Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KHOTBAH PADA ZAMAN PENYESATAN!
(PREACHING IN A TIME OF APOSTASY!)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Malam, 23 September 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak." Selanjutnya firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya. Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak” (Yehezkiel 3:9-11).


Berhubungan dengan Yehezkiel pasal tiga ini, Spurgeon berkata,

Sungguh ini merupakan kuburan kesalahan periode sekarang ini yang berpikir bahwa para pengkhotbah mereka harus [berbicara lembut dan lemah gemulai]. Mengapa [ini benar] jika obyek khotbah haruslah memperingatkan orang berdosa untuk melarikan diri dari murka yang akan datang? Saya takut bahwa saudara saya [dalam pelayanan] melupakan pesan mereka yang sesungguhnya, dan dengan sekuat tenaga mencoba untuk mempesona mereka yang Tuhan utus kepada mereka untuk memberikan peringatan. Jika orang itu tertidur, dan saya harus membangunkannya, saya tidak harus menggunakan kata-kata yang indah dengan bersenandung agar ia terbangun dari tidur nyenyaknya; namun saya harus memanggilnya dengan suara yang jelas dan keras sampai ia kaget dan terbangun (C. H. Spurgeon, “The Message From the Lord’s Mouth,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1972 reprint, vol. XXIV, hal. 482).

Pada hari ini ketika banyak gereja menghabiskan tiga perempat waktu ibadahnya untuk musik, kiranya kita mendengar lagi Spurgeon, “Saya tidak harus menggunakan kata-kata yang indah dengan bersenandung agar [orang terhilang] terbangun dari tidur nyenyaknya”! Di tengah zaman “khotbah ekspositori” yang disampaikan dengan lembut ini, kiranya kita mendengar “Rajanya Pengkhotbah” seperti ia berkata, “…obyek khotbah haruslah memperingatkan orang berdosa untuk melarikan diri dari murka yang akan datang?” Di tengah zaman “pengajaran Alkitab” yang lemah gemulai ini kiranya kita dibangunkan lagi untuk mendengar pengkhotbah Baptis terbesar di segala masa ini yang berkata, “Saya harus memanggilnya dengan suara yang jelas dan keras sampai ia kaget dan terbangun.” Amin! Kiranya Allah Yehezkiel dan Spurgeon mengirim orang-orang yang akan mengejutkan atau membangunkan orang-orang di gereja-gereja. Bukan pelayan-pelayan yang bersenandung untuk membangunkan orang dari ketertidurannya, namun para pelayan yang berkhotbah “dengan suara yang jelas dan keras sampai ia kaget dan terbangun.” Namun bukan hanya khotbah yang keras. Tidak, itu harus lebih dari itu. Itu harus menjadi khotbah yang “mengejutkan”! Itu haruslah memeriksa hati nurani atau itu tidak akan menolong orang-orang berdosa. Itu adalah yang dibutuhkan pada zaman penyesatan ini!

Mereka berkata bahwa ini adalah cara khotbah yang sudah “kuno.” Pada zaman modern ini, mereka berkata, kita memerlukan khotbah naratif atau banyak cerita perumpamaan, cara pendekatan untuk orang “modern” haruslah dengan halus, lembut, sedikit “isyarat” Injil. Belakangan ini saya membaca buku Dr. John A. Broadus yang berjudul On the Preparation and Delivery of Sermons. Salah satu babnya berjudul “Contemporary Approaches to Sermon Delivery.” Saya terkejut menemukan bahwa Dr. Broadus merekomendasikan “khotbah cerita pendek,” “khotbah perumpamaan,” “khotbah wawancara,” “bantuan audio-visual,” “obyek pelajaran,” “presentasi dramatik,” “drama dan khotbah,” “monolog dramatik,” “tekhnik dialog” dan “dialog mimbar.” Dr. John A. Broadus (1827-1895) dijuluki sebagai “model preacher” pada zamannya. Apa yang mengejutkan saya adalah ide bahwa ia mau menjelaskan kepada para mahasiswa calon hamba Tuhan untuk menggunakan “pendekatan-pendekatan kontemporer” ini. Namun ketika saya melihat catatan-catatan kakinya (footnotes) saya baru sadar bahwa tidak satu katapun dari bab tersebut yang ditulis oleh Dr. Broadus sendiri! Buku yang saya baca adalah edisi “revisi,” dan itu adalah bab yang ditulis oleh seorang injili baru (new evangelical)! Dr. Broadus sendiri tidak akan pernah menganjurkan kepada pengkhotbah untuk melakukan hal-hal seperti itu di mimbar gereja!

Sekarang kita kembali ke ayat kita, dalam Yehezkiel pasal tiga. Perikop ini disinari banyak terang bagaimana seharusnya kita berkhotbah. Di sini kita menemukan tiga tanda yang secara terus-menerus menandai khotbah yang benar.

I. Pertama, pengkhotbah tidak harus takut kepada jemaat.

Marilah kita berdiri dan membaca Yehezkiel 3:9 dengan lantang.

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak” (Yehezkiel 3:9).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Allah berkata kepada Yehezkiel, “Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu” (Yehezkiel 3:8). Siapakah mereka yang berkepala batu itu? Tuhan meneguhkan hati kita untuk melawan orang-orang yang “tidak mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku” (Yehezkiel 3:7). Banyak orang tidak akan memperhatikan Yehezkiel ketika ia memberitakan Firman Allah. Matthew Henry mengatakan bahwa “Sesungguhnya Yehezkiel adalah seorang pemalu dan penakut, namun ketika Tuhan mengetahui ia tidak kuat, oleh karunia-Nya Ia membuatnya menjadi kuat, untuk menghadapi berbagai kesulitan besar” (Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible, Hendrickson Publishers, 1996, volume 4, hal. 601).

Dr. Lloyd-Jones berkata bahwa orang-orang yang pernah membaca Journals of George Whitefield,

Seorang pengkhotbah terbesar di sepanjang masa, akan mengingat keraguannya untuk menjadi seorang pengkhotbah. Ia diperingatkan olehnya, ia dibuat takut olehnya. Khotbah adalah sesuatu yang luar biasa, dan ia melewati pergumulan pikiran dan roh (Martyn Lloyd-Jones, M.D., Knowing the Times, The Banner of Truth Trust, 1989, hal. 262).

Kesadaran akan peringatan ini dalam diri seorang pengkhotbah dapat dilihat melalui bacaan Whitefield’s Journals dan dua volume karya Luke Tyerman, The Life of the Reverend George Whitefield (Need of the Times Reprint, 1995). Sebagai pemuda yang baru berumur dua puluh satu tahun, Whitefield berkata, “Aku segera menyadari diriku sendiri untuk menjadi seperti domba di antara serigala-serigala berbulu domba; karena mereka dengan tiba-tiba mencoba menghalangiku [menghentikanku dari keseriusanku]…” vol. I, hal. 33). Ketika Whitefield berkhotbah untuk pertama kalinya, Tyerman berkata, “Sebelumnya tidak pernah ada pendeta muda di Gereja Inggris, seorang muda yang baru berumur dua puluh lima tahun, [melakukan] tindakan seperti ini [dalam menuliskan sketsa biografikal tentang pertobatannya]. Para Bishop dan imam, diakon dan [para penulis] dikejutkan oleh semua deskripsi ini, banyak orang marah” (ibid., hal. 45).

Kepada seorang teman Whitefield menulis, “Besok saya berkhotbah di Crypt [St. Mary de Crypt], tetapi percayalah kepada saya, saya akan membuat beberapa orang marah, karena aku harus berbicara menentang persekutuan mereka. Saya harus menjelaskan kebenaran kepada mereka, atau jika tidak saya tidak akan menjadi hamba Kristus yang setia.” Esok itu telah datang dan Whitefield mengkhotbahkan khotbah pertamanya. Whitefield berkata, “Ketika aku berkhotbah aku merasakan api menyala, hingga pada akhirnya, walaupun begitu muda, dan diantara kerumunan orang yang telah mengenal saya sejak masa kanak-kanak saya, saya percaya bahwa saya telah dimungkinkan untuk berbicara dengan otoritas Injil. Beberapa orang mencemooh [saya], namun banyak yang hadir nampak terhakimi; dan saya mendengar bahwa suatu komplain telah dibuat dan diajukan kepada uskup bahwa saya gila” (Tyerman, ibid., hal. 50).

Jadi Allah mulai membuat dahi Whitefield “seperti lebih keras dari pada batu api” dan mengatakan kepadanya,

“Janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya” (Yehezkiel 3:9).

Tyerman berkata, “Tidak heran bahwa salah satu pendengar yang tidak berpendidikan berkata, ‘Ia berkhotbah seperti singa’” (Tyerman, ibid., hal. 51).

Khotbah pertama saya sendiri diterima dengan cara yang seperti itu. Pada waktu itu saya masih sangat muda. Gembala saya meminta saya untuk berkhotbah di depan sejumlah besar kaum muda di gereja itu. Banyak dari mereka yang masih duniawi. Saya memohon kepada Tuhan di dalam doa untuk menemukan ayat yang tepat, dan Ia memberikan kepada saya Yakobus 2:20,

“Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20).

Itu adalah tema khotbah pertama saya. Setelah itu Pembina kaum pemuda membawa saya keluar dan mengatakan kepada saya dengan bahasa yang tidak jelas yang isinya melarang agar saya tidak akan pernah berkhotbah seperti itu lagi. Saya tahu di dalam hati saya bahwa Allah telah memanggil saya, namun saya begitu hina sehingga saya tidak berkhotbah lagi selama beberapa tahun. Kemudian, pelan-pelan, saya dapat mengatasi ketakutan saya dan mulai mengkhotbahkan khotbah-khotbah penginjilan lagi.

Bagaimanapun juga saya tahu bahwa khotbah-khotbah penginjilan harus selalu mulai dengan hukum Taurat. Bahwa khotbah penginjilan harus menghakimi dosa dan membawa orang terhilang untuk menyadari bahwa ia sungguh adalah orang yang penuh dosa dan tanpa pengharapan. Whitefield secara luas dipertimbangkan sebagai seorang penginjil terbesar di sepanjang masa. Ia berkata,

Bagaimana mereka dapat berdiri [diselamatkan], orang-orang yang tidak pernah merasakan diri mereka sendiri sebagai kriminal yang terkutuk? Orang-orang yang tidak pernah dibebani dengan suatu perasaan, bukan hanya kenyataan mereka tetapi dosa asal mereka, terutama kutukan dari dosa ketidakpercayaan mereka?...Karena khotbah dengan cara seperti ini…itu melukai amat dalam sebelum ia menyembuhkan…ia dengan hati-hati tidak menghiburkan banyak orang yang diinsyafkan (Tyerman, ibid., hal. 393).

Itu adalah esensi mutlak dalam khotbah penginjilan yang benar. Pengkhotbah harus melukai hati nurani orang berdosa dengan amat mendalam atau tidak akan ada pertobatan yang riil. Saya tidak yakin mengapa, namun saya hanya tahu itu dari momen ketika saya dipanggil untuk menjadi seorang pengkhotbah. Anda tidak dapat mengkhotbahkan khotbah penginjilan tanpa melukai orang-orang itu dan menghakimi dosa mereka dan natur mereka, yaitu natur hati mereka yang telah rusak.

Saya sering menjelaskan bahwa saya adalah seorang pengkhotbah yang baik ketika saya masih muda. Professor homiletik (khotbah) saya di seminari Baptis mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengikuti suatu aturan khotbah, namun saya harus berhenti berkhotbah dengan “cara itu.” Saya diberitahu bahwa itu “gangguan yang tidak diperlukan jemaat.” Tentu saja, saya berpikir bahwa justru secara mutlak diperlukan agar mereka terganggu! Jika mereka tidak menjadi terganggu mereka tidak dapat dipertobatkan! Seluruh poin khotbah adalah untuk mengganggu jemaat – sebelum Injil dikhotbahkan. Jika orang-orang itu tidak terganggu oleh khotbah mereka tidak akan lari kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan!

Oh, saya tahu bahwa banyak orang akan “mengangkat tangan mereka” diakhir khotbah yang lembut atau khotbah pembelajaran Alkitab. Saya tahu bahwa mereka akan menaikan “doa pengakuan dosa” jika pengkhotbah meminta mereka untuk melakukannya. Namun saya juga tahu bahwa hampir setiap orang yang melakukan hal-hal itu tetap belum bertobat – masih terhilang, masih dalam perjalanan menuju Neraka. Tanpa mengalami gangguan dalam hatinya sendiri maka tidak akan ada pertobatan yang riil. Saya berharap setiap pengkhotbah mau membaca dua pasal pertama dari buku Iain H. Murray yang berjudul, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005). Murray menyampaikan kebenaran yang agung dengan sangat gamblang sekali. Saya dengan segenap hari merekomendasikan buku ini untuk para pengkhotbah yang memiliki ketertarikan pada pertobatan sejati.

Setelah berkali-kali berbantah selama bertahun-tahun tentang masalah “guru-guru Alkitab” yang lembut itu, saya menjadi makin yakin bahwa posisi Whitefield benar dan “khotbah” modern salah. Namun saya harus dibawa ke tempat dimana tidak perduli apa yang para pengkhotbah lain pikirkan tentang khotbah-khotbah saya. Saya harus dibawa ke tempat yang tidak membutuhkan persetujuan mereka – sebelum saya dapat berbicara seperti yang Allah ingin saya sampaikan. Saya harus lebih dulu kehilangan persetujuan dari semua orang. Saya harus kehilangan banyak teman, dan pengharapan-pengharapan serta mimpi-mimpi saya, dan orang yang pernah sangat dekat dengan saya, sebelum saya dapat berkhotbah dengan cara yang Allah mau saya berkhotbah seperti cara-Nya. Saya harus terlebih dahulu melalui pengalaman ditolak dan sendiri di suatu malam di San Francisco sebelum Allah dapat berkata kepada saya, “Sekarang engkau akan berkhotbah untuk-Ku. Sekarang engkau akan mengkhotbahkan apa yang Aku ingin engkau khotbahkan, bukan apa yang ingin didengar oleh jemaat.” Itu adalah pada saat Allah berbicara kepada saya dari persis ayat yang kita sedang baca malam ini,

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya” (Yehezkiel 3:9).

Saya harus berkhotbah dengan cara itu sejak malam itu. Allah sendiri yang menghilangkan ketakutanku kepada manusia. Berkali-kali, sejak malam itu, para pengkhotbah telah mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh berkhotbah dengan “cara itu.” Berkali-kali mereka mengatakan kepada saya bahwa saya adalah pengkhotbah yang baik, namun bahwa saya terlalu “negative.” Namun saya tidak pernah lagi mendengarkan mereka, karena saya telah mengalami Tuhan, yang berkata kepada saya,

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya” (Yehezkiel 3:9).

Saya mau agar setiap pengkhotbah muda mengalami pengalaman seperti itu – menjauhkan dia dari berharap memperoleh tepuk tangan atau pujian manusia, dan membuatnya menjadi alat di tangan Allah. Tidak ada apapun yang lebih berkuasa dari pada orang yang berkhotbah seperti Richard Baxter, yang sangat terkenal berkata,

“Aku berkhotbah seperti tidak yakin dapat berkhotbah lagi, dan seperti orang sekarat berkhotbah kepada orang-orang yang sedang sekarat,”

“Dan baik mereka mendengarkan atau tidak [baik mereka mau mendengarkan atau tidak]” (Yehezkiel 2:5; 3:11).

Jadi, saya percaya bahwa suatu pengalaman yang serupa seperti Yehezkiel harus datang kepada setiap pengkhotbah muda jika ia benar-benar melakukan kebaikan yang riil sebagai penginjil, sebagai pemenang jiwa, di dalam khotbahnya. Jika ia mau melakukan hal yang baik di zaman penyesatan ini, ia tidak harus takut kepada manusia yang mana kepada mereka ia berkhotbah.

“Janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya” (Yehezkiel 3:9).

Harga yang harus saya bayar adalah kehilangan undangan berkhotbah. Namun siapa yang membutuhkannya? Lebih baik kehilangan undangan berkhotbah dari pada menjadi takut kepada orang-orang berdosa.

Saya sekarang menemukan bahwa Allah telah memberikan kepada saya istri yang cantik, penuh kasih, pekerja keras dan setia, Ilena, yang mengasihi Yesus dan yang menolong saya dalam setiap pelayanan saya. Kami memiliki dua orang anak laki-laki yang telah tamat dari perguruan tinggi. Salah satu mereka adalah CPA, bekerja untuk suatu perusahaan accounting ternama. Dan yang satunya sekarang sedang studi di seminari Baptis. Dan kami memiliki gereja yang sangat kuat sepenuhnya mendukung khotbah saya. Dengan agak takut, atau penuh ketakutan para pendeta dapat berkata banyak! Namun saya telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk poin ini, walaupun ini adalah satu yang sangat penting: seorang pengkhotbah tidak harus takut kepada orang-orang yang kepada mereka ia berkhotbah jika ia ingin menyelamatkan jiwa-jiwa terhilang dari api Neraka!

II. Kedua, pengkhotbah harus berbicara apa yang ia telah terima dari Allah.

Mari kita berdiri dan membaca ayat berikutnya dengan lantang, Yehezkiel 3:10 dan sebagian dari ayat 11, yang diakhiri dengan kata “Beginilah firman Tuhan.”

“Selanjutnya firman-Nya kepadaku: Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya. Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan…” (Yehezkiel 3:10-11).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Pengkhotbah sendiri harus digerakan oleh Firman Allah. Ia harus menerima Firman Allah di dalam hatinya sendiri. Ia harus “dibakar” oleh kebenaran yang sedang ia khotbahkan. Roh Allah haruslah yang memberikan kepadanya setiap khotbah dan membuatnya menyala dalam hatinya! Dr. Lloyd-Jones berkata, di dalam bukunya, Preaching and Preachers,

Ketika aku berbicara dengan semangat aku bermaksud agar seorang pengkhotbah menyampaikan kesan bahwa ia sendiri telah digenggam oleh apa yang ia katakan (Martyn Lloyd-Jones, M.D., Preaching and Preachers, Zondervan Publishing House, 1971, hal. 87).

Setiap minggu, tugas terbesar seorang pengkhotbah harus menyampaikan apa yang Allah ingin ia sampaikan pada hari Minggu. Ayat dan tema yang disampaikan harus menggenggam dan menggerakkan jiwanya sendiri, atau khotbah itu tidak akan mengerakkan siapapun yang mendengarkannya pada hari Minggu.

Beberapa orang pernah berkata bahwa Anda tidak harus menuliskan khotbah-khotbah Anda. Mereka merasa jika Anda menuliskannya itu tidak akan memiliki api di dalamnya. Namun saya pikir mereka salah. Jika pengkhotbah telah menerima berita itu dari Allah ia dapat mengkhotbahkannya untuk dirinya sendiri sembari ia menuliskannya. Inilah apa yang saya lakukan. Ketika saya menulis tiga khotbah per minggu, saya menghabiskan banyak waktu dalam persiapan khotbah saya untuk diri saya sendiri, menerima berita dari Firman Allah, mengkhotbahkannya dalam persiapan saya, menuliskannya, mendoakannya, kemudian menyampaikannya pada hari Minggu.

Spontanitas hanya sering mengijinkan kemalasan. Khotbah Jonathan Edwards yang berjudul “Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka” diakui sebagai khotbah teragung yang pernah dikhotbahkan di Amerika Serikat. Itu dituliskan kata per kata, dan dibacakan oleh Edwards untuk jemaatnya. Kebangunan Rohani Pertama dapat diperkirakan mulai khotbah tulisan tangan ini. Sebagaimana Allah menggunakannya untuk menggerakkan jemaat, Kebangunan Rohani Pertama mulai.

Seperti Edwards, Yehezkiel menerima Firman Allah dalam hatinya dan mendengarnya dengan telinganya,

“Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka” (Yehezkiel 3:11).

Yehezkiel berumur 25 tahun ketika ia dibawa ke pembuangan di Babel. Ia berumur 30 tahun ketika Allah memanggilnya untuk berkhotbah. Pelayanannya bertahan selama 22 tahun. Ia adalah salah satu dari 10,000 pemimpin, termasuk Raja Yoyakhin, yang dibawa dari Yerusalem ke Babel oleh Raja Nebokhadnezar. Kepada orang-orang yang “tertawan” inilah ia berkhotbah.

Pekerjaan penginjilan harus menjadi yang terutama dalam khotbah kita. Itu adalah pekerjaan untuk menyelamatkan orang-orang terhilang untuk “keluar dari penawanan” hari ini sebanyak-banyaknya sebelum itu berlalu. Rasul Paulus berkata bahwa pengkhotbah harus menyelamatkan mereka agar

“…terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya” (II Timotius 2:26).

“Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa…” (Kisah Rasul 26:18).

Itu adalah pekerjaan seorang pengkhotbah seperti Paulus! Dan setiap pengkhotbah yang berdiri di belakang mimbar pada hari Minggu diperintahkan oleh Firman Allah untuk

“lakukanlah pekerjaan pemberita Injil” (II Timotius 4:5).

Sebagai pemberita Injil, saya dipanggil oleh Allah. Saya tidak harus takut untuk mengatakan kebenaran kepada Anda. Saya harus berbicara kepada Anda apa yang Allah telah “berikan” kepada saya dari Firman-Nya. Saya harus berbicara kepada Anda yang sedang “tertawan,” yang dibutakan oleh Setan, yang belum menerima kebenaran itu, yang sedang binasa dalam genggaman Iblis. Namun ada syarat yang lain dalam khotbah sejati.

III. Ketiga, pengkhotbah tidak harus mengejar “hasil-hasilnya.”

Lihat lagi di ayat 11. Mari kita berdiri dan membacanya dengan lantang.

“Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak” (Yehezkiel 3:11).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Jelaskan kepada mereka apa yang Tuhan Allah firmankan, “baik mereka mau mendengarkan atau tidak” – entah mereka mau memperhatikan atau tidak, entah mereka mau memperhatikan atau gagal untuk memperhatikan!

Yehezkiel berkhotbah pada zaman penyesatan besar. Hari ini, kita berkhotbah, seperti yang dikatakan oleh Dr. Lloyd-Jones, “dalam kondisi kegelapan yang sama seperti yang terjadi pada permulaan abad 18 [sebelum Kebangunan Rohani Pertama terjadi]” (Martyn Lloyd Jones, M.D., The Puritans and their Successors, The Banner of Truth Trust, 1976 reprint, hal. 302). Itulah sebabnya mengapa setiap pengkhotbah harus membaca dan merenungkan Yehezkiel pasal dua dan tiga. Itu akan mengangkatnya dari kesalahan-kesalahan yang orang lain buat pada mimbar hari ini

Salah satu batu sandungan yang besar dari khotbah yang sejati di zaman penyesatan ini adalah mengejar “hasil-hasilnya.” Apakah “pekerjaan” itu? Ini adalah “pragmatisme” yang paling buruk. Jika “pekerjaan” itu adalah baik, kata mereka. Namun pikiran semacam itu tidak harus mengendalikan seorang pengkhotbah. Ia tidak harus “membengkokkan” khotbahnya untuk menyesuaikan dengan “teknik-teknik pertumbuhan gereja.” Tidak sama sekali! Ia harus berbicara “baik mereka mau mendengarkan atau tidak,” entah mereka memperhatian atau tidak.

Baik Anda mau mendengar atau tidak, saya harus memperingatkan Anda akan murka Allah yang akan datang! Baik Anda mau memperhatikan atau tidak, saya harus memperingatkan Anda untuk melarikan diri dari Lautan Api Neraka! Baik Anda mau memperhatikan atau tidak, saya harus mengatakan kepada Anda tentang natur Anda yang telah rusak oleh karena keadaan Anda yang telah rusak total! Baik Anda mau memperhatikan atau tidak, saya harus terlebih dahulu memperingatkan Anda bahwa Roh Allah “tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia” (Kejadian 6:3). Baik Anda mau memperhatikan atau tidak, saya harus menyingkapkan kepada Anda tentang fakta bahwa Anda tidak dapat menjadi orang Kristen ketika Anda mau; dan jika Anda berkata seperti Feliks, “Apabila ada kesempatan baik,” kemudian aku akan bertobat, dan kesempatan itu tidak akan pernah datang kepada Anda, seperti itu tidak pernah datang kepada Feliks (Kisah Rasul 24:25). Dan saya harus menjelaskan kepada Anda, mungkin dengan cara yang paling keras, bahwa keselamatan melalui Darah korban Anak Allah yang telah bangkit tidak akan selalu ada tersedia untuk Anda jika Anda menunggu dan mengabaikannya. Baik Anda mau mendengar atau tidak, saya dipanggil Allah untuk mengatakan bahwa setiap jiwa yang belum bertobat,

“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum” (Ibrani 6:4-6).

Itu adalah peringatan saya untuk Anda, dan itu juga adalah peringatan Allah, baik Anda mau mendengar atau tidak. Namun saya berdoa agar Anda mau mendengar firman Allah dari bibir pendeta yang lemah ini, dan berbaliklah, dan hempaskanlah diri Anda sendiri kepada Anak Allah. Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu pujuan nomer 7 pada lembar pujian.

Datanglah, kamu orang berdosa, miskin dan hina, Lemah dan terluka, sakit dan mendrita;
Yesus telah berdiri untuk menyelamatkanmu, Penuh kasih dan kuasa;
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!
Ia sanggup, Ia sanggup, Ia mau; jangan ragu lagi!

Lihatlah! Allah yang menjelma, naik, Membela pengorbanan darah-Nya;
Datanglah kepadanya, dengan segenap hatimu, Jangan biarkan kepercayaan lain menganggu;
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan.
Tiada lain selain Yesus, Tiada lain selain Yesus, Dapat menolong orang berdosa tanpa pengharapan.
   (“Come, Ye Sinners” by Joseph Hart, 1712-1768).

(END OF SERMON)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Yehezkiel 3:1-11.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Jesus, I My Cross Have Taken” (by Henry F. Lyte, 1793-1847).


GARIS BESAR KHOTBAH

KHOTBAH PADA ZAMAN PENYESATAN!
(PREACHING IN A TIME OF APOSTASY!)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak." Selanjutnya firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya. Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak” (Yehezkiel 3:9-11).

I.   Pertama, pengkhotbah tidak harus takut kepada jemaat,
Yehezkiel 3:9, 8, 7; Yakobus 2:20; Efesus 1:6; Yehezkiel 2:5; 3:11.

II.  Kedua, pengkhotbah harus berbicara apa yang ia telah terima dari Allah,
Yehezkiel 3:10-11a; II Timotius 2:26; Kisah Rasul 26:18;
II Timotius 4:5.

III. Ketiga, pengkhotbah tidak harus mengejar “hasil-hasilnya,”
Yehezkiel 3:11b; Kejadian 6:3; Kisah Rasul 24:25; Ibrani 6:4-6.