Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 1,500,000 komputer di lebih dari 221 negara setiap tahunnya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube, tetapi mereka akan segera meninggalkan YouTube dan mengunjungi langsung ke website kami. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 37 bahasa kepada sekitar 120,000 komputer setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net .




KESAKSIAN KEPALA PASUKAN –
SEBUAH KHOTBAH KEBANGKITAN

THE CENTURION’S TESTIMONY –
A RESURRECTION SERMON
(Indonesian)

Khotbah ini ditulis oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
dan dikhotbahkan oleh Dr. C. L. Cagan
di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Siang, 1 April 2018
A sermon written by Dr. R. L. Hymers, Jr.
and preached by Dr. C. L. Cagan
at the Baptist Tabernacle of Los Angeles
Lord’s Day Afternoon, April 1, 2018

“Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:37-39).


Yesus dipaku di kayu salib pada jam 9 pagi. Dia mati pada jam 3 sore. Itu tidak biasa bagi seseorang yang disalibkan pada zaman itu untuk mati dalam waktu yang sangat singkat. Namun seharusnya tidak mengejutkan kita. Lagi pula, tidak seperti kebanyakan dari mereka yang disalibkan, Yesus hampir dipukuli sampai mati pada hari sebelumnya. Sebelum Dia disalibkan, Pilatus berharap untuk meyakinkan orang banyak agar tidak harus menyalibkan Dia dengan memberikan hukuman cambuk yang berat kepadanya. “Bagaimanapun, cambuk bukanlah hukuman ringan. Orang-orang Romawi pertama kali menelanjangi korban dan mengikat tangannya ke sebuah pos di atas kepalanya. Cambuk (flagellum) terbuat dari beberapa potongan kulit dengan potongan tulang dan timah yang ditanam di bagiam ujungnya. Dua pria, satu di setiap sisi korban, biasanya melakukan cambukan” (Frank E. Gaebelein, D.D., General Editor; The Expositor’s Bible Commentary, Zondervan Publishing House, 1984, vol. 8, hal. 775; catatan untuk Markus 15:15).

Berikut ini adalah penjelasan dan deskripsi efek fisik cambukan - yang ditulis oleh seorang dokter medis,

Cambuk yang berat dijatuhkan dengan kekuatan penuh lagi dan lagi pada bahu, punggung, dan kaki Yesus. Mula-mula cambuk itu merobek kulitnya saja. Kemudian, ketika pukulan berlanjut, cambuk itu menyayat lebih dalam ke jaringan subkutan, menghasilkan pada awalnya suatu aliran darah dari kapiler dan vena kulit, dan akhirnya memacu pendarahan arteri dari pembuluh pada urat… Akhirnya kulit punggung membentuk bilur-bilur panjang dan seluruh area [punggung] secara keseluruhan tak dapat dikenali karena jaringan yang robek dan berdarah (C. Truman Davis, M.D., “The Crucifixion of Jesus: The Passion from a Medical Point of View,” Arizona Medicine, 22, no. 3 [March 1965]: hal. 185).

Komentar Dr. Gaebelein mengatakan, “Tidak mengherankan bahwa korban pencambukan Romawi jarang selamat” (Gaebelein, ibid.). Kepala pasukan dan kelompok prajuritnya - yang bertanggung jawab atas penyaliban - tidak terkejut oleh fakta bahwa Yesus mati beberapa jam setelah mengalami penyiksaan seperti itu. Apa yang mengejutkan mereka adalah cara Dia mati!

Ketika Yesus mati, beberapa hal terjadi. Selama tiga jam “kegelapan meliputi seluruh daerah itu” (Matius 27:45). Beberapa saat setelah Dia mati, ada gempa bumi luar biasa yang merobek tabir besar di bait suci “terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah”(Matius 27:51). Gempa bumi dan kegelapan pasti membuat kesan yang luar biasa pada mereka, karena Matius berkata,

“Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (Matius 27:54).

Para komentator liberal mengatakan kepada kita bahwa Perwira Romawi itu hanya mengatakan bahwa Yesus seperti salah satu dewa dalam paganisme panteistiknya. Tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa Kepala pasukan itu telah mendengar Imam Besar dan para pengikutnya, serta para penjahat, yang mengatakan,

“Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah. Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga” (Matius 27:43-44).

Jadi, Perwira dan orang-orangnya telah mendengar para imam kepala dan penjahat Yahudi yang berulang kali mengatakan, “Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah” (Matius 27:43). Kepala pasukan dan anak buahnya telah sepanjang hari memikirkan hal itu, dan mendiskusikan apa yang dimaksud orang-orang Yahudi dengan “Anak Allah” ini. Faktanya, berada di Yerusalem sepanjang minggu sebelumnya, mereka tidak diragukan lagi mendengar istilah “Anak Allah” yang telah dibicarakan. Berulang kali setidaknya selama beberapa hari. Dr Lenski juga berkata,

Eksegese rasionalistik dan modernistik tidak menganggap pengakuan kepala pasukan itu sebagai pengakuan keilahian Yesus, karena rasionalisme dan modernisme menyangkal keilahian ini. Semua [argumen mereka] dengan demikian akan menjadi dogmatis secara ekstrem... [Para modernis mengatakan bahwa perkataan kepala pasukan itu] diambil dari mitologi penyembah berhala. Apakah para penulis Injil tahu tentang pengakuan perwira ini dan mencatatnya ketika itu benar-benar tidak berarti bagi orang percaya sejati? ... Tentunya, para penulis Injil tidak akan memperdaya para pembacanya (R. C. H. Lenski, D.D., The Interpretation of St. Mark’s Gospel, Augsburg Publishing House, 1946, hal. 726-727; catatan untuk Markus 15:39).

Ada hal lain tentang cara Yesus mati yang meyakinkan Kepala pasukan itu bahwa musuh-musuh-Nya salah - dan bahwa Dia benar-benar adalah “Anak Allah.” Dengarkan dengan saksama Markus 17:37 dan 39,

“Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Markus 15:37).

“Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).

Yesus “berseru dengan suara nyaring” tepat sebelum Dia mati. “Waktu perwira itu… melihat mati-Nya demikian [berseru dengan suara nyaring] dia berkata, “Sungguh orang ini adalah Anak Allah” (Markus 15:39). Mengapa “suara nyaring” Yesus menyebabkan Kepala pasukan itu mengatakan, “Sungguh orang ini adalah Anak Allah”? Dengarkan komentar Dr. Gaebelein,

Seruan nyaring Yesus bukan seruan biasa karena korban penyaliban biasanya tidak memiliki kekuatan lagi, terutama ketika hampir mati. Tetapi kematian Yesus bukanlah kematian biasa, dan juga seruan-Nya bukan yang terakhir dari orang yang sedang sekarat. Itu adalah seruan kemenangan… (Gaebelein, ibid., hal. 783; catatan untuk Markus 15:37).

Kepala pasukan telah melihat semuanya. Pada awal penyaliban dia adalah orang yang tidak percaya. Tetapi dia mendengar Yesus berdoa untuknya,

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Dia melihat kegelapan jatuh menyelimuti bumi. Dia menyaksikan gempa bumi. Dia “sangat takut” (Matius 27:54). Dan kemudian dia melihat Yesus mati seperti dia belum pernah melihat orang lain yang disalibkan mati seperti itu! Semua yang lain menjadi sangat lemah sehingga mereka tidak bisa bernafas - dan mati dalam keheningan. Tetapi Yesus “berseru dengan suara nyaring”! Dari mana Dia mendapatkan energi untuk melakukannya? Kepala pasukan ini telah memimpin banyak penyaliban. Tetapi tidak ada orang lain yang mati dengan “teriakan kemenangan” seperti itu. Kepala pasukan itu diinsafkan. Musuh-musuh Kristus telah salah! Dia sendiri salah! Sambil memandang tubuh Yesus yang mati di kayu Salib, dia berkata,

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).

Apakah Kepala pasukan itu telah bertobat? Saya pikir demikian, dan itulah sebabnya mengapa - dia pernah menjadi orang yang tidak percaya - tetapi sekarang dia berkata, “Sesungguhnya orang ini adalah Anak Allah” (Markus 15:39). Ini pasti sama bagusnya dengan pengakuan Petrus! Yesus bertanya kepada Petrus “Katamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Petrus menjawab, “Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Yesus berkata,

“Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 16:17).

Sang Kepala pasukan itu tentunya memiliki iman yang sama besarnya dengan Petrus! Jika kesaksian Petrus tentang Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” berasal dari iluminasi Bapa, kesaksian Kepala pasukan tersebut pasti juga berasal dari sumber yang sama!

“Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 16:17).

Dan Kepala pasukan tersebut membuat pengakuan yang lebih baik tentang imannya kepada Yesus ketimbang yang dilakukan Petrus! Petrus meninggalkan Dia dan melarikan diri. Kepala pasukan ini berdiri dalam pandangan penuh dari musuh-musuh Kristus - dan tanpa takut untuk bersaksi,

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).

Namun, Kepala pasukan itu mengatakan sesuatu yang sama pentingnya. Lukas memberi tahu kita bahwa dia juga berkata,

“Sungguh, orang ini adalah orang benar” (Lukas 23:47).

Itu mungkin tidak terdengar penting, tetapi inilah dia. Dr. Lenski memberi tahu kita bahwa dia mengatakan keduanya: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah; sungguh orang ini adalah orang benar.” Ini adalah hal yang sama seperti yang dikatakan salah satu penjahat yang sedang sekarat, ketika dia dipertobatkan pada salib di samping Yesus,

“Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Lukas 23:41).

Kepala pasukan itu mendengar ketika penjahat yang bertobat itu mengatakan hal itu. Dia tidak percaya sebelumnya. Dia telah mengolok-olok Kristus sebelumnya - sama seperti penjahat satunya! (Lukas 23:36; Matius 27:44). Tetapi sekarang, dalam pertobatan mereka, penjahat ini dan Kepala pasukan ini setuju bahwa,

“Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

“Sungguh, orang ini adalah orang benar.”

Dengan iluminasi ilahi, baik salah satu penjahat yang disalibkan itu maupun Kepala pasukan melihat bahwa Kristus tidak bersalah. Lebih dari itu - mereka melihat kebenaran-Nya yang agung! Apakah mereka tahu lebih banyak dari itu? Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut. Tetapi mereka cukup tahu untuk mengatakan bahwa Yesus tidak berdosa, tidak bersalah dari apa yang disebut “kejahatan,” yang menjadi alasan musuh-musuh-Nya untuk menyalibkan-Nya. Penjahat itu cukup tahu untuk memanggil Dia “Tuhan.” Kepala pasukan itu cukup tahu untuk mengatakan,

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Kami percaya bahwa penjahat itu telah bertobat. Sepertinya saya juga harus memikirkan Kepala pasukan ini dengan cara yang sama.

Saya tidak menempatkan banyak nilai dalam tradisi, karena mungkin tradisi telah tercemar dengan takhayul. Namun saya tidak dapat mengakhiri khotbah ini tanpa memberi tahu Anda bahwa sebuah tradisi kuno mengatakan bahwa pria ini menjadi seorang Kristen. Dr Lenski berkata,

Orang non Yahudi ini, yang bernama Longinus dalam tradisi, datang kepada iman di bawah salib sang Juruselamat yang telah mati. Pengakuannya kuat karena αληθως [alaythos] -nya, “sungguh.” Kata keterangan ini ditujukan terhadap ketidakpercayaan dan ejekan orang Yahudi. Apapun yang mereka katakan, Kepala pasukan itu melihat kebenaran bahwa Yesus adalah Anak Allah (Lenski, ibid., catatan untuk Matius 27:54).

Beberapa orang mungkin mengkritik saya karena merujuk pada tradisi Katolik. Namun tampaknya tradisi itu lebih tua dari Katolikisme itu sendiri. Saya tidak tahu apakah tradisi itu benar atau salah. Sepertinya ini berakar pada kebenaran, karena para penulis Injil membuat penekanan pada pengakuan Kepala pasukan ini dan saya ragu kalau mereka tidak memiliki alasan untuk menuliskan itu, kecuali mereka telah mengenalnya sebagai orang Kristen sesudahnya. Saya juga tahu bahwa pertobatan dari Kepala pasukan ini adalah seperti pertobatan seorang Protestan. Tidak ada pemahaman Katolik sama sekali di dalamnya - tidak ada baptisan, tidak ada penebusan dosa, tidak ada sakramen. Cukup beriman kepada Yesus! Dan begitulah cara Kristus menyelamatkan setiap orang yang datang kepada-Nya! Apa pun yang Anda pikirkan tentang tradisi, orang ini memiliki jenis pertobatan yang sama seperti seorang Protestan atau Baptis! Tidak ada yang bercirikan Katolik tentang itu!

Sekarang, apa yang kita pelajari dari semua ini? Saya pikir Kitab Suci membuat pelajaran ini menjadi jelas - dua pria ini, penjahat yang percaya dan Kepala pasukan yang mengakui imannya, dimulai dengan mengejek Kristus di Kayu Salib, seperti yang dilakukan oleh orang banyak lainnya. Namun, setelah menyaksikan Yesus mati, kedua pria ini, si penjahat dan Kepala pasukan ini, percaya kepada Yesus. Tapi dua pria lain, Imam Besar dan penjahat yang satunya tidak juga bertobat, melihat kejadian yang sama dan tetap tidak percaya. Itu, saya pikir, adalah pelajaran yang Tuhan ingin kita pelajari dari Kitab Suci. Kedua penjahat itu bisa melihat hal yang sama - tetapi yang satu bertobat dan yang lain tidak. Dua orang bisa melihat hal yang sama, tetapi Imam Besar itu tetap tidak bertobat semetara Kepala pasukan itu menjadi percaya. Dua orang dapat mendengar Injil yang sama - dan yang satu diubahkan sementara yang lain tetap tidak percaya.

Berapa kali Anda membaca Injil? Sudah berapa kali Anda mendengar Injil diberitakan? Yang lain datang kepada Yesus dan diselamatkan. Bagaimana bisa Anda tetap tersesat? Bagaimana mungkin Anda tidak mau datang kepada Yesus dan diselamatkan? Berapa lama lagi Anda akan menunggu? Yesus berkata kepada Anda,

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Yesus telah mati menggantikan Anda, untuk membayar hukuman penuh atas dosa-dosa Anda. Dia telah bangkit dari kematian untuk memberi Anda kehidupan. Mengapa Anda tidak datang kepada Yesus? Kenapa Anda terus menunggu? Mengapa Anda tidak datang kepada Anak Allah?

Yesus sangat mengasihi penjahat itu sehingga Dia menyelamatkannya di depan pintu kematian. Yesus mengasihi sang Kepala pasukan itu sehingga Dia memberinya iman, meskipun orang ini adalah orang yang mengawasi dan melaksanakan penyaliban-Nya, dan memerintahkan agar tangan dan kaki-Nya dipakukan pada kayu yang terkutuk itu! Dan, sahabatku, Yesus sangat mengasihi Anda sehingga Dia juga mau mengampuni Anda dan menyelamatkan jiwa Anda pada malam ini juga - apapun dosa yang telah Anda lakukan - berapa lama Anda telah menjauh dari-Nya. Datanglah kepada Dia yang mengasihi Anda, dan Ia akan membasuh dosa-dosa Anda di dalam Darah-Nya yang mahal!

Ku lihat Dia tergantung di salib itu,
   Dalam penderitaan dan darah;
Ia memandang atasku
   Ketika ku berdiri di dekat salib itu.

Pemandangan kedua yang Dia berikan, yang berkata,
   “Aku sungguh mengampunimu semua:
Darah ini demi tebusan mu terbayar;
   Aku mati agar engkau boleh hidup. ”
(“He Died For Me” oleh John Newton, 1725-1807;
      untuk lagu “O Set Ye Open Unto Me”).


Jika khotbah ini memberkati Anda Dr. Hymers akan senang mendengar dari Anda. KETIKA ANDA MENULIS KEPADA DR. HYMERS ANDA HARUS MEMBERITAHU BELIAU DARI NEGARA MANA ANDA MENULIS ATAU IA TIDAK DAPAT MENJAWAB EMAIL ANDA. Jika khotbah ini memberkati Anda silahkan mengirim email kepada Dr. Hymers dan ceritakan kepadanya, tetapi selalu jelaskan pada beliau dari negara mana Anda mengirimnya. E-mail Dr. Hymers ada di rlhymersjr@sbcglobal.net (klik di sini). Anda dapat menulis email kepada Dr. Hymers dalam bahasa apapun, namun tulislah dalam bahasa Inggris jika Anda dapat. Jika anda ingin menulis surat kepada Dr. Hymers melalui pos, alamat beliau adalah P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Anda boleh menelepon beliau di (818)352-0452.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
www.sermonsfortheworld.com.
Klik pada “Khotbah Indonesia.”

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.