Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




SPURGEON DAN PERTOBATAN

(SPURGEON AND CONVERSION)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan Senin Malam, 3 September 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat..., kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 18:3).


Bab kedua dari buku Iain H. Murray yang berjudul The Old Evangelicalism (Banner of Truth, 2005) mencurahkan perhatiannya pada Spurgeon, “Sang Rajanya Para Pengkhotbah.” Spurgeon adalah sosok yang memimpin Kebangunan Rohani Ketiga atau Third Great Awakening (1857-1861) dan dalam pemandangan saya, ia adalah pendeta Baptis yang paling penting di segala masa. Ia juga adalah orang yang bersandar pada mode pelayanan masa lalu. Secara natur ia adalah konservatif, ia dijuluki “the last of the Puritans” (Puritan yang terakhir). Murray tentu saja benar ketika mencurahkan perhatiannya padanya dalam seluruh pasal (“Spurgeon and True Conversion”) dalam bukunya ini. Pada cover belakang buku ini, Murray mengutip Dr. Martyn Lloyd-Jones,

Kaum injili modern sama sekali tidak seperti kaum injili pada abad delapan belas dan kaum Puritan. Kaum injili yang asli adalah kaum injili yang lebih tua itu.

Spurgeon hidup cukup dekat dengan zaman kita ini yang dipertimbangkan sebagai jembatan menuju pandangan injili yang lebih tua tentang pertobatan sejati. Dalam analisisnya tentang Spurgeon, Murray memberikan pandangan yang lebih Calvinistik tentang pertobatan dibandingkan dengan pandangan saya. Namun banyak yang dapat kita pelajari dari pasal yang berhubungan dengan apa yang Spurgeon pikirkan tentang pertobatan ini, dan Murray telah melakukan pelayanan yang luar biasa dengan membuat ini tersedia, dalam format bacaan yang mudah difahami, tentang apa yang Spurgeon pikirkan berhubungan dengan subyek yang sangat penting ini.

Spurgeon percaya dalam pertobatan yang riil, bukan hanya sekedar “decision.” Ia percaya bahwa pertobatan sejati termasuk di dalamnya kesadaran yang kuat akan dosa dan “memandang” atau “datang” kepada Yesus – bersatu dengan Kristus. Spurgeon berkata,

Di dalam semua pertobatan sejati ada poin persetujuan yang esensial: Harus ada penyesalan atau pengakuan dosa dengan segenap hati, dan memandang Yesus untuk pengampunannya, dan juga ada perubahan hati yang riil, yang akan berefek kepada keseluruhan hidup setelah itu, dan jika poin-poin esensial ini tidak ditemukan berarti tidak ada pertobatan sejati (quoted in Iain H. Murray, The Old Evangelicalism, Banner of Truth Trust, 2005, p. 41).

Murray berkata bahwa pandangan Spurgeon tentang pertobatan sejati mungkin kedengarannya sederhana, namun “seluruh yang terlibat di dalamnya lebih dalam dibandingkan dengan apa yang dapat kita lihat dalam pemahaman kita hari ini… Bahaya kita hari ini adalah mengira bahwa kebenaran tentang pertobatan hanyalah suatu persiapan kepada iman Kristen, sama seperti dua garis sumbu dalam matematika, dan oleh sebab itu tidak perlu menangkap perhatian kita terlalu lama” (ibid.). Ia berkata bahwa ada sangat sedikit buku injili modern yang menekankan tentang subyek pertobatan Alkitabiah. “Apa yang menjadi pusat dari Perjanjian Baru telah digeser ke batas luar, dan ini merefleksikan situasi umum di gereja-gereja kita” (ibid., hal.42). “Namun ketika subyek [tentang pertobatan] ini tidak ada lagi ini seharusnya tidak menjadi sesuatu yang mengejutkan bahwa usaha penginjilan menjadi terhuyung-huyung” (ibid.). “Jika praktek kita lebih dekat dengan praktek Spurgeon kita dapat meragukan bahwa pertobatan sejati akan menjadi lebih umum di antara kita hari ini. Maka saya mengusulkan, dengan mengambil pemikiran Spurgeon ini untuk menjadikannya stimulus bagi kita tentang isu yang sangat penting ini” (ibid.).

Spurgeon percaya perlunya pekerjaan hukum Taurat dalam khotbah penginjilan. Spurgeon sendiri pernah berada “di bawah konviksi akan dosa selama beberapa tahun…. Namun hal yang penting bagi dia bukan lamanya waktu, itu adalah prinsip alkitabiah bahwa hukum Taurat diperlukan sebelum Injil” (ibid., p. 48). Spurgeon berkata,

Seorang pendeta Kristen harus mengumumkan tentang begitu jahatnya dosa… Membuka hukum Taurat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Tuhan kita dan menunjukkan bagaimana itu telah dilanggar oleh pikiran-pikiran yang jahat, kecenderungan hati yang jahat. Dengan cara demikian banyak orang berdosa akan tertusuk hati mereka. Robert Flockhart berkata, ‘Tidak ada gunanya mencoba untuk menjahit dengan benang sutra Injil kecuali jika kita ditusuk dengan jarum yang tajam dari Taurat.’ Pertama-tama hukum Taurat seperti jarum dan kemudian menarik benang Injil. (ibid., hal. 48-49).

Kemudian Murray melacak bagaimana pemberitaan hukum moral secara berangsur-angsur dihilangkan dari penginjilan setelah zaman Finney. Namun, betapapun pentingnya pemberitaan hukum Taurat dalam penginjilan, konviksi atau keinsafan akan dosa bukanlah golnya. Golnya adalah agar orang berdosa itu datang kepada Yesus. “Pemberitaan hukum Taurat” membuat Felix gemetar, namun ia tidak bertobat. Orang berdosa tidak harus merasa nyaman atau aman dalam keadaannya yang terbangun dalam keinsafan. Sepenting apapun pemberitaan hukum Taurat, ini bukanlah akhir dari pemberitaan itu sendiri. Spurgeon berkata bahwa “orang berdosa yang telah terbangun akan dihukum kecuali mereka percaya di dalam Yesus. Anda tidak harus mengeluarkan Kristus dengan tangisan-tangisan Anda, Anda tidak harus berharap menemukan keselamatan dalam pikiran pahit dan keputusasaan yang mendalam Anda. Kecuali jika Anda percaya [di dalam Yesus] Anda tidak akan pernah aman” [seperti orang yang benar-benar telah bertobat] (ibid., hal. 51).

Murray berkata bahwa hukum Taurat harus dikhotbahkan kepada orang yang belum bertobat, bukan karena itu mengajar mereka tentang “apa yang mereka dapat lakukan, tetap apa yang mereka harus lakukan… Itu membawa pulang orang non-Kristen karena ia tidak dapat mengubah naturnya sendiri, ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Itu adalah pertobatan yang Yesus bicarakan ketika ia berkata, ‘Bagi manusia hal ini tidak mungkin’ (Matius 19:26)” (ibid., hal. 52-53). Khotbah tentang ketidak-mampuan orang yang belum bertobat, Spurgeon berkata,

Yang dikehendaki Allah kami dapat membawa Anda, bukan hanya kepada keputus-asaan, namun kepada putus-harapan akan diri Anda sendiri. Ketika Anda… merasa bahwa Anda tidak memiliki kekuatan, kami akan memiliki pengharapan bagi Anda, karena kemudian Anda akan menyerahkan diri Anda sendiri ke dalam tangan-Nya yang dapat melakukan segala sesuatu. Ketika kekuatan kita sendiri pergi, kekuatan Allah akan datang… Saya tidak ingin membangunkan usaha Anda, Anda orang-orang yang belum bertobat: Saya ingin Anda membangunkan diri Anda sendiri untuk insaf atau sadar bahwa Anda terhilang, dan saya berdoa kiranya Allah Roh Kudus berkenan menginsafkan Anda (ibid., hal. 53).

Murray menunjukkan bahwa pada abad kedelapan belas penginjil George Whitefield merindukan agar orang-orang terhilang “mau diinsafkan dari ketidak-percayaan Anda, dan dipimpin untuk meminta iman dari Dia sang pemberi iman itu” (ibid.).

Murray berkata bahwa regenerasi (kelahiran kembali) terjadi seketika dan sekali untuk selama-lamanya, tidak pernah perlu diulang. “Regenerasi adalah suatu kejadian, bukan proses. Ini adalah pintu masuk dari kehidupan dari Kristus” (hal. 55). Saya percaya bahwa regenarsi adalah sisi lain dari pertobatan (sisi manusia) dan oleh sebab itu saya mengajarkan bahwa keduanya bersifat simultan dan seketika. Namun ini perbedaannya sangat kecil, menurut pikiran saya, tidak pantas untuk dikomentari lebih lanjut.

Murray dengan benar berkata bahwa kaum injili modern salah ketika mereka menyamakan regenerasi dengan “pengembilan keputuan untuk Kristus” sama seperti orang Katolik menyamakan itu dengan “baptisan” (hal. 56). Ia berkata,

Waktu kelahiran kembali adalah milik Allah. Satu hal yang pasti adalah bahwa Allah membawa orang-orang turun sebelum Ia membangkitkan mereka. Sebelum Anak Durhaka ‘pulang kepada-Nya”… ia telah mengetahui kesia-siaan berada di negeri yang jauh (ibid.).

Beberapa orang mungkin saja berada di bawah konviksi atau keinsafan akan dosa dalam waktu yang lama, seperti yang dialami oleh Spurgeon. Yang lain mungkin segera setelah tertikam oleh konviksi langsung diikuti pertobatan secara tiba-tiba. Murray berkata, “Konviksi tidak menyelamatkan siapapun namun tak seorangpun diselamatkan tanpa konviksi” (hal. 57). Seseorang mungkin berada di bawah konviksi namun tidak bertobat. Juga, seseorang mungkin “percaya” doktrin-doktrin tentang keselamatan tanpa datang kepada Kristus” (hal. 57-58). Percaya doktrin tentang kasih karunia tidak pernah menyelamatkan siapapun. Untuk bertobat, seseorang harus dibangunkan atau disadarkan akan kondisinya yang terhilang, penuh dosa dan mengerikan dan kemudian benar-benar dipersatukan dengan Kristus, jika tidak “kepercayaannya” tidak akan menghasilkan apa-apa selain pengetahuan yang kering tentang fakta-fakta keselamatan, dan ia tidak akan pernah benar-benar datang kepada Kristus sendiri untuk menerima keselamatan yang ditawarkan sang Juruselamat kepada orang berdosa.

Spurgeon menganggap altar call (“panggilan maju ke depan”) “diperhitungkan sebagai [tindakan] yang membingungkan arti pertobatan.” Spurgeon “tahu bahwa menerima Kristus tidak pernah tanpa perubahan natur (lahir kembali) dan perubahan seperti ini tidak dapat disebabkan oleh tindakan fisikal seperti meminta orang untuk maju ke depan.” (hal. 63). “Spurgeon tidak pernah menambahkan khotbahnya dengan ‘panggilan’ atau ‘altar call’ untuk langsung membuat keputusan public yang menjadi bagian dari orang-orang yang mau menjadi orang Kristen” (ibid.). “Pengambilan keputusan di hadapan umum atau ‘public decision’ sebagai alat untuk menghitung petobat baru bagi Spurgeon sepenuhnya tidak layak untuk dipercaya” (hal. 63-64). Ia berkata,

Beberapa orang berdosa yang sangat mengenal saya pernah menjadi anggota gereja ini; dan sebagaimana saya percaya, ia telah membuat pengakuan oleh karena tekanan… saya benci dengan kebohongan publik ini (hal. 64).

“Dari tempat lain dimana [Spurgeon] pernah berkhotbah, termasuk di lapangan terbuka… tidak pernah sama sekali memberikan undangan seperti itu” (ibid.). Spurgeon tidak pernah memberikan “undangan” untuk maju ke depan, mengangkat tangan, dsb. Melayani konseling untuk mengoreksi orang-orang yang mengaku sudah bertobat “adalah hal yang berbeda, yang ia dukung” (ibid.). Namun ia melakukan ini di ruangannya, seringkali ia lakukan pada Senin malam dan malam-malam yang lain selama hari-hari kerjanya, bukan sebagai sesuatu yang dilakukan secara mendadak di akhir setiap khotbah, seperti yang biasa kita lihat dilakukan “sekolah baru” penginjilan di zaman kita ini.

Setelah abad sembilan belas ide [dari Finney dan para pengikutnya] menjadi sangat populer… bahwa jika pertobatan dapat “disederhanakan” ke dalam tindakan yang dapat dilakukan, dilakukan [kapan saja] oleh siapa saja, maka penginjilan akan menjadi lebih sukses. Kata ‘Sukses’ telah menggantikan semua prioritas lainnya. Spurgeon, dan [beberapa orang lainnya dari “sekolah lama” penginjilan] memperingatkan bahwa injil yang diberitakan dengan cara yang salah akan merugikan dan [akan] membawa bencana bagi gereja-gereja [di masa depan] (hal. 65).

Khususnya, apa yang hilang menurut [Spurgeon] dalam pemandangan injili baru adalah tidak adanya konviksi akan dosa dan takut akan Allah. [Konviksi akan dosa] telah menghilang dalam gereja-gereja ini, bersama dengan hilangnya penghormatan dan kekaguman [akan injil itu sendiri]. Deskripsi orang Kristen sebagai ‘orang-orang yang takut kepada Allah’ telah hilang. Kebahagiaan, bukan ketakutan [menjadi] satu tema, Namun Spurgeon percaya bahwa keduanya harus dipisahkan” (hal. 66).

“Spurgeon tidak memiliki keraguan bahwa penginjilan yang dangkal [dari ‘sekolah baru’] adalah penyebab utama hilangnya para petobat [sejati]” (ibid.).

Murray mengutip Dr. Martyn Lloyd-Jones, yang membuat ini menjadi sangat jelas ketika ia berkata, bahwa di dalam penginjilan “baru,”

Anda tidak merasakan banyak dari dosa-dosa Anda sendiri, Anda tidak perlu disadarkan akan gelapnya hati Anda. Namun hanya dengan “membuat keputusan untuk Kristus” dan Anda masuk ke dalam kerumuman orang [pada waktu undangan diberikan], dan nama Anda didaftar di sana, dan menjadi salah satu dari sejumlah besar orang yang dilaporkan telah “mengambil keputusan”… Itu secara keselutuhan [berbeda dengan] penginjilan dari kaum Puritan dan John Wesley, George Whitefield dan lain-lainnya [dari abad kedelapan belas], yang memimpin orang-orang menjadi begitu takut akan penghukuman Allah, dan jiwanya begitu menderita bahkan kadang-kadang mereka alami berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan lamanya (hal. 69).

Murray menutup bab ini dengan memberikan pandangan seorang injili yang lebih tua, Dr. A. W. Tozer, yang berkata,

Seluruh transaksi pertobatan agamawi telah menjadi mekanikal dan tanpa roh. Iman mungkin sekarang diterima tanpa ketakutan bagi… ego Adamik. Kristus mungkin “diterima” tanpa menghasilkan kasih yang spesial bagi Dia dalam jiwa penerima-Nya (ha. 70).

Murray berkata,

Ada suatu kebutuhan mendesak hari ini untuk menemukan kebenaran tentang pertobatan. Tersebar luasnya kontroversi tentang subyek ini akan menjadi angin sehat yang menerbangkan ribuan hal-hal yang tidak penting. Pentingnya takut akan Allah yang diperbaharui akan mengakhiri banyak pikiran duniawi dan membungkam banyak pelayanan yang parau. Semakin banyak berbicara tentang penginjilan, dan semakin banyak pengharapan akan kebangunan rohani, namun Spurgeon akan mengajar kita bahwa kita perlu kembali kepada hal yang pertama [seperti yang mereka pernah khotbahkan pada penginjilan lama] (hal. 68).

Dengan segenap hati, saya setuju dengan Iain H. Murray. Itulah sebabnya mengapa saya dengan begitu kuat mendorong Anda untuk memperoleh buku ini, The Old Evangelicalism (Banner of Truth, 2005) dan membacanya berulang kali sampai “mata Anda lelah,” dan Anda merasakan kerinduan untuk bergabung bersama kami yang ingin kembali kepada “the old paths” (pendirian lama) dari penginjilan sejati. Pembaca modern yang bijaksana akan tertantang paling tidak untuk mempertimbangkan fakta bahwa hampir semua penginjilan hari ini telah jatuh dari apa yang kaum Injili masa lalu pernah percaya dan khotbahkan. Saya percaya bahwa kita tidak akan pernah melihat kebangunan rohani klasik yang sejati yang mengagumkan kecuali bila kita kembali kepada kepercayaan-kepercayaan dan prinsip-prinsip dari “kaum injili masa lalu” (old evangelicalism).

Kiranya orang-orang yang membaca buku Murray juga tertantang untuk melalukan itu! Itu akan menjadi usaha yang berat untuk melakukannya di hari-hari penyesatan ini, namun hasilnya akan memuliakan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Dan kiranya lebih banyak jiwa akan dibawa kepada pertobatan dari pada dengan menggunakan trik-trik dan manupulasi modern untuk memperoleh hasil yang lebih “cepat,” dan dangkal dengan metode kaum decisionisme injili modern.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”