Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 116,000 komputer di lebih dari 215 negara setiap bulannya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 34 bahasa untuk ribuan orang setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net.




KAYAFAS – ORANG YANG MERENCANAKAN PEMBUNUHAN TERHADAP KRISTUS!

CAIAPHAS – THE MAN WHO
PLANNED THE MURDER OF CHRIST!
(Indonesian)

Khotbah ini ditulis oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
dan dikhotbahkan oleh Mr. John Samuel Cagan
di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Pagi, 9 April 2017

“Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (Yohanes 11:49-53).


Ini terjadi pada akhir pelayanan Kristus. Setelah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian Dia menarik diri ke pedesaan. Dia tidak kembali ke Yerusalem sampai minggu terakhir sebelum penyaliban-Nya. Seseorang mungkin akan berpikir bahwa membangkitkan Lazarus dari kematian akan meyakinkan para pemimpin agama, tetapi ternyata tidak. Yesus sebelumnya mengatakan,

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Lukas 16:31).

Orang-orang sering tidak diyakinkan dengan melihat mukjizat. Mujizat yang mereka butuhkan adalah karya Roh Allah yang menginsafkan dalam jiwa mereka, yang telah “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1). Jika seseorang tidak secara ajaib diinsafkan akan dosa, ia tidak akan diselamatkan. Dia tidak akan diselamatkan bahkan “sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Lukas 16:31). Kebangunan rohani karena diinsafkan oleh Roh Allah, membuat seseorang merasakan dosa mereka, itu adalah mujizat yang mereka harus terima untuk mengalami pertobatan sejati.

Mukjizat bahkan dapat menyebabkan orang lebih mengeraskan hati mereka terhadap Allah. Sekarang, ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi melihat bahwa Yesus sedang melakukan “banyak mujizat,” mereka memanggil “majelis” untuk bersidang, yaitu sebuah komite Sanhedrin (Yohanes 11:47). Dalam dewan itu, hal yang aneh terjadi. Imam Besar Kayafas memenuhi nubuatan yang akurat tentang Kristus. The New Testament Commentary menggambarkan ini: Kayafas adalah seorang “manipulator, seorang oportunis, yang tidak tahu arti dari kebenaran atau keadilan... Dia tidak segan-segan menumpahkan darah orang tak berdosa. [Dia membuat apa yang dia lakukan] tampak seolah-olah itu adalah satu hal yang diperlukan untuk kesejahteraan rakyat. Kayafas iri terhadap Yesus. Kayafas ingin Yesus dihukum mati sesuai dengan kebutuhan egoisnya sendiri. Untuk dapat berdampak pada penghukuman Yesus, ia akan menggunakan alat yang merupakan produk dari perhitungannya yang cerdas... Dia adalah seorang munafik, karena dalam sidang akhir... ketika ia dipenuhi dengan kegembiraan karena ia telah menemukan apa yang dianggap dasar untuk menghukum Kristus, ia merobek jubah imam seakan karena kesedihan mendalam! Seperti itulah Kayafas. Lihat juga Josephus, Antiquities, XVIII, 4:3” (William Hendriksen, Th.D., New Testament Commentary, Baker Book House, 1981 edition, volume I, p. 163; catatan untuk Yohanes 11:49-50). Sekarang perhatikan lagi bahwa kejahatan Imam ini memenuhi sebuah nubuatan. Seperti Bileam dalam Perjanjian Lama, orang jahat ini benar-benar membuktikan nubuat ini dengan benar,

“Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yohanes 11:49-52).

Namun kemudian Alkitab berkata,

“Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (Yohanes 11:53).

Seminggu kemudian, Kayafas mengirim beberapa pengawal Bait Allah untuk menangkap Yesus ketika Ia sedang berdoa di Taman Getsemani. Para pengawal tersebut membawa Dia ke hadapan Kayafas, yang berkata kepada-Nya, “Beritahu kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah” (Matius 26:63). Ketika Yesus menjawab sebagai penegasan,

“Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"” (Matius 26:65-68).

Imam Besar itu tidak memiliki kewenangan untuk mengeksekusi orang. Oleh karena itu Kayafas menyeret Yesus dan menyerahkan kepada Pontius Pilatus, gubernur Romawi - dan menyerukan agar orang-orang Romawi itu menyalibkan-Nya.

Sulit untuk menghasilkan khotbah biografi seperti ini, tetapi dengan sederhana kita akan menarik dua kesimpulan umum dari kata-kata dan tindakan orang ini, Yusuf Kayafas, Imam Besar yang telah menjadi perencana dari penyaliban Kristus.

I. Pertama, Kayafas sangat religius, dan bahkan berbicara kebenaran yang mendalam tentang korban pengganti Kristus.

Kayafas adalah menantu dari Imam Besar Hanas yang sudah tua. Dia mempertahankan posisi sebagai Imam Besar selama 18 tahun, lebih lama dari orang lain di masa itu.

Sayangnya, kita bisa tahu orang macam apa dia ini. Sebagai contoh, beberapa kali, ketika Dr. Hymers masih muda, ia diberitahu, “Anda tidak bisa mengkhotbahkan itu,” atau “Anda tidak bisa berkhotbah seperti itu.” Ketika tahun-tahun telah berlalu telah menjadi jelas bahwa nasihat seperti itu salah. Orang-orang itu memberi nasehat kepadanya untuk lebih peduli pada kedudukan mereka ketimbang pada kebenaran, seperti yang diberikan dalam Alkitab. Seorang pengkhotbah tidak bisa menyenangkan orang-orang hanya demi menjaga keamanan pekerjaan mereka, dan tidak mengganggu siapa pun. Kayafas adalah tipe orang seperti itu. Dia tahu bahwa Yesus melakukan “banyak mujizat” (Yohanes 11:47), tetapi ia hanya tertarik untuk menghentikan Yesus demi keamanan politik dia. Dia berpikir, “Jika kita membiarkan Dia kita akan kehilangan sesuatu.”

Yesus berkata dan melakukan apa yang Dia katakan dan melakukannya berdasarkan kasih dan ketaatan kepada Allah. Kayafas mengatakan dan melakukan apa yang dia katakan dan melakukannya tanpa memikirkan Allah. Ada banyak orang yang seperti dia pada hari ini di gereja-gereja kita. Dia sangat religius. Tanpa disadari, ia bahkan berbicara kebenaran tentang penebusan pengganti Kristus ketika ia berkata,

“Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yohanes 11:50).

Dengan demikian, dia berbicara kebenaran yang mendalam tentang kematian Kristus sebagai pengganti orang berdosa, menggemakan kata-kata Yesaya ini,

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).

Tetapi berhati-hatilah! Anda dapat mengucapkan kata-kata tanpa menerima berkat apapun dari semua kata-kata tersebut! Itu adalah kasus Kayafas. Dia dapat mengucapkan kata-kata itu dengan benar, tetapi semua kata-kata tersebut benar-benar tidak berpengaruh pada hidupnya.

Ini adalah Imam Besar yang sama yang mengancam Petrus ketika ia berkhotbah tentang kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Tetapi karena ia takut dengan orang banyak, ia mengancam Petrus dan membiarkan dia pergi (Kis 4:21). Sekali lagi, Kayafas adalah Imam Besar yang sama yang melemparkan Rasul itu ke dalam penjara (Kis 5: 17-18). Tetapi Allah mengutus seorang malaikat untuk membuka pintu penjara dan membebaskan mereka. Kemudian Kayafas mengirim kepala pengawal untuk membawa Petrus ke hadapan Sanhedrin “tidak dengan kekerasan… kalau-kalau orang banyak melempari mereka” (Kisah Para Rasul 5:26). Begitu banyak orang yang mendengarkan kedua Rasul itu sehingga Kayafas takut mereka akan melempari dia hingga mati jika ia mengganggu mereka! Salah seorang anggota dalam Sanhedrin itu, bernama Gamaliel, berkata kepada Kayafas dan orang lain untuk

“Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah” (Kisah Rasul 5:38-39).

Kayafas dan yang lainnya setuju dengan Gamaliel. Tetapi apa yang mereka lakukan? Apakah karena mereka peduli tentang Tuhan? Tidak! Mereka menyesah Rasul-Rasul itu dan “melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan” (Kisah Para Rasul 5:40).

“Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kisah Rasul 5:42).

Dengan demikian, kita membuat Kayafas – menjadi lemah, tidak mampu menghentikan pemberitaan Injil dan penyebaran agama Kristen. Bagi dia tidak pernah terpikirkan untuk berpikir tentang Tuhan dan bertobat dari dosa-dosanya. Dia terus saja bermain politik - menjalani agama, tanpa takut akan Allah - sampai ia dipecat dari jabatan imam besar oleh pengganti Pilatus, Vitellus beberapa tahun kemudian, pada tahun 36 M seperti dikatakan oleh Josephus (Antiquities, XVIII:4, 2). Tidak diketahui apa yang terjadi padanya setelah ia diturunkan dari jabatannya. Sebuah bukit kapur yang berisi tulang-tulang orang mati ditemukan di Yerusalem pada tahun 1991 bertuliskan nama Kayafas - yang diyakini oleh para arkeolog sebagai peti mati yang benar-benar peti matinya (Archaeological Study Bible, Zondervan, 2005, hal. 1609; catatan untuk Matius 26:3). Dia hanya diingat sebagai orang yang “paling bertanggung jawab atas pembunuhan secara resmi [Yesus] sebagai tahanan yang tidak bersalah” (John D. Davis, D.D., Davis Dictionary of the Bible, Baker Book House, edisi 1978, hal. 114).

II. Kedua, Kayafas, seperti Kain, tidak pernah bertobat – dan tidak pernah diselamatkan.

Ada paralel nyata antara Kayafas dan Kain. Kain tahu bahwa dia perlu membawa korban darah, seperti yang dilakukan oleh Habel. Tetapi Kain tidak bertobat. Sebaliknya,

“Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia” (Kejadian 4:8).

Ada hubungan Perjanjian Baru antara Kain dan orang-orang seperti Kayafas. Rasul Yohanes mengatakan,

“Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu” (I Yohanes 3:12-13).

Kayafas, seperti Kain, dipengaruhi oleh Setan, “pribadi yang jahat.” Seperti Kain, Kayafas berasal dari “dunia.” Dia tidak pernah berhenti mendengarkan Setan. Dia tidak pernah meninggalkan “dunia” untuk melayani Tuhan. Eseni adalah komunitas Yahudi Qumran, yang menghasilkan Gulungan Laut Mati, yang sangat kritis terhadap Kayafas, yang mereka sebut sebagai “imam jahat” (Archaeological Study Bible, ibid.).

Kain dan Kayafas memberikan peringatan mengerikan bagi orang-orang religius namun masih terhilang. Baik Kain maupun Kayafas tahu tentang pengorbanan darah. Allah secara langsung berbicara baik kepada Kain maupun Kayafas. Allah Anak berbicara langsung kepada Kayafas - seperti yang Ia pernah lakukan kepada Kain (Kejadian 4: 6-7). Baik Kain maupun Kayafas mengabaikan suara Allah, yang sedang berbicara kepada hati nurani mereka, dan tenggelam dalam hidup yang berpusat pada diri sendiri. Baik Kain maupun Kayafas akan berdiri di hadapan Kristus pada Penghakiman Terakhir, dan Dia akan mengatakan kepada mereka,

“Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” (Matius 7:23).

Kemudian mereka akan “dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12).

Saya mengingatkan Anda pagi ini - pastikan Anda berpikir tentang Allah! Pastikan Anda berpikir tentang dosa Anda! Pastikan Anda tidak hanya mengucapkan “kata-kata yang benar.” Pastikan Anda mengakui dosa-dosa Anda!

“Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita” (Yakobus 4:9).

Pastikan Anda mengalami pertobatan sejati - agar Anda benar-benar bertemu muka dengan muka dengan Yesus Kristus dan disucikan dari “dosa di dalam darah-Nya sendiri” (Wahyu 1: 5). Jangan menunggu! Jangan menolak untuk datang kepada Yesus! Jangan berlama-lama sampai Allah menyerah dengan Anda, dan menyerahkan Anda kepada pikiran-pikiran yang terkutuk!

Terlalu lama aku menolak Juruselamat.
   Terlalu lama aku pertahankan dosaku.
Terlalu lama aku izinkan penolakanku,
   Dan sekarang aku terhilang tanpa Dia.
Sudah terlambat, oh sangat terlambat!
   Namun Ia mengetuk pintu itu
Dan Yesus, Juruselamat yang manis, memanggil sekali lagi.
   (“Too Long I Neglected” oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).

Dr. Hymers, silahkan maju ke depan dan menutup kebaktian ini.


Jika khotbah ini memberkati Anda Dr. Hymers akan senang mendengar dari Anda. KETIKA ANDA MENULIS KEPADA DR. HYMERS ANDA HARUS MEMBERITAHU BELIAU DARI NEGARA MANA ANDA MENULIS ATAU IA TIDAK DAPAT MENJAWAB EMAIL ANDA. Jika khotbah ini memberkati Anda silahkan mengirim email kepada Dr. Hymers dan ceritakan kepadanya, tetapi selalu jelaskan pada beliau dari negara mana Anda mengirimnya. E-mail Dr. Hymers ada di rlhymersjr@sbcglobal.net (klik di sini). Anda dapat menulis email kepada Dr. Hymers dalam bahasa apapun, namun tulislah dalam bahasa Inggris jika Anda dapat. Jika anda ingin menulis surat kepada Dr. Hymers melalui pos, alamat beliau adalah P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Anda boleh menelepon beliau di (818)352-0452.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
www.sermonsfortheworld.com.
Klik pada “Khotbah Indonesia.”

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.

Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Too Long I Neglected” (oleh Dr. John R. Rice, 1895-1980).


GARIS BESAR KHOTBAH

KAYAFAS – ORANG YANG MERENCANAKAN PEMBUNUHAN TERHADAP KRISTUS!

CAIAPHAS – THE MAN WHO
PLANNED THE MURDER OF CHRIST!

Khotbah ini ditulis oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
dan dikhotbahkan oleh Mr. John Samuel Cagan

“Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (Yohanes 11:49-53).

(Lukas 16:31; Efesus 2:1; Yohanes 11:47-48, 49-52, 53;
Matius 26:63, 65-68)

I.   Pertama, Kayafas sangat religius, dan bahkan berbicara kebenaran yang
mendalam tentang korban pengganti Kristus, Yohanes 11:47, 50;
Yesaya 53:5; Kisah Rasul 4:21; 5:17-18, 26, 38-39, 40, 42.

II.  Kedua, Kayafas, seperti Kain, tidak pernah bertobat – dan tidak pernah
diselamatkan, Kejadian 4:8; I Yohanes 3:12-13; Kejadian 4:6-7;
Matius 7:23; 8:12; Yakobus 4:9; Wahyu 1:5.