Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




APAKAH KITA MENYAKSIKAN KEMATIAN
KEKRISTENAN AMERIKA? – KHOTBAH EMPAT JULI

(ARE WE WITNESSING THE DEATH OF AMERICAN
CHRISTIANITY? – A FOURTH OF JULY SERMON)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Jum’at Malam, 4 Juli 2008

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN” (Mazmur 33:12).


Ayat ini terutama mengacu kepada bangsa Israel, yang memiliki perjanjian atau kovenan kekal di bumi dengan Tuhan yang tidak dapat dibatalkan. Namun, dengan aplikasi, ayat ini mengacu kepada bangsa-bangsa non Yahudi yang menempatkan diri mereka sendiri di bawah kekuasaan Tuhan. Dr. Gill berkata, bahwa itu “tidak harus terbatas bagi mereka [Israel]; karena Ia adalah Tuhan bagi bangsa non Yahudi juga; bangsa ini adalah umat pilihan, bangsa yang kudus, bangsa istimewa, baik Yahudi maupun non Yahudi: dan Tuhan adalah Tuhan mereka” (John Gill, D.D., An Exposition of the Old Testament, The Baptist Standard Bearer, 1989 reprint, volume III, hal. 664).

Sehingga orang-orang Amerika dapat membual bahwa ayat ini berbicara tentang bangsa kita.

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN”
      (Mazmur 33:12).

Namun dapatkan itu sekarang dikatakan tentang kita?

Alexis de Tocqueville (1805-1859) adalah seorang sejarahwan dan ahli politik Francis yang menjadi terkenal karena analisisnya tentang demokrasi di Amerika. Ketika melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat pada permulaan tahun 1830-an, ia merekam observasi-observasinya tentang masyarakat Amerika, yang ia masukkan dalam bukunya, Democracy in America (1835-1840). Pada saat merayakan bukunya ini, Alexis de Tocqueville menulis,

Saya telah melihat keagungan dan kejeniusan Amerika di pelabuhan-pelabuhannya yang luas dan sungai-sungainya yang besar, namun bukan di sana; ladang-ladangnya yang subur dan padang rumputnya yang tak terhingga; namun bukan di sana; kekayaan tambangnya dan perdagangan dunianya yang luas, namun bukan di sana. Namun saya pergi ke gereja-gereja Amerika, dan mendengar khotbah-khotbahnya yang membakar dengan kebenaran membuat saya mengerti rahasia kejeniusan dan kekuatannya. Amerika menjadi besar karena ia baik, dan jika Amerika kehilangan kebaikannya, maka Amerika akan kehilangan kebesarannya.

Itu kutipan dari Alexis de Tocqueville yang membuat hatiku menggigil: “Namun saya pergi ke gereja-gereja Amerika, dan mendengar khotbah-khotbahnya yang membakar dengan kebenaran membuat saya mengerti rahasia kejeniusan dan kekuatannya [Amerika].” Dapatkah ia mengatakan itu hari ini? Leonard Ravenhill tidak berpikir demikian. Ia berkata,

Baru dua hari yang lalu seorang saudara hamba Tuhan yang baik berkata kepada saya, “Kita tidak lagi memiliki pengkhotbah-pengkhotbah besar di negeri ini.” Saya berpikir bahwa saya mengerti apa yang ia maksudkan: tidak ada orang yang luar biasa seperti yang “difirmankan Tuhan,” orang yang mengagumkan yang berada di bawah urapan Roh. Kita pernah memiliki para pengkhotbah yang diberkati, para pengkhotbah berbakat, para pengkhotbah yang pandai bicara, para pengkhotbah terkenal, namun di mana mereka sekarang, OH di mana, para pengkhotbah yang pernah mengesankan bangsa ini dengan ucapan prophetiknya? Ada suatu kelaparan akan khotbah yang agung… kelaparan akan khotbah yang menerobos hati, kelaparan akan khotbah yang menyanyat jiwa, kelaparan akan khotbah seperti yang para nenek moyang kita dengar yang tetap membiarkan manusia terbangun sepanjang malam agar mereka tidak jatuh ke dalam neraka. Saya ulangi lagi, “Ada suatu kelaparan akan firman Tuhan” (Leonard Ravenhill, America is Too Young to Die, Bethany Fellowship, 1979, hal. 79).

Pada saat-saat sejarah Amerika yang sedang kritis ini, kita tidak memiliki nabi! Pertunjukan Injil ada di segala masa (ibid., hal. 81).

Dr. A. W. Tozer berkata,

Entah ini suatu pertanyaan terbuka atau bukan, gerakan evangelical telah terlalu lama berdosa dan terlalu jauh berpaling dari Tuhan untuk kembali ke inti kerohanian. Secara pribadi saya tidak berpikir itu sudah terlalu terlambat untuk bertobat… Namun ini masalah besar. Akankah mereka? Atau mereka terlalu puas dengan kemunafikan relijius dan omong kosong mereka yang seakan menunjukkan kesedihan mereka karena telah berpaling dari iman Perjanjian Baru? Jika kemudian ini benar, maka tidak ada yang akan luput dari penghakiman (A. W. Tozer, D.D., Of God and Men, Christian Publications, 1960, hal. 18-19).

Siapa yang akan berbicara? Di mana dan kapan mimbar-mimbar kita akan “membakar dengan kebenaran”? Dr. Tozer berkata,

Betapa gereja sekarat pada saat ini membutuhkan orang-orang yang berani… Ketakutan memikirkan gereja itu seperti memikirkan beberapa kutukan kuno. Takut akan kehidupan kita, ketakutan akan pekerjaan kita, ketakutan kehilangan popularitas, saling ketakutan, ini adalah momok yang menghantui orang-orang yang berdiri sebagai pemimpin gereja hari ini (A. W. Tozer, D.D., The Best of A. W. Tozer, Baker Book House, 1978, hal. 83).

Lagi, Dr. Tozer berkata,

Hari ini kita menemukan diri kita sendiri berada pada tangga dingin yang membawa ke bawah: (1) Tidak ada keinsafan dosa. (2) Tidak ada transformasi pertobatan. (3) Tidak ada perjumpaan dengan Tuhan. (4) Tidak ada obyek penyembahan. Kemanakah kita harus pergi dari sini? (A. W. Tozer, D.D., The Price of Neglect, Christian Publications, 1991, hal. 31).

Dan Dr. J. Vernon McGee berkata,

Gereja telah gagal menjelaskan kepada saya bahwa saya adalah seorang berdosa. Gereja telah gagal menemukan saya sebagai individu yang masih terhilang. Gereja telah gagal menawarkan keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus kepada saya. Gereja telah gagal menjelaskan kepada saya tentang konsekuensi dosa yang sangat mengerikan, kepastian tentang neraka, dan fakta bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya yang dapat menyelamatkan (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, 1983, volume V, hal. 924).

Saya setuju denga semua yang Leonard Ravenhill, A. W. Tozer, dan Dr. McGee katakan. Nampak jelas bagi saya bahwa gereja-gereja di Amerika telah jatuh, jauh dari apa yang digambarkan dari hasil observasi Alexis de Tocqueville pada tahun 1835! Di sini ada 12 alasan untuk kemunduran Kekristenan Amerika.

1.  Teori “kritik tinggi” Jerman terhadap Alkitab yang mulai menelan jantung ke-Alkitabiahan Protestanisme Amerika pada paruh kedua abad sembilan belas, menyebabkan banyak pendeta tidak yakin akan kebenaran dan ketiada-salahan (inerrancy) Kitab Suci. Spurgeon bertempur melawan ini sejak awal dalam “Downgrade Controversy” (lihat Harold Lindsell, Ph.D., The Battle for the Bible, Zondervan Publishing House, 1976; Harold Lindsell, Ph.D., The Bible in the Balance, Zondervan Publishing House, 1979; W. A. Criswell, Ph.D., Why I Preach that the Bible is Literally True, Broadman Press, 1973).

2.  “Decisionisme” mulai menggantikan “penginjilan lama” (“old evangelism”) pada periode yang sama. Sekitar tahun 1835 dan seterusnya, “pengambilan keputusan bagi Kristus” dengan cepat menggantikan ide Alkitabiah lama tentang pertobatan (lihat Iain H. Murray, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening, The Banner of Truth Trust, 2005; Iain H. Murray, Revival and Revivalism: The Making and Marring of American Evangelicalism, The Banner of Truth Trust, 1994; and C. L. Cagan and R. L. Hymers, Jr., Today’s Apostasy: How Decisionism is Destroying Our Churches, Hearthstone Publishing, Ltd., 2001 edition, dapat diakses di Internet. Klik di sini untuk membaca keseluruhan buku itu).

3.  Feminisme, pada periode yang sama, secara berangsur-angsur mengambil alih, bahkan sedang membawa kebanyakan dari gereja konservatif kita semakin berada di bawah dominasi feminisasi – dengan konsekuensi para laki-laki dan anak-anak muda meninggalkan gereja-gereja kita. Bahkan gereja-gereja yang masih digembalakan oleh hamba Tuhan laki-laki ini dikendalikan oleh para wanita, yang mendominasi mood dari gereja. Ini benar terjadi di kebanyakan gereja konservatif, seperti juga di gereja-gereja lainnya (lihat David Murrow, Why Men Hate Going to Church, Thomas Nelson Publishers, 2004; Leon J. Podles, Ph.D., The Church Impotent: The Feminization of Christianity, Spence Publishing Company, 1999).


Tiga trend ini telah menyebabkan gereja-gereja Barat, dan khususnya di Amerika, dipenuhi dengan orang-orang yang belum bertobat, sementara pada saat yang sama 88% anak muda yang lahir dan besar di gereja-gereja ini meninggalkan gereja sebelum mereka berumur dua puluh lima tahun, dan tidak pernah kembali lagi; para wanita yang menguasai laki-laki kira-kira tiga banding satu; dan jumlah yang sesungguhnya dari orang-orang yang menghadiri kebaktian telah menurun di semua denominasi arus utama di setiap decade. Misalnya, Southern Baptist Convention melaporkan,

Jumlah orang-orang yang dibaptis di gereja-gereja Southern Baptist menurun selama tahun 2007 menjadi tingkat lebih rendah dari Southern Baptist Convention sejak tahun 1987… Thom S. Rainer, presiden dari Lifeway Christian Resources, berkata tidak ada tempat untuk melarikan diri dari fakta bahwa Southern Baptist tidak menjangkau banyak orang bagi Kristus sebanyak yang mereka pernah lakukan (“SBC, California Baptism Statistics Show Decline: National Baptisms Drop to Lowest Level Since 1987,” by Rob Phillips, Baptist Press, reported in The California Southern Baptist, June 2008, p. 3).

Jadi, bahkan walupun Southern Baptist pernah mengalami pertumbuhan yang pesat sekarang sedang mengalami kemunduran yang sama dalam keanggotaannya seperti halnya semua denominasi utama Protestan dan Baptis lainnya sejak permulaan abad dua puluh.

Saya percaya bahwa penurunan gereja-gereja Protestan maupun Baptis di Amerika ini adalah akibat langsung dari tiga trend yang telah saya tekankan di atas: (1) Penolakan terhadap ketiada-salahan (inerrancy) Kitab Suci, (2) Decisionisme, yang telah menggantikan pertobatan Alkitabiah dengan suatu “pengambilan keputusan bagi Kristus” yang dangkal, dan (3) feminisasi gereja-gereja, yang mana merupakan penyebab utama perginya para laki-laku dewasa dan para pemuda dari denominasi-denominasi utama. Namun ada trend lain yang terkait langsung ataupun tidak langsung dengan masalah yang sedang berkembang ini.

4.  “Pengajaran Alkitab” yang lembut nyaris menggantikan khotbah model dulu, dengan demikian cenderung membuat gereja sebagai tempat yang nyaman bagi para wanita, dari pada khotbah-khotbah penginjilan yang kuat dan tegas. Bahkan “khotbah” di kebanyakan gereja Baptis fundamental hari ini sedikit berbeda dari apa yang akan Anda dengar di Metodis liberal, Presbyterian liberal ataupun gereja Episkopal. Itu benar! Silahkan cek! Kita telah tenggelam terlalu jauh tanpa menyadarinya!

5.  Kebaktian-kebaktian doa sebagian besar telah digantikan oleh acara-acara menarik tertentu pada kebaktian tengah minggu. Kebaktian doa yang seperti jaman dulu dengan cepat telah bergeser dari pemandangan.

6.  Musik kontemporer telah menjadi atraksi dominan di gereja-gereja, dari pada khotbah penginjilan. Ketika musik telah menggantikan khotbah penginjilan, khotbah itu sendiri telah dijadikan pelengkapnya. Orang-orang ditarik untuk menghadiri “kebaktian kesaksian pengalaman” (“worship experience”) dari pada kebaktian-kebaktian di mana khotbah penginjilan sebagai pusatnya, seperti yang dilakukan pada zaman dulu. Di ribuan gereja di Amerika, khotbah penginjilan telah ditinggalkan. Pendekatan ini nampak “berlangsung” di beberapa “gereja besar” (mega-churches), namun itu tidak berlangsung di gereja-gereja kecil.

7.  Penekanan pada penginjilan kaum muda dari luar gereja sedang digantikan dengan entertainmen, dan usaha sia-sia untuk mempertahankan sedikit anak-anak muda yang lahir dan tumbuh di gereja. Namun suatu polling menunjukkan bahwa pendekatan ini gagal. Namun tak seorangpun nampak memahami bahwa anak-anak muda yang terhilang dari luar gereja harus ditarik masuk melalui khotbah penginjilan tradisional, dan keras. Seseorang pernah berkata, “Jika kita tidak memenangkan orang-orang di luar gereja kepada Kristus, gereja kita akan mati.” Namun mereka melalukan entertainmen sebagai jawabannya, dan hasilnya sama saja, dan statistik menunjukkan bahwa itu tidak berguna. Para pemuda dan kaum lak-laki ingin ditantang, bukan diberi entertain. Selain situasi ini secara drastis merupakan kebalikannya, kita harus berharap bahkan lebih banyak lagi para pemuda dan kaum pria, yang ingin ditantang untuk menghadapi masyarakat yang tidak ber-Tuhan dalam pertempuran satu lawan satu, melalui sosok yang berani dan mimbar yang memberitan Injil.

8.  Mempertahankan orang-orang dewasa dan jumlah kaum muda yang mulai berkurang, dari pada dengan menantang mereka untuk berkonfrontasi dan menginjili budaya yang sudah bobrok, mereka justru menggantikan penginjilan radikal dari para pengkhotbah masa lalu.

9.  Pertobatan sejati telah digantikan dengan “decisions” (“keputusan”) yang dangkal, yang tidak menghasilkan pemenang jiwa yang tekun yang bekerja untuk membawa orang-orang yang tidak pernah datang ke gereja untuk mendengar khotbah penginjilan yang membakar, yang harus mempertobatkan beberapa dari mereka dari dunia ini.

10.  Kebaktian Minggu malam, yang pernah menjadi momen pemberitaan Injil yang kuat, telah diubah demi meningkatkan jumlah anggota gereja, membiarkan para pria dewasa dan pemuda tanpa pengertian apapun untuk dilakukan pada kebaktian Minggu malam. Gereja-gereja tidak akan bertumbuh lagi kecuali khotbah penginjilan Minggu malam ditempatkan kembali pada tempatnya. Menggantikannya dengan “pembelajaran Alkitab” setelah makan siang, seperti dilakukan di kebanyakan gereja sekarang, hanya merampok gereja dari kesempatan untuk membawa jiwa-jiwa terhilang dari dunia ini untuk dibawa ke kebaktian Minggu malam untuk mendengarkan pemberitaan Injil. Menurunkan kebaktian Minggu malam tidak akan membantu untuk menambahkan jiwa-jiwa baru bagi gereja. Itu adalah bagian dari alasan kemunduran kita.

11.  Tantangan salib telah digantikan dengan pengajaran feminism dan program-program yang tidak efektif yang memberikan hanya sedikit tantangan bagi para pemuda dan pria dewasa untuk menghadapi budaya kita yang sedang bobrok dengan ketekunan, roh kepahlawanan. Mereka mungkin akan sangat respon jika diberi kesempatan, namun mereka tidak merespon untuk difeminisasikan, seperti program-program yang ditawarkan kepada mereka hari ini.

12.  Para gembala sendiri sering cenderung untuk bertindak seperti CEO, dari pada “melakukan pekerjaan pemberitaan penginjilan (II Timotius 4:5). Gembala ada untuk “melakukan pekerjaan” pemberitaan Injil bagi mereka yang terhilang, dari pada mengetuai beberapa wanita tua dan beberapa anak-anak kecil yang telah ada di gerejanya.


Satu-satunya hal yang kita lihat untuk membuat kita besar adalah bahwa kebanyakan gereja konservatif mendukung umat perjanjian Tuhan, Israel. Alkitab membuat ini jelas,

“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau [Yahudi], dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau” (Kejadian 12:3).

Gereja-gereja dan bangsa kita akan berada pada kondisi krisis yang lebih serius jika bukan karena fakta kebanyakan orang-orang Kristen evangelical berdoa untuk dan mendukung Negara Israel. Dan, lemah seperti gereja-gereja kita sekarang, Tuhan telah memberikan berkat kepada bangsa kita karena kita telah berdiri mendukung orang-orang Yahudi pada umumnya, dan khususnya Negara Israel.

Jika kita harus memiliki Presiden baru di Washington yang tidak mendukung Israel lagi, saya takut bahwa hari-hari kita sebagai Negara besar akan berlalu, karena Tuhan berfirman,

“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau [Yahudi], dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau” (Kejadian 12:3).

Gereja-gereja konservatif kita pada umumnya mendukung Israel. Sungguh menyedihkan, nampak bahwa ini adalah satu-satunya benang yang masih tinggal untuk mengikatkan kita dengan ayat ini,

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN”
      (Mazmur 33:12).

KESIMPULAN

Apakah bangsa lain sekarang dapat menjadi lebih dari pada kita untuk mengklaim ayat itu sebagai milik mereka? Yang saya kawatirkan itu terjadi.

1.  Korea Selatan, suatu Negara kecil, beberapa minggu lalu Amerika Serikat dan Kanada menghitung jumlah (bukan presentase, namun jumlah yang sebenarnya) misionaris yang mereka [Korea] kirim untuk menginjili dunia. Mereka sekarang memiliki banyak misionaris dari pada yang kita miliki di ladang-ladang pelayanan di negeri asing di seluruh dunia!

2.  Indochina sedang mengalami kebangunan rohani yang luar biasa hari ini, suatu kebangungan rohani seperti yang telah hilang dari Amerika sejak 1859!

3.  China sendiri sedang mengalami panen besar jiwa-jiwa dari berbagai bangsa pada zaman modern ini. Franklin Graham baru-baru ini memberikan estimasi yang “rendah” dengan mengatakan kira-kira ada 130 juta orang Kristen di China (Decision Magazine, July/August 2008, hal. 13). Namun banyak orang yang sedang mempelajari ledakan Kekristenan di sejumlah tempat di China menghitung lebih tinggi dari itu. Ada suatu estimasi bahwa kira-kira 1,000 orang China bertobat menjadi Kristen setiap jamnya, sepanjang siang dan malam. 24,000 per hari, tujuh hari sepanjang minggu! Ini adalah kebangunan rohani seperti yang pernah terjadi di Amerika namun yang sudah tidak terdengar lagi sejak tahun 1859. China ada di tengah-tengah kebangunan rohani yang besar dari segala bangsa di zaman modern ini (lihat David Aikman, Jesus in Beijing: How Christianity is Transforming China and Changing the Global Balance of Power, Regency Publishing, 2003; available from The Voice of the Martyrs, P.O. Box 443, Bartlesville, OK 74005, (918)337-8015; website at www.persecution.com.)

4.  Gereja-gereja Afrika sedang memimpin Barat entah dalam hal moralitas maupun penginjilan. Banyak orang Episkopal, termasuk teolog Kanada yang terkenal Dr. J. I. Packer, yang sedang meninggalkan gereja Episkopal, dan menempatkan diri mereka sendiri di bawah otoritas para uskup Afrika, karena kebobrokan moral denominasi mereka di Amerika dan Kanada.

5.  Gereja-gereja Amerika Tenganh dan Selatan dapat mempertahankan hukum pada kitab undang-undang mereka yang melarang aborsi, dan berbagai perbuatan tidak bermoral lainnya, hal-hal yang gereja tidak dapat lihat dilakukan di Amerika.

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN”
      (Mazmur 33:12).

Apa yang disebut negara-negara “Dunia Ketiga,” nampak bagi saya, jauh lebih benar untuk mengklaim ayat ini dari pada Amerika pada poin ini dalam sejarah.

Ketika Amerika meluncur ke bawah di jurang yang licin ke dalam “budaya kebobrokan,” Tuhan membangkitkan bangsa-bangsa baru, yang akan segera dikatakan,

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN”
      (Mazmur 33:12).

Sekarang perlu lebih dari satu atau dua kebangunan rohni untuk menyelamatkan Amerika kembali seperti yang kita tahu. Itu akan membutuhkan Reformasi baru! Kita harus kembali ke semboyan “sola” dari para Reformator Protestan, dan menerapkannya dengan penuh semangat dalam khotbah kita dan di gereja-gereja kita, dan dalam penginjilan kita. Saya tidak melihat itu sedang terjadi di Amerika. Saya juga tidak berpikir itu akan terjadi. Banyak orang sekarang berkata bahwa evangelikalisme sedang sekarat di negeri ini, dan bahwa akhir dari peradaban Barat sudah dekat. Kita akan membayar dengan harga yang sangat mahal karena menolak “iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3). Kita akan benar-benar dihakimi karena budaya kita berpaling dari iman yang serius, yang berpusatkan pada Kristus, berpusat pada pertobatan dari Nenek Moyang kita.

Seperti Churchill berkata kepada pengawalnya, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, ketika ia menjadi Perdana Menteri pada hari-hari yang kelam pada permulaan Perang Duni II, “Aku berharap kiranya itu tidak terlalu terlambat. Aku sangat ketakutan akan hal itu. Kita hanya dapat berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan” (John Lukacs, Ph.D., The Duel: 10 May – 31 July 1940, The Eighty-Day Struggle Between Churchill and Hitler, Ticknor and Fields, 1991, hal. 7).

Dan, setelah semuanya, persis seperti itulah yang Tuhan harapkan pada setiap kita untuk lakukan di zaman yang tidak menentu ini. “Kita hanya dapat berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.” Pada tanggal 4 Juli 2008 ini, itulah pikiran saya, dan itulah tantangan saya bagi Anda. Apapun yang terjadi bagi bangsa kita yang tercinta ini. “Kita hanya dapat berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.” Marilah kita terus menginjili Los Angeles. Marilah kita terus berseru, seperti yang pernah dilakukan oleh Yeremia, melawan hal-hal yang sedang menghancurkan gereja-gereja kita dan bangsa kita pada jam ini. Dan kiranya Tuhan sendiri yang menolong kita untuk melakukannya. Amin.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Manuskrip-Manuskrip Khotbah.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com

Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“In Times Like These” (by Ruth Caye Jones, 1944).