KEBANGUNAN ROHANI VS. SIHIR PUTIH!

(REVIVAL VS. WHITE MAGIC!)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Pagi, 23 Augustus 2009

“Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus’” (Kisah Rasul 8:18-19).


Orang yang berkata ini adalah Simon si Tukang Sihir. Ia seorang tukang sihir, dan ia masih memiliki pikiran seorang tukang sihir ketika ia berkata,

“Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus” (Kisah Rasul 8:19).

Simon baru saja menyaksikan kebangunan rohani yang luar biasa yang terjadi di Samaria di bawah pelayanan pemberitaan Kristus oleh Filipus.

“Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu” (Kisah Rasul 8:5-6).

Ini adalah kebangunan rohani yang luar biasa, suatu pencurahan Roh Allah.

Ketika Simon si Tukang Sihir itu melihat kuasa dan kedahsyatan dari kebangunan rohani itu, ia berkata,

“Berikanlah juga kepadaku kuasa itu” (Kisah Rasul 8:19).

Dan ia menawarkan sejumlah uang kepada kedua Rasul itu agar mereka memberikan kuasa itu kepadanya! Ini menunjukkan bahwa Simon masih berpikir seperti seorang tukang sihir!

Itu adalah respon dari seorang tukang sihir terhadap kebangunan rohani, respon seorang tukang sihir! Saya kawatir hal seperti itu lebih banyak lagi yang terjadi hari ini lebih dari pada yang kita sadari. Suatu kali Dr. A. W. Tozer berkata, “Begitu kuatnya hati manusia yang telah dibengkokkan tertuju kepada sihir sehingga sulit sekali jika iman kepada Kristus belum mengikatnya” (A. W. Tozer, “Magic No Part of the Christian Faith,” in Of God and Men, Christian Publications, 1960, hal. 87). Seruan, “Berikanlah kepadaku juga kuasa itu,” sering terdengar dalam lingkaran orang Kristen dalam hubungannya dengan kebangunan rohani, namun saya kawatir bahwa itu jauh lebih dekat dengan sihir atau magis dari pada dengan apa yang Alkitab ajarkan tentang kebangunan rohani sejati. Saya akan menjelaskan itu dengan memberikan tiga poin berikut ini:


1.  Definisi dari sihir.

2.  Perbedaan antar sihir dan kebangunan rohani.

3.  Perbedaan antara doa untuk kebangunan rohani dengan manipulasi sihir/magis.

I. Pertama, definisi dari sihir.

Dr. Merrill F. Unger adalah professor Tafsir Perjanjian Lama di Dallas Theological Seminary dari 1948 sampai 1967. Dalam bukunya, Biblical Demonology (Scripture Press, 1952), Dr. Unger memberikan definisi ini tentang sihir:

Sihir dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan menghasilkan kekuatan yang melampau kekuatan manusia biasa melalui perantara agen-agen supranatural (ibid., hal. 108).

Dalam bukunya, Demons in the World Today (Tyndale House, 1983), Dr. Unger berbicara tentang sihir “putih”:

Sihir putih adalah sihir hitam yang mengenakan topeng kesalehan. Ini biasanya, dalam menjalan sihir, menggunakan nama Allah, Kristus, dan Roh Kudus, atau frase-frase dan istilah-istilah dari Alkitab, namun karakternya bersifat demonic. Ini dilakukan banyak orang yang menyebut diri Kristen… Ini disebut [sihir] “putih” karena dikampanyekan di bawah panji terang, sebaliknya sihir “hitam” secara terbuka berusaha menghubungkan dengan kuasa-kuasa kegelapan (ibid., hal. 85).

Dr. Unger menekankan bahwa “Sihir putih secara sempurna digambarkan dalam peringatan Rasul Paulus:”

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (II Korintus 11:14-15).

Seperti yang dikatakan Dr. Unger, “Sihir putih Sihir dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan menghasilkan kekuatan yang melampau kekuatan manusia biasa melalui perantara agen-agen supranatural.” Ia berkata bahwa “sihir” putih “biasanya, dalam menjalan sihir, menggunakan nama Allah, Kristus, dan Roh Kudus, atau frase-frase dan istilah-istilah dari Alkitab…” Simon si tukang sihir di sini sedang berpikir dalam terminologi sihir “putih” ketika ia berkata,

“Berikanlah juga kepadaku kuasa itu” (Kisah Rasul 8:19).

Dan ia menawarkan uang kepada para rasul itu untuk “mendapatkan” kuasa itu!

II. Kedua, perbedaan antara sihir putih dan kebangunan rohani.

Khotbah Filipus diikuti oleh kebangunan rohani sejati, namun Simon si tukang sihir itu mengiginkan sihir. Ia ingin membeli kuasa supranatural itu untuk “menghasilkan kekuatan yang melampau kekuatan manusia biasa melalui perantara agen-agen supranatural.” Perbedaan dasarnya adalah ini – Filipus memberitakan Kristus (Kisah Rasul 8:5), namun Simon berkata,

“Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus” (Kisah Rasul 8:19).

Ini adalah suatu “saluran.” Ini adalah suatu ide, di dalam sihir, bahwa manusia dapat menjadi “saluran” dari kekuatan supranatural. Dr. Tozer menjelaskan sihir sebagai kekuatan supranatural yang dilakukan dengan “membuat gerak isyarat tertentu atau mengucapkan kata-kata mantara” Tozer, ibid., hal. 85). Nampak bagi saya bahwa “doa orang berdosa” (“doa untuk menerima keselamatan”) yang orang-orang pikir sebagai kesaksian adalah bentuk nyata dari sihir atau magis “putih” ini, dimana dengan mengucapkan kata-kata tertentu secara otomatis menghasilkan kuasa dan keselamatan. Apa bedanya bentuk “penginjilan” ini dengan sihir putih? Jika Anda menolak apa yang saya katakan, jawablah pertanyaan itu!

Saya percaya bahwa Charles G. Finney memperkenalkan unsur-unsur dari sihir “putih” untuk subyek kebangunan rohani. Ini mungkin suatu pikiran baru bagi Anda, jadi perhatikanlah dengan sangat hati-hati. Finney berkata, “Kebangunan rohani bukanlah mujizat, juga tidak bergantung pada mujizat, maksudnya... kebangunan rohani adalah hasil dari penggunaan sarana-sarana yang tepat dan benar ” (Revival Lectures, Revell, n.d., hal. 5). Memang benar bahwa Finney menggunakan nama Allah, kadang-kadang berbicara tentang Kristus, dan adakalanya mengutip ayat Alkitab. Namun sihir “putih” juga seperti itu. Apa yang kita temukan, dalam buku Finney yang berjudul Revival Lectures, sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat mirip dengan “saluran” (“channeling”) dari sihir “putih.” Itu adalah ide bahwa Allah tidak berdaulat dalam mengendalikan kebangunan rohani, dan bahwa kebangunan rohani dapat “disalurkan” melalui orang-orang Kristen dengan “penggunaan sarana-sarana yang tepat dan benar.” Dengan kata lain, Anda dapat membeli untuk mendapatkannya, atau dengan mengucapkan kata-kata atau doa-doa untuk membuat itu terjadi! Finney menolak

…Gereja yang berganggapan bahwa penyebaran agama adalah subyek Kedaulatan Ilahi yang sangat misterius, sehingga tidak ada hubungan alami antara sarana-sarana dan hasilnya. Pada kenyataannya, apa hasilnya? Mengapa, generasi demi generasi telah pergi ke neraka, sementara gereja sedang bermimpi dan menantikan Allah menyelamatkan mereka tanpa menggunakan sarana-sarana tertentu (ibid., ha. 6).

Itu adalah pernyataan yang mutlak salah. Brian Edwards, dalam bukunya Revival! A People Saturated With God (Evangelical Press, 1991, hal. 271-272), memberikan daftar dari 18 kebangunan rohani utama antara 1150 M dan zaman Finney, yang mana jutaan orang dipertobatkan tanpa menggunakan “sarana-sarana” seperti yang dianjurkan Finney untuk mengalami kebangunan rohani. “Sarana-sarana” yang dianjurkan Finney tidak digunakan pada Kebangunan Rohani Agung Pertama dan Kedua (the First and Second Great Awakenings), dan juga tidak digunakan pada Kebangunan Rohani Agung Ketiga (the Third Great Awakening), yang lahir dari pertemuan-pertemuan doa Fulton Street. Tidak, tiga masa agung dari kebangunan rohani di Amerika tidak dihasilkan dengan menggunakan “sarana-sarana” yang dianjurkan oleh Finney – termasuk Kebangunan Rohani Agung Pertama (1730 dan tahun-tahun kemudian) dan Kebangunan Rohani Agung Kedua (1800 dan tahun-tahun kemudian).

Finney menyerang doktrin kedaulatan Allah dengan mempresentasikan secara salah fakta-fakta tentang kebangunan-kebangunan rohani dalam sejarah. Ia melakukan itu karena ia percaya bahwa kebangunan rohani berpusat pada pekerjaan manusia. Itulah sebabnya mengapa ia berkata, “Kebangunan rohani bukanlah mujizat, juga tidak bergantung pada mujizat, maksudnya... Agama adalah hasil pekerjaan manusia. Itu adalah sesuatu yang harus dilakukan manusia” (ibid, hal. 5, 1). Ia salah! Hanya Tuhan yang dapat mendatangkan kuasa itu! Hanya Tuhan yang dapat mendatangkan kebangunan rohani! Itu sama sekali tidak bergantung pada manusia!

Apakah Anda melihat betapa gagasan Finney ini menyerupai sihir “putih”? Dr. Unger berkata, “Sihir dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan menghasilkan kekuatan yang melampau kekuatan manusia biasa melalui perantara agen-agen supranatural.” Bagi Finney, kuasa Allah disaluran melalui gereja ketika kondisi-kondisi tertentu dipenuhi. Saya berkata bahwa itu adalah sihir putih!

Dr. Bill Bright adalah orang baik dalam banyak hal, namun ia dipengaruhi oleh Finney berhubungan dengan kebangunan rohani. Saya tidak menyalahkan dia untuk ini. Saya sendiri pernah dibingungkan oleh ide-ide Finney. Namun Dr. Bright berkata,

Selama puasa empat puluh hari pertama saya pada tahun 1994, Tuhan memberikan kepada saya jaminan bahwa Ia akan mengirimkan kebangunan rohani agung bagi gereja-Nya… Bagaimanapun, dengan jaminan datangnya kebangunan rohani itu adalah suatu peringatan bahwa orang-orang percaya harus memenuhi kondisi-kondisi itu…Kemudian, yang membuat saya kagum, Tuhan berkenan menjawab doa saya agar dua juta orang percaya bergabung bersama saya dalam puasa dan doa selama empat puluh hari untuk membantu menenuhi kondisi-kondisi dari janji itu dan untuk melihat datangnya kebangunan rohani … (Bill Bright, The Transforming Power of Fasting and Prayer, New Life, 1997, hal. 7).

Judul bukunya saja sudah salah, “The Transforming Power of Fasting and Prayer” (“Kuasa yang Mengubahkan dari Puasa dan Doa”). Tidak ada “kuasa yang mengubahkan” di dalam doa dan puasa! Judul itu salah! Satu-satunya kuasa adalah Tuhan sendiri, bukan di dalam puasa atau doa yang orang lakukan atau panjatkan!

“Kondisionalisme” dalam pernyataan itu, seperti juga dalam Finney, kelihatannya sama dengan mengatakan bahwa Allah adalah suatu “kekuatan,” dan bahwa “kekuatan” atau “agensi” dari kuasa Allah dapat diperoleh dengan melakukan hal-hal tertentu. Ini mengingatkan saya tentang pernyataan Dr. Tozer, “Begitu kuatnya hati manusia yang telah dibengkokkan tertuju kepada sihir sehingga sulit sekali jika iman kepada Kristus belum mengikatnya” (A. W. Tozer, ibid., hal. 87). Hanya Tuhan yang dapat mendatangkan kebangunan rohani! Tidak ada satupun dari usaha manusia yang dapat mendatangkan kebangunan rohani. Jika Tuhan tidak mendatangkannya, tidak ada pekerjaan manusia yang dapat membuatnya terjadi!

Kita tidak dapat memperoleh kuasa Tuhan dengan membelinya dengan uang (seperti yang coba dilakukan oleh Simon si tukang sihir), atau dengan berpuasa atau “dengan membuat gerak isyarat tertentu atau mengucapkan kata-kata mantara” (A. W. Tozer, ibid., hal. 85). Tuhan bukan suatu “kekuatan” untuk “disalurkan” melalui gereja jika kita memenuhi “kondisi-kondisi” tertentu. Ini adalah sihir “putih”! Tuhan bukanlah suatau “kekuatan” seperti dalam “Star Wars” (Perang Bintang). Tuhan adalah suatu pribadi. Ia bukanlah “Tuhan sebagaimana kamu dapat fahami,” seperti seorang Pecandu Alkohol yang tidak diketahui namanya (Alcoholics Anonymous) berkata, “Tuhan sebagaimana kamu dapat fahami” adalah iblis. Tuhan yang sejati adalah “Tuhan sebagai yang tidak kamu fahami!” Dan Tuhan tentu saja bukanlah suatau “kekuatan” atau “kuasa.” Tuhan adalah suatu pribadi – dan kita harus berdoa kiranya DIA mengirimkan kebangunan rohani!

III. Ketiga, perbedaan antara doa untuk kebangunan rohani dan manipulasi sihir.

Tuhan adalah suatau pribadi, bukan kekuatan zaman baru! Yesus berkata,

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:9-10).

Kata-kata familier dari “Doa Tuhan” ini menunjukkan kepada kita bahwa kita harus langsung menujukan doa-doa kita kepada Tuhan “di Sorga,” dan bahwa kita harus memohon kehendak-Nya untuk “terjadi di bumi, seperti di sorga.” Iain H. Murray berkata bahwa ini

…bukan janji tentang pemberian kuasa luar biasa [dari Roh Kudus] untuk saat-saat atau keadaan-keadaan atas penentuan kita sendiri… dan ini juga bukan agar kita mendikte Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Kritik-kritik dari pandangan ini bukan hanya bahwa tidak ada teks dalam Alkitab yang menjanjikan hal yang luar biasa itu, namun terlebih mereka mendasarkan keyakinan mereka atas nubuatan-nubuatan masa kini yang seseorang telah buat atau hanya kesan mereka sendiri yang mereka yakini berhubungan dengan Roh Kudus. Dalam sejarah gereja banyak sekali contoh-contoh tentang pengharapan-pengharapan yang salah semacam ini (Iain H. Murray, Pentecost Today? The Biblical Basis for Understanding Revival, Banner of Truth, 1998, hal. 76-77).

Lagi, Murray berkata, “Terlalu sering pada abad dua puluh satu ini di mana ada iman di dalam ‘kebangunan rohnia’ namun sedikit iman di dalam Tuhan itu sendiri” (ibid., hal. 78).

Yesus mengajar kita untuk berdoa kiranya kehendak Tuhan terjadi. Kita tidak dapat mendikte Tuhan entah Ia mau mengirimkan kebangunan rohani atau tidak. Kita dapat, dan seharusnya, berdoa untuk kebangunan rohani itu. Namun pada akhirnya datangnya kebangunan rohani itu sendiri sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Itulah perbedaan antara doa untuk kebangunan rohani dan sihir “putih” yang diperkenalkan oleh Charles G. Finney.

Ketika Simon si tukang Sihir itu berkata

“Berikanlah juga kepadaku kuasa itu” (Kisah Rasul 8:19)

ia masih berpikir seperti seorang tukang sihir, dalam terminologi magis. Ia berpikir bahwa kuasa Tuhan dapat dikendalikan, dan disalurkan melalui dia. Ia berpikir bahwa ia dapat mengucapkan kata-kata tertentu [seperti kata-kata mantra] dan kemudian memperoleh apa yang ia inginkan. Ia berpikir tentang suatu ”kukuatan” manipulasi dari pada berdoa kepada Tuhan. Bagi saya, betapa banyak orang-orang yang seperti Simon itu hari ini!

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar tentang seorang pendeta Baptis yang mengkhotbahkan tema, “How to Get God to Do Things” (“Bagaimana Membuat Tuhan Melakukan Banyak Hal”). Banyak pengajar-pengajar “iman” memiliki penekanan yang sama dengan ini. Saya berpikir ini menyatakan cara berpikir magis. Kita tidak dapat “membuat” Tuhan melakukan hal-hal yang kita kehendaki! Kita dapat meminta Tuhan melakukan hal-hal itu – namun Ia memiliki otoritas ilahi untuk mengatakan “tidak!”

Mari kita membuka II Korintus 12:8-9. Rasul Paulus berkata,

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (II Korintus 12:8-9).

Doa-doa Paulus tidak dijawab sesuai dengan apa yang ia inginkan, walaupun ia sudah berulangkali dan berusaha sungguh-sungguh!

Yesus mengajar kepada kita untuk berdoa kiranya kehendak Tuhan terjadi. Kita tidak dapat mendikte Tuhan agar Ia mau menjawab doa-doa kita sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita dapat dan harus berdoa dan berpuasa untuk kebangunan rohani. Namun pada akhirnya biarlah Tuhan memberikan jawaban terbaik menurut kehendak-Nya. Seperti itu jugalah bagi Rasul Paulus, dalam II Korintus 12:8-9, kita harus menerima jawaban yang Tuhan berikan kepada kita – entah itu ”iya” atau “tidak.”

Apakah doa yang ”penuh kuasa,” atau doa dari banyak orang, selalu mendahului kebangunan rohani? Untuk memastikan, doa-doa yang kuat sering datang sebelum kebangunan rohani, namun Alkitab mengajar bahwa ini tidak selalu demikian. Kebangunan rohani teragung dalam sejarah manusia dinubuatkan dalam Wahyu 7:1-14. Namun kita diberitahu bahwa kebangunan rohani ini tidak akan didahului oleh satu doa pun dari orang Kristen di bumi ini! Kita diberitahu bahwa tidak akan ada satu orang Kristen pun di bumi yang berdoa untuk kebangunan rohani yang luar biasa itu ketika hal itu terjadi di akhir masa Kesusahan Besar!

Saya pikir itu seharusnya menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan dapat mengirimkan kebangunan rohani tanpa doa-doa dari umat Tuhan di bumi. Mari membuka Wahyu 7:10. Suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya diselamatkan pada kebangunan rohani masa Kesusahan Besar itu akan berseru,

“Dan dengan suara nyaring mereka berseru: ‘Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!’… sambil berkata: ‘Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!’” (Wahyu 7:10, 12).

Tuhan sendiri perancang dari keselamatan dan kebangunan rohani! Rasul Petrus memahami ini. Mari kita membuka Kisah Rasul 3:12. Petrus berkata,

“Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Anak-Nya, yaitu Yesus…”
       (Kisah Rasul 3:12-13).

Itu bukan oleh “karena kuasa dan kesalehan” yang menghasilkan kebangunan rohani – atau mujizat-mujizat lainnya! Allah mengirimkan kebangunan rohani menurut kehendak-Nya sendiri – untuk memuliakan Anak-Nya Yesus!

Ya, kita seharusnya berpuasa dan berdoa untuk kebangunan rohani! Namun kita seharusnya terus menerus mengingat bahwa Allah lah yang akan mendatangkannya – untuk memuliakan Anak-Nya Yesus! Allah sendiri adalah perancang dari kebangunan rohani! Mari nyanyikan lagu nomer tiga!

Allah bertindak dengan cara yang tak terduga untuk menunjukkan kuasa-Nya;
Ia menapakkan kaki-Nya di Laut, dan mengendarai badai
   (“God Moves in a Mysterious Way” by William Cowper, 1731-1800).

Berdoalah kepada Tuhan untuk mengirimkan kebangunan rohani! Ia tidak terikat! Ia tidak lemah! Ia adalah Tuhan Allah yang Mahakuasa! Berdoalah kiranya Dia mengirimkan kebangunan rohani – menurut kehendak-Nya! Ketika Tuhan memutuskan untuk mengirimkan kebangunan rohani, maka kebangunan rohani itu akan terjadi, dan tanpa itu tidak akan mungkin terjadi! Saya percaya bahwa Tuhan telah menarik tangan-Nya dari Amerika Serikat. Itulah sebabnya mengapa tidak ada kebangunan rohani sama sekali di sini hari ini. Namun Tuhan sedang mengirimkan kebangunan rohani yang luar biasa sekarang ini di berbagai belahan dunia, khususnya di China dan Asia Tenggara. Namun para pengkhotbah Amerika begitu takut berbicara menentang dosa agar kebangunan rohani terjadi di Amerika Serikat. Gereja-gereja di sini sama persis dengan jemaat Laodikia, dan akan tetap begitu!

“Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17).

Sobatku, Tuhan akan memuntahkan gereja-gereja Laodikia di Amerika Serikiat dari mulut-Nya! Saya tidak melihat kebangunan rohani terjadi di antara gereja-gereja dengan para pendeta atau pengkhotbah penakutnya. Tidak ada khotbah model lama di Amerika Serikat. Dulu seorang penulis Baptis yang saya ajak bicara meratapi fakta bahwa tidak ada khotbah yang agung sekarang ini. Namun pada kenyataannya malah tidak ada khotbah sama sekali! Apa yang kita miliki hari ini adalah pengajaran Alkitab, dengan nada percakapan. Khotbah yang riil telah tiada di Amerika. Itu adalah salah satu alasan mengapa tidak terjadi kebangunan rohani di sini. Para pengkhotbah lebih tertarik menjaga keamanan gajinya dari pada memenangkan jiwa, atau melihat Tuhan bekerja dalam kebangunan rohani! Kita tidak memiliki pengkhotbah seperti Bunyan, Whitefield atau Wesley; kita bahkan tidak memiliki pengkhotbah sekaliber Timothy Dwight atau Dr. Asahel Nettleton. Kita bahkan tidak memiliki para pengkhotbah luar biasa seperti yang pernah saya dengar pada waktu saya masih muda. Tidak akan ada kebangunan rohani tanpa khotbah yang riil, khotbah tentang kerusakan total manusia, natur manusia yang berdosa, dan kebutuhan mutlak akan Darah Kristus!

Jika Anda masih belum diselamatkan, saya menasehatkan Anda untuk bertobat, mengalami keinsafan akan dosa, dan datang kepada Yesus dan percaya kepada Dia. Ia telah mati di kayu Salib untuk menebus dosa-dosa Anda. Ia telah bangkit dari antara orang mati, dan Ia hidup di Sorga, di sebelah kanan Allah. Datanglah kepada Kristus. Darah-Nya dapat menyucikan semua dosa-dosa Anda. Percayalah kepada Kristus. Ia dapat menyelamatkan Anda dari dosa, Neraka, dan alam maut! Itu bukan sihir! Itu adalah Injil Kristus!

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on “Khotbah Indonesia.”

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Kisah Rasul 8:5-23.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Revive Thy Work, O Lord” (by Albert Midlane, 1825-1909).


GARIS BESAR KHOTBAH

KEBANGUNAN ROHANI VS. SIHIR PUTIH!

(REVIVAL VS. WHITE MAGIC!)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus’” (Kisah Rasul 8:18-19).

(Kisah Rasul 8:5-6)

I.   Pertama, definisi dari sihir, II Korintus 11:14-15.

II.  Kedua, perbedaan antara sihir putih dan kebangunan rohani, Kisah Rasul 8:5, 19.

III. Ketiga, perbedaan antara doa untuk kebangunan rohani dan manipulasi sihir., Matius 6:9-10; II Korintus 12:8-9; Wahyu 7:10, 12; Kisah Rasul 3:12-13; Wahyu 3:17.