Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




MENANGIS SAMBIL BERKHOTBAH

(WEEPING AND PREACHING)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Malam, 16 Agustus 2009

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
(Kisah Rasul 2:37).


Saya sudah sering berkata bahwa emosi dan air mata telah mewarnai setiap kebangunan rohani di sepanjang sejarah Kekristenan. Saya sudah sering mengatakan bahwa kita harus melihat orang-orang berdosa dibawa ke suatu titik di mana mereka menangis jika kita ingin melihat pertobatan yang riil di antara kita. Dan saya sudah menjelaskan kepada Anda bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani sejati tanpa air mata. Minggu lalu saya menyampaikan ini sebagai salah satu tanda yang luar biasa dari kebangunan rohani yang luar biasa yang berlangsung di China hari ini. Telah ada saksi mata untuk dua hal yang luar biasa, Allah mengirim kebangunan rohani, saya dapat berkata kepada Anda dengan keyakinan penuh bahwa tidak mungkin ada kebangunan rohani sejati, dan sangat sedikit pertobatan individu yang riil, kecuali orang-orang dibawa untuk menangisi kondisi mereka yang penuh dosa.

Ini adalah apa yang terjadi pada masa kebangunan rohani pertama pada hari Pentakosta. “Hati mereka sangat terharu” (Kisah Rasul 2:37). Tidak diragukan bahwa ini berarti mereka begitu digerakan oleh khotbah sehingga mereka menangis dan berseru, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (Kisah Rasul 2:37). Nyanyikanlah, “Tuhan, Kirimkanlah Kuasa Masa Lalu!”

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!
(“Pentecostal Power” by Charles H. Gabriel, 1856-1932).

Pada waktu khotbah Filipus di Samaria, tidak lama setelah kebangunan rohani pada hari Pentakosta, kita diberitahu bahwa

“Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan”
       (Kisah Rasul 8:7).

Ya, ada teriakan dan bahkan berseru dengan suara keras yang mengikuti khotbah Filipus pada kebangunan rohani yang luar biasa di Samaria. Nyanyikan refren ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Ketika Paulus bernyanyi dan berdoa, dan gempa bumi membuka pintu-pintu penjara di mana ia dan Silas dipenjarakan, kepala penjara itu

“menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas”
       (Kisah Rasul 16:29).

Ketika ia gemetar dan tersungkur tidak perlu diragukan bahwa hal itu pasti disertai dengan emosi kesedihan dan air mata. Nyanyikan ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Kita harus hat-hati dalam memperhatikan hal ini bahwa tidak ada dari kejadian-kejadian ini kita diberitahu bahwa para pengkhotbah itu sendiri menangis ketika mereka sedang berkhotbah. Ya, saya tahu Paulus berkata kepada orang-orang Kristen di Efesus,

“aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kisah Rasul 20:31).

Kita diberitahu bahwa ia melalukan ini di Efesus. Namun kita tidak diberitahu bahwa ia melakukan ini pada setiap kesempatan ketika ia berkhotbah.

Kita tidak diberitahu bahwa Petrus berkhotbah dengan mencucurkan air mata pada hari Pentakosta. Kita tidak diberitahu bahwa Filipus berkhotbah sambil mencucurkan air mata di Samaria, atau bahwa Paulus berkhotbah sambil mencucurkan air mata kepada kepala penjara Filipi. Kita diberitahu bahwa para pengkhotbah ini begitu bersungguh-sungguh dan serius – namun kita tidak diberitahu bahwa mereka mencucurkan air mata pada setiap kesempatan ketika mereka berkhotbah.

Pada suatu hari salah satu dari anak muda kita berkata kepada saya, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat orang-orang itu menangisi dosa-dosa mereka?” Itu adalah pertanyaan yang baik, dan saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan segala kemampuan saya dalam khotbah ini.

I. Pertama, pengkhotbah seharusnya tidak pernah menangis di mimbar kecuali ia digerakan oleh Tuhan untuk melakukan itu.

Saya memilih kata-kata ini dengan sangat hati-hati. Seorang pengkhotbah tidak seharusnya menangis di mimbar kecuali Allah sendiri yang menggerakkan dia untuk melakukan itu. George Whitefield sering digerakkan untuk menangis ketika ia berkhotbah. Namun ia berkhotbah sambil mencucurkan air mata hanya karena ia digerakkan untuk melakukan itu oleh Tuhan. Berbicara tentang orang-orang yang mencoba meniru Whitefield, dan menangis kapanpun mereka berkhotbah, Dr. Martyn Lloyd-Jones berkata, “Tentu, orang yang mencoba untuk menghasilkan efek [dengan menangis di mimbar] menjadi seorang aktor, dan itu adalah suatu peniru yang buruk sekali” (Martyn Lloyd-Jones, M.D., Preaching and Preachers, Zondervan Publishing House, 1971, hal. 93). Dr. Lloyd-Jones pernah mengalami kebangunan rohani agung pada awal pelayanannya, namun ia jarang sekali jika bukan tidak pernah menangis di mimbar. Ia berkhotbah dengan sangat bersungguh-sungguh, namun ia menghindari tindakan meniru-niru.

Saya telah memikirkan tentang kalimat dari Dr. Lloyd-Jones tersebut banyak kali selama bertahun-tahun. Anda tahu, saya dulu adalah seorang aktor selama beberapa tahun ketika saya masih muda, sebelum saya dipanggil untuk menjadi pengkhotbah. Saya tahu dengan sangat baik, dari pengalaman yang saya miliki sebagai aktor selama bertahun-tahun yang lalu, bagaimana berakting menangis. Namun itu selalu nampak sebagai kepura-puraan dan palsu bagi saya ketika saya mencoba melakukannya kembali ketika sedang mengkhotbahkan Injil. Saya kadang-kadang menangis ketika saya sedang berkhotbah, walaupun itu jarang. Saya tidak pernah melakukan itu untuk “menghasilkan efek,” karena saya percaya Dr. Lloyd-Jones benar ketika ia berkata itu membuat pengkhotbah menjadi “peniru yang buruk sekali” – hanya sebagai aktor! Di atas semua itu, tidak seharusnya saya “ber-acting” di mimbar. Jadi kadang-kadang saya menangis, hanya ketika Tuhan sendiri yang menggerakkan saya untuk melakukannya. Saya yakin sekali bahwa seorang pengkhotbah seharusnya tidak pernah menangis di mimbar kecuali ia digerakkan oleh Tuhan.

Saya ingat seorang pengkhotbah terkenal di televisi yang menangis sampai tersungkur dalam setiap khotbahnya. Ia menggunakan tangisannya ini untuk mengobarkan jemaatnya, sehingga mereka juga akan turut menangis dan tersungkur. Namun sedikit saja hal baik yang datang darinya. Pengkhotbah itu tiada lain selain hanya sebagai seorang aktor, dan pelayanannya tidak menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Yesus mengingatkan kita agar,

“janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Matius 6:16).

Kristus mengatakan ini sebagai kemunafikan. Tidak seharusnya seorang pendeta yang berharap menjadi berkat kemudian berlaku “munafik” dengan membuat muram mukanya dan menangis seperti seorang aktor! Tidak, menangis di mimbar harus datang dari Tuhan – atau, jika tidak, pengkhotbah itu harus menahan diri dari tindakan seperti itu.

Kemudian, bagaimana seorang pengkhotbah dapat menggerakkan orang-orang dalam jemaatnya untuk mencucurkan air mata? Itu adalah pertanyaan baik yang anak muda itu pernah tanyakan kepada saya! Saya akan mencoba untuk menjawabnya dari sejarah dan dari Alkitab itu sendiri.

II. Kedua, seorang pengkhotbah harus menjadi sangat serius di mimbar ketika ia mengharapkan orang-orang berdosa digerakkan oleh Roh Kudus yang menginsafkan mereka yang memimpin kepada pertobatan.

George Whitefield hampir selalu berkhotbah sambil mencucurkan air mata. Ia sangat tulus melakukan itu, dan tidak diragukan bahwa air matanya keluar oleh karena digerakkan Tuhan. Namun ada jauh lebih sedikit air mata, dan jauh lebih sedikit emosi, pada orang-orang yang mendengarkan dia dari pada ketika mereka mendengar John Wesley berkhotbah – dan Wesley, setahu saya, sangat jarang meneteskan air mata pada waktu ia berkhotbah. Namun Wesley benar-benar membuat para pendengarnya menangis, dan bahkan menjerit, pada waktu mendengar ia berkhotbah. Ini terjadi berulangkali ketika Wesley berkhotbah tanpa meneteskan air mata, namun ini juga jarang sekali Whitefield berkhotbah sambil mencucurkan air mata sampai tersungkur setiap kali ia berkhotbah. Ini adalah fakta yang jelas yang dapat ditemukan melalui membaca sejarah khotbah dari dua orang besar itu. Kesimpulan saya adalah ini – menangis di mimbar tidak harus menghasilkan orang-orang yang sedang mendengarkan pengkhotbah itu ikut menangis. Saya tidak mengkritik Whitefield sama sekali. Banyak kali saya berbicara tentang dia bahwa ia adalah “pengkhotbah terbesar dari segala masa” – selain Rasul Paulus. Saya hanya menunjukkan dari catatan sejarah bahwa khotbah Wesley yang kaku dan tanpa disertai dengan emosi dan air mata menghasilkan banyak orang dari jemaatnya yang menangis dan terbawa emosi mereka. Bagaimana itu dapat terjadi? Itu seringkali dijelaskan dalam istilah-istilah psikologis. Namun saya percaya bahwa jawabannya tidak terletak di situ.

John Wesley membuat para pendengarnya menangis. Whitefield tidak. Walaupun saya mengakui Whitefield sebagai pengkhotbah terbesar dari segala zaman di dunia berbahasa Inggris, saya pikir ia salah pada poin ini. Pendukungnya, seorang wanita bangsawan dari Huntington, pernah berkata kepada Whitefield, “Biarkan mereka menangis sambil meraung. Itu akan membuat mereka lebih baik dari pada khotbahmu.”

Walaupun Jonathan Edwards sendiri tidak pernah menangis di mimbar, jemaatnya sering melakukan itu. Pada waktu kebangunan rohani itu mereka seringkali mengurangi untuk menangis. Manifestasi-manifestasi ini terjadi ketika Edwards menbacakan khotbahnya dari seluruh lembar khotbah yang ditulisnya secara keseluruhan dengan nada suara yang kurang disertai dengan emosi, lebih dekat dengan gaya Wesley dari pada khotbah yang lebih disertai dengan perasaan emosi dari Whitefield.

Penginjil utama pada masa Kebangunan Agung Kedua (Second Great Awakening) adalah Dr. Asahel Nettleton. Dr. Nettleton tidak menangis di mimbar. Khotbahnya begitu bersungguh-sungguh, dari pada disertai dengan perasaan emosi. Namun pada beberapa kebangunan rohani ia membuat orang-orang terhilang mencucurkan air mata, dan bahkan tubuh mereka menjadi lemas, jatuh tersungkur ke tanah oleh karena dihakimi oleh perasaan insaf karena dosa. Nyanyikan lagu ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Kesimpulan saya adalah ini – pertobatan dan kebangunan rohani tidak bergantung pada air mata yang mengalir dari mata pengkhotbah di mimbar. Namun, pengalaman emosi orang-orang berdosa bergantung pada ketulusan dan kesungguhan hati sang pengkhotbah, yang dihadirkan oleh karya Roh Kudus di dalam hati mereka yang terhilang. Bagaimana seorang pengkhotbah dapat menggerakkan lebih banyak orang menangis? Jawabannya adalah bahwa ia tidak dapat. Ia hanya dapat menyampaikan khotbahnya dengan tulus dan bersungguh-sungguh. Apa yang orang-orang rasakan berhubungan dengan keinsafan akan dosa terletak jauh melampaui kemampuan pengkhotbah itu. Hanya Roh Kudus yang dapat membuat keinsafan sejati karena dosa.

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8).

Nyanyikan ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Bagaimana agar orang terhilang digerakkan secara emosional? Bagaimana agar mereka mengalami keinsafan akan dosa dengan sungguh-sungguh? Pengkhotbah harus menjadi orang yang tulus, bukan sebagai aktor. Pengkhotbah harus serius dan bersungguh-sungguh. Pengkhotbah itu harus digenggam oleh kebenaran yang sedang ia khotbahkan. Pengkhotbah itu harus “mengangkat suaranya,” seperti yang Petrus lakukan pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2:14). Pengkhotbah itu harus mengkhotbahkan baik hukum Taurat maupun Injil. Ia harus menjelaskan kepada pendengarnya bahwa mereka adalah “orang berdosa di tangan Allah yang murka,” seperti yang dilakukan oleh Jonathan Edwards. Ia harus menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada apapun yang dapat menyelamatkan mereka dari murka Allah selain Darah yang menyucikan dari Dia yang tersalib, dan yang sekarang telah naik ke Sorga, yaitu Kristus. Ia harus berkhotbah, seperti Yohanes Pembaptis,

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia”
       (Yohanes 1:29).

Nyanyikan lagu ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

III. Ketiga, pengkhotbah, dan orang-orang yang telah diselamatkan dalam jemaat itu, harus memiliki keprihatinan dan kasih yang riil bagi orang-orang terhilang.

Ya, Alkitab berkata kepada kita untuk menangis. Ya, Alkitab berkata,

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai” (Mazmur 126:5).

Ya, Dr. John R. Rice dengan benar berkata,

Harga suatu kebangunan rohani, harga dari memenangkan jiwa
   Miliki banyak waktu untuk berdoa, bergumul, menangis...
(“The Price of Revival” by Dr. John R. Rice, 1895-1980).

Namun catat bahwa ia berkata, “bergumul, menangis.” Ia berbicara tentang pergumulan atau beban batiniah bagi orang-orang terhilang yang hanya Roh Kudus yang dapat memberikannya. Ia terlebih dahulu memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada kuasa “magis” dalam air mata “yang dibuat-buat seseorang.“ “Beban“ itu harus berasal dari Tuhan. Itu harus tulus dan riil, seperti halnya dengan Yesus, yang adalah,

“seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yesaya 53:3).

Nyanyian lagu ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Namun hanya dua kali dalam empat Injil kita diberitahu bahwa Yesus menangis. Dan tidak pernah Ia menangis pada waktu berkhotbah. Silahkan Anda membuka Alkitab Anda dari Lukas 19:41.

“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya” (Lukas 19:41).

Ia menangisi dosa-dosa kota itu. Di sini Ia menangis bukan pada waktu berkhotbah. Ia menangisi kota itu dalam doa. Namun segera setelah itu ia menyampaikan khotbah yang keras kepada mereka, yang dipenuhi dengan penghakiman. Bacalah ayat 45 dan 46.

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ‘Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun’” (Lukas 19:45-46).

Marilah kita mengikuti teladan Yesus. Marilah kita menangis bagi orang-orang terhilang dalam doa pribadi kita, dan kemudian memperhadapkan mereka dengan dosa mereka ketika berkhotbah!

Untuk kedua kalinya kita diberitahu bahwa Yesus menangis ada dalam Yohanes 11:35. Silahkan buka dan baca ayat 35 dan 36 dengan lantang.

“Maka menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi: Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (Yohanes 11:35-36).

Yesus tahu bahwa Ia akan membangkitkan Lazarus dari antara orang mati. Namun ia menangis dan bahkan “meraung” ketika Ia sampai di depan kuburan Lazarus. Kemudian ia berdoa (Yohanes 11:41-42). Dan akhirnya Yesus menyampaikan khotbah singkat. Itu dijelaskan dalam Yohanes 11:43. Silahkan membaca ayat itu dengan lantang.

“Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: Lazarus, marilah ke luar!” (Yohanes 11:43).

Saya berpikir bahwa seharusnya itu menjadi pola kita. Kita seharusnya menangis bahkan meraung karena orang-orang yang “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1). Kita seharusnya berdoa untuk keselamatan mereka. Dan bahkan kemudian seharusnya kita berseru “dengan suara keras… marilah keluar.“

“Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yohanes 11:44).

Itu adalah pola yang Yesus berikan kepada kita pada kali kedua kita diberitahu bahwa Ia menangis! Menangis dan berdoalah bagi orang terhilang, dan kemudian berkhotbah kepada mereka “datanglah kepada Kristus.“ Nyanyikan lagu ini kembali!

Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta!
   Pintu berkat-Mu terbuka lebar atas kami!
Tuhan, kirimkanlah kuasa masa lalu, kuasa Pentakosta,
   Sehingga orang-orang berdosa dipertobatkan dan nama-Mu dimuliakan!

Tidak seharusnya kita berpikir bahwa Yesus menangis hanya pada dua kesempatan itu. Sejak Ia adalah ”seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yesaua 53:3) Ia seharusnya pernah menangis di banyak kesempatan lain. Empat kali kita diberitahu bahwa Ia “tergerak hatinya oleh belas kasihan” (Matius 9:36; Matius 14:14; Markus 1:41; Markus 6:34). Namun hanya pada ayat terakhir kita diberitahu bahwa “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka... Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” Tidak diragukan bahwa Ia “tergerak hati-Nya oleh belas kasihan” setiap kali Ia berkhotbah, namun itu tidak dituliskan dalam empat Injil. Dan kita tidak pernah diberitahu bahwa Ia pernah menangis sementara Ia berkhotbah, hanya bahwa Ia menangis sebelum Ia menyampaikan khotbah-Nya (Lukas 19:41; Yohanes 11:35, 38).

Saya mengambil ini dari teladan Kristus bahwa kebanyakan air mata dan doa kita seharusnya dilakukan dalam doa pribadi, atau kadang-kadang pada saat kebaktian sebelum berkhotbah, namun kita menjadi “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” ketika kita duduk makan bersama dengan mereka dan dengan begitu ramah kepada mereka, seperti yang Kristus lakukan (Matius 11:19).

Jadi marilah kita menangisi dan mendoakan orang-orang berdosa ketika kita sedang sendirian dalam doa, atau dalam kebaktian doa, atau mungkin kadang-kadang dalam kebaktian. Marilah kita melangkah lebih maju dari berdoa dan menangis untuk berkhotbah kepada orang-orang berdosa yang terhilang, dan kemudan menjadi berkat bagi orang yang terhilang yang datang ke gereja kita, setelah kebaktian! Nyanyikan, “Make Me a Channel of Blessing” (“Jadikan Aku Saluran Berkat”).

Jadikanlah aku saluran berkat hari ini,
   Jadikanlah aku saluran berkat, itulah doaku;
Buatlah hidupku, menjadi pelayanan berkat,
   Jadikanlah aku saluran berkat hari ini
(“Make Me a Channel of Blessing” by Harper G. Smyth, 1873-1945).

Berdoalah untuk keinsafan akan dosa (semua berdoa). Berdoalah agar orang-orang terhilang datang kepada Yesus, dan kiranya dosa mereka disucikan oleh darah-Nya (semua berdoa).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Khotbah Indonesia.”

Doa Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Old-Time Power” (by Paul Rader, 1878-1938).


GARIS BESAR KHOTBAH

MENANGIS SAMBIL BERKHOTBAH

(WEEPING AND PREACHING)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
(Kisah Rasul 2:37).

(Kisah Rasul 8:7; 16:29; 20:31)

I.   Pertama, pengkhotbah seharusnya tidak pernah menangis di mimbar kecuali ia digerakan oleh Tuhan untuk melakukan itu, Matius 6:16.

II.  Kedua, seorang pengkhotbah harus menjadi sangat serius di mimbar ketika ia mengharapkan orang-orang berdosa digerakkan oleh Roh Kudus yang menginsafkan mereka yang memimpin kepada pertobatan, Yohanes 16:8; Kisah Rasul 2:14; Yohanes 1:29.

III. Ketiga, pengkhotbah, dan orang-orang yang telah diselamatkan dalam jemaat itu, harus memiliki keprihatinan dan kasih yang riil bagi orang-orang terhilang, Mazmur 126:5; Yesaya 53:3; Lukas 19:41, Lukas 19:45-46; Yohanes 11:35-36, 41-42, 43; Efesus 2:1; Yohanes 11:44; Matius 9:36; 14:14; Markus 1:41; 6:34; Matius 11:19.