masa paling awal sampai tahun sekarang ini… telah menjadi para pemimpi, para pendongeng, orang-orang tolol yang bertentangan dengan diri mereka sendiri dan tidak mengetahui apapun tentang… binatang aneh yang disebut manusia” (dari Dr. Lloyd-Jones, dikutip oleh Iain H. Murray, ibid.). Semua perancang pranata sosial, mulai dari Nimrod sampai kepada Marx, sampai kepada Lenin, sampai kepada Mao Tse Tung sampai kepada Barack Obama, telah “menjadi para pemimpi, para pendongeng, orang-orang tolol yang bertentangan dengan diri mereka sendiri dan tidak mengetahui apapun tentang… binatang aneh yang disebut manusia” (Murray, ibid.). Semua “perancang pranata sosial” telah gagal memahami bahwa umat manusia secara keseluruhan telah rusak oleh karena kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia tidak dapat diselamatkan oleh pranata sosial “baru.” Manusia hanya dapat diselamatkan oleh Yesus Kristus.

Satu-satunya jalan kepada keselamatan adalah melalui Kristus, Anak Allah yang kekal karena,

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (I Timotius 1:15).

Orang-orang yang telah menolak Kitab Suci dengan kesombongan dan pemberontakan akan berkata, “Jika Allah ‘fair’ (‘wajar’) Ia mau menyelamatkan semua manusia.” Konsep tentang ‘fairness’ (‘kewajaran’) sangat modern. Dari pada berbicara tentang ‘fairness’, Alkitab justru berbicara tentang ‘justice’ (‘keadilan’). Sejak semua manusia sombong dan memberontak melawan Allah, akan menjadi adil bagi Allah untuk menghukum setiap manusia ke dalam lautan api Neraka kekal. Itu sungguh adil. Walaupun mungin ini nampak ‘tidak fair’ bagi pikiran modern liberal yang buta, pemabuk dan libertarians, ini mutlak adil bagi Allah untuk mengirim setiap orang berdosa yang tidak dapat diperbaiki lagi itu ke dalam Lautan Api. Dan Alkitab mengajarkan bahwa sungguh semua orang adalah orang-orang berdosa yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Itulah sebabnya mengapa pertobatan sejati mulai dengan pengakuan seseorang, di dalam hatinya, bahwa ia tidak layak menerima kemurahan, dengan mengakui di dalam hatinya bahwa ia layak menerima murka Allah yang menyala-nyala. Hanya ketika manusia diremukkan oleh Roh Allah yang siap untuk mengalami pertobatan sejati. Hanya ketika manusia merasakan “aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mazmur 51:3) ia menjadi calon orang yang akan mengalami pertobatan sejati dalam pemandangan Allah. Dr. J. Gresham Machen berkata, “Injil akan nampak seperti omong kosong belaka” kecuali jika seseorang merasa dihakimi oleh kesalahan dari dosanya, baik dosa warisannya, maupun dosanya sendiri. Hanya ketika roh manusia dihancurkan di bawah beban dosa asal dan dosa perbuatannya maka kemudian, dan bukan sebelum itu, ia menjadi penurut di tangan Allah, yang memungkinkan kemudian menarik dia kepada Yesus.

Selama Anda puas dengan diri Anda sendiri sebagaimana jalan hidup Anda saat ini, Anda tidak akan pernah ditarik kepada Roh Allah kepada Juruselamat, dan Anda tidak akan pernah dapat melarikan diri dari penghukuman kekal! Pikirkan sesering mungkin tentang dosa Anda. Pikirkan sesering mungkin tentang Neraka. Ini akan mempersiapkan diri Anda untuk keselamatan di dalam Kristus Yesus. Semua metode lainnya akan benar-benar gagal. Semua usaha untuk memperbaiki diri Anda sendiri akan gagal. Semua usaha Anda untuk menyelamatkan diri Anda sendiri melalui pembelajaran dan studi Alkitab akan gagal. Semua usaha untuk “mencapai kemanan, kebahagiaan dan keamanan dengan usaha kita [sendiri] “ akan gagal. “Ini selalu memimpin kepada bencana dan kekacauan” (Lloyd-Jones, ibid.). Seperti itulah orang-orang di Menara Babel, demikian juga dengan Anda. Kacau! Kacau! Kehidupan yang kacau dan kekacauan kekal, api dan belerang, sedang menunggu semua orang yang berdiri melawan Allah dalam kesombongan dan pemberontakan! Bencana dan kekacauan akan menjadi selalu bersama dengan Anda kecuali Roh Allah membawa Anda ke bawah keinsafan akan dosa Anda, dan membangunkan Anda untuk merasakan kebutuhan Anda untuk Yesus, Anak Allah!

Yesus telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa Anda. Ia telah menderita menggantikan tempat kita sebagai pengganti kita. Ia telah bangkit dari antara orang mati dan naik ke Sorga untuk memberikan kelahiran baru kepada Anda. Darah-Nya yang mahal dapat menyucikan dosa Anda untuk selama-lamanya! Namun Anda tidak akan pernah merasakan kebutuhan Anda akan Yesus kecuali Anda dibuat merasakan beban dosa Anda, dan menjadi malu dengan kesombongan dan pemberontakan Anda melawan Allah. Kemudian Anda mungkin dipimpin Allah untuk berkata di dalam hati Anda,

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
Kenallah hatiku, Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
Lihatlah, apakah jalanku serong,
Dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
   (“Search Me, O God,” dari Mazmur 139:23-24).

Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu ini. Ini adalah lagu nomer 8 pada lembar lagu Anda, “Selidikilah Aku, Ya Allah” (dari Mazmur 139:23-24).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here)
or you may write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015.
Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Kejadian 11:1-9.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Search Me, O God” (dari Mazmur 139:23-24).