Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 116,000 komputer di lebih dari 215 negara setiap bulannya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 34 bahasa untuk ribuan orang setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net.




ORANG-ORANG YANG ALLAH PAKAI DALAM KEBANGUNAN ROHANI

(KHOTBAH NO. 12 TENTANG KEBANGUNAN ROHANI)

THE PEOPLE GOD USES IN REVIVAL
(SERMON NUMBER 12 ON REVIVAL)
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 19 Oktober 2014

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (I Korintus 1:27).


Salah satu hal yang paling mencolok tentang kebangunan rohani diberikan dalam teks ini. Allah memilih orang-orang bodoh dan lemah bagi dunia, untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan orang-orang yang kuat. Ini seharusnya menjadi bukti bagi siapa pun yang membaca Alkitab. Ketika Kristus akan segera dilahirkan, Allah memilih seorang gadis remaja dari keluarga miskin untuk menjadi ibu-Nya. Ketika Ia dilahirkan, Allah mengirim para gembala miskin untuk menyembah Dia. Allah tidak mengirim Raja Herodes, atau tua-tua penguasa Israel untuk menyambut bayi itu, Kristus. Sebaliknya Allah mengutus tiga astronom dari negeri kafir yang jauh. Ketika Yesus hendak memulai pelayanan-Nya, Allah tidak mengirimkan Imam Besar untuk mengumumkannya. Sebaliknya, Allah mengutus seorang nabi miskin, Yohanes Pembaptis. Ketika Yesus sudah siap untuk memanggil dua belas Rasul, Ia tidak memilih dua belas orang dari anggota Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi. Sebaliknya, Dia memanggil dua belas nelayan miskin yang tidak terpandang. Dan ketika Yesus memilih pengganti bagi Yudas, Dia memilih seorang pembunuh bernama Saulus dari Tarsus, yang menyebut dirinya “yang paling berdosa” dari antara orang-orang berdosa, yang mungkin adalah seorang pendosa terburuk! Dalam kehidupan Kristus jelas bahwa,

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (I Korintus 1:27).

Bahkan dalam Perjanjian Lama tema ini muncul berulang-ulang. Allah lebih memilih Habel dari pada Kain, meskipun Kain adalah anak sulung, dan oleh sebab itu seharusnya ia yang utama. Allah lebih memilih Yakub dari pada Esau, meskipun Esau adalah anak sulung dan seorang ahli waris. Allah lebih memilih Yusuf dari antara sebelas saudaranya, meskipun ia adalah anak termuda dan paling lemah. Allah lebih memilih Musa dari pada Firaun. Dia lebih memilih penggembala dari pada orang terkuat di bumi pada waktu itu. Allah memilih Gideon untuk menyelamatkan Israel dari orang Midian - meskipun Gideon berkata, “Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil… dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku” (Hakim 6:15). Allah lebih memilih Samuel kecil, seorang anak yang dititipkan, dan bukan kedua anak imam besar. Allah lebih memilih Daud anak gembala dari pada Raja Saul yang perkasa.

Lagi dan lagi, di sepanjang sejarah Kekristenan, pernyataan ini juga selalu benar,

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (I Korintus 1:27).

Orang-orang Kristen mula-mula adalah orang-orang miskin dan terpinggirkan. Kebanyakan dari mereka adalah para budak. Mereka dianiaya sampai mati oleh sepuluh kaisar Romawi. Bahkan mungkin tidak ada yang mengingat nama kaisar-kaisar itu (selain Nero), meskipun mereka adalah orang-orang yang paling kuat di bumi pada saat itu. Namun orang-orang di seluruh dunia mengingat para martir dari katakombe ketika Paus merayakan Misa di Colosseum setiap tahun pada hari Jumat Agung! Mereka adalah para budak yang telah menjadi martir yang dibinasakan oleh kekuatan dan kekuasaan Roma kuno!

Pikirkan tentang Luther. Saya ingin Anda mendengar apa yang dikatakan Dr. Martyn Lloyd-Jones tentang dia:

Apa harapan memiliki seseorang seperti Martin Luther, yang hanyalah seorang biarawan yang tidak dikenal? Siapa dia sehingga berdiri melawan semua Gereja, dan... tradisi abad ke-12 sampai ke-13 dalam arah yang berlawanan? Tampak seperti suatu kekurang-ajaran belaka untuk satu orang ini yang berdiri dan berkata, “Hanya aku sendiri yang benar, dan kalian semua salah.” Itu adalah apa yang akan dikatakan tentang dia hari itu. Namun, Anda lihat, dia adalah orang yang dipakai oleh Roh Allah. Dan meskipun ia adalah seorang diri, ia berdiri, dan berdiri sendirian, dan Roh Kudus menghormatinya. Reformasi Protestan datang, dan berlanjut, dan itu selalu sama... Apa yang saya katakan adalah bahwa ketika Allah mulai bergerak dalam Gereja-Nya, dan ketika Ia sedang mempersiapkan jalan bagi kebangunan rohani, ini adalah bagaimana Ia bekerja. Dia menempatkan beban ini pada orang-orang tertentu, yang dipanggil untuk dikhususkan, seolah-olah tidak nampak, tidak dikenal, dan seakan mereka tidak menyadari beban itu (Martyn Lloyd-Jones, M.D., Revival, Crossway Books, 1987, hlm. 203, 167).

Dan dengan cara yang persis sama Anda menemukan ini dalam sejarah semua kebangunan rohani tersebut. Orang ini, James McQuilken mulai berbicara dengan dua orang lain, dan mereka melihat seluruh situasi, dan ketiga orang ini bertemu bersama dalam ruang kecil sekolah di sebuah jalan sempit. Saya mendapat kehormatan untuk mengunjunginya ketika saya berada di Irlandia Utara. Saya mengubah pemikiran saya, karena saya ingin melihat tempat seperti itu... Mereka merasakan panggilan ini untuk berdoa (Lloyd-Jones, ibid., hlm. 165).

Dan, tentu saja, kebangunan rohani datang di Irlandia Utara pada tahun 1859 ketika ketiga orang berdoa kepada Allah memohon pencurahan Roh Kudus. Kemudian Dr. Lloyd-Jones berkata, “Percayalah, saudara-saudaraku, ketika kebangunan rohani berikutnya datang, itu akan datang sebagai kejutan untuk semua orang, dan terutama bagi mereka yang telah mencoba untuk mengaturnya. Ini akan terjadi dalam cara yang [sederhana] cara yang tidak mencolok. Pria dan wanita hanya menyendiri untuk berdoa karena beban yang mereka rasakan, karena mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri, karena mereka tidak bisa terus hidup tanpa itu. Dan mereka ingin bergabung dengan orang lain yang merasakan hal yang sama, dan berseru kepada Allah” (Lloyd-Jones, ibid., hlm. 165-166)

Dr. Lloyd-Jones melanjutkan dengan mengatakan, “Kemudian Anda semua mungkin akrab dengan cerita tentang Methodisme dengan berbagai alirannya. Bagaimana itu mulai...? Ini dimulai dengan cara yang sama, dengan dua Wesley bersaudara, dan Whitefield, dan yang lainnya, yang adalah anggota dari Gereja Inggris... Untuk beberapa waktu tidak ada yang tahu yang sedang terjadi, selain mereka yang hanya bersekutu bersama-sama karena mereka ditarik oleh kerinduan yang sama” (ibid., hal. 166).

Kita semua mengenal George Whitefield dan John dan Charles Wesley. Tetapi tidak ada yang kenal mereka saat itu. Mereka hanya pemuda biasa yang melihat Gereja Anglikan yang mati, dan ingin melihat Allah dimuliakan melalui pengalaman hidup bersama dengan Kristus.

Seseorang, saya pikir itu adalah Uskup Ryle, yang mengatakan bahwa John Wesley seharusnya diangkat sebagai Uskup Agung Canterbury, pemimpin Gereja Inggris. Tetapi, tentu saja, ia bahkan hanya tidak pernah dipertimbangkan untuk posisi yang tinggi. Sebaliknya, ia diejek dan diolok-olok. Dia diberitahu bahwa dia tidak pernah bisa lagi berkhotbah di Oxford University, di mana dia menamatkan pendidikannya, karena dia mengatakan kepada mahasiswa dan para dosen bahwa mereka harus dilahirkan kembali. Ibunya sendiri, Susannah Wesley, marah dengan dia karena khotbahnya yang “gila” - fanatik - sebelum akhirnya dia sendiri juga bertobat. Selama lima puluh tiga tahun, John Wesley berkhotbah tiga kali dalam sehari dalam kerumunan besar orang yang berkumpul untuk mendengarkan dia di luar gedung di tanah lapang di seluruh Inggris. Tetapi denominasinya sendiri terus mengejek dan mencemooh orang besar ini. Dia tidak pernah dihormati sama sekali sampai dia sudah sangat tua di usianya yang ke delapan puluhan tahun. Sementara itu, selama pelayanan John Wesley, enam orang lainnya menduduki posisi Uskup Agung Canterbury. Berikut adalah nama-nama mereka secara berurutan,

John Potter (1737-1747)
Thomas Herring (1747-1757)
Matthew Hutton (1757-1758)
Thomas Secker (1758-1768)
Frederick Cornwallis (1768-1783)
John Moore (1783-1805).

Saya ragu bahwa siapa pun, kecuali seorang sejarawan Anglikan, yang bisa menyebutkan bahkan satu dari enam uskup tersebut sebagai seorang yang “agung.” Namun hampir setiap orang Kristen tahu nama John Wesley. Dan kebanyakan orang tahu nama saudaranya, Charles, yang himnenya dinyanyikan di gereja-gereja dari setiap denominasi di bumi ini. Tetapi Whitefield dan dua Wesley bersaudara yang kecil ini, tiga pemuda yang tidak dikenal ketika mereka berkumpul dengan beberapa orang lain untuk berdoa bagi pencurahan Roh Kudus pada malam tahun baru, 1738, tepat sebelum Kebangunan Rohani Agung Pertama (First Great Awakening) turun di dunia berbahasa Inggris.

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (I Korintus 1:27).

Ayat ini juga menjelaskan mengapa orang-orang muda selalu menjadi para pemimpin dalam kebangunan rohani. Adalah orang-orang muda di sebuah gereja yang pertama merasakan gerakan Roh Allah di antara mereka. Dan biasanya orang-orang muda yang lapar dan haus akan kebenaran, dan merindukan kebangunan rohani dan realitas Allah.

Kebangunan rohani yang pertama kali saya lihat di Gereja Baptis Cina mulai dari antara orang-orang muda selama kamp musim panas di pegunungan. Saat mereka berkumpul untuk berdoa suatu pagi di kamp itu, Roh Allah turun atas mereka dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga kebangunan rohani berlanjut pada hari Minggu di gereja, setelah mereka kembali dari kamp tersebut. Kebangunan rohani terus berlangsung sepanjang hari Minggu dan malam. Saya masih ingat doa-doa dari orang-orang muda yang berdoa itu. Saya masih ingat rasa kagum dan heran, air mata pertobatan, pengakuan dan doa, dan kedekatan Allah dalam kebaktian tersebut.

Pada kebangunan rohani yang saya saksikan di sebuah gereja Baptis di Virginia, tiga gadis bangkit untuk menyanyi sebagai trio. Mereka mulai menangis karena keinsafan, dan seluruh gereja merasakan yang sering dinyatakan dalam kebangunan rohani – “Allah turun di antara kita.”

“Di Herrnhut di Saxony sebuah kebangunan rohani terjadi di antara orang-orang muda pada tanggal 13 Agustus.” Pada tanggal 29 Agustus “dari jam 10:00 malam sampai pagi hari berikutnya, pemandangan yang benar-benar mengharukan untuk disaksikan, karena anak-anak gadis dari Herrnhut menghabiskan [tiga] jam dalam berdoa, bernyanyi dan menangis. Anak-anak itu pada saat yang sama terlibat dalam doa yang sungguh-sungguh di tempat lain. Semangat doa dan permohonan pada waktu itu dicurahkan ke atas anak-anak itu dengan begitu kuatnya dan manjur sehingga tidak mungkin untuk memberikan deskripsi yang cukup untuk menggambarkan tentang hal itu dalam kata-kata” (John Greenfield, Power From On High, World Wide Revival Prayer Movement, 1950, hlm. 31).

Pada bulan Oktober 1973 kebangunan rohani terjadi di kalangan mahasiswa dari Sekolah Menengah Pertama di Bario di Kalimantan. Dua anak laki-laki mulai berdoa bersama dan secara bertahap seluruh sekolah ditarik, bahkan sampai kepala sekolah mereka sendiri, yang sebelumnya menentang karya Roh, dibawa ke dalam pertobatan (Shirley Lees, Drunk Before Dawn, Overseas Missionary Fellowship, 1979, hlm. 185-189).

Brian H. Edwards mengatakan, “Yang penting adalah bahwa pada saat kebangunan rohani itu adalah... orang-orang muda yang secara khusus ditantang dan berubah, dan dalam banyak kasus mereka adalah orang-orang yang paling tulus merindukan dan berdoa untuk kebangunan rohani, dan di antara mereka kebangunan rohani itu dimulai ... ini adalah aspek kebangunan rohani, meskipun dilaporkan dengan baik, menerima terlalu sedikit perhatian dari orang-orang yang menganalisis faktor-faktor umum kebangunan rohani” (Brian H. Edwards, Revival! A People Saturated With God, Evangelical Press, 1991 edition, hlm. 165).

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (I Korintus 1:27).

Amy Carmichael menggambarkan pencurahan Roh Kudus di India seperti ini,

Itu terjadi pada akhir kebaktian pagi itu. Orang yang berbicara, terpaksa berhenti, dipaksa oleh realisasi kekuatan batin secara tiba-tiba. Itu mustahil bahkan untuk berdoa. Salah satu pemuda yang lebih tua di komisi remaja mulai mencoba untuk berdoa, tetapi ia tersungkur [dalam tangis], lalu dikuti yang lain, maka semua bersama-sama, terutama mulai dari pemuda yang lebih tua. Segera banyak anak yang lebih muda mulai menangis sedih dan berdoa untuk pengampunan. Hal ini menyebar kepada para remaja putri. Itu begitu mengejutkan dan begitu mengherankan - saya tidak dapat menggunakan kata lain - rincian melarikan diri saya. Segera banyak anak muda yang berada di lantai, menangis kepada Allah, setiap laki-laki dan perempuan, pria dan wanita, tidak menyadari [melupakan] semua yang lainnya. Suara itu seperti suara ombak dan angin kencang pada pohon-pohon... Pada awal gerakan itu hampir seluruh anak laki-laki, anak sekolah, anak-anak kami sendiri... dan beberapa anggota yang lebih muda dari jemaat itu bertobat. Tujuh bulan kemudian dia melaporkan, “Hampir semua [orang-orang muda] kami bertobat” (J. Edwin Orr, Ph.D., The Flaming Tongue, Moody Press, 1973, hlm. 18, 19).

Perhatikan kalimat, “Pada awal gerakan itu hampir seluruh anak laki-laki, anak sekolah, anak-anak kami sendiri... dan beberapa anggota yang lebih muda dari jemaat itu bertobat.” Seringkali seperti itulah kebangunan rohani turun atas suatu gereja - ketika orang-orang muda merindukan pencurahan Roh Kudus dalam suatu kebangunan rohani. Saya telah melihat bahkan dengan mata saya sendiri dalam tiga kebangunan rohani, ketika Allah mencurahkan Roh-Nya di dalam kuat kuasa-Nya pada orang-orang muda di Los Angeles, di wilayah San Francisco, dan di Virginia Beach, Virginia.

Sekarang, saya berbicara kepada orang-orang muda kita di sini malam ini. Kami akan memberikan salinan khotbah ini untuk Anda bawa pulang. Saya harap Anda akan membacanya dan membaca ulang setiap hari sampai minggu depan. Dan saya harap Anda akan berdoa kiranya hal-hal dalam khotbah ini terjadi dalam hidup Anda, dan terjadi di gereja kita.

Anda mungkin berpikir, “Dr. Hymers tidak akan pernah membiarkan hal-hal seperti ini terjadi di gereja kita.” Tetapi Anda salah. Saya percaya saya banyak tahu tentang kebangunan rohani sehingga saya tidak akan memadamkan Roh, atau menghentikan manifestasi-Nya, jika Allah berkenan mencurahkan belas kasihan dan mencurahkan kepada kita dalam kuasa kebangunan rohani berdaulat-Nya! Anda bahkan bisa memasukkan kata-kata nabi Yesaya dalam doa-doa Anda,

“Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu” (Isaiah 64:1).

Dr. Chan, mohon memimpin kita di dalam doa.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: I Korintus 1:26-31.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Teach Me to Pray” (oleh Albert S. Reitz, 1879-1966).