Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 116,000 komputer di lebih dari 215 negara setiap bulannya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 34 bahasa untuk ribuan orang setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net.




DOA YANG DIJAWAB ALLAH

THE PRAYERS GOD ANSWERS
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 22 Mei 2016

“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan” (Yakobus 5:17).


Sangat menarik bahwa Perjanjian Lama tidak menekankan Elia berdoa untuk hal ini. Di sana hanya diberitahukan kepada kita bahwa nabi tahu bahwa Allah akan menjawab doa-doa, namun doa untuk apa itu di sana tidak ditekankan (I Raja-raja 17:1). Saya berpikir bahwa isi doa Elia diberikan melalui wahyu khusus kepada Yakobus. Tetapi Perjanjian Lama hanya memberi kita apa yang dikatakan nabi kepada Raja Ahab. Dr. McGee menunjukkan bahwa para nabi berbicara kepada umat, tetapi imam berbicara kepada Allah. Elia adalah seorang nabi, sehingga Alkitab hanya memberikan penjelasan kepada kita apa yang dikatakan Elia kepada Ahab. Apa yang Elia katakan kepada Allah dalam doanya tersembunyi hingga akhirnya Allah menyingkapkannya kepada Yakobus. Elia berbicara kepada Ahab dan berkata,

“Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan” (I Raja-Raja 17:1).

Kita tidak akan tahu banyak tentang doa Elia tentang masa kekeringan dan hujan itu jika Yakobus 5:17 belum diilhamkan Allah kepada Yakobus (II Timotius 3:16).

Teks ini mengatakan bahwa Elia “bersungguh-sungguh” berdoa supaya hujan tidak turun.” Kata Yunani yang diterjemahkan “bersungguh-sungguh” di sini berarti “Dia berdoa dengan doa.” Thomas Manton (1620-1677) mengatakan itu menandakan “keselarasan antara lidah dan hati; hati berdoa dan lidah berdoa” (Commentary on James, The Banner of Truth Trust, 1998, cetak ulang). Saya percaya itu berarti lebih dari sekedar berdoa dengan suara nyaring. Saya pikir Manton benar bahwa itu menandakan keselarasan antara hati dengan kata-kata dari doa. Ini berarti bahwa hati dengan sungguh-sungguh menginginkan apa yang dikatakan di dalam doanya.

Selama bertahun-tahun saya telah melihat banyak jawaban yang luar biasa untuk doa. Tetapi tidak semua yang saya doakan dijawab dengan cepat. Jawaban yang luar biasa dari doa biasanya datang ketika pada awalnya beban yang berat untuk hal yang saya sedang doakan. Ini akan menjadi sesuatu yang saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Orang-orang Kristen zaman dulu menyebutnya sebagai “beban,” sesuatu yang berat yang Anda tanggung, sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, sehingga Anda begitu sangat memikirkannya terus menerus dan selalu Anda ingat. Dan Anda berdoa untuk itu sampai jawabannya datang.

Kristus memberikan dua perumpamaan untuk menunjukkan pentingnya terus berdoa untuk hal-hal yang membebani kita sampai jawabannya datang. Salah satunya adalah apa yang disebut “Perumpamaan tentang Seorang Sahabat yang Merepotkan.” “Merepotkan” berarti “terus menerus” atau bahkan “mengganggu.” Perikop tersebut tercatat dalam Lukas 11:5-13. Ini ada pada halaman 1090 di Scofield Study Bible. Mari kita berdiri dan membacanya keras-keras.

“Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Lukas 11:5-13).

Anda dipersilahkan untuk duduk kembali.

Seluruh perumpamaan tersebut mengajarkan kita untuk terus meminta dan terus berdoa sampai kita menerima apa yang kita minta. Ayat sembilan dan sepuluh berkata,

“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Lukas 11:9-10).

Kata “meminta,” “mencari”, dam “mengetok” adalah dalam bentuk waktu sekarang dalam teks Yunaninya. Ini bisa diterjemahkan sebagai “terus meminta, terus mencari, terus mengetuk.” Sekarang lihat ayat 13,

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya?” (Lukas 11:13).

Jadi di sini doa yang terus-menerus akan dijawab oleh Allah dengan memberikan Roh Kudus untuk “teman-teman” kita yang membutuhkan. Dr. John R. Rice benar ketika ia mengatakan hal ini berlaku bagi orang Kristen yang meminta kuasa Roh Kudus untuk memenangkan jiwa (Prayer: Asking and Receiving, hlm. 212, 213).

Namun ajaran yang sama juga diberikan dalam Matius 7:7-11. Ini ada pada halaman 1003 pada Scofield Study Bible. Bacalah ini dengan keras,

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya?” (Matius 7:7-11).

Anda akan melihat bahwa ayat 11 memiliki kata-kata yang berbeda. Dalam Lukas 11 Yesus berkata, “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya?” Tetapi dalam Matius 7:11 Yesus berkata, “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya?”

Nabi Elia berdoa agar tidak akan turun hujan, dan tidak turun hujan selama tiga setengah tahun. Itulah beban yang Allah letakkan di dalam hatinya. Dan, ketika dia berdoa, Allah menjawab dengan menghentikan hujan. Kadang-kadang Allah menjawab dengan cepat. Di lain waktu Allah tidak menjawab dulu.

Saya juga ingat malam ketika Allah menjawab doa saya dengan cepat. Saya berusia dua belas tahun. Saya dikirim untuk tinggal bersama seorang bibi dan paman yang tinggal di puncak Topanga Canyon. Saya bersekolah dua bulan di sana - salah satu dari dua puluh dua sekolah yang pernah saya ikuti sebelum saya lulus dari perguruan tinggi. Itu sebabnya saya gagal di perguruan tinggi pada pertama kalinya saya kuliah. Ketika Anda berpindah sekolah sekitar dua puluh dua kali, Anda tidak akan belajar banyak. Saya hanya belajar bagaimana membaca. Saya hanya belajar bagaimana menulis dalam tulisan tangan. Saya belajar bagaimana berhitung penjumlahan dan pengurangan. Tentang semua itu saja. Tetapi di sana saya, di puncak Topanga Canyon, saya tinggal bersama seorang bibi yang mabuk sepanjang waktu. Suatu malam sepupu saya dan temannya sedang minum. Bahkan, mereka cukup mabuk. Mereka mengatakan, “Ayo, Robert. Masuk ke dalam mobil dan kita akan naik sedikit.” Saya tidak ingin pergi, tapi saya baru berusia dua belas tahun, dan orang-orang besar menyambar saya dan mendudukan saya di belakang mobil. Itu mobil Ford tahun 1940 milik paman saya. Itu hanya ada kursi depan. Mereka mendesak saya ke dalam ruang sempit di belakang kursi depan. Kemudian mereka berangkat minum bir dan wiski. “Sedikit naik” berubah menjadi liar, dalam keadaan mabuk menyusuri jalan berkelok-kelok menuju ke pantai. Jika Anda pernah melewati jalan seperti itu tentu Anda dapat membayangkan bagaimana rasanya. Jalan meliuk-liuk, berkelok-kelok seperti ular. Mereka cukup mabuk dan sepupu saya memacu mobilnya sekitar enam puluh mil per jam menuruni bukit itu. Batas kecepatan telah dipasang di sana, saya pikir, 25 mil per jam dan mereka memacu kecepatan sekitar 65 atau 70 mil per jam. Saya tidak akan pernah melupakannya selama saya masih hidup. Saya masih memiliki mimpi buruk tentang hal itu sekali-sekali. Saya merebahkan kepala dan berdoa hanya dengan cara berdoa yang saya tahu pada saat itu. Saya menaikkan Doa Bapa Kami di sepanjang jalan menuruni bukit itu - dengan penekanan pada kata-kata, “Lepaskanlah kami dari yang jahat.” Di bagian bawah gunung saya keluar dari mobil dan berdiri di sana sambil gemetar. Saya tahu itu pastilah Allah yang menyelamatkan kami. Ada banyak kecelakaan fatal di jalan itu. Saya telah melihat mobil yang terjun ke jurang dan terbakar di bawah sana. Allah menyelamatkan kami sebagai jawaban doa. Saya tahu itu kemudian, dan saya tahu itu sekarang, enam puluh tiga tahun kemudian! Seringkali Allah menjawab doa-doa pendek seperti yang Dia lakukan pada malam itu.

Tetapi pada berbagai kesempatan lainnya kita harus menunggu, kadang-kadang untuk jangka waktu yang lama, sebelum jawaban itu datang. Pada usia tujuh belas tahun saya memutuskan untuk tidak menjadi aktor dan sebaliknya saya masuk ke dalam pelayanan. Tidak ada emosi yang terlibat, tidak ada perasaan apapun. Saya bahkan tidak ingat pernah mendengar tentang menjadi “dipanggil” untuk melayani. Mungkin seseorang mengatakan itu, tetapi saya tidak pernah mendengar itu. Mereka selalu berbicara tentang “menyerahkan diri” untuk melayani. Para pendeta berbicara tentang setelah melalui perjuangan yang luar biasa dan akhirnya “menyerah” untuk menjadi seorang pendeta. Yah, saya tidak melalui perjuangan sama sekali. Saya hanya berpikir bahwa seni peran itu bodoh dan tidak berharga, dan saya menyerahkan diri untuk melayani, apa pun artinya itu! Saya menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Itulah yang membawa saya ke gereja Tionghoa, untuk menjadi seorang misionaris. Saya membaca kehidupan James Hudson Taylor, misionaris perintis terkenal ke Cina. Dan saya tahu bahwa dia adalah seorang model peran yang besar bagi saya untuk saya ikuti.

Jadi saya pergi ke gereja Tionghoa dan menghempaskan diri ke dalam setiap jenis pelayanan yang tersedia. Saya bahkan menjadi tukang kebun gereja dan petugas kebersihan, membersihkan lantai, menyiapkan kursi, apapun yang saya bisa lakukan untuk melayani Tuhan. Selama waktu itu saya membeli salinan dari John Wesley Journal, yang diterbitkan oleh Moody Press. Saya membacanya, memandangnya hampir seperti Alkitab itu sendiri. Saya tidak menyadari pada saat itu tetapi memberi gambaran grafis dari apa yang terjadi di Kebangunan Rohani Pertama (First Great Awakening). Wesley’s Journal membuat saya sangat tertarik dengan subjek kebangunan rohani. Saya masih terlalu muda dan kurang pengalaman untuk tahu bagaimana kebangunan rohani langka telah terjadi sebelum awal tahun 1960-an. Saya naif, berpikiran cukup sederhana untuk berpikir saya bisa berdoa untuk kebangunan rohani dan itu akan terjadi. Jadi saya berdoa untuk kebangunan rohani datang ke gereja Tionghoa tersebut. Saya berdoa untuk itu setiap hari. Saya berdoa untuk itu keras-keras di setiap pertemuan doa. Ketika saya diminta untuk memimpin doa ucapan syukur pada saat makan di gereja seluruh doa saya adalah kiranya Allah mengirimkan kebangunan rohani. Itu adalah hal utama yang saya doakan sepanjang tahun 1960-an. Saya benar-benar tidak terlalu terkejut ketika kebangunan rohani itu datang, dimulai dengan tiba-tiba di sebuah kamp musim panas di akhir tahun 1960-an. Saya tahu itu akan datang karena, dengan iman seperti anak kecil, saya telah berdoa untuk itu. Beberapa tahun sebelum ia meninggal Dr. Murphy Lum mengingatkan saya tentang doa-doa itu. Ia mengatakan, “Bob, kamu selalu berdoa untuk kebangunan rohani, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melakukannya.” Lalu dia berkata, “Bob, saya percaya kebangunan rohani datang karena kamu terus berdoa untuk itu.” Tetapi pada saat dia mengatakan itu saya hampir lupa tentang hal itu.

Kebangunan Rohani di gereja Tionghoa tersebut menjadi beban di hati saya. Saya percaya Allah menaruh beban di dalam diri saya. Saya tidak bisa berhenti memikirkan itu. Dan saya berdoa untuk itu sampai Allah menjawab doa saya. Orang-orang Kristen zaman dulu menyebutnya “berdoa tak henti-hentinya.” Ini adalah dengan mendesak, terus-menerus berdoa - sampai Allah menjawab dan Anda menerima apa yang Anda minta! Yesus berkata,

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya?” (Matius7:11).

Lagi, Yesus berkata,

“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Lukas 11:9, 10).

“Meminta,” “mencari” dan “mengetuk” berada di bentuk waktu sekarang dalam bahasa Yunani. Itu berarti, “terus meminta, terus mencari, terus mengetuk.” Dr. John R. Rice berkata, “Seorang anak Allah memiliki hak untuk... terus-menerus, tak henti-hentinya memohon janji-janji Allah dan tidak mau menerima penolakan, sampai apa yang dibutuhkan... diterima dari Allah. Oh, kiranya umat Allah didorong untuk berdoa, berdoa, berdoa - kiranya mereka didorong untuk BERDOA TAK HENTI-HENTINYA!

Tetaplah dalam doa
   Sampai doamu dijawab,
Tetaplah dalam doa
   Sampai doamu dijawab,
Janji-janji Allah yang besar
   Selalu benar,
Tetaplah dalam doa
   Sampai doamu dijawab.”

(John R. Rice, D.D., Prayer: Asking and Receiving, Sword of the Lord Publishers, 1970, hlm. 213, 214).

Dr. R. A. Torrey, dalam buku kecilnya yang terkenal, How to Pray, mengatakan hal yang sama. Dr. Torrey berkata,

     Allah tidak selalu memberi kita semua hal pada usaha pertama kita. Dia ingin melatih kita dan membuat kita kuat dengan memaksa kita bekerja keras untuk hal-hal yang terbaik... Dia tidak selalu memberikan apa yang kita minta dalam doa untuk menjawab doa pertama kita. Dia ingin melatih kita dan membuat kita menjadi orang kuat dalam doa dengan memaksa kita untuk berdoa dengan sungguh-sungguh untuk hal-hal terbaik. Dia membuat kita berdoa tak henti-hentinya.
     Saya senang bahwa itu demikian. Tidak ada pelatihan yang lebih terberkati dalam doa daripada pelatihan yang datang melalui dipaksa untuk meminta lagi dan lagi, untuk jangka waktu yang lama, sebelum memperoleh apa yang kita cari dari Allah. Banyak orang menyebutnya menyerahkan kepada kehendak Allah saat Allah tidak menjawab permintaan mereka pada doa pertama atau kedua. Mereka mengatakan, “Yah, mungkin itu bukan kehendak Allah.”
     Sebagai aturan, ini bukan penyerahan tapi kemalasan rohani... Ketika seorang pria atau wanita yang kuat mulai berusaha untuk mencapai hal tertentu dan tidak mendapatnya pada waktu pertama atau kedua atau seperseratus, ia terus berusaha sampai ia memperolehnya. Orang yang kuat dalam doa terus berdoa sampai ia berdoa tak henti-hentinya dan memperoleh apa yang ia doakan... Ketika kita mulai berdoa untuk hal itu, kita tidak boleh menyerah berdoa untuk itu sampai kita menerimanya (R. A. Torrey, D.D., How to Pray, Whitaker House, 1983, hal. 50, 51).

Tetapi ada sisi lain untuk ini. Doa-doa Anda tidak akan dijawab jika hati Anda tidak benar dengan Allah. Saya membawa keluarga saya untuk berlibur di Cancun, Meksiko pada awal Januari. Suatu hari, saat mereka pergi untuk melihat reruntuhan suku Maya, saya tinggal sendirian. Saya membaca buku tentang kebangunan rohani di Kepulauan Lewis dari tahun 1949 hingga 1952. Saya berdoa dan menulis khotbah. Ketika kami kembali saya mengumumkan bahwa kami akan mengadakan pertemuan penginjilan setiap malam. Seperti yang Anda tahu, Allah ada di dalamnya. Ini dimulai dengan Dr. Cagan yang memimpin ibunya yang berusia 89 tahun datang kepada Kristus. Itu adalah keajaiban yang nyata karena ia pernah menjadi seorang atheis yang keras selama bertahun-tahun. Kemudian ibu mertua Dr. Cagan diselamatkan - pada usia 86 tahun. Kita tahu dengan statistik bahwa pertobatan hampir tidak pernah terjadi pada orang yang berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Di sini, dalam beberapa hari, dua wanita di akhir tahun delapan puluhan mereka diselamatkan. Luar biasa! Kemudian, satu per satu, 11 orang muda diselamatkan. Lalu beberapa hari kemudian, ada pertobatan lainnya. Empat belas orang diselamatkan dalam beberapa hari.

Tetapi kemudian saya membaca Roma 12:1 dan 2 dan menerapkannya pada orang-orang yang diselamatkan di gereja ini pada tahun-tahun sebelumnya.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1, 2).

Bila Anda telah berkhotbah sama lamanya dengan saya, Anda akan belajar untuk merasakan respon dari jemaat. Apa yang saya rasakan tidak baik. Saya melihat orang-orang muda mengencangkan rahang mereka dan memandang ke bawah ke lantai. Saya merasakan perlawanan yang mendalam dan menantang Kristus, seolah-olah mereka tidak akan pernah tunduk kepada-Nya. Ini terasa seperti kejutan dingin masuk dalam hati saya. Rasanya hampir seolah-olah mereka perlu diselamatkan lagi. Itu adalah kasus ketika orang-orang membiarkan hal dari dunia ini mengambil tempat Kristus dalam hati mereka. Hati mereka menjadi hampir sama kerasnya dengan ketika mereka belum diselamatkan. Hati itu harus diremukkan lagi dan menyerah pada Kristus lagi.

Pemberontakan memerintah di hati orang-orang yang berulang kali menolak untuk menyerah kepada Kristus. Dia mengatakan untuk memikul salib Anda “setiap hari dan mengikut Aku.” Harus ada penyerahan kepada Kristus “setiap hari”, atau hati kita akan menjadi dingin dan keras. Adalah salah untuk berpikir, “Saya telah diselamatkan sekarang. Saya tidak perlu lagi menghasilkan buah hidup saya bagi Kristus.” Betapa berbedanya itu dari apa yang dikatakan Rasul Paulus, “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12: 1, 2). Untuk mengetahui kehendak Allah Anda harus menyerahkan diri sebagai korban yang hidup kepada-Nya, dan tidak menjadi serupa dengan dunia.

Hati yang tidak diserahkan sebagai “pengorbanan hidup” kepada Kristus akan menjadi hati yang terbagi. Alkitab mengatakan, “Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan” (Yakobus 1:7). Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Yesus memanggil Anda untuk menyangkal diri sendiri. Dia memanggil Anda untuk mengikuti-Nya. Oh, berapa kali dalam hidup saya telah kehilangan sukacita keselamatan saya karena saya tidak mau menyangkal diri sendiri dan mengikuti-Nya! Tetapi, oh, betapa sukacita dari Tuhan telah datang kembali, dari waktu ke waktu, ketika saya mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup kepada Yesus! Saya berdoa malam ini kiranya Anda akan melakukannya juga. Saya menyukai lagu yang Mr. Griffith nyanyikan hampir sepanjang hidup saya. Sebagai remaja yang sedang kesepian, bingung, air mata mengalir dari mata saya setiap kali saya menyanyikan kata-kata ini,

KebajikanMu betapa
   Meliputi hidupku!
Kasih karuniaMu, Bapa,
   Memb'ri damai di kalbu.
Bila kuingin menyimpang,
   Luruskanlah jalanku;
Bila imanku bergoncang,
   Curahkanlah kuasaMu!
(“Come, Thou Fount” oleh Robert Robinson, 1735-1790/
      Terjemahan Nyanyian Pujian No. 13).

Apakah ada beberapa dari antara Anda di sini malam ini yang tahu bahwa Anda harus menyangkal diri sendiri lagi - dan memikul salib Anda dan mengikuti Yesus lagi? Apakah ada beberapa dari Anda yang harus “menyerahkan tubuhmu” sebagai “persembahan yang hidup” kepada Tuhan? Jika Allah sedang berbicara kepada Anda seperti itu, pada saat ini, saya ingin meminta Anda untuk meninggalkan tempat duduk Anda dan berlutut di sini di depan auditorium. Majulah dan dedikasikan hidup Anda lagi, sebagai persembahan yang hidup kepada Yesus, yang telah mati di kayu Salib untuk menyelamatkan Anda. Mari ke sini dan serahkan hati dan hidup Anda kepada Yesus lagi dan lagi. Datanglah dan mengakulah kepada-Nya untuk setiap pemberontakan atau dosa dalam hati dan hidup Anda. Datanglah dan mintalah Yesus untuk mengampuni Anda, dan memperbaharui ketaatan Anda kepada-Nya. Ketika kita berdiri bersama-sama, Anda silahkan maju dan berlutut di sini, dan berdoa. Sementara Mr. Griffith menyanyikan pujian ini dengan lembut, Anda maju ke depan.

Allah Bapa, Sumber kurnia,
   Ku memuja namaMu.
Sungai rahmatMu, ya Bapa,
   Memb'ri kidung dalamku.
Ajar aku t'rus bermadah,
   Ya laksana malakMu;
Karna kasihMu melimpah,
   Bergembira hatiku.

Hingga saat s'karang ini
   PimpinanMu beserta.
O semoga Kau sendiri
   Antar aku ke surga!
Dulu kala kumerana
   Dalam dosa terjerat;
DarahMu yang berkuasa
   Mencurahkan selamat.

KebajikanMu betapa
   Meliputi hidupku!
Kasih karuniaMu, Bapa,
   Memb'ri damai di kalbu.
Bila kuingin menyimpang,
   Luruskanlah jalanku;
Bila imanku bergoncang,
   Curahkanlah kuasaMu!


Jika khotbah ini memberkati Anda Dr. Hymers akan senang mendengar dari Anda. KETIKA ANDA MENULIS KEPADA DR. HYMERS ANDA HARUS MEMBERITAHU BELIAU DARI NEGARA MANA ANDA MENULIS ATAU IA TIDAK DAPAT MENJAWAB EMAIL ANDA. Jika khotbah ini memberkati Anda silahkan mengirim email kepada Dr. Hymers dan ceritakan kepadanya, tetapi selalu jelaskan pada beliau dari negara mana Anda mengirimnya. E-mail Dr. Hymers ada di rlhymersjr@sbcglobal.net (klik di sini). Anda dapat menulis email kepada Dr. Hymers dalam bahasa apapun, namun tulislah dalam bahasa Inggris jika Anda dapat. Jika anda ingin menulis surat kepada Dr. Hymers melalui pos, alamat beliau adalah P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Anda boleh menelepon beliau di (818)352-0452.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
www.sermonsfortheworld.com.
Klik pada “Khotbah Indonesia.”

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Yakobus 4:1-10.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Come, Thou Fount” (oleh Robert Robinson, 1735-1790).