Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




SIMON ORANG KIRENE

(SIMON OF CYRENE)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Minggu Pagi, 21 Pebruari 2010

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus” (Markus 15:21).


Yohanes menjelaskan kepada kita bahwa Yesus “memikul salib-Nya Ia pergi ke luar” (Yohanes 19:17) dari halaman pengadilan Pilatus menuju tempat penyaliban. Kita berhutang kepada Yohanes yang menjelaskan ini kepada kita. Tiga Injil lain mengatakan bahwa Simon dari Kirene memikul salib itu, namun Yohanes menjelaskan kepada kita bahwa sebelumnya Yesus sendiri yang memikul salib-Nya.

Yesus sangat lemah waktu itu. Dia telah tidak tidur sepanjang malam. Ia tidak makanan atau minuman setelah Dia makan pada jamuan Paskah pada malam sebelumnya. Dia telah berdoa dalam gelapnya taman Getsemani, berpeluhkan tetes-tetes darah, di bawah beban dosa manusia, pada jam penderitaan-Nya (Lukas 22:44). Dia telah ditangkap, dan diseret ke hadapan imam besar, di mana mereka meludahi wajah-Nya dan memukul-Nya dengan tinju mereka (Matius 26:67). Dia telah dibawa ke hadapan Pilatus, gubernur Romawi, kemudian dibawa ke hadapan Raja Herodes, dan kemudian dibawa kehadapan Pilatus lagi. Dia telah dicambuk atas perintah Pilatus, dipukuli atau disesah sampai setengah mati dengan cambuk Romawi yang kejam yang meninggalkan bekas koyakan-koyakan daging pada punggung-Nya. Para prajurit menancapkan mahkota duri ke kepala-Nya, yang pasti telah membuat-Nya merasa kesakitan dan tersiksa dengan sangat luar biasanya. Kemudian para prajurit meludahi-Nya dan memukul kepala-Nya dengan tongkat kayu (Matius 27:30). Maka tidak heran setelah mengalami semua kekejaman itu, Yesus benar-benar kelelahan. Tidak satu pun dari kita dapat sepenuhnya memahami kasih-Nya bagi kita yang membuat Dia begitu menderita!

Gereja Katolik menjelaskan kepada kita bahwa Yesus jatuh tiga kali dalam perjalanan menuju tempat penyaliban-Nya. Mungkin Dia mengalaminyanya, tetapi Alkitab tidak menjelaskan kepada kita tentang itu. Apakah Dia pingsan sekali, atau dua kali, atau tiga kali, kita tidak diberitahu. Kitab Suci tidak mengatakan mengapa para serdadu memaksa Simon untuk memikul salib-Nya. Kita hanya dapat menduga bahwa, dalam segala kemungkinan, Yesus terlalu lemah untuk membawanya lebih jauh – karena kita dapat memastikan bahwa para tentara yang kejam ini tidak mungkin memperlakukan Juruselamat yang telah berlumuran darah itu dengan baik, atau dengan simpati. Dalam kelemahan dan kondisi-Nya yang sudah sekarat, tampaknya Yesus tidak bisa memikul salib-Nya lebih jauh,

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus” (Markus 15:21).

Ini akan sangat membantu kita pagi ini untuk memikirkan tentang Simon, orang yang memikul salib Yesus.

I. Pertama, Simon dibawa kepada Kristus dengan providensi Allah.

Kita diberitahu dalam teks ini bahwa ia adalah seorang Kirene. Artinya, ia datang dari Kirene, sebuah kota besar di Libya, di Afrika Utara. Sejumlah besar orang Yahudi tinggal di sana, yang telah ada di sana sudah lama sekali, dan mereka telah melakukan perkawinan campur antara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi yang berpindah agama Yudaisme, sehingga hanya ada sedikit keraguan bahwa Simon adalah seorang Yahudi Afrika berkulit gelap. Spurgeon berpikir bahwa ia adalah seorang pria kulit hitam, dan saya pikir dia benar (The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, vol. XXVII, hal. 562). Tidak diragukan lagi bahwa ia mungkin telah hidup hemat dan menabung uang untuk melakukan perjalanan jauh ke Yerusalem untuk perayaan Paskah besar dan perayaan di Bait Allah. Teks ini memberitahu kita bahwa dia “baru datang dari luar kota.”

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota…” (Markus 15:21).

Ketika Simon datang ke Yerusalem, dia “melewati” para prajurit dan Yesus yang pingsan di bawah beban salib itu. Kelihatannya itu seperti sebuah “kecelakaan” saja yang membuat dia datang melewati tempat itu dan berjumpa dengan Kristus. Dr McGee berkata, “Simon adalah orang dari Kirene di Afrika Utara. Dia ... sedang datang untuk menghadiri Paskah di Yerusalem. Tampaknya ia ditarik keluar dari kerumunan orang banyak itu untuk membantu memikul salib itu” (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible Thomas Nelson Publishers, 1983, vol. IV, hal 231; catatan untuk Markus 15:21). Tapi apa yang “kelihatannya” terjadi secara kebetulan itu benar-benar sebuah karya pemeliharaan Allah!

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).

Providensi berarti bahwa Allah mengendalikan setiap peristiwa dari kehidupan kita. Itu seperti yang Shakespeare katakan, ketika Hamlet berkata kepada Horatio,

Bahwa sering kearifan Tuhanlah penyusun
Rangka kasar yang kita dirikan.
   (Hamlet, Babak V, Adegan 2, baris 10-11).

Simon berencana untuk datang ke kota dan “melewati” para prajurit dan orang banyak yang mengikuti Yesus menuju tempat penyaliban-Nya. Dia tidak menyadari bahwa langkahnya sedang diarahkan oleh providensi ilahi! Tuhan telah menuntun dia untuk berada di sana, di saat yang tepat, untuk memikul salib Yesus!

Saya berpikir tentang Mr Griffith, yang menyanyi beberapa saat yang lalu, “God Moves in a Mysterious Way” (by William Cowper, 1731-1800). Tuhan bertindak dengan cara yang misterius di dalam kehidupan Mr Griffith sendiri. Dia datang ke gereja ini dengan sepeda motor bersama seorang teman, yang berkata kepadanya, “Mari kita pergi ke gereja dan membuat masalah.” Temannya melarikan diri ketika saya mulai berkhotbah, tetapi Mr Griffith tetap tinggal dan bertobat! Dia telah menyanyikan lagu solo sebelum saya berkhotbah selama tiga puluh tahun! Mr Griffith datang ke gereja kita oleh providensi atau penentuan Tuhan!

Dan Anda berada di sini pada pagi ini adalah oleh karena providensi Tuhan. Seseorang mungkin telah berbicara kepada Anda. Mereka mengundang Anda untuk datang. Dan sekarang Anda ada di sini! Mungkin tiga puluh tahun dari sekarang Anda juga akan dapat mengatakan, seperti Mr Griffith dan Simon dari Kirene, “Tuhan Bertindak secara Misterius untuk Menunjukkan Keajabian-Nya.” Pada waktu itu, Simon tidak menyadari bahwa providensi atau takdir perjumpaannya dengan Kristus akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Mungkin dengan datang ke sini dan mendengar Injil pagi ini akan mengubah hidup Anda juga! Bagaimanapun kami berdoa agar hal itu terjadi!

II. Kedua, Simon Dipaksa untuk Memikul Salib Kristus

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus” (Markus 15:21).

Para prajurit Romawi itu “memaksa” Simon untuk memikul salib Kristus. Kata Yunani untuk “dipaksa” di sini sangat kuat. Itu kata atau istilah militer. Itu berarti bahwa dia dipaksa secara militer atau wajib militer. Itu berarti dia benar-benar “ditekan” oleh para prajurit itu untuk memikul salib itu. Ia bukan murid Kristus pada waktu itu. Para prajurit “memaksa” dia untuk melakukannya. Mereka meletakkan salib itu atas bahunya! Dia mungkin mencoba untuk melarikan diri, tapi ia tidak bisa. Dia “dipaksa” untuk memikul salib sang Juruselamat.

Saat itulah Simon melihat Yesus untuk pertama kalinya. Dia mungkin telah berusaha melepaskan diri dari para prajurit itu. Ketika ia sadar bahwa ia tidak bisa melarikan diri dari mereka, ia mulai memikul salib itu. Lalu ia melihat Yesus. Apa yang dia lihat pada wajah Juruselamat? Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia seharusnya telah melihat kebesaran kasih-Nya. Dia pasti sudah mendengar tentang hal-hal luar biasa yang telah dilakukan Yesus - mujizat-mujizat, membangkitkan orang mati, memberi makan kepada mereka yang lapar, menyembuhkan mereka yang membutuhkan kesembuhan. Tetapi sekarang sungguh ia telah melihat kasih Allah pada wajah Kristus.

Sang Juruselamat kemudian melangkah di depannya, sementara Simon memikul salib-Nya mengikuti di belakang-Nya. Jadi Dia telah dibebaskan dari memikul salib-Nya. Simon berpikir, “Baiklah, aku akan membantu memikul salib-Nya ke puncak bukit. Tapi hanya sejauh itu saja! Aku akan segera meninggalkan tempat ini setelah aku sampai di sana.” Ini hanya dugaan, tapi saya pikir mungkin itulah yang sedang dipikirkan orang ini.

Selanjutnya, ketika mereka mencapai puncak Bukit Kalvari, dan ia menurunkan salib itu, saya pikir kemudian ia berdiri kembali, di depan para prajurit dan teriakan massa itu. Dia menyaksikan para prajurit itu memakukan tangan dan kaki Kristus pada salib itu. Dia melihat kemudian mereka mengangkat salib itu ke posisi tegak lurus. Ia mencoba untuk menarik diri untuk menjauh dan “pergi,” tapi entah mengapa dia tidak bisa. Matanya terpaku pada Yesus, dan ia berdiri memandangi Anak Allah yang mati di kayu salib dengan berlumuran darah. Ia mendengar ketika Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka” (Lukas 23:34). Dia berpikir, “Orang macam apa ini yang berdoa kepada Allah untuk mengampuni mereka yang telah menyalibkan-Nya?” Air mata pasti menetes dari mata Simon, air mata yang berbicara dari hatinya sendiri, yang sekarang sedang dicabik-cabik oleh kasih Kristus yang ditujukan kepada orang-orang yang telah menyiksa Dia. Tidak diragukan lagi dia dapat berkata seperti John Newton,

Aku melihat Pribadi tergantung di salib itu
   Dalam kesakitan dan darah;
Dalam penderitaan mata-Nya menatap tajam ke arahku
   Ketika dekat salib-Nya aku berdiri.

Tentu, tiada pernah, sampai napas terakhir ku,
   Dapat ku lupakan tatapan itu;
Seperti mengundangku dengan kematian-Nya,
   Meskipun tiada kata Dia ucapkan.

Nurani ku merasa bersalah,
   Dan menenggelamkan ku ke dalam keputus-asaan;
Aku melihat karena dosa-dosaku darah-Nya tertumpah
   Dan menyebabkan Dia terpaku di sana.
Kemudian ku lihat Dia berkata,
   ”Aku telah membebaskan dan mengampuni mu;
Darah ini menebus engkau,
   Aku mati agar engkau beroleh hidup.”
(“I Saw One Hanging on a Tree,” by John Newton, 1725-1807;
     to the tune of “O Set Ye Open Unto Me”).

Mungkin itu baik jika Simon segera “dipaksa” untuk memikul salib Kristus. Saya telah mengamati bahwa, sangat sering, orang Kristen yang terbaik adalah mereka yang mengenakan kuk Kristus atas mereka pada mulanya - yang nampak (seperti orang-orang Protestan dan Baptis zaman dulu katakan) untuk “dipaksa” ke dalam keselamatan oleh “anugerah yang tak dapat ditolak” (“irresistible grace”). Yesus berkata,

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku…Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30).

Para petobat terbesar sering kali adalah orang-orang yang berada di bawah keinsafan akan dosa atau konviksi terbesar - sehingga ketika mereka datang kepada Yesus, mereka merasa bahwa kuk-Nya itu enak, dan beban-Nya ringan! Orang-orang seperti Luther, John Bunyan, John Wesley, George Whitefield, dan C.H. Spurgeon merasa sangat lega ketika mereka diampuni oleh Yesus bahwa tampak ringan menanggung kuk-Nya. Mereka pergi untuk bekerja bagi Kristus dengan sekuat tenaga, dan tidak pernah berhenti selama mereka hidup!

Kita telah melihat ini terjadi berkali-kali di gereja kita sendiri. Ketika melihat foto dari 39 anggota mula-mula gereja kita, saya menyadari bahwa sebagian besar dari mereka datang, dan segera masuk ke dalam pekerjaan gereja. Mereka tidak harus ditarik-tarik untuk datang ke kebaktian penginjilan atau kebaktian doa. Mereka tampaknya harus “dipaksa” untuk melakukan perkerjaan Tuhan oleh Allah sendiri! Sebagai contoh, Dr. Chan segera pergi menemui beberapa teman kuliahnya dan membawa mereka datang segera ke gereja ini. Ia membawa Mrs. Sanders, Dr. Judith Cagan dan Winnie Chan. Mrs. Hymers seketika menjadi penelepon ketika ia bertobat. Tahun ini adalah tahun ke-30 dari pelayanan dia dengan melakukan penginjilan melalui telepon setiap minggu tanpa pernah absen. Mr. Griffith, dan Mr. Song, dan Mr. Mencía, dan Mrs Salazar, mereka semua langsung melayani di gereja ini. Ketika saya melihat wajah-wajah dari 39 orang di foto itu, saya menyadari bahwa saya tidak perlu berdebat dengan mereka, atau memohon mereka, untuk datang ke setiap kebaktian dan melakukan pekerjaan penginjilan. Mereka segera mengambil kuk Kristus ke atas mereka! Mereka dengan cepat menemukan bahwa kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan! Mereka tidak berdebat dengan Yesus ketika Dia berkata,

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku ” (Matius 16:24).

Tapi saya juga menemukan pengalaman bahwa orang-orang yang harus kita dorong dan minta, hanya untuk tetap setia datang satu kali ibadah pada hari Minggu saja, jarang mereka berubah menjadi orang Kristen yang kuat. Mereka biasanya menjauh dari gereja ketika musim liburan datang, atau kalau tidak mereka menarik diri dari gereja setelah beberapa saat, atau mereka pergi ke jalan hidup mereka ketika mereka sedang “terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup” (Lukas 8:14). Tetapi Simon dari Kirene tidak seperti mereka. Teks kita sangat menyiratkan bahwa ia menjadi Kristen sejati. Pada awalnya dia dipaksa untuk menanggung salib Kristus, tetapi dia rela menanggung itu sesudahnya.

III. Ketiga, Simon menjadi seorang Kristen.

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus” (Markus 15:21).

Saya sangat senang karena Markus tergerak untuk mencatat nama-nama anak Simon - karena dengan mendengar tentang mereka kita dapat mempelajari tentang pertobatan ayah mereka, karena kalau tidak demikian kita tidak mungkin mengetahuinya. Dr Lenski berkata,

      Markus menyebutkan nama anak-anaknya, disepakati, bahwa kemudian mereka memegang posisi terkemuka dalam gereja. Dari data [ini] dapat diambil kesimpulan bahwa perjumpaanya dengan Yesus yang unik ini memnyebabkan pertobatan Simon dan yang ditunjukkan dengan keunggulan iman anak-anaknya dalam gereja (RCH Lenski, DD, The Interpretation of St. Matthew’s Gospel, Augsburg Publishing House, 1961 reprint, hal 1105; catatan untuk Matius 27:32).

Dr. Lange berkata bahwa anak-anak Simon, Alexander dan Rufus,

... Pasti sudah dikenal oleh orang-orang di gereja yang ada kemudian, dan mereka bersaksi tentang seorang pribadi, yang hidup dalam ingatan dan temuan data asli dari Markus... masuk akal sekali bila berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat dikenal di jemaat di Roma (John Peter Lange, D.D., Commentary on the Holy Scriptures – Mark, Zondervan Publishing House, n.d., hal 151; catatan untuk Markus 15:21).

Dr. Ellicott menambahkan,

St. Paulus berbicara tentang ibu dari Rufus seperti juga sebagai ibunya [Roma 16:13] – yang membuat ia dihormati adalah karena adanya banyak bukti kebaikannya sebagai seorang ibu - demikian kita diarahkan kepada keyakinan bahwa istri Simon dari Kirene seharusnya ... datang dari dalam lingkaran teman-teman St Paulus. Hal ini, pada gilirannya, menghubungkannya dengan “orang-orang dari Kirene” dalam catatan St Lukas tentang dasar dari Gereja non Yahudi di Antiokhia, Kis 11:20 (Charles John Ellicott, DD, Ellicott's Commentary on the Whole Bible, Zondervan Publishing House, 1954 edition, volume 6, hal 231; catatan pada Markus 15:21).

Dan saya merasa bahwa saya juga harus menambahkan komentar C. H. Spurgeon pada subyek ini:

Kita diberitahu [Simon] adalah ayah Aleksander dan Rufus ...Tentunya Markus mengenal kedua anak laki-laki ini, atau kalau tidak dia tidak akan menyebutnya, mereka pasti sudah akrab di gereja, atau jika tidak demikian ia tidak akan menjelaskan tentang ayah mereka. Adalah ayah mereka yang memikul salib itu. Hal ini sangat mungkin bahwa Rufus ini adalah orang yang Paulus sebutkan dalam pasal terakhir suratnya kepada jemaat di Roma, bagi Markus sama dengan Paulus, dan dengan cara ini mereka menunjukkan bahwa mereka mengenal Simon dan Rufus. Paulus menulis, “Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.” Ibu [Rufus] nampaknya begitu keibuan sehingga ia dianggap sebagai ibu juga oleh Paulus sama seperti Rufus ... itu akan menunjukkan bahwa [Simon], istrinya, dan kedua putranya semua menjadi para petobat kepada Tuhan kita setelah ia memikul salib itu ... Oh, betapa berkat bagi pria ini juga dialami oleh anak-anaknya! Berdoalah, Saudara-saudaraku yang terkasih, kiranya Anda memiliki anak seperti Aleksander dan Rufus, yang membuat Anda dikenang karena telah menjadi ayah mereka (CH Spurgeon, "The Great Cross-Pembawa dan Pengikut," Metropolitan Mimbar Kemah Suci, Pilgrim Publications, 1973 reprint, volume XXVIII, hal. 562-563).

Ini telah menjadi khotbah yang tidak biasa. Aku berusaha mempersiapkan khotbah ini selama dua hari, sementara aku sedang sakit minggu lalu. Ada begitu sedikit catatan dalam Alkitab tentang Simon dari Kirene. Namun dia disebutkan namanya dalam tiga dari empat Injil - dan kita memperoleh informasi tambahan tentang anak-anaknya dan istrinya dalam Kitab Suci. Saya telah mempelajari ini dengan sangat hati-hati selama berjam-jam - dan saya merasa yakin bahwa orang ini, Simon menjadi orang penting di dalam gereja mula-mula. Maukah Anda mengikuti teladan orang ini – dan menjadi orang Kristen sejati, seperti dia. Dia dibawa ke dalam Kristus oleh providensi misterius Allah, ia dipaksa untuk memikul salib Kristus, namun kemudian dengan sukarela ketika ia bertobat – sebagai hasilnya, bukan hanya keselamatan dirinya sendiri, namun juga menyebabkan pertobatan istri dan dua putranya.

Saya berdoa kiranya Anda mau datang kepada Kristus, kiranya Anda mau memikul salib-Nya dan mengikuti Dia tidak peduli berapa pun harga yang harus Anda bayar. Karena jika Anda melakukannya, hidup dan nasib Anda akan berubah selamanya, dan hidup banyak orang mungkin juga dapat berubah melalui pengaruh hidup Anda.

Datanglah kepada Yesus! Berilah diri Anda disucikan oleh Darah-Nya! Datanglah ke gereja! Hiduplah untuk Dia! Tuhan memberkati Anda! Amin.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Khotbah Indonesia.”

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Markus 15:16-24.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“God Moves in a Mysterious Way” (by William Cowper, 1731-1800)/
“I Saw One Hanging on a Tree” (by John Newton, 1725-1807).


GARIS BESAR KHOTBAH

SIMON ORANG KIRENE

(SIMON OF CYRENE)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus” (Markus 15:21).

(Yohanes 19:17; Lukas 22:44; Matius 26:67; 27:30)

I.   Pertama, Simon dibawa kepada Kristus dengan providensi Allah,         Amsal 16:9.

II.  Kedua, Simon Dipaksa untuk Memikul Salib Kristus, Lukas 23:34;      Matius 11:28-30; 16:24; Lukas 8:14.

III. Ketiga, Simon menjadi seorang Kristen, Markus 15:21.