Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KAUM INJILI – LAMA DAN BARU
(EVANGELICALISM – THE OLD AND THE NEW)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Malam, 2 September 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (Mazmur 77:11).


Pada musim panas 1961 saya masuk ke Toko Buku Biola, toko buku Kristen kecil milik Church of the Open Door, yang kemudian digembalakan oleh Dr. J. Vernon McGee, di 550 South Hope Street pusat kota Los Angeles. Saya melihat buku kecil berwarna kuning yang menarik perhatian saya. Sub judul yang membuatnya saya mengambil buku itu adalah, “Tiada satu figurpun yang pernah mempengaruhi pikiran banyak orang, tiada satu suarapun yang pernah menyentuh hati banyak orang. Tiada seorangpun yang pernah melakukan pekerjaan kehidupan bagi Inggris seperti orang ini.” Saya membalik buku itu dan membaca sampul bagian belakangnya, “Seperti seseorang yang menghirup harumnya bunga teratai tersihir untuk selamanya, demikian juga pembaca tentang kehidupan orang ini tidak dapat menolak untuk tidak tertarik untuk mengetahui bagi dirinya sendiri betapa tinggi dan dalamnya kasih Allah yang John Wesly layani.”

Judul sebenarnya dari buku itu adalah The Journal of John Wesley (Moody Press, no date, edited by Percy Livingstone Parker). Buku ini berisi kira-kira seperempat dari Journal asli Wesley, yang sekarang diterbitkan dalam empat volume buku yang berjudul The Works of John Wesley (Baker Book House, 1979).

Kemudian saya membaca apa yang Augustine Birrell, seorang pengacara untuk Raja, katakan dalam pendahuluan edisi terbitan Moody Press,

Jika Anda ingin masuk ke [abad 18th], untuk merasakan denyut nadinya berdenyut di jari Anda,…naik dan turunlah [dari punggung kuda] Negara ini bersama dengan kekuatan terbesar dari abad ke delapan belas di Inggris… Journal-journalnya masih ada, dan dari journal-journal itu kita dapat belajar lebih baik dari pada bahan manapun tentang bagaimana orang ini hidup, dan karakter zaman pada waktu ia hidup (ibid., hal. 23).

Lalu saya membeli buku itu, saya pikir, pada waktu itu harganya sekitar tujuh puluh lima cent, lalu membawanya pulang dan membacanya dari sampul bagian depan sampai belakang. Pada sampul bagian belakang dikatakan bahwa ini adalah

“Buku yang penuh dengan alur cerita dan drama dan novel, dan buku yang penuh tokoh-tokoh yang menggetarkan kehidupan. Dengan menawarkan Journal Wesley lagi kepada kalangan orang Kristen, Moody Press sedang menghadirkan bentuk ringkas dari salah satu buku yang sangat penting, instruktif, dan menarik yang pernah diterbitkan dalam bahasa Inggris. John Wesley bukan hanya telah mempengaruhi Inggris pada abad ke delapan belas – kekuatan hidupnya dirasakan sampai hari ini, dan akan terus menerus dirasakan.”

Ketika saya membaca John Wesley’s Journal ini, saya menemukan bahwa saya sungguh “tersihir untuk selamanya.” Ketika saya membaca, saya “tidak dapat menolak untuk tidak tertarik untuk mengetahui bagi [diri saya sendiri] betapa tinggi dan dalamnya kasih Allah yang John Wesly layani.” Saya percaya bahwa Journal-nya menjadi salah satu dari tiga atau empat buku yang telah menolong untuk mengubah pandangan saya tentang penginjilan dan kebangunan rohani sejati. Saya belum pernah melupakannya.

Sebagai seorang yang masih muda, pada waktu itu saya belum mengenal nama-nama seperti George Whitefield, John Cennick, Howell Harris dan pengkhotbah-pengkhotbah dari zaman Kebangunan Rohani Pertama atau First Great Awakening (1735-1760) penting lainnya. Namun Wesley’s Journal telah memberikan saya rasa tentang kebangunan rohani yang ia layani pada hari-hari itu ketika Allah mengirim kebangunan rohani pada abad delapan belas.

Saya melihat sekeliling saya pada abad dua puluh dan tidak melihat pencurahan kuasa Tuhan seperti yang pernah terjadi pada abad yang lalu. Namun Journal itu membuat saya lapar untuk mengetahui tentang masa yang hampir “tidak dapat dipercaya dengan pikiran manusia” ketika ada puluhan ribu orang mengalami pertobatan sejati, sebelum C. G. Finney meruntuhkan penginjilan dengan mengubah pertobatan yang adalah karunia Allah ke dalam “decisionisme” kosong yang sekarang menelan begitu banyak orang di dunia ini.

Ya, saya memberi nama untuk anak saya yang kedua adalah John Wesley Hymers oleh karena rasa hormat saya kepada penginjil besar ini. Saya tidak menyetujui sedikit poin pemikiran Wesley. Namun bagaimanapun juga saya setuju dengan berita penginjilan dasarnya, yang ia dan Whitefield khotbahkan ke seluruh dunia.

Untuk teologi yang lebih jelas tentang beberapa poin, tulisan dari para penulis Puritan yang lebih awal harus dibaca, dan dibaca dengan sangat hati-hati, yaitu tulisan dari orang-orang seperti Flavel, Hooker, Owen, dan lain-lain. Namun menurut saya, adalah suatu kesalahan bila kita terlalu terfokus pada tulisan-tulisan para penulis Puritan awal ini. Tulisan-tulisan itu harus dibaca dan dikonsultasikan. Namun untuk memahami penginjilan lebih mendalam kita tidak harus berhenti pada tulisan-tulisan mereka saja. Dr. Martyn Lloyd-Jones sering berkata bahwa fokus studi kita harus tertuju kepada tulisan-tulisan George Whitefield, Howell Harris, John dan Charles Wesley, dan lainnya yang membawa berita Puritan tentang pertobatan yang tidak dibatasi oleh gedung-gedung gereja, di lapangan-lapangan terbuka, kepada orang-orang yang tidak pernah ke gereja, begitu banyak orang yang belum diselamatkan.

Jika saya sedang membimbing anak muda tentang masalah penginjilan yang sejati, saya akan mengatakan kepadanya untuk menjadi familiar dengan para Reformis dari abad enam belas, khususnya Martin Luther (1483-1564) dan John Knox (1514-1572). Saya akan mengatakan kepadanya untuk membaca dengan teliti tulisan-tulisan John Owen (1616-1683), Richard Sibbes (1577-1633), Thomas Hooker (1586-1647), John Flavel (1627-1691), Joseph Alleine (1634-1668), John Bunyan (1628-1688), dan khususnya Richard Baxter (1615-1691) yang terkenal dengan perkataannya,

“Saya berkhotbah seperti tidak yakin bisa berkhotbah lagi, dan seperti seorang yang sedang sekarat bekhotbah kepada orang yang sedang sekarat.”

Namun setelah membaca karya-karya kaum Puritan, saya berharap anak muda itu mau kembali mempelajari dengan mendalam tulisan-tulisan dan khotbah-khotbah penerus kaum Puritran, yaitu orang-orang yang telah mengikuti kaum Puritan pada abad delapan belas, pada masa Kebangunan Rohani Pertama (First Great Awakening), yaitu orang-orang seperti Jonathan Edwards, George Whitefield, John Wesley, Howell Harris, dan para pendamping mereka pada seluruh masa kebangunan rohani terbesar di dunia berbahasa Inggris, oleh sebab itu para penerus kaum Puritan ini membawa pengajaran mereka ke jalan-jalan, dan mengkonfrontasikan dengan setiap jiwa yang hidup sehingga mereka mendengar berita Injil kaum injili masa lalu yang mengubah kehidupan ini.

Saya percaya bahwa kita salah bila terlalu memfokuskan hanya kepada para Puritan. Inilah yang saya sadari bahwa kita juga harus berkonsentrasi pada warisan mereka, orang-orang dari abad delapan belas seperti George Whitefield. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang keluar dari gereja mereka dan menghadapkan peradapan yang sedang sekarat dengan Injil Kristus yang tidak dapat diperzinahkan. Dan saya percaya bahwa kita tidak harus melalukan kurang dari apa yang mereka pernah lakukan di zaman kita ini. Kita harus mentaati Kristus, seperti mereka dan

“Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh”
     (Lukas 14:23).

Di atas semuanya, saya harus sampaikan kepada para pengkhotbah muda untuk membaca The Life of the Reverend George Whitefield, dua volume besar karya Luke Tyerman (Need of the Times Reprint, 1995). Dua buku Tyerman tentang Whitefield belum pernah ada yang menandinginya. Kedua buku tentang Whitefield ini adalah buku yang harus dibaca oleh setiap pengkhotbah. Buku-buku tentang biografinya yang lebih belakangan cenderung “mengaburkan.”

Dalam pemikiran saya George Whitefield adalah pemberita Injil terbesar sejak Rasul Paulus. Setiap anak muda yang merasa terpanggil menjadi hamba Tuhan harus membaca karya Tyerman ini. Dr. Martyn Lloyd-Jones menyebut Whitefield, “pengkhotbah terbesar yang Inggris pernah hasilkan.” Saya sepenuhnya setuju bahwa ia adalah pengkhotbah yang paling penting di segala masa di dunia berbahasa Inggris.

Setelah mempelajari doktrin-doktrin dasar tentang karunia pertobatan dari para Puritan, kita harus segera pergi kepada para mahasiswa perguruan tinggi dan orang-orang di jalan-jalan, seperti yang dilakukan oleh Whitefield, Wesley, dan orang-orang lainnya pada abad delapan belas seperti dengan meterai dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Orang-orang ini tidak saling setuju berhubungan dengan beberapa poin teologi, namun mereka semua dengan begitu mendalam menyadari pemikiran dasar Puritan berhubungan dengan penginjilan dan pertobatan. Pandangan mereka tentang pertobatan sangat identik tidak peduli bagaimana pemikiran mereka tentang subyek-subyek lainnya.

Ada sebuah buku baru menarik yang ditulis oleh Iain H. Murray yang diberi judul The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (Banner of Truth Trust, 2005). Saya percaya bahwa judul buku ini secara literal “dikirim oleh Allah.” Murray tidak menunjukkan pandangan sektarian sempit. Ia mengutip dengan bebas dari seorang Armenian seperti John Wesley sebagaimana ia mengutip dari seorang Calvinist seperti John Owen. Dan melalui pendekatan subyeknya dengan menunjukkan kebesaran hatinya, ia menemukan perbedaan yang sangat mendasar antara penginjilan modern dengan apa yang ia sebut dengan “Kebenaran Lama untuk Kebangunan Baru” (Old Truths for a New Awakening).

The Old Evangelicalism, menurut saya merupakan pengembangan dari buku Murray yang lebih awal yang berjudul, Revival and Revivalism: the Making and Marring of American Evangelicalism (The Banner of Truth Trust, 2002 edition). Bab empat belas dari buku itu menunjukkan bagaimana konsep lama tentang pertobatan dan kebangunan rohani digantikan oleh “sekolah baru,” yang dipimpin oleh C. G. Finney (1792-1875). Dua kutipan dari pasal empat belas mengilustrasikan perbedaan antara “sekolah lama” penginjilan dari abad 18th dan “sekolah baru” penginjilan yang muncul pada zaman Finney di abad 19th. Kutipan pertama mengatakan:

…generasi yang lebih tua membantah bahwa jika seseorang diselamatkan ia dapat dilihat dari gerak tubuhnya yang nampak [misalnya ‘maju ke depan,’ mengangkat tangan, memanjatkankan ‘doa orang berdosa,’ dsb], dan bahwa para pendengarnya diberitahu bahwa itu ‘sama mudahnya dengan mengubah hati seseorang dari cintanya kepada dosa’ dengan menunjukkan suatu tindakan seperti itu, kemudian orang banyak akan dikuatkan dengan jaminan yang palsu. Hal seperti itu, seperti yang lainnya, tidak pernah menjawab apa-apa (Iain H. Murray, Revival and Revivalism: the Making and Marring of American Evangelicalism 1750-1858, The Banner of Truth Trust, 2002 edition, hal. 368).

Kutipan kedua memberikan pemandangan yang lain berhubungan dengan metode penginjilan yang lebih tua:

…para calon petobat tidak akan pernah didorong untuk membuat pengakuan instant. Kira-kira setelah enam bulan berlalu… antara pertobatan yang penuh pengharapan dan pengakuan iman secara publik. Dalam [kebangunan rohani yang lebih awal] itu adalah fakta yang menonjol bahwa para hamba Tuhan memberikan perhatian yang sangat besar dalam memberikan pemikiran-pemikiran berhubungan dengan keadaan rohani… frase seperti “diperbaharui” atau lahir dari Allah,” adalah yang kemudian umumnya digunakan untuk menunjukkan pengakuan para petobat, setelah 1852, penulis yang sama mengatakan, ia mendengar tentang ‘pertobatan,’ atau ‘pertobatan yang ajaib’ yang hanya diharapkan telah terjadi ‘kemarin siang’ atau ‘tadi malam.’ (ibid., hal. 369).

Saya percaya bahwa pasal empat belas dari Revival and Revivalism harus dipelajari dengan sangat hati-hati untuk memberikan latar belakang buku baru Murray yang berjudul The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening. “Sekolah baru” “decisionisme” yang diperkenalkan oleh C. G. Finney dan para pengikutnya belum pernah menghasilkan kebangunan rohani, namun justru telah memenuhi gereja kita dengan ribuan orang yang belum bertobat. Dalam buku Revival and Revivalism, Murray menelusuri sejarah Kekristenan tentang perubahan yang terjadi pada zaman Finney, yang saya mau sebut sebagai “anti-Reformasi,” di mana penginjilan diubah dari pencarian pertobatan-pertobatan sejati untuk menghasilkan “para pembuat keputusan” (decisions), dan kebangunan rohani sejati digantikan dengan “kebangunan rohani” buatan manusia. “Sekolah baru” penginjilan dari Finney menjadi dasar serangan teologis terhadap doktrin-doktrin Reformasi. Jadi, itu adalah “anti-Reformasi” sesungguhnya yang telah merampok kita, pada zaman kita ini, dari pemikiran para Reformator dan Puritan yang agung.

Dalam buku The Old Evangelicalism Murray menjelaskan apa yang para orang injili percaya tentang pertobatan sebelum perubahan yang terjadi pada zaman Finney. Dengan istilah “injili lama” ia tidak mengacu kepada generasi tertentu atau denominasi tertentu, namun kepada kepercayaan-kepercayaan para pemimpin Kristen dari lima abad yang lalu, dari Martin Luther di abad enam belas, kepada kaum Puritan abad tujuh belas, kepada Whitefield, Edwards, dan Wesley abad delapan belas, kepada C. H. Spurgeon pada abad sembilan belas, dan kepada Dr. Martyn Lloyd-Jones pada abad dua puluh. Walaupun Murray sendiri adalah seorang Calvinis, ia menulis berhubungan dengan “conversionists” (orang-orang yang menekankan pertobatan) baik dari Protestan maupun Baptis, termasuk orang-orang yang memiliki faham yang berbeda dengannya sebagai seorang Calvinis, misalnya seorang Armenian seperti John Wesley, yang kepadanya Murray mempersembahkan seluruh pasal ini (“Apa yang Dapat Kita Pelajari dari John Wesley?”). Kesarjanaannya dan kelapangan hatinya dengan luas ditunjukkan dalam sampul bukunya baik pada bagian depan maupun belakang, di mana ia mendaftarkan nama-nama dan tahun dari para penulis injili “lama” yang ia kutip. Di sini adalah beberapa orang yang ia tekankan dalam daftar sebagai orang-orang injili “lama” itu.


Martin Luther, 1483-1546.

John Calvin, 1509-1564.

John Knox, 1514-1572.

Thomas Hooker, 1586-1647.

William Gurnall, 1616-1679.

John Flavel, 1627-1691.

Joseph Alleine, 1634-1668.

John Bunyan, 1628-1688.

John Wesley, 1703-1791.

Jonathan Edwards, 1703-1758.

George Whitefield, 1714-1770.

Robert M. M’Cheyne, 1813-1843.

Alexander Whyte, 1836-1921.

John C. Ryle, 1816-1900.

C. H. Spurgeon, 1834-1892.

A. W. Tozer, 1897-1963.

D. M. Lloyd-Jones, 1899-1981.


Pada permulaan daftar ini ia mengutip Martin Luther:

Kami tidak mengajarkan hal baru, namun kami mengulangi dan mendirikan pengajaran lama, yang para rasul dan semua pengajar saleh telah ajarkan sebelum kita.

Di akhir daftar itu ia mengutip Spurgeon:

Bersihkanlah lukisan-lukisan lama yang agung tentang para guru pilihan Tuhan itu; gantungkanlah semua itu pada bingkai-bingkai yang baru; tempelkanlah semua itu pada tembok-tembok untuk dikenang oleh orang-orangmu, dan ajaran mulia mereka akan memberkatimu.

Bab satu dari buku The Old Evangelicalism adalah bagian yang paling penting dalam buku ini. Bab itu berjudul “Preaching and Awakening: Facing the Main Problem in Evangelism” (Khotbah dan Kebangunan: Menghadapi Masalah Utama dalam Penginjilan). Poin utama dari pasal ini adalah sebagai berikut:

“Tidak Seorangpun akan Menjadi Perhatian tentang Dirinya Sendiri sebelum Ia Belajar tentang Allah.”

“Di Bawah Konviksi Orang-Orang Biasanya Berusaha Mengubah Tingkah Lakunya.”

“Dengan Hukum Taurat Orang-Orang Belajar tentang Keadaan Mereka yang Tanpa Pengharapan.”

“Kebutuhan Awal dalam Penginjilan Bukanlah Memenangkan Orang Bagi Kristus.”

“Kelahiran Kembali dan Petobatan.”

“Kesimpulan: 1. Kasus yang Didemonstrasikan oleh Sejarah
2. Apa yang Para Pengkhotbah Butuhkan.”

“Catatan Tambahan:
      John Brown of Wamphrey: What Preparation is Not and What It Is.
      Thomas Scott: The Offence of the Cross Ceasing.
      Alexander Whyte: Preaching to the Conscience.
      D. M. Lloyd-Jones: The Law.”

Saya akan menyimpulkan poin utama dari pasal ini dengan kata-kata ini: Pertobatan adalah riil. Pertobatan sejati mulai dengan kesadaran akan Allah, dan kesadaran akan dosa dan keberadaan dirinya yang tanpa pengharapan. Dalam penginjilan “lama, “…salah satu yang paling dominan diperhatikan adalah penaklukan perasaan akan dosa” (hal. 4). John Bunyan berkata, “Lebih mudah membujuk orang sehat pergi ke dokter untuk perawatan, dari pada membujuk orang yang tidak melihat penyakit jiwanya, untuk [benar-benar] datang kepada Yesus Kristus” (hal. 7).

Kebangunan rohani sejati adalah saat ketika hati nurani diperingatkan. Begitu juga halnya dengan pertobatan sejati seseorang. Orang-orang tidak akan memperhatikan pentingnya pertobatan sejati kecuali mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang tidak memiliki pengharapan dalam pemandangan Allah yang suci. Ketika hati nurani mereka diinsafkan, orang-orang berdosa itu akan mencoba untuk mengubah tingkah laku hidupnya. Kemudian mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat mengukur atau memenuhi standard Allah. Melalui khotbah tentang hukum Taurat orang-orang belajar tentang keberadaannya yang tanpa pengharapan. Sama seperti yang ditekankan oleh Gresham Machen,

Tanpa kesadaran akan dosa, seluruh Injil akan nampak sebagai cerita omong kosong (J. Gresham Machen, Christianity and Liberalism, William B. Eerdmans Publishing Co., 1923, reprinted 1983, hal. 66).

Murray mengingatkan bahwa seseorang secara mental mungkin bisa “percaya” Injil tanpa bertobat. Hati nurani harus secara menyeluruh diperhadapkan kepada hukum Taurat, seperti yang ditunjukkan oleh Machen (hal. 13). Kesalahan dari penginjilan “baru” terletak pada berhenti mengkhotbahkan Taurat kepada orang-orang berdosa sehingga mereka mau bekata, ‘Oh Tuhan, selamatkanlah aku dari diriku sendiri” (hal. 14). Hari ini ada begitu banyak “petobat” yang tidak pernah tahu kedalaman dari keadaannya sendiri yang telah rusak, atau tidak pernah takut akan Allah. Murray menentang “decisionisme” modern dengan mengatakan bahwa gol dari penginjilan mula-mula bukanlah memenangkan “orang-orang untuk menerima Kristus.” Ia berkata, “Pertobatan tidak terjadi ketika pengkhotbah mendapatkan orang berdosa menerima khotbahnya” (hal. 15). Sebaliknya orang berdosa harus disadarkan atau diinsafkan akan keadaannya sendiri yang tiada pengharapan, kesombongan hatinya, dan naturnya yang selalu memberontak kepada Allah.

Murray berkata,

…kaum injili pada seratus tahun yang lalu bertentangan dengan orang-orang sesudahnya. Salah satu orang injili yang lebih tua yang meramalkan tentang akan datangnya perubahan adalah C. H. Spurgeon [yang meramalkan bahwa pot berisi Lumpur mendidih dari penyesat” akan mengkharakteristik Kekristenan pada abad dua puluh]; yang lainnya adalah William Booth. Ketika Booth ditanya oleh surat kabar Amerika tentang apakah ia pandang sebagai bahaya untuk abad dua puluh satu, ia menjawab dengan singkat dan padat: “Agama tanpa Roh Kudus, Kekristenan tanpa Kristus, pengampunan tanpa pertobatan, keselamatan tanpa kelahiran kembali, politik tanpa Allah dan sorga tanpa neraka.” Kemunduran dalam khotbah Alkitabiah seperti itu sungguh telah mengambil tempat dan kaum injili yang lebih lemah menjadi tidak dapat mengatasi kesukaran (p. xi).

C. H. Spurgeon menulis,

Kadang-kadang kita ditundukkan untuk berpikir bahwa porsi besar dari kebangunan rohani modern lebih menjadi kutuk dari pada berkat, karena itu telah memimpin ribuan orang untuk merasa damai sebelum mereka mengetahui kebinasaan mereka; mengembalikan anak durhaka ke rumah Bapanya, dan tidak pernah membuat dirinya sendiri berkata, “Bapa, aku telah berdosa.” Kesadaran akan dosa yang ditekankan dalam penginjilan model lama diremehkan… Sebagai konsekwensinya adalah orang-orang itu melompat masuk ke dalam agama dan kemudian melompat keluar lagi. Dengan kesombongan mereka masuk ke dalam gereja, dengan kesombongan mereka tinggal di dalamnya, dan dengan kesombongan mereka pergi keluar dari sana (hal. 27).

Murray berkata, “Peringatan Spurgeon tidak diperhatikan. Kemunduran rohani terus terjadi. Ketika Injil dikhotbahkan tanpa hukum Taurat, iman tanpa pertobatan, sorga tanpa neraka, ketidakpedulian roh meningkat” (ibid.). Sebagai hasilnya secara literal sejumlah besar orang yang tak terhitung jumlahnya telah mengalami “pertobatan” palsu pada hari ini. Tidak akan ada pertobatan sejati tanpa sesuatu yang tajam, kesadaran akan dosa dan ketidaklayakan. Orang-orang tidak akan datang kepada Kristus untuk diselamatkan kecuali mereka dibawa ke bawah Taurat melalui khotbah yang tajam, diikuti dengan pemeriksaan hati nurani oleh pengkhotbah, sendiri dengan orang-orang yang mengaku bertobat (inquirers) dalam ruangan yang tenang setelah khotbah disampaikan,. Hanya dengan khotbah dan konseling yang seperti itulah yang akan membawa mereka untuk mengakhiri usaha mereka sendiri, dan kemudian membawa mereka kepada Kristus untuk diselamatkan.

Dr. Martyn Lloyd-Jones berkata, “Esensi dari penginjilan adalah memulai dengan khotbah tentang Hukum Taurat” (ibid.). Lloyd-Jones berkata,

Usaha penginjilan bukan hanya menyelesaikan masalah-masalah orang…. Hal yang memisahkan Injil dari setiap pengajaran lainnya adalah bahwa Injil terutama merupakan proklamasi dari Allah dan hubungan kita dengan Allah. Bukan masalah-masalah partikuler kita, namun masalah yang sama yang telah datang kepada kita semua, bahwa kita dihakimi sebagai orang-orang berdosa di hadapan Allah yang suci dan hukum Taurat. Itulah penginjilan (ibid.).

Untuk pernyataan itu Iain H. Murray menambahkan,

Kesadaran tentang takut akan Tuhan, dan tentang kebencian-Nya akan dosa yang begitu besar, adalah kebutuhan zaman kita ini (ibid., hal. 31).

Murray secara mutlak benar!

Saya berharap setiap pengkhotbah di seluruh dunia membaca buku Murray yang luar biasa ini, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005). Murray kurang lebih lebih menekankan pandangan Calvinistik tentang kelahiran kembali dan pertobatan dari pada penekanan saya. Namun banyak yang dapat dipelajari dengan membaca bab satu. Saya tidak tahu tentang buku modern yang berbicara sejelas ini untuk zaman kita ini tentang tema penting penginjilan yang benar dan pertobatan sejati. Belilah satu. Baca lagi dan lagi. Itu akan memberikan banyak hal yang baik di zaman yang jahat ini.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”