Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KESEPIAN EKSISTENSIAL – DAN GEREJA LOKAL

(EXISTENTIAL LONELINESS – AND THE LOCAL CHURCH)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Minggu Pagi, 3 Oktober 2010

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang” (Lukas 21:25-26).


Yesus mengatakan dua hal yang akan mengkharakteristik kondisi psikologis dari dunia pada akhir zaman. Pertama, Ia berkata “bangsa-bangsa akan takut dan bingung” (Lukas 21:25). Kata Yunani yang diterjemahkan “bingung” berasal dari akar kata “aporeō.” Dr. Strong berkata bahwa kata ini berarti, “tidak memiliki jalan keluar... menjadi bingung (secara mental)” (Strong’s Exhaustive Concordance, number 639). Kristus berkata bahwa generasi sebelum akhir zaman ini akan berada di bawah tekanan psikologis yang membingungkan, bingung secara mentalitas, perasaan bahwa tidak ada jalan keluar dari kondisi mereka yang tanpa pengharapan. Kedua, Kristus menubuatkan, “Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini” (Lukas 21:26). Kristus berkata bahwa generasi di akhir zaman ini akan menjadi begitu ngeri atau ketakutan ketika mereka melihat “segala apa yang menimpa bumi ini” (Lukas 21:26). Seorang filsuf Francis yang terkenal Jean-Paul Sartre (1905-1980) berbicara tentang ketakutan manusia modern, perasaan “tidak ada jalan keluar,” dalam dramanya yang berjudul, “No Exit” (“Tidak Ada Jalan Keluar”).

Sesungguhnya Jean-Paul Sartre yang mempopulerkan “eksistensialisme,” suatu filsafat nihilisme, keperayaan bahwa tidak ada maksud atau tujuan di dalam hidup. Existensialisme adalah filsafat pesimistik dari ketiada-harapan, yang mana mengajarkan bahwa setiap orang ada sendirian dalam alam semesta yang tanpa tujuan, tanpa Allah, tanpa pengharapan, dipenuhi dengan kegelisahan.

Dr. Paul Chappell, dalam bukunya, Understanding the Times, berkata, “Apakah Anda bersusah hati? Apakah Anda gelisah? Apakah berita malam ini menempatkan kekuatiran di dalam hati Anda? Apakah Anda menemukan diri Anda sendiri terkait dengan stabilitas pemerintahan… keuangan, masa depan pasar tenaga kerja, dan [masa depan] Anda?... Perspektif manusia tidak menawarkan apapun selain skeptisisme, frustasi, dan kekuatiran” (Paul Chappell, D.D., Understanding the Times, Striving Together Publications, 2010, hal. xix).

Walaupun saya sungguh tidak setuju dengan “decisionisme” Billy Graham dan beberapa subyek lainnya, ia mutlak benar ketika ia berbicara tentang Lukas 21:25 dalam bukunya yang berjudul World Aflame (Doubleday and Company, 1965). Billy Graham berkata, “Belum pernah ada waktu ketika orang-orang begitu gelisah atau kwatir, begitu mudah terluka dan menyerang. Para psikiater begitu sibuk menghadapi kegelisahan mereka sendiri ketika mereka mencoba untuk menolong kita menghadapi kegelisahan. Banyak rumah tangga hancur di bawah tekanan yang membinasakan dari kehidupan modern… banyak keluarga benar-benar dikhianati oleh para anggota keluarga mereka sendiri. Kita benar-benar ada dalam bahaya dalam generasi yang dipenuhi gangguan psikologis ini” (ibid., hal 217).

Apakah Anda membaca tentang mahasiswa muda di Universitas Texas beberapa hari yang lalu? (29 September 2010). Colton Joshua Tooley berumur sembilan belas tahun, mahasiswa tingkat dua jurusan matematika di Universitas tersebut. Ia digambarkan sebagai mahasiswa yang “brilian,” dan “terhormat.” Ia datang dari keluarga baik-baik. Namun Colton Joshua Tooley, sambil mengenakan topeng ski, “melakukan penembakan brutal pada hari Selasa di kampus Universitas Texas tersebut sebelum kemudian ia lari dan masuk ke dalam sebuah pertustakaan dan menembak dirinya sendiri dengan fatal” (The Associated Press, Wednesday, September 29, 2010). Syukurlah tidak ada orang lain yang terbunuh. Tolong bantu doa keluarganya. Namun bagaimana dengan Colton Tooley sendiri? Apakah Anda tahu bahwa bunuh diri sekarang ini menempati posisi nomer dua sebagai penyebab kematian di antara anak-anak muda antara usia 18 dan 25 tahun? Banyak orang tidak melakukan hal senekat itu, namun banyak anak muda yang berbicara kepada saya bahwa “tidak ada jalan keluar.” Mereka mengalami “kebingungan” secara mentalitas, mereka melihat bahwa “tidak ada jalan keluar” dari kondisi mereka yang tanpa pengharapan. Dan emosi utama di kalangan banyak anak muda adalah merasa kesepian. Seperti begitu banyak orang lainnya, saya curiga bahwa Colton Joshua Tooley merasa sangat kesepian. Di kelilingi oleh ribuan mahasiswa lainnya di perguruan tinggi itu, saya pikir dia merasa sendiri, dengan tak seorang pun yang dia bisa harapakan.

Menurut Dr. Leonard Zunin, seorang psikiater terkemuka, masalah yang terburuk umat manusia adalah kesepian. Dan Erich Fromm sorang ahli psikoanalisa berkata, “Kebutuhan manusia yang paling mendalam adalah kebutuhan untuk mengalahkan keterasingannya, meninggalkan penjara kesepiannya,” untuk lari dari kesepian! Dan tidak ada tempat yang lebih sepi bagi anak-anak muda dari pada sebuah kota besar seperti Los Angeles, atau kampus perguruan tinggi, seperti Pasadena City College, Cal State L.A., atau University of Texas, di mana Colton Joshua Tooley memutuskan untuk bunuh diri beberapa hari lalu. Ia begitu kesepian dan ia merasa bahwa ia tidak dapat keluar dari kesepian itu, bahkan walaupun dikelilingi oleh ribuan mahasiswa lainnya. Bagaimana tentang Anda? Apakah Anda pernah merasa bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar peduli dengan Anda – tak seorang pun yang benar-benar memahami Anda – sehingga mereka tidak dapat peduli tentang apa yang Anda rasakan?

Tanpa harapan, kesepian eksistensial yang paling banyak dirasakan oleh anak-anak muda memiliki banyak sumber – berbagai keluarga, khususnya di antara anak-anak muda Tionghoa kita, anak-anak Asia lainnya, dan bahkan anak-anak Hispanik. Orang tua Anda terpisah dari Anda atau bekerja sepanjang waktu sehingga sulit bagi Anda untuk bertemu dengan mereka. Mereka bukan hanya tidak ada untuk Anda ketika Anda sangat membutuhkan mereka. Anda mencoba untuk menjangkaunya melalui “twitter,” menggunakan “Facebook,” atau tak henti-hentinya mengirim email, dan melakukan ratusan kontak dengan handphone. Namun semua itu tidaklah cukup. Anda sedang berbicara dengan sebuah mesin, tidak bertemu muka dengan muka dengan seseorang yang riil. Tidak heran, walaupun teknologi komunikasi terus berkembang tidak dapat membantu Anda untuk lari dari perasaan yang sangat mengerikan yang gembala Tionghoa saya, Dr. Timothy Lin sebut “kesepian di masa muda.”

Dan bagaimana dengan gereja-gereja ini? Saya yakin Colton Joshua Tooley pernah pergi ke gereja. Orang tuanya memberikan nama tengahnya Joshua, nama tokoh terkenal dalam Alkitab. Namun kelihatannya gereja Colton Joshua Tooley gagal mengobati kesepiannya. Apakah itu gereja Baptis? Apakah itu beberapa gereja injili lainnya? Banyak gereja injili sekarang menutup kebaktian minggu malam mereka. Mereka berpikir itu “progresif” – namun mereka melupakan bahwa anak-anak muda, orang-orang yang belum menikah seperti Colton Joshua Tooley membutuhkan gereja yang cukup peduli kepada mereka untuk memiliki persekutuan pada Minggu malam – dan Sabtu malam juga. Gembala Tionghoa saya, Dr. Timothy Lin, sering berkata, “Buatlah gereja menjadi rumah kedua Anda. Itu akan membantu mengobati kesepian di masa muda.” Saya sepenuhnya setuju dengan dia! Itulah sebabnya mengapa gereja kita memiliki sesuatu untuk anak-anak muda empat malam dalam seminggu! Kami di sini untuk Anda!

Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dalam dunia untuk mati di kayu salib untuk membayar penghukuman atas dosa kita, dan mencurahkan Darah-Nya untuk menyucikan kita dari dosa. Yesus telah bangkit secara jasmani dari antara orang mati demi pembenaran kita, dan untuk memberikan kelahiran baru dan hidup yang kekal kepada kita. Namun Yesus tidak pernah menulis buku. Dan Yesus tidak pernah mendirikan sekolah. Satu-satunya institusi yang Yesus ciptakan di bumi ini adalah gereja lokal. Kristus berkata,

“Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18).

Ia membangun gereja untuk Anda – untuk membantu Anda lari dari ketanpa-harapan dan kesepian nihilistik eksistensial dari dunia yang sia-sia dan kosong ini!

Gereja yang Kristus bangun di Yerusalem adalah model kita. Betapa itu adalah tempat kehagiaan dan sucakita – di gereja yang Kristus bangun di Yerusalem!

“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Rasul 2:42).

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Rasul 2:46-47).

Itulah macam gereja yang ingin kita miliki! Kita adalah sebuah gereja di mana kita “memecahkan roti,” menikmati makan bersama dalam kebahagiaan di akhir kebaktian setiap Minggu pagi, dan setiap Minggu malam! Kita adalah gereja di mana Injil Kristus menjadi pusat, di mana kita memberitakan kabar baik tentang kematian penebusan Kristus bagi dosa-dosa kita, dan kebangkitan-Nya, untuk memberikan hidup kepada kita, dalam setiap kebaktian! Kita adalah gereja yang memiliki acara “makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati” setiap Minggu pagi dan malam. Jika Anda tetap datang ke gereja di sini, Anda akan menjadi gemuk – dengan makanan rohani, dan makanan yang enak-enak juga! Itulah sebabnya mengapa kita berkata tanpa apologi – “Mengapa membiarkan diri kesepian? Pulanglah ke gereja! Mengapa membiarkan diri tetap terhilang? Datanglah kepada Yesus Kristus, Anak Allah!” Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu yang saya tulis, “Come Home to Dinner.” Ini kita nyanyikan dengan irama lagu Barat , “On the Wings of a Dove.” Mari kita menyanyikan bait ketiga!

Orang-orang di kota besar nampak tidak peduli;
Mereka hanya memiliki sedikit peduli dan tiada cinta untuk diberikan.
Namun pulanglah kepada Yesus dan engkau akan sadar,
Ada makanan di meja dan persaudaraan!
Pulanglah ke gereja dan makanlah, Dalam persekutuan yang indah;
Akan menjadi kenyataan, Ketika kita duduk untuk makan bersama!
   (“Come Home to Dinner” by Dr. R. L. Hymers, Jr.;
      to the tune of “On the Wings of a Dove”).

Namun tolong diingat, bahkan gereja kita tidak dapat benar-benar membantu Anda mengatasi kesepian eksistensial dan keputusasaan jika Anda hanya datang sekali saja. Buatlah rencana untuk berada di sini setiap Minggu. Beradalah di gereja setiap Minggu. Ambil waktu untuk belajar Anda pada pertengahan minggu mulai sekarang. Jangan menunggu sampai menit terakhir dan tidak datang ke gereja. Itu bukanlah cara memulai kehidupan Kristen! Belajar setiap hari. Kemudian Anda tidak harus tidak hadir kebaktian di gereja ketika ujian sekolah tiba.

Dalam bukunya yang terkenal di seluruh duni Halley’s Bible Handbook (Regency, 1965 edition, hal. 819), Dr. Henry H. Halley berkata, “Semua orang Kristen harus pergi ke gereja setiap Minggu.” Lakukanlah! Pulanglah ke gereja setiap Minggu! Mari kita menyanyikan bait kedua dari “Come Home to Dinner”!

Indahnya persekutuan dan sahabat-sahabatmu akan hadir di sini;
Kita akan duduk semeja, hati kita dipenuhi sukacita.
Yesus bersama dengan kita, jadi biarlah dikatakan,
Pulanglah untuk perjamuan malam dan marilah memecah-mecah roti!
Pulanglah ke gereja dan makanlah, Dalam persekutuan yang indah;
Akan menjadi kenyataan, Ketika kita duduk untuk makan bersama!

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here)
or you may write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015.
Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Lukas 21:25-28.
Persembahan Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“In Times Like These” (by Ruth Caye Jones, 1944).