Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 40 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




“AKU DULU PERCAYA FIKSI DARI ILMU PENGETAHUAN!”
(KHOTBAH #1 DARI KITAB KEJADIAN)

“I USED TO BELIEVE IN SCIENCE FICTION!”
(SERMON #1 ON THE BOOK OF GENESIS)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Peter Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Pagi, 8 Juli 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”
(Kejadian 1:1).


Ketika saya masih kanak-kanak saya pernah bertanya kepada ibu saya, “Bagaimana dunia ini bermula? Dari mana kita berasal?” Ibu saya waktu itu belum menjadi Kristen. Ia telah diajar tentang evolusi di sekolah-sekolah negeri. Ia menjelaskan kepada saya bahwa segala sesuatu bermula dari sebuah ledakan besar dan, lebih dari jutaan tahun, manusia berevolusi. Saya sempat percaya apa yang ia katakan sampai saya berumur dua puluh tahun. Namun saya meninggalkan gagasan-gagasan tentang evolusi itu dan menerima Kejadian pasal pertama sebagai kebenaran ketika saya telah dipertobatkan.

Kemudian, ketika ibu saya berumur delapan puluh tahun, ia juga menjadi orang Kristen. Ia dipimpin kepada Kristus oleh salah satu diaken kami, yaitu Dr. Cagan. Segera setelah itu saya bertanya kepadanya apakah ia sekarang masih mempercayai evolusi itu. Ibu saya berkata, “Robert, saya tidak tahu bagamana kita dapat mempercaya hal gila seperti itu!”

Paman saya Porter Elliott juga pernah percaya teori evolusi. Ia membaca banyak buku fiksi ilmu pengetahuan yang ditulis oleh orang seperti Isaac Asimov. Suatu hari ia menjadi orang Kristen. Dan beberapa waktu kemudian, ia berkata kepada saya, “Yah, saya dulu percaya fiksi ilmu pengetahuan. Namun sakarang saya percaya Alkitab.”

“Saya tidak tahu bagaimana kita dapat mempercayai hal gila seperti itu!” “Saya dulu percaya fiksi ilmu pengetahuan. Namun sekarang saya percaya Alkitab.” Itu adalah kata-kata ibu dan paman saya. Apa yang mereka katakan menunjukkan dua hal. Pertama, realitas iman.

“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibrani 11:3).

Ketika ibu saya dan paman saya mengalami pertobatan mereka dengan cepat dapat memahami “oleh karena iman” bahwa alam semesta dan semua yang ada di dalamnya diciptakan oleh Allah. “Iman” mengacu kepada terbukanya pikiran yang dibutakan oleh dosa akan realitas kuasa Allah yang berdaulat dalam ciptaan.

Kedua, apa yang mereka katakan menunjukkan bahwa teori evolusi juga “iman” – namuan “iman” yang palsu. Paman saya mentransfer imannya dari fiksi ilmu pengetahuan kepada Alkitab. Ibu saya secara tidak sengaja menyebut kepercayaannya yang dulu terhadap evolusi adalah “hal gila,” sungguh seperti itulah!

Para Evolutionis tidak benar-benar mendasarkan kepercayaan mereka pada “penelitian saintifik.” Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka melakukan itu, namun tidak ada bukti saintifik bahwa dunia ini mulai seperti apa yang mereka katakan, atau bahwa hidup itu berevolusi seperti yang mereka jelaskan kepada kita. Metode saintifik tidak digunakan dalam merumuskan gagasan-gagasan evolusi. Dr. George S. Hawke adalah seorang meteorologis di Sydney, Australia. Dr. Hawke berkata,

Ilmu pengetahuan hanya dapat dipercaya bila berhubungan dengan dunia yang sekarang ini; itu tidak dapat dipercaya dalam hubungannya dengan masa lalu (misalnya asal-usul) atau masa depan (misalnya apa yang akan terjadi di akhir zaman), ia tidak dapat secara langsung mengobservasi hal-hal ini. Saya percaya semua ilmuwan harus hati-hati berhubungan dengan asumsi-asumsi mereka, hal-hal seperti ini sebagian besar dapat menentukan penemuan-penemuan mereka. Mereka harus berhati-hati dalam perhitungan [dalam menyimpulkan atau menerka] sesuatu yang berada di luar cakupan observasi… Oleh sebab itu, para ilmuwan hanya dapat membuat spekulasi, membayangkan, dan menerka tentang asal-usul dari kehidupan ini (George S. Hawke, Ph.D., In Six Days: Why Fifty Scientists Choose to Believe in Creation, edited by John Ashton, Ph.D., Master Books, 2002, hal. 349-350).

Artikel pada National Geographic yang berjudul “The Rise of Life on Earth” [“Asal-Usul Kehidupan di Dunia ini”] (Maret, 1998) mengatakan, “Ilmu pengetahuan adalah studi tentang apa yang dapat diuji, fenomena yang dapat diobservasi” dan iman Kristen adalah “kepercayaan yang tak dapat tergoyahkan dalam mempercayai sesuai yang tidak kelihatan.” Dr. Hawke menekankan bahwa pernyataan ini “mengabaikan fakta bahwa tidak ada ‘fenomena yang dapat diuji, dapat diobservasi’ yang nyata dari asal mula kehidupan. [Pandangan mereka] juga bersandarkan pada iman terhadap sesuatu yang tidak kelihatan” (ibid., hal. 344-345).

Tak seorangpun yang dapat menguji atau mengobservasi penciptaan dari dunia ini! Oleh sebab itu, pandangan dari para evolusionis didasarkan pada filosofi, bukan ilmu pengetahuan yang dapat diobservasi, atau diuji. Ambil saja sebagai contoh, misalnya, pernyataan terkenal dari seorang astronom yang bernama Carl Sagan, “Kosmos [alam semesta] adalah semua yang ada sekarang, atau yang pernah ada, atau yang akan selalu ada.” Bagaimana ia dapat mengetahui hal itu? Bagaimana Dr. Sagan dapat menguji dan mengobservasi itu? Ia tidak dapat melakukannya. Oleh sebab itu pernyataannya itu bersandar pada filosofi, dan bukan metode saintifik. Itu adalah pernyataan iman, didasarkan pada “iman” Sagan pada teori evolusi.

Ibu dan paman saya bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, namun mereka berdua sangat cerdas. Mereka membaca segala sesuatu yang dapat ia peroleh. Banyak orang yang lahir sebelum ada televisi yang seperti itu – dulu mereka hanya membaca. Dengan cara mereka yang seperti itu, mereka mengetahui bahwa ide evolusionis tentang asal-usul dari alam semesta hanyalah suatu teori. Ketika mereka telah menjadi orang Kristen mereka membuang hipotesis yang tidak memiliki dasar itu dan mempercayai catatan Alkitab tentang penciptaan.

Dr. John MacArthur, walaupun salah tentang pengajaran Darah Kristus, namun ia benar dalam penilaiannya terhadap pernyataan terkenal dari Carl Sagan itu:

“Kosmos [alam semesta] adalah semua yang ada sekarang, atau yang pernah ada, atau yang akan selalu ada” adalah ungkapan merek dagang Sagan, yang diulang-ulang setiap episode untuk meningkatkan rating seri siaran telivisinya tentang Cosmos. Pernyataan itu sendiri dengan jelas merupakan suatu ajaran tentang iman, bukan kesimpulan saintifik. (Baik Sagan sendiri maupun semua ilmuwan di dunia ini tidak pernah dapat menguji “semua yang ada sekarang, atau yang pernah ada, atau yang akan selalu ada” dengan menggunakan metode saintifik.) Pernyataan Sagan secara sempurna menggambarkan bagaimana materialisme [evolusionisme] modern menyalahi dogma agama [mereka] untuk ilmu pengetahuan yang sejati (John MacArthur, D.D., The Battle for the Beginning, W Publishing Group, A Division of Thomas Nelson, 2001, hal. 12-13).

Baik artikel National Geographic dan posisi Carl Sagan didasarkan pada “iman” dalam filosofi mereka dari pada bersandar pada apa yang dapat diuji, dapat diobservasi, atau observasi saintifik. Ketika seseorang memahami ini seharusnya tidak ada alasan untuk mengelak dari pernyataan yang sederhana dari Alkitab ini,

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”
      (Kejadian 1:1).

Evolusionis Naturalistik seperti Dr. Sagan sering meremehkan orang-orang yang mempercayai catatan Alkitab. Dari pada membuktikan posisi saintifikal mereka, mereka cenderung mengejek dan mentertawakan orang-orang yang mempercayai catatan Kitab Kejadian dari pada menunjukkan bukti yang solid untuk evolusi.

Ini menjadi jelas di kelas-kelas perguruan tinggi ketika William Jennings Bryan dan Scopes Trial didiskusikan. Bryan pernah menjadi calon Presiden dari partai Demokrat tiga kali – pada tahun 1896, 1900, dan 1908. Ketika Woodrow Wilson menjadi Presiden pada tahun 1912 ia dijuluki Bryan Secretary of State [ia menjadi Menteri Sekertaris Negara]. Bryan telah bekerja dengan semangat untuk perdamaian. Pada tahun 1915 ia membuat keberanian moral untuk mengundurkan diri dari pada kembali kepada Presiden Wilson ketika ia mendorong Amerika untuk maju ke Perang Dunia I, “perang yang tak pernah usai,” yang mana sejarah menunjukkan itu tidak “membuat dunia aman untuk demokrasi” seperti yang Wilson janjikan. Seharusnya Amerika tidak ikut campur pada Perang Dunia I, seperti yang Bryan katakan, dan biarlah bangsa-bangsa Eropa mengatasi masalah mereka sendiri. Perang Dunia II mungkin tidak akan pernah terjadi kalau Presiden Wilson mau mendengarkan Bryan. Bryan benar. Wilson salah.

Sepanjang karirnya, sebagai pemimpin dari Partai Demokrat, Bryan mendukung terciptanya kondisi-kondisi yang lebih baik bagi para petani dan para pekerja dan menentang “big business” (yang mana itulah yang menyebabkan ia kehilangan kesempatannya menjadi presiden – karena kelompok “big business” memberikan banyak uang dalam kampanye untuk melawannya). Ia bekerja untuk para senator terpilih yang popular, hak wanita untuk memilih, dan perdamaian internasional. Dengan kata lain, Bryan adalah seorang sosial progresif, namun leberalismenya berakar dalam kebaikan orang Kristen. Pidatonya yang terkenal tentang “salib emas” (cross of gold) adalah suatu permohonan untuk “orang kecil” dalam kehidupan orang Amerika.

Percaya dengan iman pada Alkitab adalah tiang penyangga masyarakat yang besar di Amerika, Bryan membuat pidato-pidato yang sangat terkenal, dan menulis beberapa buku, menentang pengajaran evolusi Darwinian di sekolah-sekolah negeri. Ia sering berkata, “Mengapa orang Kristen harus dipaksa membayar pajak untuk mendukung pengansiran iman anak-anak mereka dengan pengajaran evolusi di sekolah-sekolah kita?” Yang menarik adalah bahwa argumentasinya ini masih sering terdengar pada hari ini. Itu tidak akan pernah berlalu!

Dalam Scopes Trial of 1925, Bryan “mempertahankan reliabilitas Alkitab melawan serangan Clarence Darrow [seorang pengacara agnostic]. Walaupun ia tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan saintifik, Bryan mendukung Alkitab layak dan koheren untuk dipercaya… [Namun] berita nasional [yang dipimpin oleh seorang atheis H. L. Mencken – anti-Semitik yang kemudian mendukung Hitler] menggambarkan Bryan sebagai pelawak berleher merah yang mempermalukan dirinya sendiri dan semua orang-orang Kristen orthodoks sebelum berbudaya dan [yang disebut] ‘saintifik Darrow… Bryan mati beberapa hari setelah pengadilan itu” (M. A. Noll, in Who’s Who in Christian History, edited by J. D. Douglas, Tyndale House Publishers, 1992, p. 112).

H. L. Mencken dan para wartawan lainnya mengecam Bryan karena imannya kepada Alkitab, dan dengan memalukan menertawakan orang baik itu. Banyak ide progresif dari Bryan menolong orang-orang miskin untuk bersatu, secara langsung diambil dari padanya “New Deal” President Franklin D. Roosevelt pada masa Great Depression. Mark Noll berkata, “Itu adalah salah satu ketidak-adilan terbesar dalam sejarah Amerika pada Bryan yang harus diingat pada pengadilan Scopes. Seluruh hidupnya – sebagai seorang reformis sosial, seorang jemaat awam yang sangat taat dari gereja Presbyterian, dan seorang politikus Kristen – menawarkan suatu model yang layak bagi orang-orang evangelical modern untuk terlibat dalam kehidupan publik” (Who’s Who in Christian History, ibid.).

Tiga puluh tahun setelah kematian Bryan, Jerome Lawrence dan Robert Lee menulis drama yang berjudul Inherit the Wind, yang menggambarkan serangan terhadap Bryan yang menentang teori evolusi. Drama ini kemudian dibuat film Hollywood yang menggambarkan Bryan sebagai seorang fanatik, orang bodoh yang berpikiran picik demi kepercayaan-kepercayaannya. Saya memiliki copy dari drama itu di tangan saya, Inherit the Wind, yang diterbitkan oleh Ballantine Books pada tahun 2003, dari edisi Random House tahun 1955. Drama ini, yang didasarkan pada Scopes Trial, secara berulang-ulang menggambarkan orang-orang Kristen yang percaya Alkitab sebagai orang-orang fanatik yang berbahaya. Pada halaman 121 buku drama ini menyebut Bryan, “Anak yatim botak [sesungguhnya ia tidak botak], anak remaja yang memberontak.” Pada halaman 125 buku itu mengatakan tentang Bryan, “Kamu tahu bahwa ia adalah: Pendusta atau penipu yang menggunakan Alkitab sebagai pemukul.”

Dan itulah cara media liberal di Amerika memperlakukan orang-orang Kristen yang percaya Alkitab seperti Bryan sejak saat itu. Pikirkan kekacauan yang akan terjadi hari ini bila pemimpin Muslim, atau seorang Rabi terkenal, disebut, “Anak yatim botak, anak remaja yang memberontak… Pendusta atau penipu yang menggunakan Alkitab sebagai pemukul”! Tentu saya berharap tak seorangpun pernah melakukan itu! Kefanatikan yang ditunjukkan dalam tulisan-tulisan Mencken dan Inherit the Wind seharusnya tidak memiliki tempat dalam masyarakat kita!

H. L. Mencken, seorang journalis yang pernah menulis kisah-kisah surat kabar utama melawan Bryan, berkata ketika ia mati, “Yah, kita telah membunuh anak laki-laki wanita jalang” (William Manchester, Disturber of the Peace: The Life of H. L. Mencken, Harper and Brothers, 1951, hal. 183). Namun Mencken salah. Kita harus memahami bahwa dengan menghina orang-orang Kristen yang ditentang oleh para evolusionis hanya akan menunjukkan kelemahan mereka sendiri. Hari ini, lebih dari delapan puluh tahun setelah Scopes Trial, Bryan sulit untuk “dibunuh.” Ya, mereka menyalibkan dia di salib fanatik dan caci maki, namun ia tidak tinggal dalam kematian. Ia pergi untuk mengumpulkan kekuatan – dan para evolusionis tahu akan hal itu! Buku-buku seperti Darwin’s Black Box: a Challenge to Biochemical Evolution karya Dr. Michael J. Behe dan Evolution: a Theory in Crisis karya Dr. Michael Denton adalah suatu ancaman serius menentang teori evolusi hari ini. Saya memiliki buku-buku itu di perpustakaan saya yang berisikan karangan-karangan dari lima puluh ilmuwan, dengan gelar Ph.D. dalam bidang biologi, biokimia, fisika, genetika, botani atau ilmu tentang tumbuh-tumbuhan, teori ilmu kimia, geofisika, zoologi atau ilmu tentang binatang, geologi, meteriologi, dan astronomi (untuk menyebut beberapa). Semua ilmuwan terkemuka ini telah membuang teori evolusi. Mereka semua percaya catatan kitab Kejadian tentang Penciptaan (lihat John F. Ashton, Ph.D., In Six Days, Master Books, 2002).

Jadi, teori evolusi tetap berada di bawah serangan sampai hari ini dalam komunitas saintifik sendiri. Mengapa? Secara sederhana, karena setelah 150 tahun, teori Darwin belum terbukti – secara saintifik. Itu penuh lubang, dan nampak hancur berkeping-keping. Namun Alkitab tetap bertahan, dengan kesederhanaanya, dengan pernyataan terus terang,

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”
      (Kejadian 1:1).

Dan ketika Anda datang kepada Kristus dengan iman Anda akan, seperti ibu saya, berkata, “Mengapa kita pernah mempercayai hal gila seperti itu?” dan, seperti paman Porter, Anda akan berkata, “Saya dulu percaya fiksi ilmu pengetahuan. Namun sakarang saya percaya Alkitab.”

Datanglah kepada Kristus. Kematian-Nya di kayu Salib akan menebus dosa-dosa Anda. Kebangkitan tubuh-Nya dari antara orang mati akan memberikan kehidupan kekal kepada Anda. Ketika Anda datang kepada Kristus dengan iman Anda akan “dilahir-barukan” (Yohanes 3:3, 7). Ketika Anda dipertobatkan Anda akan memilih Alkitab dari pada fiksi ilmu pengetahuan tentang evolusi, dan Anda akan mengetahui kebenaran proklamisi pada zaman dulu,

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”
      (Kejadian 1:1).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Ibrani 11:1-3.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“How Big is God” (by Stuart Hamblen, 1908-1989).