Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 116,000 komputer di lebih dari 215 negara setiap bulannya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 34 bahasa untuk ribuan orang setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net.




DOA UNTUK KEBANGUNAN ROHANI

PRAYING FOR REVIVAL
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Jum’at Malam, 19 Agustus 2016


Mari membuka Kisah Rasul 1:8. Itu ada pada halaman 1148 dalam Scofield Study Bible. Mari berdiri ketika membacanya. Itu adalah kalimat yang Kristus sampaikan kepada orang-orang Kristen perdana,

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Rasul 1:8).

Anda dipersilahkan untuk duduk kembali.

Beberapa pengkhotbah mengatakan ayat ini hanya merujuk kepada pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Mereka mengatakan bahwa kita tidak bisa mengharapkan Roh Kudus turun ke atas kita seperti yang Ia pernah lakukan pada saat itu. Banyak dari mereka takut bila jemaat mereka akan menjadi Pentakosta jika mereka mengatakan kepada mereka pencurahan Roh bisa terjadi hari ini. Sehingga mereka memadamkan karya Roh Kudus yang menginsafkan dan yang mempertobatkan karena mereka takut menjadi Pentakostalisme. Tetapi mereka salah ketika mereka mengatakan bahwa kita tidak bisa mengharapkan Roh Kudus untuk turun di zaman kita. Lima kata terakhir dari teks kita ini menunjukkan bahwa mereka salah, “dan sampai ke ujung bumi.” Terjemahan modern mengatakan, “dan sampai ke ujung bumi.” Sejak orang-orang Kristen mula-mula tidak pergi ke “ujung” atau “daerah terpencil” dari dunia, Yesus sedang berbicara kepada semua orang Kristen, untuk semua waktu. Dia mengatakan kepada mereka, dan kita, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Ini dibuktikan dengan apa yang dikatakan Petrus tidak lama setelah itu, dalam Kisah Para Rasul 2:39. Mari membuka ayat tersebut.

“Sebab bagi kamulah janji [tentang Roh Kudus] itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah Rasul 2:39).

Sehingga para murid kembali ke Yerusalem, dan masuk ke ruang atas untuk berdoa. Apa yang mereka doakan? Mereka berdoa untuk kuasa Roh Kudus yang Yesus telah janjikan ketika Ia berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (Kisah Para Rasul 1:8). Saya sepenuhnya setuju dengan Iain H. Murray. Dia berkata,

Sementara Pentakosta melembagakan sebuah era baru, karya Kristus dalam menganugerahkan Roh tidak berakhir kemudian. Dan komunikasi yang lebih lengkap dari Roh yang menandai seluruh zaman [Kekristenan], dimulai pada hari Pentakosta, tidak konstan dan sebangun; oleh sebab itu, apa yang menjadi tujuan dari permohonan doa untuk pelayanan yang lebih dari Roh Allah yang dengan jelas dipanjatkan oleh para murid? Itu adalah tanggapan terhadap permintaan “ajarlah kami berdoa’ sehingga kemudian Yesus berkata: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Lukas 11:13). Janji ini tidak memiliki relevansi berkelanjutan bagi orang Kristen kecuali selalu ada lagi dan lagi doa yang seperti itu diterima” (Iain H. Murray, Pentecost Today? The Biblical Understanding of Revival, The Banner of Truth Trust, 1998, hal. 21).

Alexander Moody Stuart berkata, “Sementara Roh Kudus selalu hadir dalam gereja-Nya, ada saat-saat di mana Dia semakin dekat dan meningkatkan kekuatan yang lebih besar dari kuasa-Nya” (Murray, ibid., hal. 22).

Tetapi kita telah melihat hanya sedikit sejak kebangunan rohani besar pada tahun 1859, benar-benar sangat sedikit. Saya yakin bahwa alasan utamanya adalah kenyataan bahwa sebagian besar orang injili tidak lagi percaya bahwa pertobatan adalah mujizat. Kebanyakan orang injili hari ini berpikir bahwa pertobatan tidak lebih dari sebuah keputusan manusia. Mereka berpikir bahwa yang harus Anda lakukan adalah membujuk orang terhilang untuk mengucapkan kata-kata yang disebut dengan “doa orang berdosa” [di Indonesia Anda menyebutnya “doa terima Yesus”]. Hanya mengucapkan kata-kata itu dan Anda diselamatkan! Joel Osteen mengatakan itu pada akhir setiap khotbahnya. Dia memimpin orang-orang untuk mengucapkan doa seperti itu. Lalu ia berkata, “Kami percaya jika Anda mengucapkan kata-kata itu Anda baru saja dilahirkan kembali.” Anda lihat, tidak ada kebutuhan akan karya Roh Kudus untuk melakukan sebuah mujizat! Jika Anda mengucapkan kata-kata itu “Anda baru saja dilahirkan kembali.”

Ini adalah kembali ke ajaran sesat Pelagianisme kuno - doktrin yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengusahakan keselamatannya sendiri - dalam hal ini, dengan mengucapkan doa singkat tersebut! Atau dengan “maju ke depan” dalam pelayanan Kristen - atau dengan mengangkat tangan Anda! “Semua Anda yang ingin diselamatkan, hanya silahkan mengangkat tangan Anda.” Itu adalah Pelagianisme! Kembali ke ajaran sesat kuno, yang mengajarkan bahwa orang yang terhilang dapat menyelamatkan dirinya dengan beberapa tindakan, atau dengan mengucapkan doa singkat. Saya menyebutnya “doa sihir.” Itu sebenarnya “magis” ketimbang Kristen. Dalam magis Anda mengucapkan kata-kata tertentu, atau melakukan tindakan tertentu, dan kata-kata atau tindakan tersebut menghasilkan sesuatu yang supranatural. Gagasan-gagasan “magis” tersebut memenuhi gagasan pertobatan dari orang-orang Injili kita masa kini! Untuk menguji secara menyeluruh tentang masalah ini bacalah buku David Malcolm Bennett, The Sinner’s Prayer: Its Origins and Dangers, Even Before Publishing, n.d., tersedia di Amazon.com.

Setiap pertobatan sejati adalah sebuah keajaiban. Mari bersama dengan saya untuk membuka Markus 10:26. Itu ada pada halaman 1059 dalam Scofield Study Bible.

“Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan? Yesus memandang mereka dan berkata: Bagi manusia hal itu tidak mungkin…” (Markus 10:26, 27).

Mereka bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus menjawab, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin.” Manusia dalam keadaan berdosa tidak dapat melakukan apapun untuk diselamatkan atau bahkan membantu dirinya untuk diselamatkan! Tetapi kemudian Yesus berkata, “tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Keselamatan seseorang adalah sebuah mujizat dari Allah! Kita telah melihat beberapa orang yang kita harapkan benar-benar telah bertobat tahun ini, salah satu dari mereka adalah tadi malam. Setiap pertobatan sejati adalah sebuah mujizat. Paul Cook dengan benar berkata, “Karakteristik dari sebuah kebangunan rohani tidak berbeda dengan karakteristik dari setiap karya normal dari Roh Kudus kecuali dalam hal intensitas dan luasnya” (Fire From Heaven, EP Books, 2009, hal. 117).

Ketika satu orang diselamatkan itu adalah mujizat dari Allah. Ketika banyak orang yang diselamatkan dalam waktu singkat itu adalah mujizat dari Allah. Satu-satunya perbedaan adalah “dalam hal intensitas dan luasnya.” Ketika kita berdoa untuk kebangunan rohani, kita berdoa agar Roh Kudus bekerja di hati banyak orang sekaligus.

Apa yang Roh Kudus lakukan dalam pertobatan? Pertama, “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa” (Yohanes 16: 8). Paul Cook mengatakan, “Orang-orang tidak pernah diinsafkan akan dosa mereka secara alami; secara alami mereka selalu membenarkan dirinya sendiri. Sebuah karya tertentu dari Roh diperlukan. Dan ketika Roh bekerja, dosa menjadi nampak menjijikkan [mengerikan, menjijikkan], yang menuntun seseorang untuk membencinya dan meninggalkannya. Seperti salah satu gadis berkata, “Saya merasa jijik dengan diri saya sendiri.” Itu adalah definisi yang baik dari keinsafan seperti yang pernah saya saksikan. “Saya merasa jijik dengan diri saya sendiri.” Jika Anda tidak memiliki setidaknya beberapa keinsafan akan dosa seperti itu, Anda tidak akan memiliki pertobatan sejati. Jadi kita harus berdoa memohon Roh Kudus untuk memberikan keinsafan akan dosa bagi mereka yang belum diselamatkan.

Hal kedua yang Roh Kudus kerjakan dalam pertobatan adalah untuk membuat Kristus dikenal orang yang sedang berada di bawah keinsafan akan dosa. Yesus berkata, “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu” (Yohanes 16:14). Terjemahan modern menerjemahkan demikian, “Dia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku dan membuatnya dikenal olehmu.” Seseorang yang terhilang tidak akan pernah mengenal Kristus secara pribadi kecuali Roh Kudus membuat-Nya dikenal. Tetapi jika Anda tidak diinsafkan akan dosa, Roh Kudus tidak akan membuat Kristus nyata bagi Anda dalam keselamatan.

Jadi, ketika kita berdoa agar Roh Kudus turun dalam kuasa, kita terutama meminta Allah mengutus Roh untuk (1) menginsafkan orang yang terhilang akan sifat dosanya yang mengerikan, dan (2) kita harus berdoa agar Roh Kudus menyingkapkan Kristus kepada orang itu, sehingga ia benar-benar dapat mengetahui kekuatan Darah Kristus untuk menyucikan dirinya dari dosa. Keinsafan akan dosa dan penyucian oleh Darah Kristus adalah dua karya utama dari Roh Allah dalam pertobatan sejati, sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes pasal 16. Brian H. Edwards berkata, “Tidak banyak orang Kristen hari ini yang tahu apa yang harus didoakan ketika mereka diminta berdoa untuk kebangunan rohani” Brian H. Edwards, Revival, Evangelical Press, 2004 edition, hal. 80).

Salah satu alasan mereka tidak tahu apa yang harus didoakan adalah karena kebanyakan orang Kristen saat ini tidak melihat kebutuhan dari orang-orang terhilang untuk berada di bawah keinsafan akan dosa, dan mereka tidak percaya pada “krisis pertobatan” seperti yang dipercaya oleh nenek moyang kita. Tetapi saya telah mengatakan kepada Anda bahwa kita harus berdoa memohon Roh Kudus untuk turun dan menginsafkan orang-orang yang datang ke gereja kita ini yang masih terhilang. Jika mereka tidak berada di bawah keinsafan akan dosa mereka tidak akan diselamatkan.

Dan kemudian, alasan lainnya mengapa banyak orang Injili tidak tahu apa yang harus didoakan adalah karena kebanyakan orang Injili hari ini tidak percaya pada “krisis” pertobatan, seperti yang dipercaya oleh nenek moyang kita. Nenek moyang kita mengatakan bahwa seseorang yang berada di bawah keinsafan adalah orang yang “terbangun,” tetapi belum diselamatkan. Nenek moyang kita mengatakan bahwa orang yang terbangun harus melalui pergumulan yang berat untuk berbalik dari dosa, yang disamakan dengan seorang wanita yang akan melalui rasa sakit ketika melahirkan seorang bayi. Hanya dengan cara ini, nenek moyang kita mengatakan, seseorang bisa benar-benar mengalami pertobatan (lihat pertobatan “Si Kristen dalam “Perjalanan Seorang Musyafir).

John Samuel Cagan mengalami krisis pertobatan yang jelas. Pertobatannya adalah seperti yang dialami oleh John Bunyan, tidak seperti apa yang disebut keselamatan oleh orang-orang injili masa kini.

      Sebelum saya diselamatkan saya merasa seperti sekarat... Saya tidak bisa menemukan bentuk damai apapun... Roh Kudus mulai mengakimi saya akan dosa saya pada waktu itu dengan sangat, tetapi dengan seluruh kekuatan saya, saya mau menolak semua pikiran saya tentang Allah dan pertobatan. Saya menolak untuk berpikir tentang hal itu, namun saya tidak bisa berhenti merasa begitu tersiksa. Sebelum Minggu pagi pada tanggal 21 Juni 2009, saya benar-benar kelelahan. Saya sangat lelah melewati semua itu. Saya mulai membenci diri saya sendiri, membenci dosa saya dan itulah yang saya rasakan.
      Sementara Dr. Hymers berkhotbah, kesombongan saya berusaha mati-matian untuk menolaknya, tidak mendengarkannya, tetapi sementara ia berkhotbah saya benar-benar bisa merasakan semua dosa saya di dalam jiwa saya. Saya menghitung mundur detik-detik sampai khotbah itu akan berakhir, tetapi pendeta ini terus berkhotbah, dan dosa-dosa saya menjadi nampak semakin buruk dan buruk sekali. Saya tidak bisa lagi menendang galah rangsang, saya harus diselamatkan! Bahkan ketika undangan diberikan saya masih menolak, tetapi saya tidak bisa tahan lagi. Saya tahu bahwa saya adalah orang berdosa yang paling buruk dan bahwa Allah adalah benar untuk menghukum saya ke neraka. Saya sangat lelah berjuang, saya sangat lelah sekali. Pendeta menasehati saya, dan mengatakan kepada saya untuk datang kepada Kristus, tetapi saya tidak mau. Bahkan ketika semua dosa saya diinsafkan, saya masih tidak mau menerima Yesus. Saat itu adalah saat yang terburuk ketika saya merasa seolah-olah saya tidak bisa diselamatkan dan saya pasti pergi ke neraka. Saya “mencoba” untuk diselamatkan, saya “mencoba” untuk percaya Kristus dan saya tidak bisa, saya hanya tidak bisa mendorong diri saya sendiri untuk datang kepada Kristus, dan itu membuat saya merasa begitu putus asa. Saya bisa merasakan dosa saya mendorong saya ke dalam neraka namun saya bisa merasakan keras kepala saya menekan airmata saya. Saya terjebak dalam konflik ini.
      Tiba-tiba kata-kata dari kotbah yang pernah dikhotbahkan pada tahun sebelumnya memasuki pikiran saya: “Menyerahlah kepada Kristus! Menyerahlah kepada Kristus!” Pikiran bahwa saya harus menyerah kepada Yesus begitu menekan saya. Yesus telah memberikan hidup-Nya bagi saya. Yesus benar-benar telah disalibkan bagi saya ketika saya adalah musuh-Nya dan saya tidak mau menyerah kepada-Nya. Pikiran ini menghancurkan saya; Saya harus membiarkan semua itu berlangsung. Saya hanya tidak dapat mempertahankan diri sendiri lagi, saya harus memiliki Yesus! Pada saat itu saya menyerah kepada-Nya dan datang kepada Yesus dengan iman. Pada saat itu rasanya saya membiarkan diri saya, mati, dan kemudian Kristus memberikan saya hidup! Tidak ada tindakan atau kehendak pikiran saya tetapi dengan hati saya, hanya dengan beristirahat di dalam Kristus, Dia menyelamatkan saya! Ia membasuh dosa saya di dalam Darah-Nya! Pada saat itu juga, saya berhenti menolak Kristus. Sangat jelas bahwa semua yang harus saya lakukan hanyalah percaya kepada-Nya; Seketika itu juga saya diselamatkan dan itu hanya oleh Kristus. Saya harus menyerah! Pada saat itu tidak ada perasaan apapun atau melihat cahaya yang menyilaukan, saya tidak membutuhkan perasaan, saya membutuhkan Kristus! Namun ketika saya percaya Kristus, saya merasa seolah-olah dosa saya telah diangkat dari jiwa saya. Saya berbalik dari dosa saya, dan saya melihat Yesus sendiri! Yesus menyelamatkan saya.
      Betapa Yesus begitu mengasihi saya sehingga mau mengampuni orang berdosa yang dibesarkan di sebuah gereja yang baik dan masih terus berbalik melawan Dia ini! Kata-kata tampaknya tidak dapat mengambarkan pengalaman pertobatan saya dan mengekspresikan kasih saya kepada Kristus. Kristus telah memberikan hidup-Nya bagi saya dan untuk ini saya akan memberikan segalanya kepada-Nya. Yesus telah mengorbankan takhta-Nya untuk tersalib bagi saya bahkan ketika saya meludahi gereja-Nya dan mengejek keselamatan-Nya; bagaimana saya bisa cukup menyatakan kasih dan rahmat-Nya? Sebaliknya Yesus telah menghapus kebencian dan kemarahan saya dan memberikan kasih kepada saya. Dia memberikan kepada saya lebih dari sekedar sebuah awal yang baru - Dia telah memberikan hidup baru kepada saya.

Saya setuju dengan Dr. Martyn Lloyd-Jones bahwa Rasul Paulus memberi kita contoh pertobatan sejati dalam dua ayat terakhir dari Roma 7. Dr. Lloyd-Jones mengatakan bahwa ayat-ayat ini menjelaskan pertobatan Paulus sendiri. Saya setuju. Paulus berkata,

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24).

Itulah adalah keinsafan! - ketika orang berdosa menyerah pada dirinya sendiri dan muak dengan hatinya yang penuh dosa yang telah memperbudak dia. Tetapi kemudian Paulus berkata,

“Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”
       (Roma 7:25).

Itu adalah pertobatan - ketika orang berdosa yang telah tersiksa diselamatkan oleh Yesus Kristus, Tuhan! Itu di sini, untuk pertama kalinya, bahwa orang berdosa, yang telah dibuat melihat bahwa dia adalah seorang budak dosa yang tidak memiliki harapan, akhirnya berbalik kepada Yesus dan disucikan dari dosa dengan darah-Nya. Salah satu tragedi terbesar zaman kita adalah bahwa sebagian besar orang injili tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk mengalami dua pengalaman yang sangat penting itu. Pada sengatan pertama dari hati nurani, atau mungkin bahkan tidak, decisionis akan meminta mereka mengucapkan doa orang berdosa. Saya percaya itu adalah alasan yang paling penting mengapa kita tidak lagi memiliki kebangunan rohani yang mengubah bangsa di Amerika sejak tahun 1859.

Jadi, ini adalah hal yang paling harus kita doakan jika Anda ingin gereja kita mengalami kebangunan rohani. Pertama, berdoa kepada Allah untuk mengirim Roh-Nya untuk menginsafkan orang-orang yang terhilang dari dosa. Kedua, berdoalah agar Roh Allah menyingkapkan Yesus kepada mereka dan menarik mereka kepada-Nya, memberi pengampunan melalui kematian-Nya di kayu Salib, dan penyucian dari dosa melalui darah-Nya yang mahal!

Pendeta Brian H. Edwards mengatakan bahwa doa untuk kebangunan rohani berfokus pada “pertobatan, kegelisahan (terbangun), dan ketertiduran” (Revival, Evangelical Press, 2004 edition, hal. 127). Mengapa doa untuk kebangunan rohani difokuskan pada “pertobatan” serta “kegelisahan” dan “ketertiduran”? Karena orang-orang yang bertobat bisa murtad. Di gereja First Chinese Baptist Church kebangunan rohani mulai dari antara orang-orang percaya yang memiliki dosa di dalam hati mereka. Mereka mulai mengakui dosa mereka secara terbuka, dengan air mata, di depan semua orang. Beberapa memiliki kepahitan terhadap orang lain di dalam gereja. Beberapa telah membiarkan dosa-dosa rahasia mengisi dalam kehidupan mereka. Mereka telah memaafkan dosa-dosa mereka, dengan mengatakan bahwa mereka tidak peduli. Tetapi ketika Roh Kudus turun, hati mereka diremukkan. Mereka menyadari bahwa doa mereka dingin dan mati. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki kepahitan dan kemarahan terhadap orang lain di dalam gereja. Yang lain menolak untuk melakukan sesuatu yang mereka tahu bahwa Allah ingin mereka lakukan.

Mungkin ada orang Kristen di gereja kita yang menolak mematuhi Allah pada sesuatu. Itu dapat menghambat kebangunan rohani! Ketika kebangunan rohani terjadi di Asbury College di Wilmore, Kentucky pada tahun 1970 ratusan mahasiswa yang benar-benar bertobat merasa bahwa mereka harus mengakuinya... secara terbuka. Mereka berdiri dalam antrean, kadang-kadang selama berjam-jam, menunggu untuk sampai ke mikrofon pada kapel itu sehingga mereka bisa mengakui... [ketidaktaatan] mereka dan meminta didoakan.

Orang yang sedang memimpin kebaktian Asbury itu tidak berkhotbah. Sebaliknya, ia sempat memberikan kesaksiannya, dan kemudian memberikan undangan kepada para mahasiswa untuk berbicara tentang pengalaman Kristen mereka sendiri. Tidak ada yang istimewa tentang itu. Salah seorang mahasiswa menjawab tawarannya. Kemudian yang lain. Kemudian yang lainnya lagi. “Kemudian mereka mulai memenuhi altar,” katanya. “Itu mengejutkan.” Secara bertahap, entah kenapa, para mahasiswa dan dosen sama-sama menemukan diri mereka diam-diam berdoa, menangis, bernyanyi. Mereka mencari orang lain yang kepada siapa mereka telah melakukan perbuatan yang salah dan meminta maaf. Kebaktian kapel itu berlangsung selama delapan hari [24 jam per hari].

Ini persis apa yang terjadi di gereja First Chinese Baptist Church juga, sekitar waktu yang sama seperti kebangunan rohani di Asbury. Itu berlangsung selama berjam-jam, ketika orang-orang muda Tionghoa mengaku dan berdoa. Pengakuan terbuka adalah umum pada kebangunan rohani di Korea pada tahun 1910. Hari ini pengakuan terbuka oleh orang-orang Kristen, dengan air mata, adalah umum di Cina, dalam kebangunan rohani besar yang terjadi di sana. Evan Roberts berseru, “Tuhan, buatlah saya menunduk,” ketika ia menyerah kepada Allah dan menjadi pemimpin dalam Kebangunan Rohani di Welsh pada tahun 1905. Bagaimana dengan Anda? Maukah Anda berdoa agar Allah membungkukkan Anda? Nyanyikan “Selidikilah aku, ya Allah.”

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
Lihatlah, apakah jalanku serong,
Dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
   (Mazmur 139:23, 24).

Rohulkudus, penuhi jiwaku;
Mari bekerja dalam diriku;
Karna janjiMu 'kan menopangku;
O Tuhanku, berilah berkatMu.

Itu bisa terjadi di gereja kita jika Allah menurunkan Roh-Nya dalam suatu kebangunan rohani. “Selidikilah aku, ya Allah.” Nyanyikan lagu ini dengan lembut.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
Lihatlah, apakah jalanku serong,
Dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
   (Mazmur 139:23, 24).

Amin.


KETIKA ANDA MENULIS KEPADA DR. HYMERS ANDA HARUS MEMBERITAHU BELIAU DARI NEGARA MANA ANDA MENULIS ATAU IA TIDAK DAPAT MENJAWAB EMAIL ANDA. Jika khotbah ini memberkati Anda silahkan mengirim email kepada Dr. Hymers dan ceritakan kepadanya, tetapi selalu jelaskan pada beliau dari negara mana Anda mengirimnya. Surel Dr. Hymers ada di rlhymersjr@sbcglobal.net (klik di sini). Anda dapat menulis surel kepada Dr. Hymers dalam bahasa apapun, namun tulislah dalam bahasa Inggris jika Anda dapat. Jika anda ingin menulis surat kepada Dr. Hymers melalui pos, alamat beliau adalah P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Anda boleh menelepon beliau di (818)352-0452.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
www.sermonsfortheworld.com.
Klik pada “Khotbah Indonesia.”

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.