Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




TELADAN PARA MARTYR

(THE EXAMPLE OF THE MARTYRS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Malam, 12 Juli 2009

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).


Kristus menjelaskan kepada para Murid-Nya bahwa “Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan... lalu dibunuh” (Matius 16:21). Namun Petrus menegor Dia, katanya, “Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” Matius 16:22), “Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Yesus berpaling kepada Petrus dan berkata,

“Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23).

Dr. Henry M. Morris berkata, “Ini benar-benar Setan yang berbicara melalui Petrus [dengan] bujukan Setan. Manusia duniawi hampir secara instinktif menolak ide tentang kematian demi penebusan dan kebangkitan Kristus, dan Setan dengan sengit menentang itu” (Henry M. Morris, Ph.D., The Defender’s Study Bible, World Publishers, 1995, komentar untuk Matius 16:22).

Kemudian Yesus berpaling kepada para Murid lainnya. Markus menjelaskan kepada kita bahwa Dia juga berbicara kepada orang banyak (Markus 8:34). Dan Lukas menjelaskan kepada kita, “Ia berkata kepada mereka semua” (Lukas 9:23). Jadi Ia sedang berbicara kepada setiap orang dalam kerumunan orang banyak itu. Ia berkata kepada mereka semua,

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

“Salib” di sini tidak mengacu kepada Salib Kristus. Ini mengacu kepada salib orang Kristen. Setiap orang yang mau mengikut Kristus, ia harus “memikul salibnya” dan mengikut Kristus. Dalam Matius 16:24-27 kita melihat tiga hal berhubungan dengan salin yang setiap orang Kristen harus pikul.

I. Pertama, salib orang Kristen berarti menyangkal diri sendiri.

Perhatikan yang Yesus katakan,

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

Kristus membuat ini jelas bahwa ini adalah bagi setiap orang, bukan hanya beberapa orang tertentu. Kristus berkata,

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:27).

Hari ini, khususnya di sini di dunia Barat, kita mendengar bahwa ada dua macam orang Kristen – sekelompok besar orang-orang Kristen nominal (tanpa pertobatan), dan kelompok yang sangat kecil dari para murid sejati. Pada umumnya dipercaya bahwa mereka semua adalah orang-orang Kristen sejati. Namun itu tidak Alkitabiah. Dalam Alkitab setiap orang Kristen adalah murid sejati. Kita membaca dalam Kisah Rasul bahwa

“Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kisah Rasul 11:26).

Ini menunjukkan bahwa setiap orang Kristen diakui sebagai murid Kristus pada abad pertama. Tidak ada pembagian antara orang Kristen dan murid dalam Kisah Rasul. Jika Anda adalah orang Kristen, Anda adalah murid Kristus. Jika Anda bukan murid-Nya, Anda bukan orang Kristen. Ini menjadikan ayat kita menjadi sangat jelas,

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

Ini juga membuat jelas apa yang Yesus katakan dalam Lukas 14:27,

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:27).

Kebenaran agung ini dengan begitu indah diekspresikan dalam nyanyian kesukaan Dr. Rice. Itu adalalah nyanyian nomer 17 pada lembar lagu kita.

Yesus, salibku ku angkat,
   Ku hendak mengikut-Mu;
S’karang dunia tak mengikat,
   Hanya Kaulah milikku.
Hilanglah segala nafsu,
   Yang menyombongkan hati;
Tuhan dan surga bagiku,
   Sungguh kaya ku kini.
(“Jesus, I My Cross Have Taken” by Henry F. Lyte, 1793-1847/
   Terjemahan Nyanyian Pujian No. 180).

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

“Yesus, salibku kuangkat, Ku hendak mengikut-Mu.“ Bagi saya, inilah apa yang dimaksud menyangkal diri! Akankah setiap orang mau melakukannya? Orang-orang Kristen mula-mula telah melakukannya! Dr. Philip Schaff, sejarahwan Kristen tersohor, berkata,

Jutaan orang [di dunia Romawi pada abad-abad pertama] secara mutlak tidak mempedulikan penderitaan manusia. [Mereka memiliki] kesenangan dan penuh nafsu untuk menyiksa… menonton pertunjukan penyiksaan yang sangat ekstrim… Penyiksaan yang paling mengerikan biasanya justru ditimbulkan… oleh karena kehadiran mereka, di arena itu. Kita membaca tentang orang-orang Kristen yang dibelenggu dengan rantai yang panas membara, bau busuk keluar dari luka daging yang terbakar membubung ke awan; tentang yang lainnya dagingnya telah terkoyak bahkan sampai ke tulang oleh karena…besi panas;… tentang dua ratus tujuh puluh tujuh orang yang bertobat yang dikirim ke tambang, yang masing-masing urat pada satu kaki mereka diputuskan dengan besi panas membara, dan dengan dicungkil satu matanya; tentang api yang secara perlahan-lahan menyiksa para korban sehingga mereka mengeliat kesakitan selama berjam-jam dalam penderitaan mereka; tentang tubuh mereka yang dikoyak-koyak, atau dihujani dengan api; tentang garam yang dicampur dengan cuka yang dituangkan di atas daging yang sedang berdarah; tentang penyiksaan panjang dan bervareasi sepanjang hari. Demi cintanya kepada Tuhan mereka [Kristus], oleh karena mereka percaya kebenaran, baik laki-laki, dan bahkan para wanita yang lemah, menanggung semua hal ini tanpa belas kasihan, ketika satu kata diharapkan membebaskan mereka dari penderitaan ini. Tidak… cara kerja para hamba Tuhan pada abad berikutnya seharusnya [diakhiri] dengan penghormatan dengan bersujud di depan pusara martyr itu (Philip Schaff, Ph.D., History of the Christian Church, Eerdmans Publishing Company, 1976 edition, Volume II, hal. 80-81).

Irenaeus (130-202 A.D.) berkata bahwa gereja, karena kasihnya kepada Kristus, “di segala tempat dan segala waktu mengirim banyak martir kepada Bapa” (Schaff, ibid., hal. 79). Katakombe di Roma adalah terowongan panjang di bawah kota kuno. Itu “panjangnya lebih dari sembilan ratus mil, dan dikatakan berisi hampir tujuh juta kuburan, dalam jumlah yang besar dari kuburan-kuburan itu termasuk [tulang-tulang] para martir” (Schaff, ibid., hal. 80). Selain eksekusi nyata terhadap jutaan martir ini “jauh lebih banyak lagi mereka yang dilecehkan, difitnah dengan keji, disiksa, yang dilakukan oleh para penyembah berhala dan barbar yang kejam dan tidak memiliki hati… yang mana ada ribuan kasus yang lebih buruk dari pada kematian” (Schaff, ibid. hal. 80).

Melalui penderitaan mereka, para martir dari tiga abad pertama memelihara agama Kristen untuk segala masa berikutnya… Para martir dan penerima pengakuan iman dari zaman Ante-Nicea menderita untuk menyebabkan semua denominasi Kristen dan sekte saling menghormati dan mengasihi antara satu dengan yang lainnya” (Schaff, ibid., hal. 80).

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

Nyanyikan, “Where He Leads Me, I Will Follow” (“Kudengar Yesus Memanggil”). Ini adalah lagu nomer 18 dari lembar lagu kita.

Ku dengar Yesus memanggil,
   Ku dengar Yesus memanggil,
Ku dengar Yesus memanggil,
   “Angkat salib, mari ikut Ku.”
Aku turut pimpinan-Nya,
   Aku turut pimpinan-Nya,
Aku turut pimpinan-Nya,
   Aku turut Yesus, Tuhanku.
(“Where He Leads Me” by E. W. Blandy, 1890/
   Terjemahan Nyanyian Pujian No. 141).

II. Kedua, salib orang Kristen berarti kehilangan hidup Anda demi Kristus.

Mari membaca ayat 25 dengan lantang.

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25).

Dr. McGee memberikan komentar atas Matius 6:25,

Orang yang tidak mau menerima resiko demi menjadi murid Tuhan Yesus Kristus, pada akhirnya, akan kehilangan hidupnya untuk selama-lamanya. Demikian juga sebaliknya (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, 1983, volume IV, hal. 94; catatan untuk Matius 16:25).

Bible Knowledge Commentary mengomentari ayat ini demikian,

Murid sejati akan melibatkan diri mengikut Kristus dan melakukan kehendak-Nya, ke manapun arah membawanya (John F. Walvoord, Ph.D., Roy B. Zuck, Th.D., editors, The Bible Knowledge Commentary, New Testament Edition, Victor Books, 1983, hal. 59; catatan untuk Matius 16:25).

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25).

Dr. Henry M. Morris berkata,

Paradoks ilahi dari kematian bagi diri sendiri dan hidup bagi Tuhan adalah kebenaran yang sangat mendasar… baik bagi kehidupan di dunia ini maupun kehidupan kekal di dunia yang akan datang (Morris, ibid.; catatan atas perikop parallel dalam Matius 10:39).

Nyanyikan, “Jesus, I My Cross Have Taken” (“Yesus, Salibku Kuangkat”), nomer 17 pada lembar lagu kita.

Yesus, salibku ku angkat,
   Ku hendak mengikut-Mu;
S’karang dunia tak mengikat,
   Hanya Kaulah milikku.
Hilanglah segala nafsu,
   Yang menyombongkan hati;
Tuhan dan surga bagiku,
   Sungguh kaya ku kini.
(“Jesus, I My Cross Have Taken” by Henry F. Lyte, 1793-1847/
Terjemahan    Nyanyian Pujian No. 180).

Mari membaca ayat 26 dengan lantang.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Ketika saya melihat penguburan beberapa penyanyi terkenal, seperti Frank Sinatra, Elvis Presley, John Lennon atau Michael Jackson, saya selalu memikirkan ayat ini. Ini secara terus menerus seharusnya selalu ada di dalam pikiran kita.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Tuhan memanggil kita untuk berkata bersama dengan Rasul Paulus,

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

III. Ketiga, salib orang Kristen membawa upah dalam Kerajaan yang akan datang.

Mari kita membaca ayat 27 dengan lantang.

“Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Matius 16:27).

Rasul Paulus berkata,

“jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia”
     (II Timotius 2:12).

Kepada Jemaat di Smirna, Yesus berkata,

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10).

Nyanyikan, “Jesus, I My Cross Have Taken” ” (“Yesus, Salibku Kuangkat”). Itu adalah lagu nomer 17 pada lembar lagu kita.

Yesus, salibku kuangkat,
   Ku hendak mengikut-Mu;
S’karang dunia tak mengikat,
   Hanya Kaulah milikku.
Hilanglah segala nafsu,
   Yang menyombongkan hati;
Tuhan dan surga bagiku,
   Sungguh kaya ku kini.
(“Jesus, I My Cross Have Taken” by Henry F. Lyte, 1793-1847/
   Terjemahan Nyanyian Pujian No. 180).

Sejarahwan Kristen, Dr. Schaff, berbicara tentang para martir abad mula-mula ini,

Terhadap penyiksaan kejam dan [lama] terhadap [orang-orang Kristen] ini tidak ada perlawanan dengan kekerasan, tidak ada pembalasan fisik, selain heroisme moral dari orang-orang yang menderita dan mati demi kebenaran. Namun justru heroisme inilah senjata paling ampuh [mereka]. Dalam heroisme ini [mereka] membuktikan [diri mereka sendiri] layak bagi Tuhan mereka, yang telah mati di kayu salib menggantikan mereka demi keselamatan dari dunia ini, dan bahkan berdoa agar orang-orang yang telah menyalibkan Dia diampuni. [Para martir menderita] dalam menyangkal diri demi negeri sorgawi, dan demi mahkota yang tidak dapat binasa. Bahkan anak-anak laki-laki maupun perempuan menjadi pahlawan, dan begitu semangat dengan antusiaisme suci sampai mati. Pada zaman yang berat itu [mereka dengan serius mempertahankan] kebenaran firman Tuhan ini, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”… “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Dan itu bukan hanya berlaku bagi mara martir sendiri, yang menukarkan kehidupan di dunia yang penuh penderitaan demi berkat sorgawi, namun juga bagi jemaat secara keseluruhan, yang justru menjadi lebih murni dan kuat melalui semua penganiayaan itu, dan dengan demikian membuktikan kekuatannnya yang tak dapat dimusnahkan… “Teruskan,” kata Tertullianus dengan mengejek gubernur penyembah berhala, “siksalah, tumbuk kami menjadi abu: jumlah kami akan terus meningkat walaupun engkau terus membabat kami sampai bawah. Darah orang-orang Kristen adalah benih dari tuaian mereka… Dan siapa, setelah bergabung bersama kami, yang takut untuk menderita?” (Schaff, ibid., hal. 75-76).

Orang-orang yang… mengakui Kristus di hadapan para hakim penyembah berhala yang telah siap untuk mati, namun tidak dieksekusi, dihormati sebagai confessors (orang yang teguh membela kebenaran). Orang-orang yang menderita… dan mati, demi iman mereka, disebut para martir atau para saksi darah (Schaff, ibid., hal. 76).

Oh, betapa itulah tanda mereka sebagai pengikut Kristus, dengan menyangkal diri mereka sendiri, memikul salib mereka, menghilangkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan taat kepada Dia, menghampiri kemuliaan di dalam Kerajaan-Nya yang akan datang! Siapakah yang berani mengikuti langkah mereka? Siapakah yang berani berkata, “Aku akan menyangkal diriku sendiri, dan memikul salibku, dan mengikut Yesus, tidak peduli apapun harga yang harus saya bayar”? Nyanyikan lagu, “Where He Leads Me, I Will Follow” (“Kudengar Yesus Memanggil”), nomer 18 pada lembar lagu kita.

Ku dengar Yesus memanggil,
   Ku dengar Yesus memanggil,
Ku dengar Yesus memanggil,
   “Angkat salib, mari ikut Ku. ”
Aku turut pimpinan-Nya,
   Aku turut pimpinan-Nya,
Aku turut pimpinan-Nya,
   Aku turut Yesus, Tuhanku.
(“Where He Leads Me” by E. W. Blandy, 1890/
   Terjemahan Nyanyian Pujian No. 141).

(END OF SERMON)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Khotbah Indonesia.”

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Matius 16:21-27.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“The Crucifixion Road” (by Dr. John R. Rice, 1895-1980).


GARIS BESAR KHOTBAH

TELADAN PARA MARTYR

(THE EXAMPLE OF THE MARTYRS)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

(Matius 16:21, 22, 23; Markus 8:34; Lukas 9:23)

I.   Pertama, salib orang Kristen berarti menyangkal diri sendiri, Matius 16:24; Lukas 14:27; Kisah Rasul 11:26.

II.  Kedua, salib orang Kristen berarti kehilangan hidup Anda demi Kristus, Matius 16:25, 26; Galatia 2:20.

III. Ketiga, salib orang Kristen membawa upah dalam Kerajaan yang akan datang, Matius 16:27; II Timotius 2:12; Wahyu 2:10.