Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




MALKHUS – ORANG TERAKHIR YANG DISEMBUHKAN
OLEH KRISTUS

(MALCHUS - THE LAST MAN CHRIST HEALED)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Minggu Malam, 14 Maret 2010

“Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus” (Yohanes 18:10).


Setelah makan Paskah bersama dengan murid-murid-Nya, Yesus membawa mereka ke dalam gelapnya Taman Getsemani. Ia meninggalkan sebagian besar murid-Nya di pintu masuk Taman itu dan membawa Petrus, Yakobus serta Yohanes masuk ke dalam taman yang gelap itu, di mana Ia meninggalkan mereka bertiga ketika Ia, Ia sendiri, masuk sedikit lebih jauh ke dalam taman itu untuk berdoa “makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44), seakan Allah telah mulai “menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6).

Beberapa saat kemudian, sementara Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya, Yudas “juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata” (Yohanes 18:3). Yesus berkata kepada mereka siapa yang sedang mereka cari, dan “jawab mereka: "Yesus dari Nazaret."” (Yohanes 18:5). Yesus menjawab, secara literal, “Akulah.” Kata “Dia” dicetak miring dalam KJV, yang berarti bahwa sebenarnya Yesus tidak berkata “Dia” ¬– itu ditambahkan oleh para penerjemah. Itulah sebabnya mengapa kata itu dicetak miring. Segera setelah Ia berkata, “Akulah,” yang merupakan nama Allah (Keluaran 3:14), “mundurlah mereka dan jatuh ke tanah” (Yohanes 18:6). Kemudian perkelahian terjadi dan,

“Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus” (Yohanes 18:10).

Yesus menegur Petrus dan memerintahkan dia untuk menyarungkan kembali pedangnya.

Itu membawa perhatian kita kepada seseorang yang bernama Malkhus, yang telinganya diputuskan oleh Petrus. Insiden ini dianggap sangat penting sehingga Roh Kudus memimpin empat penulis Injil untuk mencatatnya (Matius 26:51; Markus 14:47; Lukas 22:50; Yohanes 18:10). Keempat penulis Injil itu semuanya menjelaskan kepada kita bahwa Malkhus adalah hamba Imam Besar. Namun hanya Yohanes yang menjelaskan kepada kita bahwa namanya adalah Malkhus, dan hanya Yohanes yang menyebutkan Petrus sebagai murid yang memutuskan telinga Malkhus. Beberapa ahli tafsir modern beranggapan bahwa Matius, Markus, dan Lukas tidak menyebutkan nama Petrus, mungkin karena pada waktu itu identitas Petrus harus disembunyikan, karena jika namanya disebutkan akan membuat Petrus ada dalam bahaya. Namun Petrus sering ada dalam situasi bahaya, oleh sebab itu saya ragu bahwa itulah alasannya! Yang nampak bagi saya jawaban terhadap pertanyaan itu kita tidak tahu, dan yang terbaik adalah kita berkata bahwa Roh Kudus memimpin penulis Injil Yohanes untuk menyebutkan nama Petrus itu untuk kita – demikian juga halnya dengan nama Malkhus. Dan hanya Lukas yang memberitahu kita bahwa Yesus menyembuhkan telingan Malkhus yang terputus itu.

“Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya. Tetapi Yesus berkata: "Sudahlah itu." Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya” (Lukas 22:50-51).

Fakta bahwa Malkhus adalah “hamba Imam Besar” (Lukas 22:50) menjelaskan mengapa ia ada di barisan depan prajurit yang datang untuk menangkap Yesus. Malkhus adalah wakil pribadi Imam Besar, dan ia berada di barisan depan prajurit itu, ia yang memimpin pasukan itu, dan ia berdiri di belakang Yudas. Ini menjelaskan mengapa Petrus menyerang dia, karena ia yang memimpin pasukan itu. Kemudian kita membaca bahwa Yesus “menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya” (Lukas 22:51). Dr. Lenski berkata,

Ini adalah mujizat yang luar biasa, mujizat terakhir yang Yesus lakukan… [Ini nampak] bahwa telinga itu terlepas dan Yesus menjamahnya dan telinga itu dikembalikan dengan sempurna (R. C. H. Lenski, D.D., The Interpretation of St. Luke’s Gospel, Augsburg Publishing House, 1961 reprint, hal. 1082; catatan untuk Lukas 22:51).

“Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?" (Yohanes 18:11).

“Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18:11). Dr. McGee berkata, “Cawan ini adalah penghukuman yang Ia tanggung untuk kita di kayu Salib… Mari kita tidak berpikir bahwa Juruselamat [pergi ke kayu Salib] dengan enggan. Ibrani 12:2 mengatakan, ‘…yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah’” (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, 1983, volume IV, hal. 485; catatan untuk Yohanes 18:11).

Jangan pernah lupa bahwa ini adalah Yesus, Allah-manusia. Para parajurit dan penjaga Bait Allah itu mundur dan jatuh ke tanah di hadapan kuasa-Nya ketika Ia berkata, “Akulah.” Dengan kuasa-Nya, Ia menyembuhkan telinga musuh-Nya yaitu Malkhus sang kepala pasukan yang terputus itu. Ini adalah Yesus Allah-manusia, yang berkata kepada Petrus untuk menyarungkan kembali pedangnya, dan berkata,

“Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” (Matius 26:53).

Ia dapat memanggil ribuan malaikat untuk menyelamatkan Dia dari penyaliban, namun Ia dengan sukarela pergi menuju Salib itu, untuk menebus hukuman penuh atas dosa-dosa kita.

Mereka mengikat tangan Yesus di taman di mana Dia berdoa,
Mereka menyeret Dia dan mengarak-Nya
Mereka meludahi Juruselamat, agar dosa kita disucikan dan kita dibebaskan,
Mereka berkata, "Salibkan Dia; Dia yang harus disalahkan."
Dia bisa memanggil sepuluh ribu malaikat
Untuk menghancurkan dunia dan membebaskan Diri-Nya.
Dia bisa memanggil sepuluh ribu malaikat,
Tetapi Dia menyerahkan nyawa-Nya, untuk engkau dan saya.
   (“Ten Thousand Angels” by Ray Overholt, 1959).

Yesus pergi ke kayu Salib dengan sukarela, “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian” (Yesaya 53:7) untuk membayar dosa kita dan menyelamatkan kita dari penghakiman Allah.

Namun khotbah kita malam ini akan saya fokuskan tentang seseorang yang bernama Malkhus di sini, seseorang yang adalah hamba Imam Besar – orang yang telinganya ditebas dan diputuskan oleh pedang Petrus – orang yang adalah pribadi terakhir yang Yesus sembuhkan sebelum penyaliban-Nya. Apakah ini adalah orang penting? Bukan. Ia tidak penting sejauh menyangkut Kekristenan. Namun ia disebutkan dalam empat Injil, namanya disebutkan dalam Injil Yohanes, dan disebutkan dua kali dalam Injil Yohanes bahwa ia adalah “seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus” (Yohanes 18:26).

Ia ditekankan lima kali dalam empat Injil. Itulah semua yang kita dengar tentang dia di dalam Kitab Suci. Kita tidak pernah membaca tentang dia lagi – kecuali tentang Petrus yang memutuskan telinganya, dan Yesus menyembuhkannya – tidak ada lagi catatan lain tentang dia! Selain itu, tidak ada penekanan tentang dia dalam semua tradisi kuno. Namun jika ia kemudian menjadi orang Kristen, orang pasti akan berpikir seharusnya paling tidak ada satu tulisan yang menyebutkan atau menekankan tentang dia dalam sejarah atau tradisi. Paling tidak ada satu dari antara Bapa gereja atau Eusebius, atau yang lainnya, yang menyebutkan orang ini, namu tidak ada. Namun tidak ada – tidak ada catatan lagi tentang dia selain di dalam Alkitab – tidak ada lagi catatan tentang dia dalam tradisi kuno. Ia adalah orang terakhir yang Yesus sembuhkan sebelum penyaliban-Nya, namun kemudian tidak ada satu katapun yang menyebutkan tentang dia! Apa artinya itu bagi kita? Saya pikir alasanya jelas. Ia tidak pernah bertobat. Ia tidak pernah menjadi orang Kristen. Saya pikir kesimpulan ini jelas.

Mengapa mengenai kesembuhannya ditekankan dalam Kitab Suci? Saya percaya bahwa setiap kata dalam Kitab Suci bahasa Ibrani dan Yunani diinspirasikan – dan saya percaya bahwa setiap kata dalam Kitab Suci diberikan untuk suatu alasan. Rasul Paulus berkata,

“Semua kitab diilhamkan Elohim dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran, untuk perbaikan, untuk pendidikan dalam kebenaran” (II Timotius 3:16) – ILT.

Percaya II Timotius 3:16 benar, apa yang kita pelajari yang “bermanfaat” dari kesembuhan Malkhus ini? Bukankah jawabannya jelas? Dr. Lenski berkata, “Apakah kesan mujizat yang dibuat [atas Malkhus] ini? Kita lihat tidak ada” (ibid., hal. 1083; catatan atas Lukas 22:51). Saya yakin itulah jawabannya. Ini adalah pelajaran yang kita dapat pelajari dari penyembuhan atas Malkhus – Yesus dapat melakukan mujizat atas seseorang tanpa itu membawa efek rohani apapun atas hidup orang itu. Seseorang dapat mengalami mujizat fisikal namun masih tetap terhilang – tidak bertobat – tidak pernah diselamatkan. Bukankah itu pelajaran yang kita dapat pelajari dari penyembuhan atas Malkhus? Jika bukan itu yang kita pelajari dari ini, saya tidak dapat berpikir tentang alasan lain mengapa Roh Kudus menuliskan mujizat ini dalam Kitab Suci! Allah dapat melakukan mujizat dalam hidup Anda tanpa Anda diselamatkan. Itu adalah pelajaran penting untuk kita hari ini ketika berbagai mujizat dan penyembuhan dianggap penting.

Ijinkan saya mengakhiri khotbah ini dengan menceriterakan sebuah kisah kepada Anda. Ini adalah kisah yang benar-benar terjadi, dan saya tidak menambah-nambahinya. Saya hanya menceritakan fakta apa adanya, persis seperti apa yang terjadi.

Suatu malam saya menerima panggilan telepon. Seseorang yang sudah saya kenal sejak kecil sedang sekarat. Saya diberitahu bahwa para dokter hanya memberitahu bahwa ia hanya mampu untuk bertahan hidup satu jam atau lebih. Mereka meminta saya untuk datang dan berdoa untuknya agar ia disembuhkan. Saat itu hujan sangat deras, dan ia dirawat di rumah sakit yang sangat jauh, sehingga saya meminta salah satu dari diaken kita, Dr. Cagan, untuk menemani saya. Kami berdua akhirnya sampai ke rumah sakit itu. Kami diberitahu oleh keluarga bahwa para dokter memberitahu bahwa hidupnya tinggal beberapa menit lagi. Dr. Cagan dan saya masuk ke dalam kamar di mana ia dirawat di Rumah Sakit itu. Saya meletakkan tangan saya atasnya dan berdoa kiranya Tuhan menyembuhkannya. Itu saja. Kemudian kami pergi dan pulang. Saya benar-benar berpikir bahwa ia akan meninggal malam itu. Saya sangat terkejut karena ternyata keesokan harinya saya mendengar bahwa ia masih hidup. Saya bahkan lebih terkejut lagi, beberapa hari kemudian, ia sudah diijinkan pulang dari Rumah Sakit itu! Keluarganya berkata itu adalah suatu mujizat. Para dokter berkata bahwa itu adalah suatu mujizat. Orang itu sendiri berkata bahwa itu adalah suatu mujizat. Saya sendiri percaya itu adalah suatu mujizat.

Alasan yang membuat dia hampir mati adalah karena alkoholisme. Livernya telah tidak berfungsi. Namun entah bagaimana Tuhan menyembuhkannya. Oleh sebab itu, saya sangat terkejut bahwa setelah sembuh ia langsung kembali ke kebiasaannya menikmati alcohol itu beberapa minggu kemudian!

Benar saja, beberapa bulan kemudian saya menerima panggilan di tengah malam. Mereka berkata bahwa ia sekarat kembali. Kali ini dokter tidak memberikan pilihan apapun. Namun keluarga itu meminta saya untuk datang. Kembali Dr. Cagan dan saya melakukan perjalanan jauh ke rumah sakit itu. Ketika kami masuk ke dalam kamar rumah sakitnya ia sudah nyaris tidak bisa bicara. Namun ia berbisik kepada saya bahwa jika Tuhan menyembuhkannya lagi ia akan pergi ke gereja dan “diselamatkan.” Lagi, saya menumpangkan tangan atasnya dan berdoa agar dia disembuhkan. Kembali, mujizat terjadi. Para dokter itu takjub! Ia kemudian diijinkan pulang dari rumah sakit. Beberapa minggu kemudian dia menepati setengah janjinya. Suatu Minggu pagi ia hadir di gereja kita, dan duduk di barisan depan bersama istrinya mendengarkan saya berkhotbah. Namun ia tidak pernah menatap saya selama saya menyampaikan khotbah. Ia terus menunduk melihat ke lantai. Di akhir kebaktian saya memberikan undangan untuk orang-orang yang ingin berbicara dengan saya tentang keselamatan untuk mengangkat tangannya. Orang ini tidak mengangkat tangannya. Setelah kebaktian selesai saya berbicara dengan dia secara pribadi dan meminta dia untuk datang kepada Kristus. Ia berkata kepada saya, “Saya harus memikirkannya lagi.”

Singkat cerita, ia kembali ke kebiasaan lama menikmati alcohol. Beberapa bulan kemudian ia meninggal dunia karenanya. Mereka menelepon saya dan meminta saya untuk memimpin penguburannya, dan saya melakukannya. Namun saya tidak dapat memberikan kata-kata penghiburan untuk keluarganya. Saya hanya dapat mengkhotbahkan Injil yang sederhana dan ucapan berkat. Selama saya hidup saya akan mengingat dia. Ia telah menjadi teman saya sejak kecil. Ia telah disembuhkan dua kali melalui mujizat. Namun ia tidak pernah berpaling, dan ia tidak pernah bertobat. Ia menolak Kristus sampai akhir hidupnya.

Apa poinnya? Seluruh poin dari khotbah ini sangat sederhana – Anda dapat mengalami mujizat namun tidak diselamatkan. Anda dapat memperoleh jawaban doa namun tidak diselamatkan. Anda dapat diberkati oleh Tuhan namun tidak pernah bertobat. Itulah kasusnya Malkhus dalam Alkitab, dan itulah kasus dari teman saya yang masih terhilang, yang mencintai alcohol sehingga ia tidak mau datang kepada Yesus. Apa yang sangat dicintai oleh Malkhus sehingga ia tidak mau percaya kepada sang Juruselamat yang telah menyembuhkannya? Kita tidak dapat menjawabnya. Alkitab tidak mengatakan apapun. Namun kita dapat diyakinkan bahwa ada sesuatu dalam kehidupan Malkhus yang ia takutkan bisa hilang – sehingga ia malah kehilangan jiwanya! Yesus berkata,

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Apa yang menahan Anda untuk datang kepada Kristus? Ia telah mati demi menebus dosa-dosa Anda. Ia telah mencurahkan darah-Nya yang mahal untuk menyucikan Anda dari selaga kejahatan Anda. Ia telah bangkit dari antara orang mati demi memberikan hidup kepada Anda. Apa yang menahan Anda untuk datang kepada Dia untuk menerima berkat yang luar biasa dan kekal? Saya meminta Anda untuk berpaling dari dosa-dosa Anda dan langsung datang kepada Dia, karena Yesus berkata,

“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang”
       (Yohanes 6:37).

Mujizat terbesar dari semua mujizat adalah keselamatan jiwa Anda. Ketika Tuhan menarik Anda kepada Yesus, dan Anda percaya kepada Dia, yang terbesar dari semua mujizat akan terjadi di dalam jiwa Anda! Anda akan dilahirkan kembali oleh rahmat dan anugerah-Nya!

Dibutuhkan mukjizat untuk meletakkan bintang-bintang di tempatnya,
   Dibutuhkan mujizat untuk menggantung bumi di ruang angkasa;
Tetapi ketika Dia menyelamatkan jiwaku, menyucikan seluruh hidupku,
   Dibutuhkan mujizat kasih dan anugerah!
(“It Took a Miracle” by John W. Peterson, 1921-2006).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on "Khotbah Indonesia"

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr Kreighton L. Chan: Lukas 22:39-51.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr Benjamin Kincaid Griffith:
“It Took a Miracle” (by John W. Peterson, 1921-2006).