Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KRISIS PERTOBATAN DAN HUKUM ALLAH

(CRISIS CONVERSION AND THE LAW OF GOD)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Malam, 7 Oktober, 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati” (Roma 7:9-10a).


Tadi pagi saya berkhotbah kepada orang-orang yang kesepian, seperti halnya yang telah saya lakukan beberapa Minggu ini. Khotbah-khotbah yang disampaikan pada Minggu pagi adalah khotbah untuk “manusia duniawi” (I Korintus 2:14). Kami membawa banyak orang terhilang untuk menghadiri kebaktian pagi. Banyak di antara mereka yang belum pernah mendengar Injil. Jadi kami mengundang mereka dalam keadaan kedagingan mereka. Kami tidak menganggap bahwa mereka telah memiliki kesadaran tentang hal-hal rohani, sehingga kami berbicara untuk “rasa membutuhkan” mereka, namun apa yang kami lakukan ini sepenuhnya Alkitabiah. Kami berusaha membuat mereka berpikir tentang kesendirian mereka dan mendorong mereka untuk kembali ke gereja. Itu adalah permulaan yang baik. Itulah cara bagaimana memulai. Namun hanya sekedar datang ke gereja tidak akan dapat menyelamatkan siapapun. Harus ada pekerjaan Tuhan yang lebih mendalam dalam jiwa itu. Saya menyebut ini “krisis pertobatan” atau “crisis conversion.” Kata “krisis” berarti “suatu titik balik” atau “a turning point.” Dan titik balik ini, krisis ini, adalah yang Rasul Paulus bicarakan dalam ayat kita ini. Sang Rasul membawa kita masuk ke dalam pikirannya dan menunjukkan kepada kita bagaimana krisis pertobatannya terjadi.

I. Pertama, hidup tanpa hukum Taurat.

Sang Rasul berkata,

“Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat…” (Roma 7:9).

Ketika ia berkata bahwa dahulu ia “hidup tanpa hukum Taurat” ia tidak memaksudkan itu bahwa ia tidak pernah mendengar hukum Taurat. Hukum Taurat yang dibacakan di sinagog setiap hari Sabat sering ia dengar. Ia tidak memaksudkan itu bahwa ia tidak tahu tentang Taurat. Ia tahu dengan sangat baik tentang hukum Taurat. Ia sangat terdidik dalam hal ini. Ia telah mengenalnya dengan hati. Ketika ia menjadi seorang rabi ia tidak hanya sekedar mempelajarinya, namun telah mendiskusikannya dengan sangat mendetail bersama para rabi yang lainnya selama bertahun-tahun.

Walaupun ia telah mengenal hukum Taurat secara mentalitas, ia berkata bahwa dahulu ia “hidup tanpa hukum Taurat.” Hukum Taurat tidak pernah menembus hati nuraninya. Itulah sebabnya mengapa ia hidup dalam jaminan yang palsu. Ia berpikir bahwa ia telah memelihara hukum Taurat. Ia tidak takut mati. Ia tidak pernah takut berdiri di hadapan Allah pada Penghakiman Terakhir. Ia merasa bahwa ia telah siap untuk itu. Ia penuh damai. Tak ada sesuatupun yang mengganggunya. Ia tidak mengalami susah tidur pada malam hari karena memikirkan dosanya. Ia berpikir bahwa sepenuhnya ia telah diselamatkan. Ia berpikir bahwa ia telah melakukan semua yang harus ia lakukan. Sebagai hasilnya ia “hidup tanpa hukum Taurat.”

Ini membawanya kepada jaminan yang palsu. Ia telah membayar persepuluhan. Ia telah menghadiri setiap kebaktian. Ia selalu berdoa. Ia selalu menjauhi dosa lahiriah. Ia memiliki bentuk agama. Ia merasa nyaman. Ia merasa aman. Namun itu adalah jaminan yang palsu. Hati nuraninya tidak pernah digerakkan oleh dosa-dosa di dalam dirinya. Hukum Taurat tidak pernah menyentuh hati nuraninya. Oleh sebab itu ia berkata, “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.”

Hidup tanpa hukum Taurat memberikan kepada dia, bukan hanya perasaan aman yang palsu, namun juga membawanya kepada kesombongan hatinya. Ia merasa bahwa ia lebih baik dari pada orang lain. Jika ia berjumpa dengan pemungut cukai atau wanita yang berdosa ia berbalik. Ia menyebut orang-orang non Yahudi sebagai “anjing.” Ia begitu bangga dengan kebaikannya sendiri sehingga ia menganggap rendah orang lain. Ia memandang bahwa mereka tidak sehebat dia. Mereka tidak sebaik dia. Ia berpikir bahwa ia memelihara hukum Taurat, oleh sebab itu ia merasa penuh damai dan aman dalam jaminan yang palsu ini. Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.”

Apakah ada seseorang yang seperti itu di sini pada malam ini? Apakah Anda seperti itu? Apakah Anda hidup dalam jaminan yang palsu? Apakah hati nurani Anda telah menjadi tumpul? Tidak takutkah Anda kepada Allah? Tidakkah hati nurani Anda merasa pedih oleh karena menyadari dosa-dosa yang ada dalam diri Anda? Apakh Anda sedang tertidur dalam dosa? Apakah Anda merasa aman? Itu adalah apa yang dirasakan oleh Paulus ketika ia berkata, “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.” Iain H. Murray berkata,

Melalui hukum Taurat manusia belajar menyadari diri mereka yang tiada pengharapan. Di mana tidak adanya pengetahuan ini adalah halangan yang mendasar untuk keselamatan. Telah diyakini bahwa dengan mengandalkan kemampuan mereka sendiri yang memimpin orang-orang Yahudi menolak Kristus… kecuali pikiran (mind-set) ini dikoreksi oleh pekerjaan Kristus yang tak terpahami. Orang-orang yang tidak mengetahui bahwa mereka adalah tawanan, tidak memiliki kerinduan untuk ‘penebusan’ yang membebaskan mereka dari kuasa dan tahklukan dosa. Orang-orang yang tidak mengetahui bahwa mereka adalah para pelanggar hukum tidak akan melihat Pribadi yang telah menggenapi hukum itu menggantikan orang-orang berdosa. Orang-orang yang tidak mengetahui murka Allah tidak akan memperhatikan berita tentang ‘penggantian penebusan’ – tentang murka yang telah diredakan dan pengampunan yang telah disediakan dalam Kristus (Iain H. Murray, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening, The Banner of Truth Trust, 2005, hal. 13).

Jika kebenaran-kebenaran ini belum pernah Anda rasakan, maka Anda tidak akan mengenal diri Anda sendiri. Anda tidak mengenal hati Anda sendiri. Anda tidak menyadari keadaan Anda sendiri yang tanpa pengharapan. Anda terus menerus bersandar pada kekuatan dan kebenaran diri Anda sendiri. Anda tidak akan pernah dibunuh oleh hukum Taurat. Anda seperti Paulus dalam keadaannya ketika ia belum bertobat, “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.”

Seseorang yang tidak pernah memikirkan tentang hukum Taurat sama seperti orang yang mengaku menjadi kaya dengan menggunakan kartu-kartu credit cards. Ia berpikir segala sesuatunya O.K. Ia terus menerus berhutang setelah melakukan hutang-gutang yang lain dengan menggunakan credit cards tersebut, dan hidup seperti orang kaya. Anda boleh mengingatkannya, namun ia tidak akan mau mendengarkannya. Ia berpikir peringatan Anda hanyalah perkataan orang bodoh. Ia terus menerus, hidup seperti orang kaya, kembali meningkatkan hutang-hutangnya setelah melakukan hutang-hutang lainnya dengan menggunakan cards ini. Namun hari tagihan datang. Penghakiman dan keadilan dijatuhkan. Semuanya lenyap. Mengapa tidak pernah mau mendengar? Mengapa ia jalan terus? “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.” Spurgeon berkata,

Oh! Jika Anda mengenal hukum [Allah], memahami betapa kerasnya itu, dan betapa benar deklarasi-Nya bahwa sama sekali Ia tidak akan mengecualikan yang bersalah, yang berarti bahwa Ia tidak akan mengecualikan Anda, maka Anda yang berpikir bahwa hidup ini santai, dan Anda tidak akan lama lagi bisa menikmati kehidupan seperti yang Anda hidupi sekarang ini: Anda akan dibunuh oleh firman Tuhan (C. H. Spurgeon, “The Soul’s Great Crisis,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1980 reprint, volume LXI, hal. 424).

Baru setelah itu Anda dapat berkata, “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat.”

II. Kedua, hidup di bawah hukum Taurat.

Paulus pernah hidup tanpa hukum Taurat. Dosa adalah suatu isu kematian bagi dia. Ia pernah tidak memikirkan tentang dosa karena ia hidup “tanpa hukum Taurat” – tidak pernah berpikir bahwa ia telah melanggar hukum-hukum Allah, tidak pernah sedih oleh karena dosa-dosanya, ia “dahulu hidup tanpa hukum Taurat.” Ini berarti bahwa hukum Taurat tidak bekerja di dalam dia, tidak menusuk hati nuraninya, tidak membuatnya merasa bersalah atas dosa-dosanya.

Namun kemudian hukum Taurat itu datang meremukkan dia. Lihatlah kalimat kedua dari ayat sembilan, mulai dengan kata “akan tetapi sesudah.” Bacalah beberapa kata di bagian tengah ayat ini dengan lantang,

“Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup…” (Roma 7:9).

Lihatlah ini.

Dr. Lloyd-Jones pernah memberikan komentar ini untuk ayat ini.

Sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup… (Roma 7:9). ‘Sesudah datang perintah itu’! Namun bukankah perintah itu telah selalu ada di sana! Hukum Taurat telah diberikan melalui Musa berabad-abad sebelum Paulus dilahirkan… hukum yang fundamental bagi semua umat manusia selalu ada dari sejak permulaan. Namun ia berkata, ‘Sesudah datang perintah itu’… Ia bermaksud untuk berkata bahwa walaupun perintah [dari hukum Taurat itu] telah ada namun itu tidak pernah ‘memasuki’ hatinya, itu belum pernah ‘menggenggam’ dia… memang [hukum Taurat] selalu ada… namun tidak “menggenggam’ dia, itu tidak pernah membuatnya tertarik, itu tidak berbicara kepada dia. Dengan kata lain hukum itu tidak pernah datang dengan kuasa dan penginsafan [akan dosa] dan pengertian… itu selalu kosong [sesuatu yang mati]; (Martyn Lloyd-Jones, M.D., Romans: An Exposition of Chapters 7:1-8:4, The Banner of Truth Trust, 2001 reprint, hal. 134).

“Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup…” (Roma 7:9).

Dr. Lloyd-Jones berkata,

Pertama, ini adalah pernyataan yang sangat mengejutkan. Secara alami tentunya kita pernah berpikir bahwa efek dari hukum Taurat tidak akan pernah ‘membangunkan’ dosa namun untuk membunuhnya… namun dalam pengalaman ini sepenuhnya justru kebalikannya. Dengan kata lain, apa yang terjadi adalah bahwa hukum Taurat memberikan kekuatan yang riil dan menyatakan sifat dan karakter yang riil tentang dosa itu. Hukum Taurat menuduh dosa, mengganggunya… ketika hukum Taurat ‘datang’ kepada rasul itu [ia yang adalah pemberontak]. Tanpa ‘datangnya’ hukum Taurat [ia tidak akan pernah merasakan pemberontakannya terhadap hukum itu] ia tidak akan menyadari tentang kekuatan dosa… Ketika hukum Taurat itu datang dengan kuatnya… tiba-tiba ia merasakan kerinduan yang mendalam untuk hal-hal seperti itu [yaitu bahwa hukum Taurat menghakimi]. (Lloyd-Jones, ibid., hal. 139).

“Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup” (Roma 7:9).

Selanjutnya, untuk membuat ini menjadi sederhana, bukankah itu adalah apa yang terjadi pada beberapa dari Anda? Anda dahulu pernah hidup di dunia ini tanpa suatu kepedulian. Anda tidak terganggu sama sekali oleh dosa-dosa Anda, atau natur dosa Anda, kejahatan ketidak-percayaan hati Anda. Kemudian

“sesudah datang perintah itu [bagi anda], dosa mulai hidup” (Roma 7:9).

Ketika Anda benar-benar dibangunkan untuk menyadari realitas hati Anda yang penuh dengan dosa, Anda akan melihat bahwa Anda telah memberontak melawan hukum Taurat. Anda telah mencoba untuk mendorong pikiran tentang dosa keluar dari pikiran Anda. Seperti Adam dan Hawa di Taman itu, Anda berusaha untuk menyembunyikan diri Anda sendiri di belakang kebaikan Anda sendiri. Dan Anda, seperti mereka, berusaha untuk lari menjauh dari suara Allah yang berbicara kepada hati nurani Anda melalui hukum Taurat. Sama seperti Adam dan Hawa, Anda membuat pakaian dari keagamaan palsu Anda untuk menutupi ketelanjangan karena dosa Anda dari pandangan Allah.

“Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup” (Roma 7:9).

Hal yang sama terjadi pada orang tua kita yang pertama ketika suara Hukum Allah memanggil mereka setelah mereka melakukan dosa. “Dosa mulai hidup” di dalam mereka. Terjemahan modern dapat berarti “dosa telah bersemi” dan mereka ingin menyembunyikan dosa itu dari Allah.

Beberapa dari Anda pernah mengalami pengalaman yang sama seperti itu. Anda sama sekali tidak pernah berpikir tentang dosa dan hukum Allah. Namun ketika Roh Kudus menggerakkan Hukum Allah itu ke dalam hati nurani Anda, Anda mengabaikannya, Anda tidak datang di bawah keinsafan yang mendalam, seperti yang seharusnya Anda miliki. Oh, tidak!

“Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup” (Roma 7:9).

Secara literal ini berarti bersemi untuk hidup di dalam Anda. Hati Anda telah memberontak melawan Allah, sama seperti yang pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa. Anda berusaha mengeluarkan Allah dari pikiran Anda dan melupakan bahwa Anda adalah pelanggar hukum – sama seperti Adam dan Hawa. Anda mendorong pekerjaan menginsafkan dari Roh Kudus keluar dari hati Anda. Anda “memadamkan” Roh. Oleh sebab itu, Anda kehilangan sedikit keinsafan yang pernah Anda miliki. Dari pada datang ke gereja dengan wajah sedih, penuh dengan konviksi yang telah Anda miliki dua minggu yang lalu, kini Anda datang dengan wajah tersenyum. Anda telah kehilangan semua konviksi yang Allah telah berikan karena

“sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup” (Roma 7:9).

dan hati Anda telah kehilangan semua konviksinya dan telah kembali tertidur. Betapa mengerikannya itu! Anda sekarang telah kehilangan semua konviksi itu karena “dosa mulai hidup” di dalam diri Anda ketika perintah itu datang kepada Anda. Sekarang Anda dalam keadaan yang lebih buruk dibandingkan dengan keadaan Anda sebelumnya. Anda harus memohon kepada Tuhan untuk memberikan kembali konviksi akan dosa yang pernah Anda memiliki beberapa waktu yang lalu.

“Sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup”

di dalam diri Anda. Saya berharap Anda menolak hidup kembalinya kuasa dosa itu! Saya berdoa Anda mau mencari kembali konviksi sejati dari Roh Allah! Jika itu tidak datang, anda dihukum, untuk selama-lamanya dan selama-lamanya, karena tidak pernah ada pertobatan sejati tanpa adanya kuasa dan daya tarik dosa itu dimatikan oleh Allah sendiri di dalam diri Anda, melalui hukum Taurat.

III. Ketiga, mati oleh hukum Taurat.

Ada tiga kata lagi di akhir ayat sembilan ini [atau dalam TB-LAI masuk awal ayat sepuluh]. Mari kita berdiri dan membacanya dengan lantang,

“sebaliknya aku mati” (Roma 7:10).

Anda dipersilahkan duduk kembali. Paulus menjadi insaf bahwa ia telah mati secara rohani – bahwa ia tidak pernah dapat hidup untuk Hukum Allah. Ia tahu bahwa ia adalah manusia yang telah “mati.” Dalam Efesus 2:5, ia berkata, “Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (Efesus 2:5). “Kita telah mati.” Ini adalah pengalamannya sendiri, sama seperti halnya orang-orang yang kepada mereka ia menulis di dalam Efesus ini. Ini adalah krisis dari pertobatannya,

“dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati” (Roma 7:9-10).

Spurgeon berkata,

Apa yang mati itu… itu adalah “aku” yang dibanggakan di dalam Paulus – “dosa mulai hidup dan aku mati” – “Aku” itu adalah yang pernah digunakan untuk berkata, “Aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak seperti orang-orang lain” – “Aku” itu yang membuatnya merasa aman – bahwa “aku” itu yang membengkokkan lututnya untuk berdoa, namun tidak pernah menundukkan hatinya dalam penyesalan – itulah “aku” yang mati. Hukum Taurat telah membunuhnya. Itu tidak dapat hidup dalam pemandangan [hukum Taurat]. Itu hanyalah mahkluk yang cocok untuk kegelapan, dan ketika hukum Taurat itu datang “aku” yang dibanggakan itu mati. (Spurgeon, ibid., hal. 427).

Spurgeon memberikan lima cara bagaimana Paulus mati. Dan lima cara ini cocok untuk orang terhilang yang dibangunkan oleh hukum Taurat untuk menyadari dosanya. (1) Ia melihat bahwa ia dikutuk untuk mati. Ia mati dalam arti bahwa ia merasa penghukuman diumumkan bagi dia. Sudahkah Anda merasakan bahwa Anda dihakimi atau dikutuk oleh hukum Taurat? (2) Semua pengharapannya dari kehidupan masa lalu telah mati. Ia telah menyadari bahwa ia tidak pernah sungguh-sungguh mengasihi Allah, ataupun Hukum Allah. Sudahkah Anda merasakan itu? (3) Semua pengharapannya berhubungan dengan kematian masa depan. Ia telah melanggar Hukum Allah, dan semua usahanya untuk memeliharanya di masa depan tidak dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalunya. (4) Semua kekuatannya sendiri nampak mati. Sebelumnya ia berpikir “Saya dapat memelihara Hukum Allah.” Namun sekarang ia telah melihat bahwa ia tidak dapat memeliharanya dengan sempurna – bahwa hukum Taurat tidak dapat menyelamatkannya – namun hanya mengutuknya. (5) Sehingga, semua pengharapannya mati. Sinar pengharapan terakhirnya telah pergi. Tidak ada keputus-asaan yang lebih besar dari pada keputus-asaan seseorang yang pernah merasa aman. Keselamatan itu sendiri telah pergi. Ia tahu apa maksudnya terhilang! Semua pengharapan untuk menjadi “orang yang lebih baik” telah pergi. Ketika Anda merasa seperti itu maka kemudian, dan baru setelah itu, Anda akan mengetahui apa yang Toplady maksudkan ketia ia berkata,

Tangis serta rapatan
Tak memb’ri keampunan
Rajin serta usaha
Tak mengapuskan dosa;
Tiada jasa padaku;
Hanya pada salibMu
   (“Rock of Ages, Cleft for Me” by Augustus M. Toplady, 1740-1778/
      Terjamahan Nyanyian Pujian No. 107).

Jika Anda telah datang ke tempat krisis itu, anda telah dibawa kepadanya sehingga Anda dapat memahami bahwa keselamatan harus datang dari luar diri Anda sendiri – dari Yesus! Anda harus diselamatkan oleh Kristus Yesus, atau sama sekali Anda tidak akan pernah diselamatkan! Selama Anda bergantung pada diri Anda sendiri, Anda tidak akan pernah bergantung kepada Yesus. Namun jika Anda merasa bahwa tidak ada kebaikan di dalam diri Anda, mala Anda akan menghempaskan diri Anda sendiri kepada

“Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”
      (Yohanes 1:29).

Pandanglah Dia yang disalibkan untuk membayar penghukuman Anda yang melanggar Hukum Allah! Hempaskan diri Anda sendiri kepada Dia yang telah bangkit dari antara orang mati untuk memberikan hidup kepada Anda! Ketika Anda menghempaskan diri Anda sendiri kepada Yesus,

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internat
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.

Pembacaan Alkitab sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Roma 7:7-10.
Persembahan Nyanyian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Rock of Ages, Cleft for Me” (by Augustus M. Toplady, 1740-1778)/Psalm 139:23-24.


GARIS BESAR KHOTBAH

KRISIS PERTOBATAN DAN HUKUM ALLAH

(CRISIS CONVERSION AND THE LAW OF GOD)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati” (Roma 7:9-10a).

(I Korintus 2:14)

I.   Pertama, hidup tanpa hukum Taurat, Roma 7:9a.

II.  Kedua, hidup di bawah hukum Taura, Roma 7:9b.

III. Ketiga, mati oleh hukum Taurat, Roma 7:10; Efesus 2:5;
Yohanes 1:29; Yesaya 1:18.