MODEL KHOTBAH PENGINJILAN PETRUS

(KHOTBAH #4 KHOTBAH PENGINJILAN)

(PETER’S MODEL FOR EVANGELISTIC PREACHING)
(SERMON #4 ON EVANGELISTIC PREACHING)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Malam, 18 Mei 2008


Tidak seperti biasanya malam ini kita memiliki perikop yang panjang. Ini adalah khotbah Rasul Petrus pada hari pentakosta. Saya akan membacakan keseluruhan dari khotbah ini dan kemudian mengomentarinya. Berhubungan dengan khotbah ini, Spurgeon pernah berkata,

Saya berpikir bahwa khotbah Petrus, pada hari Pentakosta, ini adalah salah satu dari khotbah yang paling luar biasa yang pernah disampaikan, karena khotbah ini telah menyebabkan tiga ribu orang insaf, bertobat, mengakui iman, dan bergabung dengan gereja yang kelihatan (C. H. Spurgeon, “Heart Piercing,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, volume LIV, hal. 353).

Inilah khotbah lengkap dari Petrus ini, mulai dari Kisah Rasul 2:14 sampai 42:

“Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.’ Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’ Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ‘Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.’ Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kisah Rasul 2:14-41).

Setelah membaca keseluruhan dari khotbah Petrus yang disampaikan pada hari Pentakosta ini, selanjutnya saya akan memberikan tiga observasi kepada Anda; pertama, berhubungan dengan khotbah itu sendiri; kedua, berhubungan dengan reaksi terhadap khotbah itu; dan ketiga, aplikasi dari khotbah itu.

I. Pertama, khotbah itu sendiri.

Ini harus menjadi salah satu khotbah teragung yang pernah dikhotbahkan! Ini adalah khotbah penginjilan pertama yang disampaikan setelah Kristus naik ke Sorga. Tiga ribu orang yang mendengarnya dipertobatkan – dan kemudian bergabung menjadi anggota jemaat lokal di Yerusalem! Oleh sebab itu, saya tidak memiliki keraguan bahwa ini adalah khotbah penginjilan teragung pada Zaman Rasuli. Namun itu harus menjadi peringatan bagi para pengkhotbah masa kini, karena dalam banyak hal khotbah ini tidak seperti khotbah masa kini, begitu berbeda dalam banyak cara dengan khotbah penginjilan hari ini.

Perhatikan bahwa di sini tidak mulai dengan kasih Tuhan bagi orang-orang berdosa. Pada kenyataannya kasih Tuhan tidak pernah ditekankan dalam khotbah ini! Ini adalah segala sesuatu tentang pengajaran dan hukum Taurat. Ini adalah segala sesuatu tentang pengajaran-pengajaran Injil, dan dosa-dosa manusia. Bukan kasih yang ditekankan di sini! Itu harus mengejutkan kita! Kapan kita mendengar khotbah seperti itu pada zaman ini? Namun, pada tiga Kebangunan Rohani (Great Awakenings), dan pada kebangunan-kebangunan rohani di masa lalu, khotbah-khotbah seperti ini adalah khotbah yang umumnya dikhotbahkan oleh George Whitefield, John Wesley, Howell Harris, Christmas Evans, Jonathan Edwards, Asahel Nettleton, Timothy Dwight dan begitu banyak pengkhotbah penginjilan lain yang luar biasa dan penuh kuasa!

Bahkan pada zaman modern ini juga ada yang demikian. Mungkin khotbah penginjilan teragung yang pernah saya dengar secara pribadi adalah “Payday Someday” oleh Dr. R. G. Lee. Saya pernah mendengar itu secara pribadi dua kali. Itu adalah salah satu dari khotbah penginjilan yang terkenal dari abad dua puluh. Namun ada sedikit di dalamnya tentang kasih Tuhan! Khotbah itu banyak berbicara tentang Murka Tuhan – kepastian tentang penghukuman Tuhan atas orang-orang berdosa. Itu sama sekali bukan khotbah tentang kasih Tuhan! Dr. Lee berkhotbah bahwa orang-orang terhilang akan dihakimi dan dihukum jika mereka tidak percaya Kristus. Dan ribuan orang meresponinya. Dr. Lee mengkhotbahkan khotbah itu ratusan kali, di seluruh dunia.

Yang paling terkenal dari semua khotbah penginjilan dalam bahasa Inggris adalah khotbah Jonathan Edwards “Sinners in the Hands of an Angry God” [“Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka” telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Momentum]. Ini bahkan diajarkan di banyak perguruan tinggi umum, misalnya tentang khotbah Puritan. Banyak perguruan tinggi mengajarkannya! Ribuan orang telah diselamatkan melalui khotbah ini. Namun saya tidak ingat bila ada satu kata tentang kasih Allah di dalamnya! Ia dengan sederhana menyampaikan kepada orang-orang berdosa untuk lari kepada Kristus pada beberapa kalimat terakhirnya. Inti dari khotbah ini murni tentang hukum dan penghakiman akan dosa!

Petrus lebih banyak menekankan tentang Injil dalam khotbahnya pada hari Pentakosa, seperti halnya khotbah-khotbah penginjilan Jonathan Edwards, dan Dr. R. G. Lee, khotbah Petrus tidak menekankan tentang kasih Allah. Penekanannya adalah tentang dosa manusia, bukan kasih Allah. Itulah yang menunjukkan di mana khotbah-khotbah penginjilan masa kini salah. Itu tidak seperti kebiasaan khotbah penginjilan masa kini. Dan saya berpikir itu adalah suatu kekurangan. Karena tanpa penekanan yang kuat tentang dosa manusia, Injil tidak akan nampak dibutuhkan bagi orang terhilang.

Dan, catat bahwa itu tidak mulai dengan memenuhi “kebutuhan” orang-orang yang datang atau memberikan kepada mereka “tujuan” bagi hidup mereka. Hal-hal itu adalah yang paling utama dalam khotbah masa kini, namun semua itu tidak ditemukan di manapun dalam khotbah Petrus. Ia justru menegur mereka atas dosa-dosa mereka, dan tentang Injil Kristus,

“Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kisah Rasul 2:23-24).

“Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kisah Rasul 2:36).

Jadi yang harus kita perhatikan adalah keutamaan dari penyaliban dan kebangkitan Kristus dalam khotbah ini. Ia menekankan penyaliban dua kali (lihat Kisah Rasul 2:23, 36), dan keseluruhan dari paruh kedua dari khotbah ini difokuskan kepada kebangkitan Kristus (Kisah Rasul 2:25-36). Di mana kita mendengar penekanan tentang penyaliban dan kebangkitan Kristus sebanyak itu pada hari ini? Pada umumnya telah diasumsikan bahwa orang telah mengetahui tentang semua hal itu, sehingga mereka mengabaikannya, atau bahkan tidak menekankannya. Betapa ini berbeda dengan khotbah Petrus!

Seberapa sering para pengkhotbah mencurahkan seluruh khotbahnya untuk berbicara tentang penyaliban dan kebangkitan Kristus? Mungkin ada satu atau dua khotbah tentang tema ini sekali setahun – yaitu pada perayaan Paskah. Namun apakah pada kesempatan lain di sepanjang tahun ada even-even khusus untuk menjadikan penyaliban dan kebangkitan sebagai topik utama khotbah? Sangat sedikit. Sungguh sangat sedikit! Betapa itu menyedihkan dan mengerikan! Betapa seperti itulah khotbah “penginjilan” masa kini! Itu sungguh memalukan bahwa penyaliban dan kebangkitan Kristus justru jauh lebih banyak dan sering ditekankan di gereja-gereja Episkopal dan Katolik dari pada di gereja-gereja kita! Sungguh memalukan kita karena kita gagal memberitakan Injil! Sungguh memalukan kita karena tidak mengkhotbahkan khotbah Injil secara menyeluruh!

Pada kenyataannya, di mana kita benar-benar mendengar khotbah penginjilan di zaman yang jahat ini? Hampir semua pengkhotbah kita lebih banyak menekankan “mengajar orang Kristen” dari pada mengkhotbahkan Injil! Khotbah-khotbah mereka “berpusat pada Alkitab” (“Bible-centered”), namun tidak “berpusat pada Kristus” (“Christ-centered”). Oh, kiranya saya tidak pernah jatuh ke dalam perangkap untuk menekankan pengajaran bagi “orang-orang percaya” sementara gereja saya memiliki begitu banyak orang yang masih terhilang yang dibawa ke sini untuk mengikuti Kebaktian Minggu melalui penginjilan pribadi. Oh, kiranya saya dapat memutuskan seperti Rasul Paulus,

“Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (I Korintus 2:2).

Seseorang mungkin menolaknya dengan berkata, “Ini akan menghasilkan orang-orang Kristen yang lemah!” Saya berkata, “Tidak mungkin.” Khotbah tentang hukum Taurat yang keras dan khotbah penginjilan, yang dikhotbahkan Minggu demi Minggu, telah menghasilkan orang-orang Kristen terbaik dan begitu tulus di gereja kami sebagaimana saya tahu! Orang Kristen kedagingan dan lemah dihasilkan dalam suatu gereja ketika orang-orang itu tidak diingatkan secara terus-menerus tentang kematian Kristus bagi dosa-dosa kita, begitu juga fakta diri kita yang penuh dengan dosa. Paling tidak dua dari anggota gereja kami bertobat di gereja ini dengan mendengar khotbah Injil dan Taurat yang keras, termasuk salah satunya adalah istri saya sendiri, Ileana.

Lagi, tidak ada lelucon dalam khotbah Petrus. Tidak satupun! Tidak ada cetita lucu yang diceritakan untuk “mengendurkan” keseriusan pendengar. Anda tidak dapat membayangkan Petrus sedang berkhotbah dengan lucu! Betapa ini berbeda dengan para pengkhotbah masa kini, yang sepertinya tidak dapat mengkhotbahkan khotbah penginjilan tanpa memberi pendahuluan dengan satu atau dua lelucon. Petrus tidak pernah melakukan itu. Jonathan Edwards juga tidak pernah melakukan itu, Wesley, Whitefield dan Spurgeon juga tidak pernah melakukan itu. Mereka semua, seperti Petrus, menyampaikan khotbahnya dengan sepenuh hati! Mereka terlalu serius untuk menceritakan suatu lelucon, ketika jiwa-jiwa yang kepada mereka ia sedang berkhotbah berada dalam bahaya penghakiman kekal! Richard Baxter berkata,

Saya berkhotbah seperti orang yang sedang sekarat kepada orang yang sedang sekarat.

Itulah cara Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta, dan itu juga yang seharusnya menjadi cara saya berkhotbah jika berita penginjilan saya ingin menggerakkan orang-orang untuk bertobat dan menjadi orang suci di gereja lokal kita ini.

Juga, khotbah Petrus tidak memberikan panggilan respons fisikal, atau semacam undangan untuk “pengambilan keputusan.” Ia pasti tidak meminta mereka untuk mengangkat tangan mereka, maju ke depan, atau menyuruh mereka “menaikan doa orang berdosa.” Ia hanya meminta mereka untuk bertobat dan kemudian memberi diri dibaptis. Ia tidak meminta mereka angkat tangan, tanpa pendekatan yang dilakukan pada masa kini untuk membuat suatu “keputusan.”

Tidak diragukan lagi bahwa Petrus lebih banyak menjelaskan tentang Injil kepada mereka diakhir khotbahnya, ketika

“dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” (Kisah Rasul 2:40).

Kita tidak diberitahu sama sekali apa yang ia katakan setelah itu, namun pastinya itu adalah suatu penguatan dari nasehat singkat yang ia berikan dalam ayat 38. Perkataan-perkataan yang ia sampaikan setelah khotbah ini adalah suatu aplikasi singkat tentang apa yang ia telah khotbahkan, memberikan pelajaran yang lebih mendalam kepada mereka tentang keselamatkan, karena ayat ini mengatakan,

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kisah Rasul 2:41).

Kata “jumlah mereka bertambah” mengacu pada penambahan jumlah anggota gereja lokal di Yerusalem, yang lagi ditekankan dalam ayat 47,

“Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah [jemaat di Yerusalem] mereka dengan orang yang diselamatkan”
      (Kisah Rasul 2:47).

Itulah beberapa pemikiran saya tentang khotbah Petrus itu sendiri. Pemikiran-pemikiran inilah yang menuntun saya ketika saya berkhotbah. Namun saya harus memberikan satu pikiran saya yang terakhir. Lihat ayat 14.

“Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka …”
      (Kisah Rasul 2:14).

“Dengan suara nyaring” ia berkata ketika ia berkhotbah. Ia berseru dan berkhotbah dengan suara nyaring kepada mereka. Saya percaya bahwa khotbah dengan suara nyaring adalah ciri khas dari semua khotbah penginjilan sejati. Orang-orang tidak dapat “diajar” menjadi orang Kristen dengan suara pelan dan lembut. Mereka harus “dikhotbahi” untuk insaf dan bertobat, dan ini mensyaratkan bahwa pengkhotbah hari ini harus menyampaikan khotbahnya dengan “suara nyaring” dan tanpa takut berkhotbah tentang hukum Tuhan dan penghakiman Tuhan, seperti halnya Injil Kristus. Pengajaran Alkitab dengan suara lembut cenderung tidak mempertobatkan orang berdosa! Petrus tidak memiliki “PowerPoints” dan layar video! Tidak ada pengkhotbah besar yang pernah bergantung pada alat bantu atau alat-alat semacam itu! Senjata dalam peperangan rohani kita bersifat rohani – kuasa Roh Kudus yang bekerja pada saat pemberitaan Firman Tuhan! Tuhan berfirman kepada Yesaya,

“Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!” (Yesaya 58:1).

Nasehat dari nabi ini diikuti oleh Petrus ketika “dengan suara nyaring ia berkata” (Kisah Rasul 2:14) dan persis seperti apa yang Tuhan firmankan kepada Yesaya,

“Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!” (Yesaya 58:1).

Kita akan menjadi jauh lebih baik jika kita mengikuti gaya khotbah penginjilan Oliver B. Greene dari pada mengikuti “pengajaran” kering dari begitu banyak orang yang menyamar sebagai pengkhotbah Injil hari ini, namun yang tidak pernah mengarahkan hati orang-orang berdosa seperti yang dilakukan oleh Oliver B. Greene (khotbahnya masih dapat didengarkan di radio di berbagai tempat, walaupun ia telah meninggal beberapa tahun yang lalu). Walaupun saya tidak setuju dengan undangan “decisionist” yang biasanya diberikan oleh Dr. Greene, sepenuh hati saya setuju dengan keseriusannya, gaya khotbahnya yang lantang, dan menusuk. Khotbah seperti apa yang bisa membangunkan generasi yang sedang tertidur ini dari dosa-dosa mereka? Bagaimanapun saya berdoa kiranya Tuhan mau membangunkan generasi baru dari orang-orang muda ini yang akan berkhotbah dengan “suara nyaring”, dan berkhotbah dengan keras seperti yang dilakukan Petrus pada hari Pentakosta! Itulah beberapa pemikiran saya tentang khotbah itu sendiri – khotbah yang disampaikan oleh Petrus pada hari Pentakosta! Namun selanjutnya saya harus masuk ke poin kedua.

II. Kedua, reaksi terhadap khotbah itu.

Saya tidak berpikir bahwa semua orang yang kepada mereka Petrus berkhotbah pada hari itu mengalami pertobatan sejati. Tidak semua yang tertembus hatinya. Tidak semua orang yang mendengarnya terbangun menyadari keadaan mereka yang sedang berada dalam bahaya, menyadari kenyataan bahwa mereka penuh dosa, sama jahatya dengan para prajurit Romawi yang menyalibkan sang Juruselamat. Namun banyak dari mereka yang diinsafkan ketika Petrus berkhotbah,

“Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kisah Rasul 2:36).

Mereka langsung sadar bahwa mereka telah menolak Yesus Kristus, yang telah mati di kayu Salib untuk menyelamatkan mereka. Reaksi ini, hati mereka yang tertembus ini, ketika mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi penyebab Dia disalibkan melalui penolakan mereka terhadap Dia, menembus hati mereka dengan teguran hati yang sangat menyiksa.

Para pengkhotbah hari ini harus meletakkan hukum Tuhan di atas subyek ini: Ia telah mati karena dosa-dosa Anda, namun Anda telah menolak Dia. Allah telah menyatakan bahwa Yesus adalah “Tuhan dan Kristus” (Kisah Rasul 2:36), namun Anda telah menolak Dia.

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’”
      (Kisah Rasul 2:37).

Hati mereka yang tertembus, nurani mereka yang tertembus, oleh khotbah Petrus yang berani, mendorong mereka untuk berseru,

“Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
      (Kisah Rasul 2:37).

Ini memberikan Petrus kesempatan untuk mengatakan kepada mereka,

“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis” (Kisah Rasul 2:38).

Petrus menggunakan satu kata – “bertobatlah” – yang berarti “perubahan hati.” Ia menjelaskan kepada mereka bahwa hati mereka harus diubahkan – bahwa mereka harus berhenti menolak Kristus, dan menerima perubahan sempurna dalam hati mereka. Ia bermaksud untuk mengatakan, “Ubahlah cara berpikir kamu tentang Yesus! Berbaliklah kepada Dia! Berhentilah mempercayai atau mengandalkan kekuatan dirimu sendiri, dan percayalah kepada Kristus!” Mereka harus berhenti mengasihi dunia dan berpaling kepada Kristus. Mereka harus berpaling dari dosa kepada sang Juruselamat. Mereka harus menerima perubahan hati yang mendalam oleh karya Tuhan! Inilah apa yang dimaksud dengan pertobatan.

Ketika Tuhan memberikan kepada Anda pertobatan, seketika itu jugalah Anda akan diselamatkan, karena hati Anda akan berhenti berpusat pada diri sendiri. Anda akan datang kepada Kristus dan percaya kepada Dia, dari pada percaya pada kekuatan diri Anda sendiri!

Perhatikanlah bahwa ini bukanlah pertobatan yang dangkal. Oh, tidak! Ketika mereka percaya kepada Yesus dari pada percaya pada kekuatan diri mereka sendiri seketika itu juga mereka mengalami pertobatan, disucikan oleh Darah-Nya, dan diselamatkan. Kemudian mereka dibaptis dan bergabung dengan jemaat lokal di Yerusalem, seperti yang nampak jelas dalam Kisah Rasul 2:41, 2:47. Pertobatan yang tidak menggerakkan seseorang menjadi anggota jemaat lokal yang setia adalah pertobatan yang palsu! Pertobatan yang sejati yang mengikuti khotbah Petrus membawa mereka untuk bergabung menjadi anggota jemaat lokal. Semua “pengambilan keputusan” yang tidak menghasilkan anggota jemaat yang solid sepenunya adalah palsu! Mereka bukanlah para petobat yang sejati.

III. Ketiga, aplikasi dari khotbah ini untuk Anda.

Khotbah saya harus mengkonfontrasi Anda dengan Injil, kematian dan kebangkitan Kristus, yang mana itu adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa dan Neraka.

Khotbah saya harus membawa Anda bertemu muka dengan muka dengan kesalahan Anda sendiri, khususnya dosa penolakan Anda terhadap Yesus. Dan betapa itu adalah dosa yang sangat mengerikan! Ini adalah khotbah tentang “hukum Tuhan,”

“karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”
      (Roma 3:20).

Jika bukan penolakan Anda akan Kristus yang dapat menusuk hati Anda, apa lagi yang akan dapat menusuk hati Anda? Keseluruhan dari khotbah Petrus disampaikan untuk mengumumkan dosa mereka karena telah menolak Kristus (Kisah Rasul 2:36).

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’”
      (Kisah Rasul 2:37).

Itulah yang harus Anda rasakan. Anda harus ditusuk, dibuat terharu, nurani Anda harus ditusuk oleh dosa penolakan Anda akan Kristus. Respon mereka,

“Apakah yang harus kami perbuat?” (Kisah Rasul 2:37).

persis seperti apa yang harus Anda rasakan. Anda harus diinsafkan dari dosa atau Anda tidak akan memperhatikan atau mentaati konseling dari diakon dan gembala Anda, ketika mereka berbicara dengan Anda di ruang khusus setelah khotbah ini selesai.

Inilah doa saya agar hati nurani Anda sungguh akan tertusuk, sehingga Anda segera berseru, “Apa yang harus [aku] perbuat?” dan supaya Anda mau datang kepada Yesus, dan menemukan keselamatan, peristirahatan dan damai sejahtera “oleh iman di dalam darah-Nya” (Roma 3:25). Kiranya demikian juga dengan Anda. Amin.

(SELESAI)
Anda dapat membaca khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet.
di www.realconversion.com. Klik on “Manuskrip-Manuskrip Khotbah.”

Persembahan Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“A Crown of Thorns” (by Ira F. Stanphill, 1914-1993).


GARIS BESAR KHOTBAH

MODEL KHOTBAH PENGINJILAN PETRUS

(KHOTBAH #4 KHOTBAH PENGINJILAN)

(PETER’S MODEL FOR EVANGELISTIC PREACHING)
(SERMON #4 ON EVANGELISTIC PREACHING)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Kisah Rasul 2:14-41

I.   Pertama, khotbah itu sendiri, Kisah Rasul 2:23-24, 36;
I Korintus 2:2; Kisah Rasul 2:40, 41, 47, 14; Yesaya 58:1.

II.  Kedua, reaksi terhadap khotbah itu, Kisah Rasul 2:36, 37, 38.

III. Ketiga, aplikasi dari khotbah ini untuk Anda, Roma 3:20;
Kisah Rasul 2:36, 37; Roma 3:25.