Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




Nyanyian Mazmur Sebelum Khotbah: Mazmur 139:23-24.


MEMAAFKAN DOSA
(KHOTBAH #27 DARI KITAB KEJADIAN)

EXCUSES FOR SIN
(SERMON #27 ON THE BOOK OF GENESIS)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan pada Sabtu Malam, 20 Oktober 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Firman-Nya: ‘Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?’ Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan’” (Kejadian 3:11-12).


Adam dan Hawa telah melanggar hukum Tuhan dan makan buah yang Ia larang untuk mereka makan. Seketika itu hati nurani mereka merasa tertusuk oleh karena perasaan bersalah. Mereka membuat cawat dari daun-daun pohon ara untuk menutupi ketelanjangan atau dosa mereka dari Tuhan. Betapa ini adalah tindakan yang bodoh – membayangkan bahwa Tuhan tidak dapat melihat menembus cawat hina itu!

Namun oleh karena kesalahan ini hati nurani mereka mendorong mereka untuk melakukan sesuatu bahkan sesuatu yang lebih bodoh. Mereka bersembunyi dari Tuhan “di antara pohon-pohonan dalam taman” (Kejadian 3:8). Mereka mencoba untuk bersembunyi dari Tuhan, namun mereka tidak dapat melakukannya.

Lihat betapa bodohnya mereka setelah mereka melanggar hukum Tuhan! Lihat betapa mereka berusaha lari ke sana ke mari, mencoba ini dan itu, untuk menghindari Tuhan, untuk lari dari panggilan-Nya yang menembus hati, sehingga mereka bersembunyi di balik pepohonan! Dosa telah membuat mereka sebodoh itu sehingga ia membayangkan bahwa mereka dapat bersembunyi dari mata Tuhan! Namun mata Tuhan melihat setiap usaha (trick) yang manusia gunakan untuk menyembunyikan dosanya. Tuhan menangkap mereka dengan memberikan dua pertanyaan yang menusuk hati mereka.

“Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (Kejadian 3:11).

Dr. Henry M. Morris dengan bijak berkata,

…malu oleh karena telanjang [belum pernah] diperkenalkan oleh konvesi peradaban, seperti anggapan para anthropolog dan orang-orang yang menganggap diri bijaksana. [Perasaan malu] itu bersumber dari kesadaran akan dosa mula-mula, dan hanya bisa dilupakan ketika moral dalam nuraninya telah menjadi begitu dikeraskan sehingga kehilangan seluruh sensitivitasnya terhadap dosa.
       Adalah penting juga untuk mengenakan pakaian di Sorga. “semua pasukan yang di sorga” nampaknya “memakai lenan halus yang putih bersih” (Wahyu 19:14), dan Anak Manusia yang dimuliakan [Yesus] digambarkan oleh Yohanes seperti “berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki” (Wahyu 1:13). Kecuali periode singkat dari zaman Edenik sebelum kejatuhan, telanjang di hadapan orang lain selain suami atau istrinya sendiri, di dalam Alkitab, dinilai sebagai hal yang sangat memalukan (Henry M. Morris, Ph.D., The Genesis Record, Baker Book House, 1986 edition, hal.. 116-117).

[Ketelanjangan] tidak pernah menjadi masalah sebelumnya, namun tidak diragukan bahwa Adam kemudian sangat menyadari keadaannya yang telanjang di hadapan Tuhan. Daun-daun pohon ara [tidak dapat membantu], juga; dan [Adam] mengetahui itu. Dosa yang sangat mencolok telah masuk ke dalam tubuh Adam dan akan mencemari seluruh keturunannya di masa depan (Morris, ibid., hal. 116).

Hanya setelah kedua orang tua kita yang pertama jatuh ke dalam dosa yang menyebabkan hari nurani mereka tersiksa oleh karena ketelanjangan. Dosa yang telah mereka lakukan telah merampok mereka dari ketiada-dosaan mereka, dan membuat mereka merasa sakit sekali menyadari bahwa mereka telah telanjang di hadirat Tuhan.

Mereka malu akan ketelanjang mereka karena hati nurani mereka, walaupun mereka telah jatuh, namun mereka belum sepenuhnya dikeraskan oleh dosa. Kemudian, ketika Musa turun dari Gunung Sinai dengan Sepuluh Perintah, orang-orang tidak merasa malu ketika mereka menari-nari sambil telanjang mengelilingi lembu emas yang mereka buat. Alkitab berkata,

“Ketika Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang [dalam KJV ‘telanjang’] – sebab Harun telah melepaskannya, sampai menjadi buah cemooh bagi lawan mereka – maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: ‘Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!’” (Keluaran 32:25-26).

Kemudian Musa, atas perintah Tuhan, membunuh mereka semua yang telah menari-nari tanpa mengenakan pakaian itu, kecuali orang-orang yang melihat dosa mereka dan berdiri di barisan bersama dengan Musa yang telah merasa malu dan bertobat. Orang-orang berdosa di antara mereka yang hatinya telah menjadi keras, yang menolak untuk bertobat dari ketelanjangan mereka yang menyembah berhala itu, dibunuh secara adil atas perintah Tuhan.

Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa oleh karena makan buah yang dilarang itu, ketelanjangan nampak seperti kejahatan besar dalam setiap halaman Alkitab. Ketelanjangan digambarkan sebagai tindakan pemberontakan dan dosa yang disengaja melawan Tuhan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Kitab Wahyu anggota gereja yang jahat di Laodikia menjadi sangat hina oleh karena dosa sehingga [mereka tidak tahu bahwa mereka] “buta dan telanjang” (Wahyu 3:17).

Kristus berkata bahwa mereka begitu dikeraskan oleh dosa sehingga mereka tidak melihat apa yang salah dengan “kebutaan, dan ketelanjangan” dalam pemandangan Tuhan. Orang-orang di jemaat Laodikia ini memiliki hati yang bahkan lebih keras dari pada yang dimiliki oleh Adam dan Hawa, yang sangat ketakutan bila Allah menemukan mereka telanjang dalam dosa. Apakah Anda seperti itu? Ketika Tuhan melihat hati Anda, apakah Ia melihat dosa? Apakah Ia melihat bahwa Anda memiliki hati, atau bahkan perbuatan, yang berdosa?

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139:23-24).

Betapa begitu banyak yang akan terbongkar ketika Anda berdoa dengan tulus! Tuhan, melalui Firman Tuhan “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12). Semua dosa Anda baik dalam hati atau pikiran maupun dosa yang kelihatan akan disingkapkan pada hari Penghakiman Akhir kecuali dosa-dosa itu telah ditutupi oleh Darah Kristus.

“Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:14).

Luther berkata,

Hati nurani [Adam] telah dibangunkan pada saat menyadari ketelanjangannya… Walaupun kemudian ia harus mendengar dari mulut Tuhan semua pikiran yang ada dalam pikirannya. Namun demikian ia menolak untuk mengakuinya, dan mengabaikan dosanya dalam keterdiaman (Martin Luther, Th.D., Luther’s Commentary on Genesis, Zondervan Publishing House, 1958 reprint, volume I, hal. 76).

Pada akhirnya Adam berbicara. Namun ia tidak benar-benar mengakui dosanya. Sebaliknya, ia justru berusaha mencari alasan untuk memaafkan dosanya, dan menyindir bahwa Tuhan sendirilah yang telah melakukan kesalahan.

“Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan’” (Kejadian 3:12).

Luther berkata,

Adam menyangkal kesalahannya dan berusaha mencari alasan untuk memaafkan dirinya sendiri; bahkan, ia menuduh Tuhan (sebagai yang menyebabkan dia berdosa). Ini ia lakukan bahkan ketika ia telah dihakimi oleh hati nuraninya dan Tuhan telah menunjukkan kepadanya bahwa ia telah berdosa. Ia bermaksud untuk berkata kepada Tuhan, “Seandainya saja Engkau tidak memberikan perempuan itu kepadaku, aku tidak akan makan buah dari pohon itu.” Jadi ia meletakkan kesalahan yang menyebabkan dosa itu pada Tuhan. Pelanggarannya mulai dengan ketidak-taatan dan ketidak-percayaan; namun kemudian bahkan ia menambahinya dengan penghinaan dan penghujatan kepada Tuhan. Dengan cara yang persis sama dengan itu setiap orang berdosa membenci hukuman (yang dijatuhkan kepadanya oleh karena dosanya). (ibid.).

Dan, dengan cara yang sama, setiap orang berdosa yang tidak mau dibangunkan mencoba untuk mencari alasan untuk memaafkan dirinya sendiri dari penghukuman, dengan mencoba menyalahkan orang lain, dari pada mengakui dosanya kepada Tuhan.

Hawa menjawab Tuhan dengan cara yang persis sama.

“Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: ‘Apakah yang telah kauperbuat ini?’ Jawab perempuan itu: ‘Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan’”
       (Kejadian 3:13).

Luther berkata,

[Hawa] mencoba untuk mencari alasan memaafkan dirinya sendiri dengan meletakkan kesalahan pada ular, yang Tuhan telah ciptakan. Dengan cara demikian, ia menolak untuk mengakui kesalahannya, ia meletakkan kesalahan pada sang Pencipta. Dari sini kita belajar bahwa orang berdosa tidak pernah ingin untuk [mengakui bahwa ia adalah] orang berdosa atau tidak mau menanggung penghukuman (yang pantas) baginya. Ia [menyatakan dirinya] tidak bersalah, dan jika ia tidak berhasil melakukan ini, ia akan menyalahkan Tuhan (ibid., hal. 77).

Selama orang berdosa yang terhilang ini menyalahkan orang lain, atau mencari alasan untuk memaafkan dirinya sendiri, tidak akan ada pengampunan dosa baginya. Ia harus dibawa ke tempat untuk mengatakan kepada Tuhan,

“Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mazmur 51:3).

Ketika mata Tuhan yang melihat segala sesuatu menembus hati Anda, dan itu sangat membebani Anda, maka Anda mau mengakui dosa Anda dan mencari Kristus untuk menyelamatkan Anda dari kesalahan ini. Bukalah I Yohanes 1:8-10. Mari kita berdiri dan membaca tiga ayat ini dengan lantang.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita ” (I Yohanes 1:8-10).

Silahkan duduk kembali.

Matthew Henry berkata, “Kita harus mewaspadai penipuan terhadap diri sendiri dengan mengingkari atau mencari alasan untuk memaafkan dosa-dosa kita” (Catatan I John 1:8). “Agama Kristen adalah agama untuk orang-orang berdosa” (ibid.). Keselamatan dalam agama-agama dunia lainnya datang melalui mencoba untuk melakukan kebaikan yang terbaik. Namun, di dalam Kekristenan sejati, keselamatan datang melalui pengakuan dosa, mengakuinya, dan menghempaskan diri sendiri ke atas Yesus, yang telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa, dan mencurahkan darah-Nya untuk dapat menyucikan dosa kita. Hati yang mengakui dosanya akan mau datang kepada Yesus, dan akan menyanyikan lagu berikut ini dengan penuh ketulusan,

Ku datang Tuhan! Datang pada-Mu!
Basuhlah aku, sucikan aku di dalam darah
Yang telah tercurah di Kalvari.
   (“I Am Coming, Lord” by Lewis Hartsough, 1828-1919).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Manuskrip-Manuskrip Khotbah.”