Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




PENGLIHATAN DARI HATI MAEREKA –
PERASAAN TANPA PENGHARAPAN MEREKA SENDIRI

(A SIGHT OF THEIR OWN HEARTS – A SENSE OF THEIR OWN HELPLESSNESS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Malam, 13 Juni 2010


Malam ini saya tidak akan berkhotbah dengan tipe khotbah tekstual sebagaimana biasanya saya lakukan. Ini tidak akan menjadi suatu eksposisi dari satu ayat. Sebaliknya, saya akan memberikan kepada Anda studi Alkitab tentang tema kebangunan dan pertobatan. Mari bersama saya membuka Roma 3:18. Bacalah ayat ini dengan lantang.

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”
       (Roma 3:18).

Itu adalah keadaan manusia duniawi. Ketika sang Rasul meletakkan ini dalam ayat 9, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa,” yaitu bahwa, semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Dominasi dosa datang secara alami kepada semua orang, melalui kelahiran. Kuasa dosa adalah warisan dari orangtua kita yang pertama, Adam, karena “sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang” (Roma 5:12). “Maut” yang dibicarakan di sini adalah kematian yang datang atas Adam tepat pada hari ia melakukan dosa manusia yang pertama. Allah berfirman, “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Dan persis seperti itulah apa yang terjadi pada Adam. Tepat pada hari ia melakukan dosa ia mati secara rohani. Ia terpisah dari Allah, “mati di dalam dosa” (Efesus 2:5). Semua umat manusia datang dari Adam. Oleh sebab itu, semua umat manusia, seperti Adam “mati di dalam dosa.” Oleh sebab itu, manusia, di dalam keadaan duniawinya “mati di dalam dosa” – “berada di bawah dosa” seperti yang sang Rasul katakan dalam Roma 3:9, dikuasai dan dikendalikan oleh dosa.

Kemudian, dalam ayat 10 sampai 18 ia mengambarkan manusia dalam kondisi duniawinya, mengakhiri dengan kata-kata yang mengerikan ini,

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”
       (Roma 3:18).

Saya pernah berbicara tentang seorang tua di gedung olah raga saya pada hari yang lain. Kami sedang berenang bersama, namun kami berhenti sesaat dan memulai percakapan. Ia telah memberitahu saya beberapa kesempatan sebelumnya bahwa ia adalah seorang atheis. Namun pada hari yang lain ia mulai menjelaskan kepada saya teorinya tentang asal usul agama. Ia berkata, “Saya berpikir semua agama mulai dengan ketakutan.” Itu bukanlah pikiran baru. Banyak orang telah mengatakan itu. Namun saya hanya membiarkan dia melanjutkannya. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Takut akan apa?” Ia berkata, “Takut akan kematian, takut akan sesuatu yang tidak diketahui.” Ia sedikit terkejut ketika saya menyetujuinya. Ya, ini mungkin benar bahwa semua agama di dunia ini mulai dengan sejenis ketakutan – takut akan kematian, takut akan sesuatu yang tidak diketahui. Namun saya tidak bicara lebih lanjut, karena saya mereasa ia belum siap mendengar ayat yang baru saja kita baca,

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”
       (Roma 3:18).

Ya, mereka mungkin sangat takut akan kematian, dan sesuatu yang tidak dikenal, namun “rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”

Saya telah melayani selama lebih dari lima puluh tahun dan saya belum pernah melihat satu pengecualianpun pada orang-orang dalam keadaan duniawi mereka. Setiap orang, dari segala umur, dari segala ras, dari segala masyarakat dalam hidup, adalah sama, persis sama, dengan tanpa pengecualian yang pernah saya saksikan!

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”
       (Roma 3:18).

Itulah sebabnya mengapa Allah memberikan hukum Taurat. Hukum Taurat Allah tidak diberikan untuk menyelamatkan manusia, namun untuk membangunkannya. Mari membaca Roma 3:19-20 dengan lantang.

“Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:19-20).

Taurat diberikan oleh Allah “supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” “Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Sang Rasul tidak berbicara tentang dosa-dosa individu di sini. Ia tidak memberikan daftar dosa di dalam Roma 3:9-20. Tidak! Tidak sama sekali! Sebaliknya ia memberikan kondisi dari dosa, manusia berada “di bawah dosa.” Dan dalam kondisi berdosa ini tidak ada manusia yang benar (ay. 10); manusia tidak berakal budi, tidak ada yang mencari Allah (ay. 11); ia tidak melakukan apa yang baik yang keluar dari motif yang murni (ay. 12); lidahnya penuh dengan tipu muslihat (ay. 13); mulutnya penuh dengan kutuk dan sumpah serapah (ay. 14); kakinya cepat menumpahkan darah (ay. 15); keruntuhan dan kebinasaan ia tinggalkan pada jalannya (ay. 16); ia tidak mengenal jalan damai (ay. 17); dan

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”
       (Roma 3:18).

Perikop Kitab Suci ini merepresentasikan ras manusia dalam pemandangan yang sangat negatif! Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam tafsirannya untuk Roma 5, berkata, “Orang berdosa adalah suatu kekejian, ia sungguh menyedihkan dalam alam semesta Allah, ia sungguh rendah dan hina” (D. M. Lloyd-Jones, M.D., Romans: Exposition of Chapter 5, Assurance, Banner of Truth Trust, 1971, hlm. 123).

Ini adalah di mana Taurat datang ke dalamnya, “karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Namun bagaimana seseorang dapat mengakui bahwa ia telah melanggar hukum Allah tanpa diganggu olehnya. “Pengenalan akan dosa” hanya datang dan sangat mengganggu ketika Roh Kudus membangunkan orang berdosa untuk menyadari kondisinya, menunjukkan kepadanya bahwa ia adalah pelanggar hukum secara alami, bahwa ia secara alami kecanduan untuk melanggarnya. Seperti seorang anak, lahir dari ibu yang menghisap opium, secara alami kecanduan karenanya, demikian juga anak Adam secara alami menjadi orang berdosa pelanggar hukum dalam inti hati mereka. Mari membuka Yohanes 16:8. Bacalah dengan lantang.

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8).

Ketika Roh Allah datang kepada orang berdosa Ia menegur, menginsafkan, memberikan gangguan-gangguan yang intensif pada jiwa, menunjukkan kepadanya bahwa ia kecanduan untuk melanggar hukum Allah, dan memberontak melawan Allah dalam inti naturnya.

Sekarang, bolehkah saya bertanya beberapa hal kepada Anda? Sudahkah Anda merasakan kuasa dosa, dosa yang menguasai Anda? Sudahkah Anda merasakan bahwa Anda penuh dosa? Sudahkah Anda merasakan, seperti yang dikatakan oleh Dr. Lloyd-Jones, bahwa Anda “sungguh menyedihkan dalam alam semesta Allah” – bahwa Anda begitu rendah dan hina” dalam pemandangan Allah? Dan,jika Anda belum pernah merasa seperti ini, bukankah benar tentang Anda bahwa Anda belum “diinsafkan… akan dosa” oleh Roh Allah? Sudahkah Anda pernah merasa seperti Simon Petrus ketika ia berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”? (Lukas 5:8).

Pekerjaan pertama dari Roh Allah adalah menginsafkan dan memperingatkan hati nurani. Oleh sebab itu, pekerjaan pertama khotbah penginjilan adalah bekerja bersama dengan Roh Allah, untuk menjelaskan kepada orang berdosa bahwa di dalam dia “tidak ada sesuatu yang baik” (Roma 7:18). Kristus, yang terbesar dari semua penginjil, mengatakan kata-kata yang masih terus kita baca setiap Minggu malam. Bukalah itu dalam Lukas 13:24. Bacalah ayat ini dengan lantang.

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

Kristus menjelaskan kepada Anda untuk berjuang, berusaha, bersusah payah “untuk masuk” ke dalam Dia. Sudahklah Anda melakukan itu? Sudahkah Anda membaca dan membaca ulang khotbah ini? Sudahkan Anda berdoa dan berdoa lagi agar Allah memperingatkan dan mengganggu Anda? Sudahkah Anda berdoa, seperti Luther berkata, karena Allah “menakutkan” Anda? Dan, jika Anda belum melakukan ini, dapatkah dengan jujur Anda berkata bahwa Anda masih berjuang untuk “masuk melalui pintu yang sesak itu”? Dan jika Anda tidak berjuang, ya berjuang, untuk masuk ke dalamnya, bagaimana Anda pernah berharap untuk datang di akhir hidup Anda? Setelah semuanya, tujuan “perjuangan” bukanlah untuk memperoleh keselamatan. Bukan sama sekali! tujuan dari perjuangan adalah membuktikan kepada Anda betapa jauhnya Anda dari keselamatan. Tujuan dari perjuangan adalah membuktikan bahwa Anda tidak dapat pernah membuat diri Anda sendiri benar, untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Anda tidak dapat mentaati Allah, bahwa Anda memberontak melawan Dia, kecanduan dosa, dan mati untuk kebenaran. Standard yang Allah syaratkan tidak dapat dicapai oleh pecandu dosa seperti Anda!

Sudahkah Anda pernah merasakan bahwa Anda jauh dari keselamatan? Sudahkah Anda pernah merasakan bahwa Anda tidak pernah dapat membuat diri Anda sendiri benar? Sudahkah Anda pernah terganggu karena Anda tidak dapat mencapai standard Allah? Sudahkah Anda pernah merasakan bahwa natur Anda, hati Anda, terlalu berdosa untuk menghampiri Allah?

Tentu, kemudian Anda mungkin ingin tahu apakah kami menipu Anda dengan menjelaskan kepada Anda apa yang Anda tidak dapat lakukan. Tidak sama sekali. Kami memberitahu Anda apa yang harus kami lakukan. Dan kami memberitahu Anda untuk melakukan apa yang harus Anda lakukan untuk menunjukkan bahwa “menurut natur” Anda adalah orang yang patut “dimurkai” (Efesus 2:3). George Whitefield sering mengatakan in kepada pendengarnya yang banyak sekali bahwa mereka tidak pernah dapat menjadi orang-orang Kristen sejati sebelum mereka “merasakan” kerusakan total mereka dan membenci natur mereka sendiri. Sudahkah Anda merasakan kerusakan Anda? Sudahkah Anda merasakan bahwa Anda tidak benar-benar mengasihi Allah? Ya, bahkan tidak takut akan Dia? Sudahkah Anda pernah merasakan, di dalam kebenaran, bahwa Anda “tidak memiliki pengharapan, dan tanpa Allah di dunia ini”? (Efesus 2:12). Sudahkah Anda pernah merasakan cara itu? Dan, jika Anda belum pernah merasakannya, bagaimana Anda berharap “masuk melalui pintu yang sempit itu”? (Lukas 13:24). Jonathan Edwards berkata,

Kesungguhan dan usaha keras, biasanya menjadi alat yang Allah buat untuk membawa orang-orang ke dalam pengenalan akan diri mereka sendiri, untuk memandang hati mereka sendiri, untuk merasakan ketanpa-pengharapan mereka sendiri, dan keputusasaan di dalam kekuatan dan kebenaran mereka sendiri…Ini adalah pengalaman dari diri kita sendiri, dan menemukan siapakah kita, sehingga biasanya Allah memakai semua ini sebagai alat membawa kita keluar dari semua kebergantungan pada diri kita sendiri…. Oleh sebab itu ini adalah ide yang benar-benar salah [yang dimiliki oleh beberapa orang] sehingga semakin mereka melakukannya, semakin mereka akan bergantung padanya. Sedangkan kebalikannya adalah benar; semakin mereka melakukan, atau semakin mereka terus mencari [berjuang], paling tidak mereka akan beristirahat dalam perjuangannya dan mereka segera akan melihat kesombongan dari semua yang mereka lakukan (Jonathan Edwards, Works, The Banner of Truth Trust, volume I, hlm. 656-657; Judul khotbah diambil dari perikop ini).

Injil memberikan lebih dari sekedar pengampunan dosa. Kristus harus mengubah Anda secara batiniah. Anda harus memiliki “perubahan natur, penyembuhan darinya sendiri, suatu hidup baru” (Iain H. Murray, The Old Evangelicalism, The Banner of Truth Trust, 2005, hlm. 13). Apakah Anda bahkan menginginkan hidup baru? Atau apakah Anda mencari pemaapan sehingga Anda dapat kembali dan hidup dengan cara yang sama seperti yang Anda telah lakukan sebelumnya? Apakah Anda sedang berjuang untuk masuk ke dalam Kristus? Atau apakah Anda hanya ingin diterima di gereja saja? Apakah Anda sedang berjuang untuk dilahirkan kembali, sebagai pribadi baru dengan cara hidup yang baru? Atau apakah Anda hanya menginginkan perasaan lebih bahagia sehingga Anda dapat kembali kepada cara hidup Anda yang lama? Mari kita berdiri dan membaca Lukas 13:24 dengan lantang.

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

William Wilberforce, who freed the slaves in England, pada saat pertobatannya berdoa demikian, “Ya Tuhan, selamatkanlah aku dari diriku sendiri!” Sudah pernahkah Anda berdoa demikian? Apakah Anda membaca khotbah-khotbah Minggu malam in lagi dan lagi? Apakah Anda memikirkan setiap malam tentang natur berdosa Anda? Apakah Anda berdoa meminta Kristus untuk menyelamatkan Anda dari diri Anda sendiri sebelum Anda tidur setiap malam?

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here) – or you may
write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Or phone him at (818)352-0452.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Roma 3:9-20.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“The Unpardonable Sin” (author unknown;
sung to the tune of “O Set Ye Open Unto Me”).