Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KETAKUTAN – UNSUR YANG HILANG #1

(FEAR – THE MISSING ELEMENT #1)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Sabtu Malam, 5 Jui 2008

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).


Itu adalah salah satu kunci ayat dalam peristiwa kebangunan rohani pada hari Pentakosta. Itu adalah kebangunan rohani yang pertama dalam sejarah Kekristenan. Itu menjadi prototipe dari semua kebangunan rohani yang pernah terjadi di sepanjang sejarah Kekristenan.

Khotbah Petrus pada hari Pentakosta, dan respon orang-orang yang mendengarkannya, telah “merobek-robek” hati selama beberapa tahun, menganalisa dan meneliti hampir di setiap perspektif yang mungkin. Namun ada unsur tentang Pentakosta yang kita abaikan, sehingga kita tidak dapat memahaminya, dan setingkali tidak mengerti. Dan unsur yang terlewatkan itu sesungguhnya yang membuat kisah Pentakosta menjadi salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Kekristenan. Unsur yang terlewatkan pada Pentakosta sesungguhnya tidaklah tersembunnyi – namun itu diabaikan, dan dengan mengabaikannya kita telah menghilangkan arti riil dari kebangunan rohani. Sungguh, dengan tidak mengindahkan “unsur yang dilewatkan itu” kita kehilangan pemahaman dasar tentang pertobatan itu sendiri. Kita kehilangan inti dari apa yang terjadi atas kita yang menjadikan kita orang-orang Kristen. Baiklah, Anda ingin saya menjelaskan kepada Anda apakah unsur yang hilang itu, dan (walaupun saya telah mengisyaratkannya) saya akan mengatakan itu dalam satu kata, jelas dan terang. Kata yang menjelaskan unsur utama yang diperlukan dalam kebangunan rohani yang sejati, satu hal yang bersifat konstan, yang tanpanya tidak benar, unsur utama dalam kebangunan rohani klasik adalah, seperti yang ayat kita ini jelaskan – “KETAKUTAN.”

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Ada banyak hal lain yang pernah terjadi dalam sejarah setiap kebangunan rohani. Pada hari Pentakosta ada karunia berbahasa lain yang diberikan untuk berbicara kebenaran Injil sehingga semua orang yang mendengar khotbah itu bisa memahaminya. Ada “turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras” (Kisah Rasul 2:2). Ada “tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kisah Rasul 2:3). Ada “rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda” (Kisah Rasul 2:43), dan beberapa fenomena lainnya yang terjadi pada hari Pentakosta. Namun ada satu yang bersifat konstan, dan hanya satu, yang memverifikasi Pentakosta sebagai kebangunan rohani sejati, dan secara konstan atau terus menerus benar-benar terjadi dalam setiap kebangunan rohani yang terjadi di sepanjang sejarah. Fenomena itu bukan menjadi pusatnya, namun itu adalah satu yang pernah dan masih terjadi.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Ada banyak kebangunan rohani yang pernah terjadi, beberapa begitu besar, dan beberapa lebih kecil, di sepanjang sejarah gereja. Namun satu hal yang pernah menjadi pusat dari semua hal yang riil,

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Unsur “ketakutan” benar-benar telah terjadi dalam setiap kebangunan rohani sejati sejak hari Pentakosta, dan terus terjadi sampai hari di mana kita hidup sekarang ini. Ini adalah “batu uji” – jika tidak ada ketakutan maka tidak ada kebangunan rohani sejati!

Namun kunci untuk kebangunan rohani ini, yaitu “ketakutan” [Inggris, “fear”] telah dihilangkan dari terjemahan modern dari ayat ini dan digantikan dengan kata “kagum” [Inggris “awe”]. “Kagum” [Inggris “awe”] adalah kata yang baik, namun itu tidak cukup menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang ini ketika mereka mendengarkan Petrus sedang berkhotbah, dan saya pikir ini adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh para penerjemah Alkitab New International Version dan New American Standard Version ketika mereka menerjemahkan kata Yunani “phobos” sebagai “awe” (“kagum”). Benar, “awe” pernah berari “takut dan ketakutan”, namun New Webster’s Twentieth Century Dictionary, Collins/World, 1975, mengatakan bahwa penggunaan kata “awe” ini sekarang “tidak dipakai” lagi (hal. 131). Itu berarti bahwa orang-orang tidak lagi berpikir tentang “awe” sebagai “ketakutan” lagi! Mereka sekarang berpikir tentang kata ini sebagai “penghormatan dan kekaguman.” Dan saya berkata kepada Anda bahwa “ketakutan” adalah kata yang tepat, karena secara esensial ini berarti demikian seperti King James Version yang diterjemahkan pada tahun 1611 menerjemahkan demikian. Jadi, “phobos” berarti “ketakutan,” dan itu masih berarti “ketakutan” sampai hari ini! Sebenarnya para penerjemah New International Version dan New American Standard Version mengetahui itu dengan sangat baik. Itulah sebabnya mereka menerjemahkan “phobos” sebagai “ketakutan” (“fear”) di banyak tempat lainnya dalam Perjanjian Baru. Misalnya, dalam Kisah Rasul 5:11, mereka menerjemahkan “phobos” dengan “fear” (“ketakutan”). Dalam Roma 3:18 menerjemahkan “phobos” sebagai “fear” (“ketakutan”). Dan dalam II Korintus 7:15, sekali lagi mereka menerjemahkan “phobos” sebagai “fear” (“ketakutan”). Hanya ketika mereka sampai kepada ayat kita ini mereka melemahkan kata “phobos” dengan menerjemahkannya dengan kata “awe” (“kagum”) yang sudah tidak berarti ketakutan lagi.

Saya tidak tahu alasan mereka melemahkan terjemahkan dari “phobos” dengan menggunakan arti kata kuno yang sudah tidak dipakai lagi yaitu “awe” dalam ayat kita ini. Saya tidak tahu mengapa mereka menerjemahkannya dengan tidak benar dalam Kisah Rasul 2:43 saja. Namun saya mencurigai bahwa kesalahan ini datang oleh karena kesalahfahaman teologi mereka tentang kebangunan rohani, sehingga mereka berpikir bahwa orang-orang itu berada dalam “kekaguman” ketika kebangunan rohani itu terjadi, dari pada menjadi sangat “ketakutan.” Kata “awesome” (“mengagumkan”) adalah kata yang sangat popular hari ini. Namun dalam penggunaan modern kata ini berarti “agung” atau “sangat mengherankan,” tidak terdapat ide tentang ketakutan sama sekali di dalamnya. Arti itu sekarang sudah tidak dipakai lagi, seperti yang dijelaskan oleh kamus. Strong’s Exhaustive Concordance memberikan arti yang tepat untuk kata “phobos.” Ia mengatakan bahwa “phobos” berarti “gusar atau ketakutan – menjadi takut, sangat ketakutan, [bahkan] terror” (“alarm or fright – be afraid, exceedingly, fear, [even] terror”) (Strong #5401).

Kita tidak harus tahu banyak tentang bahasa Yunani untuk menggambarkan atau menjelaskan ini. Webster’s New Twentieth Century Dictionary mengatakan bahwa “phobos” diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “phobia” yang berasal dari kata Yunani phobos, ketakutan… ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu atau situasi tertentu” (ibid, hal. 1348, lihat kata “phobia”). Dan persis seperti inilah dalam ayat kita ini – “suatu ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu atau situasi tertentu.” Dalam kasus ini, dalam ayat kita ini, ini berarti “suatu ketakutan yang berlebihan terhadap Tuhan.” Kata yang sekarang sudah tidak dapat diartikan “awe” (“kagum”) dengan tegas menyampaikan ide tentang “suatu ketakutan yang berlebihan terhadap Tuhan” bagi pikiran modern. Jadi, yang terbaik adalah menolak penerjemahan “phobos” sebagai “awe” (“kagum”) dalam NIV dan NASV, dan setuju dengan terjemahan literal “ketakutan” dalam ayat kita ini, seperti yang terdapat dalam King James Bible, dan terjemahan yang lebih awal yaitu 1599 Geneva Bible (Tolle Lege Press, 2006 edition).

Saya sebenarnya tidak ingin menjelaskan terlalu banyak tentang penjelasan dan eksegesis tentang kata Yunani “phobos” ini, namun saya merasa bahwa ini perlu saya lakukan jika kita berharap memahami arti dari ayat kita ini, sebagaimana ini menjelaskan tentang pergumulan emosional dan rohani yang terjadi dalam setiap hati orang pada Hari Pentakosta,

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Adalah penting bahwa “ketakutan” (“fear”), dalam ayat ini, benar-benar berarti ketakutan, bukan “kekaguman” (“awe”) seperti dalam arti modernnya, bukan sebagai “kekaguman” ” (“awe”) seperti yang dimengerti oleh orang-orang hari ini. Setiap orang tahu apa arti dari “fear” (“ketakutan”), dan itu sungguh ketakutan yang dialami oleh orang-orang pada kebangunan rohani agung pertama dalam sejarah, yaitu pada Hari Pentakosta.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Saya akan menarik beberapa pelajaran dari ayat ini.

I. Pertama, Anda tidak dapat memiliki kebangunan rohani sejati tanpa
orang-orang itu mengalami ketakutan.

Saya jarang melihat yang seperti ini ketika menghadiri dan berkhotbah di dua kebangunan rohani klasik. Tidak banyak pengkhotbah dapat mengatakan itu hari ini. Namun oleh anugerah Tuhan saya pernah hadir bahkan berkhotbah beberapa khotbah pada dua kebangunan rohani yang luar biasa itu. Yang pertama di gereja besar Tionghua, dan yang kedua di jemaat kulit putih di Selatan. Kedua peristiwa ini adalah apa yang kita harus sebut “kebaktian penginjilan.” Mereka jauh lebih dari itu dalam dua kasus ini. Ratusan orang digerakkan oleh Roh Tuhan, membawa mereka ke bawah penghakiman dan keinsafan yang mendalam akan dosa, dan menghasilkan ketakutan dalam hati banyak orang. Dalam dua kebaktian itu ratusan orang bertobat dan bergabung menjadi anggota jemaat lokal.

Saya dapat berkata, sebagai saksi mata, bahwa ketakutan dan keinsafan akan dosa adalah emosi yang dominan dalam dua kebangunan rohani ini, sama seperti mereka pada hari Pentakosta.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Iain H. Murray berkata,

Ada suatu unsur yang dihadirkan ketika Injil disampaikan dengan sangat tegas di dunia ini yaitu hal luar biasa yang tidak umum hari ini, yaitu ketakutan akan Tuhan. Bukan hanya pengalaman itu, namun bahkan kata itu nyaris tidak nampak lagi. Namun keberadaannya dalam Kitab Suci tidak dapat diragukan. Kristus mengajar murid-murid-Nya untuk “takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28), dan ketakutan ini adalah jelas bagian dari kesehatan gereja-gereja rasuli. Ini nampak dalam murid-murid itu sendiri dan dalam orang-orang yang mendengar khotbah mereka: “dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan” (Kisah Rasul 9:31). “Tahu apa artinya takut akan Tuhan” (II Korintus 5:11). Ketika Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta “ketakutanlah mereka semua.” Di Efesus, kita membaca “maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 19:17) (Iain H. Murray, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening, The Banner of Truth Trust, 2005, p. 3).

Ketakutan juga unsur yang umum, dan unsur paling mendobrak, pada Kebangunan Rohani Agung Pertama, Kebangunan Rohani Agung Kedua, kebangunan rohani di Skotlandia pada tahun 1859 dan dimana saja, kebangunanan rohani agung di Pyongyang di Korea, dan banyak kebangunan rohani yang menyapu Cina pada jam ini. Itu sangat umum melihat orang-orang menangis, dan bahkan meratap, di bawah keinsafan akan dosa, di Cina hari ini. Menangis karena dosa dan meratap karena ketakutan akan Tuhan bukan unsur yang kita lihat di sini di Barat. Itu semua bahkan tidak ada dalam gerekan Karismatik sekalipun. Mereka memiliki banyak pengalaman lain, namun tidak terlihat “ketakutan” yang datang atas mereka semua pada hari Pentakosta.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Jika mereka mengalami itu, berarti mereka benar-benar mengalami kebangunan rohani sejati! Betapa saya mau kiranya orang-orang Baptis juga mengalami apa yang mereka alami dalam Kisah Rasul 2:43!

Ada sangat sedikit sekali itu terjadi di Barat dibandingkkan dengan ketakutan akan Tuhan yang dialami dalam kebangunan rohani di antara orang Cina hari ini. Seorang saksi dari salah satu kebangunan rohani itu berkata, “Suatu catatan yang sangat dominan adalah perasaan akan dosa yang begitu menguasai. [Orang-orang] menangis dan menangis seolah-olah hati mereka dihancurkan oleh dukacita” (Murray, ibid., hal. 4).

Itu adalah kepercayaan saya bahwa Anda tidak dapat mengalami kebangunan rohanu sejati kecuali ada ketakutan, kecuali orang-orang itu takut akan Tuhan dan datang dengan penuh penyesalan akan dosa-dosanya – yang seringkali mengekspresikannya dengan menangis, dan bahkan meratap, karena dosa dan ketakutan akan murka Tuhan. Kita tidak memiliki kebaktian-kebaktian di mana orang mengalami ketakutan yang seperti itu dan diinsafkan dari dosanya di dunia Barat hari ini – yang berarti, bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki kebangunan rohani sejati, seperti yang dialami pada hari Pentakosta.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

II. Kedua, Anda bahkan tidak dapat mengalami pertobatan pribadi
tanpa adanya ketakutan.

Rasul Paulus “menggigil” karena ketakutan sebelum mengalami pertobatannya (Kisah Rasul 9:6 – [“And he trembling and astonished said, Lord, what wilt thou have me to do?” – KJV. Kalimat itu dihilangkan dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia]. Kepala Penjara Filipi juga sangat ketakutan sehingga ia ingin memutuskan bunuh diri, “dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas” (Kisah Rasul 16:29) ketika ia mengalami pertobatan. Kita menemukan lagi dan lagi, ada begitu banyak contoh dalam Alkitab tentang ketakutan yang muncul dalam hati orang berdosa yang dibangunkan ketika mereka diinsafkan oleh Roh Kudus.

Di sini beberapa bagian dari kesaksian yang diberikan oleh beberapa anak muda di gereja kami sendiri ketika mereka bertobat. Ada yang berkata,

Hari itu sebelum akhir kebaktian saya diinsafkan dari dosa dan dibuat ngeri oleh dosa-dosa saya… saya duduk di ruang pemeriksaan dengan gemetar, takut akan dosa-dosa saya yang mengerikan… Yeremia 8:20 selalu terngiang-ngiang di kepala saya, “Sudah lewat musim menuai, sudah berakhir musim kemarau, tetapi kita belum diselamatkan juga.” Saya menjadi jijik dengan diri saya sendiri.

Yang lain berkata,

Saya berpikir tentang diri saya sendiri sebagai manusia yang telah mati, atau seperti mayat hidup, karena saya telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa. Saya merasa bahwa saya telah melewati garis batas untuk dihukum selama-lamanya dalam penghukuman kekal. Saya pastikan bahwa saya dulu sedang pergi ke Neraka dengan tanpa pengharapan apapun.

Yang lain berkata,

Khotbah-khotbah itu... mulai membuat saya gemetar. Saya mulai ketakutan… saya takut akan Tuhan yang dapat mengirim jiwa saya ke Neraka yang paling dalam… suatu kali saya pernah duduk sendiri sambil menangis. “Mengapa saya masih ada di sini?” Saya bertanya kepada diri saya sendiri. Saya [tahu] saya layak dikirim ke Neraka… saya menjadi seperti orang yang tanpa pengharapan sama seperti kebanyakan orang lain.

Ini hanya sedikit kesaksian dari anak-anak muda di gereja kami sebelum mereka mengalami pertobatan. Lihat bagaimana ketakutan akan Tuhan turun atas mereka!

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

III. Ketiga, Anda tetap tinggal dalam keadaan Anda yang tak ber-Tuhan
kecuali Anda mengalami ketakutan seperti itu.

Manusia berada di bawah dosa, diperbudak olehnya. Rasul Paulus menjelaskan seseorang yang ada dalam keadaan ini:

“Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Roma 3:18).

Itu adalah kebenaran tentang manusia kecuali sampai ia diinsafkan oleh Roh Kudus. Ketika ia diinsafkan, walaupun sebelumnya “rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu,” ia tiba-tiba melihat bahwa ia adalah orang yang sangat berdosa dengan hatinya yang rusak total dan menjijikkan. Ketika ia diinsafkan akan dosa, kesombongan dan ketidak-percayaannya dihancurkan, dan ia melihat bahwa ia adalah orang berdosa yang sangat jahat, bahwa ia telah menjadi musuh Tuhan, bahwa ia layak menerima murka Tuhan dan api Neraka. Kemudian, dan baru setelah itu, ketakutan akan Tuhan akan turun atasnya, dan jika ada lebih dari satu orang yang berada dalam keadaan insaf ini, kita dapat berkata,

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

Hanya oleh anugerah Tuhan yang membuat orang berdosa sangat ketakutan. John Newton dengan baik berkata, “Oleh anugerah yang mengajar hatiku untuk takut” (“Amazing Grace” by John Newton, 1725-1807).

Apakah Anda takut akan Tuhan? Apakah Anda ketakutan akan Neraka? Apakah Anda ketakutan akan penghukuman karena dosa-dosa Anda untuk selama-lamanya? Atau masihkah “rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu [Anda]?” (Roma 3:18). Hanya orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah orang berdosa yang patut dihakimi yang akan membuatnya lari kepada Kristus. Namun Ia akan mengimputasikan kebenaran-Nya kepada semua orang yang datang kepada Dia, oleh karena mereka sangat ketakutan. Kiranya ini menjadi masalah dan kondisi Anda malam ini. Amin.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Manuskrip-Manuskrip Khotbah.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com

GARIS BESAR KHOTBAH

KETAKUTAN – UNSUR YANG HILANG #1

(FEAR – THE MISSING ELEMENT #1)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Maka ketakutanlah mereka semua” (Kisah Rasul 2:43).

(Kisah Rasul 2:2, 3)

I.   Pertama, Anda tidak dapat memiliki kebangunan rohani sejati tanpa
orang-orang itu mengalami ketakutan, Matius 10:28; Kisah Rasul 9:31;
II Korintus 5:11; Kisah Rasul 19:17.

II.  Kedua, Anda bahkan tidak dapat mengalami pertobatan pribadi
tanpa adanya ketakutan, Kisah Rasul 9:6; 16:29; Yeremia 8:20.

III. Ketiga, Anda tetap tinggal dalam keadaan Anda yang tak ber-Tuhan
kecuali Anda mengalami ketakutan seperti itu, Roma 3:18;
Kisah Rasul 2:43.