Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




PERTOBATAN, KEBANGUNAN ROHANI,
DAN PENGHUKUMAN KEKAL

(CONVERSION, REVIVAL, AND ETERNAL RETRIBUTION)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbakan pada Sabtu Malam, 29 September 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12).


Tema tentang Neraka jarang sekali dikhotbahkan dari mimbar-mimbar kita hari ini. Bahkan dimana itu dipercaya, bahwa itu jarang menjadi subyek dari keseluruhan khotbah. Minggu malam yang lalu saya menyampaikan sebuah khotbah yang berjudul “Khotbah pada Zaman Penyesatan!” Di sana hanya ada dua penekanan singkat tentang Neraka dalam khotbah itu. Namun seorang pengunjung gereja kita berkata kepada saya setelah kebaktian bahwa itu adalah “Khotbah tentang api dan penghukuman Neraka.” Saya kira yang ia maksudkan adalah bahwa itu adalah khotbah yang serius, karena di sana hanya ada sedikit penekanan tentang Neraka. Saya takut bahwa di zaman kita ini banyak khotbah yang menyatakan bahwa Anda terhilang tanpa Kristus akan disebut sebagai khotbah tentang “Api dan penghukuman Neraka.”

Jadi jarang sekali tema tentang Neraka dikhotbah di mimbar-mimbar pada zaman kita ini yang memberikan peringatan tentang penghukuman kekal dalam khotbah yang segera disebut dengan “khotbah tentang api dan belerang Neraka.” Ini membuat mudah bagi orang berdosa yang belum bertobat untuk mengurangi atau men-discount pentingnya subyek yang sangat mengerikan itu. Namun Neraka tidak harus di-discount, diremehkan atau diabaikan. Ini harus secara terus menerus menjadi tema penginjilan yang sejati. Jika kita mengikuti contoh dari para pengkhotbah evangelical di masa lalu, dan jika kita mentaati Kitab Suci itu sendiri, tema tentang Neraka harus disampaikan dengan urgensi dan kuat dalam khotbah kita. Iain H. Murray menekankan itu dalam pengantar bukunya yang berjudul The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005) bahwa William Booth, pendiri dari Bala Keselamatan, ketika ditanya oleh pewawancara pada tahun 1901 tentang apa bahaya utama yang akan terjadi pada abad 20 ini. Ia menjawab bahwa salah satunya itu adalah khotbah tentang “Sorga tanpa Neraka” (Murray, ibid., hal. xi).

Nampak bagi saya bahwa “prediksi” dari Booth benar-benar telah tergenapi. Banyak hamba Tuhan yang melayani berbagai pelayanan penguburan bagi orang-orang yang tidak pernah pergi ke gereja, atas permintaan keluarga yang ingin agar orang-orang yang terkasih yang telah meninggal itu, walaupun ia dalam hidupnya jarang masuk gereja, diberikan pelayanan penguburan sepenuhnya secara Kristen, dengan pendeta membuat pernyataan tentang “kebaikan-kebaikan” dari hidup mereka, dan mengatakan bahwa orang yang mati tanpa Kristus ini tanpa diragukan lagi sedang berjalan menuju Sorga, dari pada menjelaskan kebenaran: bahwa tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka ada “dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12). Namun jika pengkhotbah itu menguraikan kata-kata Kristus ini secara rinci, ia akan segera mendapati bahwa tak seorangpun mau mendengarkan dia. Di sana Anda memiliki satu contoh tentang bagaimana “prediksi” dari Booth ini telah digenapi di mimbar-mimbar modern. “Sorga tanpa Neraka” hampir menjadi tema khotbah modern secara universal.

Bagaimana dengan persekutuan-persekutuan dan kebaktian-kebaktian kaum muda, dan kebaktian penginjilan? Lagi, “prediksi” Booth benar. “Sorga tanpa Neraka” hampir selalu menjadi tema dari pertemuan-pertemuan atau kebaktian kaum muda hari ini.

Dan dalam khotbah-khotbah di gereja-gereja hari ini tema tentang Neraka biasanya juga dihindari. “Sorga tanpa Neraka” hampir selalu menjadi tema sentral khotbah penginjilan “modern.”

Kembali ke tahun 1911 Dr. R. A. Torrey berkata bahwa tidak ada doktrin Alkitab

“…yang secara luas lebih banyak dipertanyakan pada zaman ini dari pada yang berhubungan dengan tujuan akhir di masa depan dari orang-orang yang menolak Yesus Kristus dalam hidup yang dihidupinya sekarang ini. Bahkan dalam [gereja-gereja konservatif] ada pengingkaran yang terus meluas, atau paling tidak peraguan, tentang penderitaan yang terus menerus, tiada akhir, bagi orang yang belum bertobat. Di mana kalau toh tidak ada pengingkaran atau peraguan berhubungan dengan doktrin ini, paling tidak ada kesunyian berhubungan dengan doktrin ini” (R. A. Torrey, D.D., The Higher Criticism and the New Theology, Gospel Publishing House, 1911, hal. 258).

Saya berpikir ada sejumlah alasan untuk fakta bahwa ada begitu sedikit khotbah tentang Neraka, bahkan di gereja-gereja konservatif. Salah satu alasannya adalah bahwa para pengkhotbah telah melupakan bahwa khotbah penginjilan harus mulai dengan Hukum Taurat. Doktrin tentang Neraka adalah Hukum Taurat. Dan banyak pengkhotbah tidak menyadari bahwa khotbah tentang Hukum Taurat harus disampaikan terlebih dahulu agar orang berdosa itu menyadari kebutuhannya akan Kristus.

Dalam bukunya yang sangat mengagumkan, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005) Iain H. Murray menuliskan salah satu pasal dengan judul “Preaching and Awakening: Facing the Main Problem in Evangelism” [“Khotbah dan Kebangunan Rohani: Masalah Utama dalam Penginjilan”]. Dalam bab itu, Murray mengutip Mary Winslow, yang berkata,

Bagaimana ini terjadi bahwa pemberitaan injil telah menjadi begitu sedikit berefek dalam karya pertobatan? Saya tidak dapat tidak untuk membuat kesimpulan ini yaitu bahwa tidak akan pernah ada lagi kebangunan rohani di negeri ini [USA] sampai hukum Taurat dikhotbahkan kembali dengan sekuat tenaga untuk menyadarkan orang berdosa yang belum bertobat, menginsafkannya akan dosa, menunjukkan kepalsuan dari tempat perlindungannya, membentangkan kepadanya keadaannya [yang secara alami] telah rusak, dan menyingkapkan konsekwensi yang luar biasa dari hidup dan mati dalam keadaan yang tidak dibaharui (Murray, ibid., hal. 2).

Dalam bab itu Murray menekankan bahwa pada zaman kebangunan rohani sejati orang-orang dibuat sadar akan dosa mereka, murka Allah dan realitas akan Neraka. Murray berkata,

Sebelum Kebangunan Rohani abad delapan belas, sebagaimana Samuel Blair, seorang pendeta dari periode itu menulis: ‘Telah dipikirkan bahwa jika ada kebutuhan hati yang tertekan melihat bahaya jiwa, dan takut akan murka Allah, itulah satu-satunya yang dibutuhkan bagi orang-orang berdosa.’ Blair meneruskan perkataannya, berhubungan dengan kesadaran akan dosa yang datang menjadi seperti depresi mental dan seperti sesuatu yang ingin dihindari. ‘Banyak orang pada umumnya… tidak mempedulikan hati dan kebodohan untuk tidak memperhatikan hal yang besar berhubungan dengan kekekalan.’ Di New England, Jonathan Edwards berbicara dengan cara yang sama tentang orang-orang yang memandang neraka sebagai ‘sesuatu yang tiada lain selain sekedar sebuah fiksi untuk menakut-nakuti jemaat.’
       Kondisi umum ini kemudian diubah dengan Kebangunan Rohani Injili. Ketika Isaac Watts dan John Guyse menulis Kata Pengantar untuk edisi pertama dari buku Jonathan Edwards yang berjudul Narrative of Surprising Conversions pada tahun 1737, mereka memperhatikan suatu transformasi… dan mengamati, “Di manapun Allah bekerja dengan kuasa untuk keselamatan atas setiap pikiran manusia, akan ada penemuan tentang perasaan sadar akan dosa, tentang bahaya murka Allah.’
       Dalam setiap kebangunan rohani semuanya sama seperti itu (Murray, ibid., hal. 3-4).

Kebangunan-Kebangunan Rohani seperti itu sekarang sudah jarang. Namun saya adalah saksi mata untuk satu yang terjadi pada tahun 1960-an yang lalu. Seorang gembala dengan kuat dan terus menerus berkhotbah tentang dosa dan Neraka. Saya sendiri, sebagai seorang hamba Tuhan yang masih muda, sering diminta untuk berkhotbah kepada anak-anak muda, dan khotbah-khotbah saya sendiri berfokus kepada penghakiman dan murka. Pada suatu acara sekolah Alkitab liburan dan acara camp gereja, dan pada berbagai kesempatan lainnya, kata-kata dari Mazmur 139:23-24 ditetapkan sebagai musik. Ayat-ayat ini dinyanyikan berulang-kali, sebagai tema lagu dari masa kebangunan rohani pada waktu itu.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24).

Kebangunan rohani itu berlangsung selama beberapa bulan. Ratusan anak muda membanjiri gereja, dan banyak yang dipertobatkan. Seluruh suasana hati dari kebangunan itu berlangsung dengan sangat serius. Ada keinsafan akan dosa yang sangat mendalam, banyak yang menangis, dan doa-doa syafaat terutama ditujukan untuk orang-orang terhilang. Saya tidak akan pernah melupakan kesempatan yang spesial itu selama hidup saya. Seperti yang telah saya katakan, masa kebangunan rohani itu berlangsung atau bertahan selama berbulan-bulan.

Anda tidak dapat “menciptakan” peristiwa seperti itu. Itu tidak dapat dihasilkan oleh apapun yang dilakukan oleh manusia. Namun saya tahu dengan pengamatan pribadi saya, dan dengan bertahun-tahun membaca tentang subyek itu, bahwa kebangunan rohani seperti itu selalu datang bersama dengan khotbah yang sangat serius tentang hukum Taurat – khotbah tentang dosa, Penghakiman Terakhir bagi orang-orang yang mati tanpa keselamatan, murka Allah, dan penghukuman kekal di Neraka – dan datang bersama dengan doa-doa yang serius bagi pertobatan orang-orang terhilang. Seperti yang dikatakan oleh Iain H. Murray, “Dalam setiap kebangunan rohani semuanya sama seperti itu” (ibid., hal. 4). Saya telah menjadi saksi mata untuk pemandangan seperti ini, yang Murray kutip berhubungan dengan kebangunan rohani yang mulai di Pyongyang, Korea pada tahun 1907,

Setiap orang melupakan semua. Setiap orang bertemu muka dengan muka dengan Allah. Saya dapat mendengar suara yang sangat menakutkan dari ratusan orang yang memohon kepada Allah untuk memperoleh hidup dan rahmat. Jeritan tangis menggema di seluruh kota itu sampai para penyembah berhala yang ada berada dalam kegemparan…. Memandang sorga, memandang Yesus yang telah mereka khianati, mereka memukuli diri mereka sendiri dan menangis dengan ratapan penuh kesedihan: ‘Tuhan, Tuhan, jangan lemparkan kami untuk selama-lamanya!’ Segala sesuatu yang lain telah mereka lupakan, tidak ada lagi yang berarti bagi mereka (Murray, ibid., hal. 4-5).

Saya telah berbicara banyak kali dengan seorang pendeta Korea yang kakeknya adalah salah satu orang yang bertobat dari kehidupan yang sangat penuh dengan dosa pada masa kebangunan rohani di Pyongyang. Pendeta ini menceritakan kepada saya tentang apa yang kakeknya pernah ceritakan kepadanya tentang kebangunan rohani yang agung itu.

Saya juga pernah melihat suatu peristiwa yang terjadi di gereja Caucasian (kulit putih) dan di gereja Cina. Saya telah melihat peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, saya tahu bahwa Allah dapat melakukan hal-hal seperti itu kembali. Namun demikian, kita harus dengan seksama, memahami bahwa kebangunan rohani yang seperti ini belum pernah terjadi di dunia berbahasa Inggris dalam tingkat yang luas sejak tahun 1949, di Pulau Lewis, daerah Skotlandia.

Selama hampir 60 tahun tidak pernah ada lagi kebangunan rohani seperti itu di dunia Barat, kecuali di beberapa gereja lokal (sungguh sangat sedikit!). Dan hal ini terjadi oleh karena “decisionisme,” ide palsu bahwa orang-orang dapat “diselamatkan” seketika dengan membuat suatu “keputusan” atau dengan cara yang lain. Mereka berkata “doa pengakuan dosa” atau “mengangkat tangan” pada suatu kebaktian dan kemudian diumumkan telah “diselamatkan.” Tidak ada ketakutan akan Allah. Tidak ada keinsafan akan dosa. Tidak ada rasa jijik di dalam dirinya berhubungan dengan keadaanya yang telah rusak total. Jadi, “kesaksian-kesaksian” modern jarang dipusatkan pada Penebusan oleh Darah Kristus Yesus. Juga, para pengkhotbah nampaknya takut untuk berbicara tentang Penghakiman Terakhir, murka Allah, dan Lautan Api, di mana itu adalah tempat bagi setiap orang yang tidak bertobat.

“…ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa…” (Wahyu 14:10-11).

Pertobatan yang benar dari seseorang mengikuti pola yang sama seperti yang terjadi pada banyak orang ketika kebangunan rohani datang. Pertobatan-pertobatan secara pribadi mengikuti bentuk yang sama yang kemudian dialami oleh banyak orang.

Jika Anda berharap dipertobatkan dengan sungguh-sungguh, Anda harus seperti orang-orang Korea pada tahun 1907, melupakan semuanya dan berdiri muka dengan muka dengan Allah, hati Anda ditembus oleh pikiran akan dosa Anda – dalam pemandangan Allah yang suci. Anda harus merasa, seperti yang mereka lakukan, “Tuhan, Tuhan, jangan lemparkan kami untuk selama-lamanya.” Tanpa keinsafan akan dosa dalam hati Anda, Anda tidak akan pernah dipertobatkan.

“Sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com