Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




RASA HAUS YESUS DI KAYU SALIB

(THE THIRST OF JESUS ON THE CROSS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Minggu Malam, 24 Januari 2010

“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--: ‘Aku haus!’” (Yohanes 19:28).


“Segala sesuatu telah selesai.” Yesus telah menggenapi nubuatan-nubuatan agung dari Perjanjian Lama berhubungan dengan penyaliban-Nya. Ia dihina dan ditolak oleh umat-Nya. Mereka menyembunyikan wajah mereka dari Dia dan tidak mengakui Dia sebagai Juruselamat mereka, seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya 53. Ia telah memikul dosa-dosa kita di kayu Salib, persis seperti yang Yesaya telah nubuatkan (Yesaya 53:5-6). Mereka memaku tangan dan kaki-Nya, seperti telah dinubuatkan dalam Mazmur 22:16, “Mereka menusuk tangan dan kakiku.” Para prajurit di bawah salib-Nya menggenapi nubuatan dalam Mazmur 22:18, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Semua nubuatan ini, dan masih banyak yang lainnya, telah digenapi. Sehingga, ketika Yesus berbicara dari atas Salib meminta Yohanes untuk memperhatikan ibu-Nya, “sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai,” berkata satu hal lagi, “supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci.” Untuk menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab Suci Perjanjian Lama dengan sempurna, Ia berkata,

“Aku haus.”

Ada dua nubuatan luar biasa dalam Perjanjian Lama yang digenapi di sini. Pertama, ini penggenapan dari Mazmur 22:15,

“Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku”
       (Mazmur 22:15).

Setelah tergantung di kayu Salib selama empat jam, tanpa minum, lidah-Nya melekat pada langit-langit mulut-Nya, dan Ia hampir tidak dapat bicara.

Nubuatan kedua yang digenapi adalah Mazmur 69:21,

“Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”
       (Mazmur 69:21).

Untuk menggenapi Kitab Suci ini, Yesus berkata,

“Aku haus.” (Yohanes 19:28).

Dua kata ini adalah kata yang paling pendek yang Ia ucapkan di kayu Salib. Dalam bahasa Inggris [juga Indonesia] ini terdiri dari dua kata, namun dalam bahasa Yunani ini hanya satu kata pendek, yang dengan tepat diterjemahkan menjadi dua kata dalam bahasa Inggris [atau Indonesia],

“Aku haus.”

Dari perkataan itu kita dapat menggali banyak kebenaran agung, namun malam ini saya hanya memberikan tiga kebanaran kepada Anda, kebenaran yang saya tarik dari kata yang diucapkan Juruselamat menjelang kematian-Nya, ketika Ia berkata,

“Aku haus.”

I. Pertama, rasa haus Yesus adalah tanda kemanusiaan-Nya.

Sama sekali tidak aneh kalau Ia haus. Sebelumnya, ketika Yesus melalukan perjalanan melalui Samaria, Ia lelah setelah menempuh perjalanan dan berkata kepada seorang wanita di sumur Yakub, “Berilah Aku minum” (Yohanes 4:7). Jadi tidak aneh, bila kemudian di akhir hidupnya – setelah dicambuk sampai setengah mati dan dipakukan di kayu Salib selama empat jam – kemudian Ia harus berkata,

“Aku haus.”

Rasa haus-Nya menunjukkan kepada kita kemanusiaan-Nya yang sejati. Ini adalah rasa haus seorang manusia, manusia sejati. Pada dua kesempatan para Murid berpikir bahwa Ia adalah hantu (roh). Ketika Ia berjalan di atas air di Danau Galilea dan “murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!" (Matius 14:26). Tetapi “segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"” (Matius 14:27). Lagi, pada malam setelah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia menampakkan diri kepada murid-murid dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu” (Lukas 24:36).

“Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Lukas 24:37).

Namun Yesus menenangkan ketakutan mereka dan berkata,

“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku”
     
 (Lukas 24:39).

Dalam dua kasus itu Yesus membiarkan mereka tahu bahwa Ia sepenuhnya manusia, dan bukan “roh Kristus.” Ide bahwa “Kristus adalah roh” sepenuhnya salah, dan ini adalah salah satu tanda-tanda berbahaya dari agama palsu. Yesus menubuatkan bahwa, “Mesias-mesias palsu… akan muncul” (Matius 24:24). Pandangan bahwa “Yesus adalah roh” dari gerakan zaman baru, dan banyak bidat lainnya, bukanlah Kristus yang sejati. Padangan bahwa “Yesus adalah roh” dari agama-agama palsu ini disebut “Yesus yang lain” oleh Rasul Paulus dalam II Korintus 11:4, karena “hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku”(Lukas 24:39). Pandangan bahwa “Kristus adalah roh” bukanlah Yesus yang sesungguhnya!

Yesus yang telah menciptakan langit dan bumi menurut Yohanes 1:1-3.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1-3).

Jadi kita belajar bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah dan manusia – Allah-manusia melalui penyatuan hypostatis. Kita seharusnya tidak pernah melupakan keilahian-Nya, sebagai Pribadi Kedua dari Trinitas. Namun kita diingatkan melalui rasa haus-Nya di kayu Salib bahwa Ia juga sepenuhnya manusia. Kita dapat berkata tentang Yesus apa yang Adam katakan tentang Hawa,

“Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”
       (Kejadian 2:23).

Ini menggambarkan inkarnasi-Nya. Ia telah diutus dari Sorga ke dalam rahim Perawan Mari, dan dilahirkan sebagai Allah-manusia dari rahimnya,

“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Galatia 4:4).

Spurgeon berkata,

      Bagaimana Ia adalah sepenuhnya manusia; Ia adalah sungguh, “tulang dari tulang kita dan daging dari daging kita,” karena Ia memikul penyakit kita… Yesus terbukti sebagai manusia sejati, karena Ia telah menderita kesakitan seperti yang dapat dialami manusia. Para malaikat tidak dapat menderita kehausan. Hantu [roh], tidak dapat menderita kehausan; namun Yesus sungguh menderita [dan Ia] mengalami kehausan pada tingkat yang luar biasa, karena ini adalah rasa haus menjelang kematian yang menghampiri Dia… Rasa haus itu disebabkan… oleh habisnya darah, dan demam yang disebabkan oleh iritasi yang disebabkan oleh karena selama empat jam tergantung dengan penuh luka-luka yang sangat menyedihkan… ketika beban tubuh-Nya pada posisi terpaku tergantung menariknya ke bawah, dan luka-luka-Nya. Kesakitan yang luar biasa itu menyebabkan demam tinggi. Penderitaan itu menyebabkan mulut-Nya menjadi kering dan membuat kerongkongannya panas, sampai akhirnya Ia mengumumkan, dengan mengutip Mazmur dua puluh dua, “lidahku melekat pada langit-langit mulutku.” (C. H. Spurgeon, “The Shortest of the Seven Cries,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1972, volume XXIV, hal. 219-220).

Saya pernah melihat sahabat-sahabat saya ketika mereka mendekati ajal yang berseru minta air. Namun para dokter menahan kami untuk memberi minum karena mereka tidak dapat menelan. Betapa hal mengerikan melihat orang seperti itu, dengan tanpa air untuk memuaskan rasa haus-Nya menjelang ajal! Saya berkata, “Biarkan dia mengecap sedikit air, ia akan segera meninggal!” Namun dokter-dokter itu, karena takut dituntut lebih dari humanitarianisme, akhirnya menolak untuk memberikan bahkan hanya untuk memberikan setetes air untuk mendinginkan lidah mereka! Spurgeon berkata,

      Tuhan kita adalah manusia sejati sehingga semua dukacita kita mengingatkan kita akan Dia: suatu waktu ketika [Anda] sungguh haus [Anda] boleh menatap Dia; dan kapanpun kita melihat seorang teman… merasa haus ketika menghadapi kematian kita dapat [melihat penderitaan Yesus] secara samara-samar, namun itu benar-benar suatu cerminan… betapa dekatnya [dan betapa berhubungan dengan kita] rasa haus Juruselamat itu... (ibid.).

Ia adalah “Immanuel,” Allah beserta kita, Allah-manusia, bahkan pada waktu ketika kita merasa haus menjelang ajal kita, karena Ia berkata,

“Aku haus.”

II. Kedua, rasa haus Yesus adalah tanda bahwa Ia sedang
menggantikan orang-orang berdosa.

Yesus berkata, “Aku haus” karena Ia sedang menderita menggantikan penderitaan orang berdosa. Adam makan buah terlarang dengan mulutnya, dan oleh sebab itu, melalui mulutnya datang buah yang meracuni semua manusia.

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang” (Roma 5:12),

melalui mulut Adam, membuat semua keturunannya “mati oleh pelanggaranmu” (Kolose 2:13). Sehingga Adam yang terakhir, yaitu Yesus, harus membayar dosa dari mulut Adam yang pertama dengan menderita sengsara dalam mulut-Nya sendiri! Mulut Adam “adalah pintu kepada dosa, dan oleh sebab itu di dalam [mulut-Nya] Tuhan kita mengalami sengsara” (Spurgeon, ibid., hal. 222). Demikian juga, kerusakan natur kita datang dari mulut kita. Yesus berkata,

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:18).

Di kayu Salib, Yesus ditusuk lambung-Nya dengan tombak, sehingga dosa-dosa dari hati kita dapat diampuni. Ia dimahkotai dengan mahkota duri yang menusuk kepala-Nya, agar dosa-dosa pikiran kita dapat diampuni. Tangan-Nya dipakukan di kayu Salib agar dosa-dosa yang kita lakukan dengan tangan kita dapat diampuni. Kaki-Nya dipakukan pada kayu itu agar dosa-dosa yang kita lakukan dengan melangkah kepada dosa dan kejahatan dapat diampuni. Dan Ia haus sampai langit-langit lidah-Nya kering, rasa haus yang sangat mengerikan! Itu semua adalah demi menebus dosa-dosa yang disebabkan oleh mulut kita.

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:5-6).

Rasul Petrus menjelaskan kepada kita bahwa Yesus “telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (I Petrus 2:24). Sungguh ayat-ayat ini membuat jelas bahwa rasa haus Yesus adalah bagian dari penderitaan yang Ia harus lalui, sebagai pengganti kita, di kayu Salib. Ia berkata,

“Aku haus.”

sehingga setiap dosa yang telah keluar dari mulut Anda dapat dihukum di dalam mulut-Nya! Oh! Sungguh agung Juruselamat ku! Engkau harus menderita agar kami dapat hidup! Mulut-Mu begitu sakit demi menggantikan kami – sehingga dosa-dosa mulut kami dapat ditebus, dihapus, disucikan oleh Darah yang mengalir dari lambung dan bibir-Mu!

“Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”
      (Roma 5:8).

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (I Petrus 3:18).

Yesus berkata,

“Aku haus.”

dan penderitaan rasa haus itu telah menebus kata-kata penuh dosa setiap mulut manusia, setiap orang yang datang kepada Dia. Namun masih ada satu pikiran lagi.

III. Ketiga, rasa haus Yesus dapat membebaskan Anda dari
kehausan di Neraka.

Injil Lukas menjelaskan kepada kita tentang seseorang yang telah mati,

“Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas... Lalu ia berseru, katanya… kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”
     (Lukas 16:22-24).

Jika Yesus tidak menderita kehausan di kayu Salib, setiap kita akan menderita kehausan di Neraka. Spurgeon berkata, “Dosa-dosa karena lidah kita… harus dibakar selamanya [di Neraka] jika lidah [Yesus] tidak tersiksa oleh rasa haus ketika menggantikan kita dihukum” (ibid., hal. 222-223) – menggantikan kita dihukum di kayu Salib! Mari kita berdiri dan menyanyikan lagi nomer enam pada lembar lagu di tangan Anda – dengan tune “‘Tis Midnight, and on Olive’s Brow.” Nyanyikan bait kedua, ketiga, dan keempat.

Lihat tangan dan kaki-Nya yang terpaku;
Kerongkongannya kering sengsara dalam dahaga;
Darah mengalir memenuhi mata-Nya;
Yesus, Tuhan kita, disalibkan.

Marilah kita berdiri di bawah Salib itu;
Sehingga darah dari lambung-Nya
Tercurah atas kita;
Yesus, Tuhan kita, disalibkan

Siapa yang remuk hatinya, yang matanya dipenuhi air mata,
Mintalah, dan engkau tidak akan ditolak;
Tuhan Yesus, ijinkan ku mengasihi dan menangis,
Karena Engkau telah disalibkan bagi kami
   (“They Crucified Him” by Frederick William Faber, 1814-1863;
       diubah oleh Dr. Hymers).

Agustinus berkata, “Salib adalah mimbar, yang mana Kristus mengkhotbahkan kasih-Nya kepada dunia.” Itu benar! Ia mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa Anda karena Ia mengasihi Anda! Ia mengalami penderitaan dan sengsara untuk menyelamatkan Anda dari penderitaan kekal oleh karena Ia mengasihi Anda! Akankah Anda berkata kepada Yesus, “Aku tudak menginginkan kasih-Mu!” Atau Anda mau berkata kepada Dia,

Ku datang, Tuhan!
   Datang pada-Mu!
O patutkan diriku
   Menghadap pada-Mu?
(“I Am Coming, Lord” by Lewis Hartsough, 1828-1919/
     Terjemahan Nyanyian Pujian No. 128).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Khotbah Indonesia.”

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Yohanes 19:23-28.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“A Song for the Foot of the Cross” (by John Chandler, 1837).


GARIS BESAR KHOTBAH

RASA HAUS YESUS DI KAYU SALIB

(THE THIRST OF JESUS ON THE CROSS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--: ‘Aku haus!’” (Yohanes 19:28).

(Yesaya 53:5-6; Mazmur 22:16, 18, 15; Mazmur 69:21)

I.   Pertama, rasa haus Yesus adalah tanda kemanusiaan-Nya,
Yohanes 4:7; Matius 14:26, 27; Lukas 24:36, 37, 39;
Matius 24:24; Korintus 11:4; Yohanes 1:1-3; Kejadian 2:23;
Galatia 4:4.

II.  Kedua, rasa haus Yesus adalah tanda bahwa Ia sedang menggantikan
orang-orang berdosa, Roma 5:12; Kolose 2:13; Matius 15:18;
Yesaya 53:5-6; I Petrus 2:24; Roma 5:8; I Petrus 3:18.

III. Ketiga, rasa haus Yesus dapat membebaskan Anda dari kehausan
 di Neraka, Lukas 16:22-24.