Print Sermon

Naskah-naskah khotbah dan video ini diakses oleh sekitar 116,000 komputer di lebih dari 215 negara setiap bulannya di www.sermonsfortheworld.com. Ratusan orang lainnya menyaksikan video di YouTube. Naskah-naskah khotbah ini disajikan dalam 34 bahasa untuk ribuan orang setiap bulannya. Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Jadi para pengkhotbah boleh menggunakannya tanpa seijin kami. Silahkan klik di sini untuk mengetahui bagaimana Anda dapat memberikan donasi setiap bulan untuk membantu kami dalam pekerjaan besar pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini.

Kapanpun Anda menulis pesan untuk Dr. Hymers, selalu sebutkan kepada beliau negara di mana Anda tinggal. Surel Dr. Hymers adalah rlhymersjr@sbcglobal.net.




JAWABAN SAYA TERHADAP FILM BARU “EXODUS” DAN SERANGANNYA TERHADAP ALKITAB!

MY ANSWER TO THE NEW “EXODUS” MOVIE
AND ITS ATTACK ON THE BIBLE!
(Indonesian)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Malam, 28 Desember 2014

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46, 47).


Ketika saya berusia tujuh belas tahun saya merasakan dengan pasti bahwa saya dipanggil untuk masuk ke dalam pelayanan. Saya belum diselamatkan pada waktu itu, tetapi saya tahu Tuhan ingin saya menjadi seorang pengkhotbah. Mereka bilang saya harus memiliki gelar sarjana. Saya memikirkan hal itu untuk waktu yang lama. Saya pernah putus sekolah pada waktu SMU sehingga tidak akan ada perguruan tinggi yang mau menerima saya. Saya kembali menyelesaikan pendidikan SMU saya. Saya sudah terlalu tua untuk kembali ke SMU biasa, sehingga saya melanjutkan ke sekolah khusus untuk “anak-anak nakal.” Saya bukan anak nakal, tetapi ini adalah satu-satunya SMU yang akan mau menerima saya. Setelah satu tahun atau lebih saya lulus dan mulai berpikir untuk kuliah. Selama itu saya membaca sebuah buku tentang James Hudson Taylor, misionaris pelopor ke Cina. Saya pikir, “Itulah yang akan saya lakukan. Saya akan menjadi seorang misionaris untuk orang-orang China.”

Saya berusia sembilan belas tahun ketika saya bergabung dengan gereja First Chinese Baptist Church of Los Angeles. Itu sudah lebih dari setahun sebelum Dr. Timothy Lin menjadi pendeta di gereja itu. Pada tahun yang sama, di musim gugur, saya terdaftar sebagai mahasiswa di Biola College (sekarang Universitas). Saya tidak punya uang dan tidak ada bantuan dari keluarga saya, sehingga saya mengambil pekerjaan paruh waktu di sore hari dan pergi ke kampus di pagi hari. Saya tidak punya mobil, jadi saya harus naik bus dari Los Angeles ke La Mirada, di mana perguruan tinggi tersebut berada. Saya tidak tahu bagaimana cara belajar dengan baik. Perjalanan panjang bus di setiap pagi-pagi buta dan jam kerja di sore hari itu terlalu berat bagi saya untuk menjalaninya. Saya tidak lulus di sebagian besar kelas saya di Biola dan kemudian mengundurkan diri dari kuliah setelah satu semester. Tetapi sesuatu terjadi di Biola yang mengubah hidup saya selamanya.

Setiap semester Biola mengundang pembicara khusus untuk seri khotbah selama seminggu di kapel setiap pagi. Pembicara pada semester itu adalah Dr. Charles J. Woodbridge (1902-1995). Dia menjadi salah satu professor yang ikut mendirikan Fuller Theological Seminary di Pasadena, California. Tetapi Dr. Woodbridge telah mengundurkan diri dari posisinya sebagai dosen di Fuller beberapa bulan sebelumnya karena ia bisa melihat bahwa seminari itu sudah menuju liberalisme.

Selama kebaktian kapel di Biola, Dr. Woodbridge mengkhotbahkan ayat demi ayat dari Surat II Petrus. Dia lahir di Cina karena orangtuanya adalah misionaris. Yang membuatnya tampak sangat istimewa bagi saya. Saya mendengarkan dia lebih saksama dari pada yang pernah saya lakukan ketika mendengarkan pengkhotbah lainnya dalam hidup saya. Ketika ia sampai pada II Petrus 2:1-3, ia dengan keras menentang liberalisme baru di Fuller, dan liberalisme yang sedang berhembus penuh di banyak seminari lainnya. Dia tidak bodoh. Dia lulus dengan gelar Ph.D. dalam Sejarah Gereja dari Princeton University dan melakukan penelitian lebih lanjut di Duke University. Dr. J. Gresham Machen menunjuknya sebagai kepala Badan Independen untuk Misi Luar Negeri Presbyterian (Independent Board for Presbyterian Foreign Missions). Setelah mendengarkan dia selama seminggu saya bertobat. Bukan hanya saya diselamatkan, saya juga percaya inspirasi dari Alkitab, ineransi (ketanpa-salahan) mutlak kata demi kata dari Alkitab bahasa Ibrani Perjanjian Lama dan Yunani Perjanjian Baru. Saya hanya kuliah di Biola untuk satu semester. Tetapi di sanalah Yesus menyelamatkan saya, dan di sanalah saya belajar untuk mempercayai setiap kata dari Kitab Suci. Orang-orang Farisi pada abad pertama mengatakan bahwa mereka percaya Perjanjian Lama, tetapi mereka benar-benar menolak nubuatan Perjanjian Lama tentang Kristus. Dan Dia berkata kepada mereka,

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46, 47).

Dr. WA Criswell menekankan bahwa “Setidaknya yang dapat disimpulkan dalam [pernyataan] Yesus ini adalah bahwa Musa memang menulis Kitab Suci dan bahwa orang-orang Yahudi tahu yang ditulis olehnya adalah tentang Dia” (The Criswell Study Bible, catatan untuk Yohanes 5:45- 47). Dr. R. C. H. Lenski berkata, “... orang-orang Yahudi tidak percaya apa yang dikatakan Musa dan dengan demikian juga tidak percaya apa yang Yesus katakan” (The Interpretation of St. John’s Gospel; catatan untuk Yohanes 5:46). Dan Dr. Charles John Ellicott mengatakan, “Mereka tidak percaya Musa, dan karena itu tidak percaya kepada-Nya” (Ellicott’s Commentary on the Whole Bible; catatan untuk Yohanes 5:46).

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46, 47).

Dr. Lenski berkata bahwa kata-kata Yasus “...lebih layak dari semua apa yang disebut ‘penelitian’. yang pernah diajukan dan berdiri melawan para kritikus itu” (Lenski, ibid.). “jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku” (Yohanes 5:46).

Sekarang kita memiliki film dengan judul “Exodus: Gods and Kings” (“Keluaran: Para Dewa dan Para Raja”) diarahkan dan sebagian diproduksi oleh Ridley Scott. Menurut Wikipedia, “Pada 2013 Ridley menyatakan bahwa ia adalah seorang atheis.” Oleh karena itu kita tidak perlu terkejut bila Dr. Albert Mohler berkata, “Apa yang kita lihat dalam film ini adalah Musa tanpa supranatural” (www.albertmohler.com). Tidak mengherankan! Ko-produser dan sutradara film ini adalah seorang atheis! Bagaimana mungkin seorang pria yang tidak percaya pada Tuhan menghasilkan film tentang kisah Keluaran yang benar sesuai dengan Kitab Suci dan benar sesuai dengan kesaksian Tuhan Yesus Kristus? Tidak heran bila Ridley Scott menggambarkan Tuhan sama seperti anak sebelas tahun! Tidak heran dia “menyajikan malapetaka dan mukjizat sebagai peristiwa non-supranatural dengan penjelasan naturalistik” (Mohler, ibid.). Namun Dr. Mohler berkata, “Alkitab dengan jelas menyajikan Keluaran sebagai sejarah, dan sejarah kekristenan dibangun di atas fondasi sejarah itu” (ibid.).

Namun Ridley Scott “... membuat jelas bahwa ia tidak percaya bahwa Musa pernah hidup - dan bahwa catatan Keluaran tidak dapat dianggap sebagai sejarah yang sebenarnya. Dia mengatakan kepada Religious News Service bahwa ia memandang film [-nya] ini seperti dia memandang fiksi ilmiah, ‘Karena saya tidak pernah percaya pada hal itu...” (Mohler, ibid.). Jadi Mr. Scott menempatkan penilaiannya sendiri melawan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus,

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46, 47).

Pada tanggal 13 April 2001 (hlm. A-1) Los Angeles Times memuat artikel halaman depan dengan judul, “Doubting the Story of Exodus” (“Meragukan Kisah Keluaran’) oleh Teresa Watanabe, seorang penulis Times bidang agama. Artikel itu merupakan serangan terhadap Keluaran, sangat mirip dengan penyimpangan dalam film, “Exodus: Gods and Kings.” Saya akan membacakan poin-poin utama dari artikel yang dimuat di Times tersebut dan kemudian menjawabnya.

Meragukan Kisah Keluaran

Banyak sarjana diam-diam menyimpulkan bahwa epik Musa tidak pernah terjadi, dan bahkan para ulama Yahudi memunculkan banyak keraguan...

Namun bagaimanapun, nama-nama para sarjana tersebut tidak disebutkan. Dan hanya satu orang “ulama” Yahudi yang dikutip, seorang rabi di sebuah sinagog di Westwood, dekat Los Angeles. Tetapi artikel itu tidak mengatakan bahwa sinagog itu bukanlah sinagog Ortodoks. Dan artikel itu juga tidak mengatakan bahwa rabbi itu adalah seorang liberal yang tidak pernah mempercayai Perjanjian Lama dengan serius, tidak seperti seorang rabi Ortodoks. Dan artikel itu tidak mengatakan bahwa ada banyak sarjana Perjanjian Lama seperti Dr. Gleason Archer dari Trinity Evangelical Divinity School, Dr. Charles L. Feinberg dari Talbot School of Theology, dan Dr. Timothy Lin yang pernah menjadi presiden China Evangelical Seminary di Taiwan. Orang-orang ini telah mengajarkan bahwa Kitab Keluaran secara harfiah adalah benar. Tetapi orang-orang seperti mereka tidak disebutkan dalam artikel Times itu. Hanya para sarjana yang secara teologis liberal yang disebutkan di sana, sehingga memberikan kesan bahwa tidak ada sarjana-sarjana konservatif. Selanjutnya artikel itu mengatakan,

Para arkeolog mengatakan tidak ada bukti bahwa bangsa Israel pernah berada di Mesir, yang pernah diperbudak, pernah mengembara di padang gurun Sinai selama 40 tahun atau pernah menaklukkan tanah Kanaan (ibid.).

Saya membaca ini untuk anak saya Leslie. Ketika koran itu terbit, ia berusia 17 tahun. Tepat setelah saya membaca itu anak saya berkata, “Jika hal-hal [dalam Keluaran] ini terjadi di bagian belahan dunia yang ‘normal’, seperti China atau Inggris, mereka akan menemukan bukti itu dari dulu. Tetapi itu berada di belahan dunia yang tidak ‘normal’ di Timur Tengah. Mereka terus-menerus mengalami perang dan gesekan. Karena sejak Kitab Keluaran ditulis, orang-orang Yahudi telah dua kali terserak ke seluruh dunia. Tempat dalam Alkitab [dalam Keluaran] ini telah dijarah dan diruntuhkan dan dihancurkan selama ribuan tahun. Kita tidak harus berharap untuk menemukan bukti yang disusun dengan sempurna setelah semua itu.” Ketika ia mengatakan itu, saya berpikir, “Anak usia tujuh belas tahun ini memiliki otak yang lebih cerdas dari pada seorang kritikus liberal Alkitab.”

Rabbi David Eliezrie, presiden Rabbinical Council of Orange County, yang dikutip pada artikel Times, itu berkata,

Hanya beberapa tahun yang lalu, para arkeolog yang sama yang meragukan Kitab Keluaran mengatakan kepada kami bahwa Raja Daud tidak pernah hidup. Teori ini [dipatahkan] ketika sebuah prasasti tentang Raja Daud ditemukan di Israel (Quoted in the Jewish Journal, 4/20/01, hlm. 11).

Seorang teman saya di Israel menulis kepada saya mengatakan bahwa, hanya beberapa tahun sebelum artikel Times itu, para arkeolog menggali sepotong tembikar, yang dipastikan berasal dari masa kehidupan Daud, yang memiliki kata-kata “Raja Daud” yang jelas tertulis di atasnya.

Dr. W. A. Criswell adalah seorang sarjana yang brilian. Dia menyandang gelar Ph.D. dalam bidang bahasa-bahasa Alkitab dari Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky. Dia adalah penulis banyak buku, termasuk banyak buku tafsir dari Alkitab. Dia adalah seorang pendeta dari Gereja First Baptist Dallas, Texas selama lebih dari 50 tahun. Dia dua kali terpilih sebagai Presiden Southern Baptist Convention, denominasi terbesar “Protestan” di Amerika. Dia dengan mudah bisa menjadi presiden seminari teologi! Dalam buku monumentalnya, Why I Preach that the Bible is Literally True (Broadman Press, 1969) Dr. Criswell berkata,

     Sebelumnya ada yang berpikir bahwa tidaklah mungkin Musa bisa menulis Pentateukh [lima kitab pertama dari Alkitab] karena ia hidup sebelum ditemukannya tulisan. Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari kritik modern [liberal]. Kita sekarang tahu, bagaimanapun, bahwa tulisan di Timur Tengah telah menjadi seni yang mapan 2.000 tahun sebelum Masehi. Bahkan bukan hanya tulisan pada zaman Musa, kita telah menemukan bahwa berabad-abad sebelum zaman Musa menulis adalah seni yang telah berkembang dengan baik, jauh [sebelum] zaman Musa...
     Kesaksian lain dari arkeologi terhadap kebenaran Alkitab ditemukan di kota harta Pitom yang dibangun untuk Ramses II oleh orang-orang Ibrani pada masa perbudakan yang kejam di Mesir. Kota itu baru-baru ini telah ditemukan, dan dinding bangunan dibangun dari batu bata terjemur, beberapa dengan jerami dan beberapa tanpa jerami, tepat sesuai dengan catatan Keluaran 5:7... Sekali lagi sejarah Alkitab telah terbukti akurat, sedangkan hinaan dari para kritikus [liberal] telah terbukti konyol dan tidak masuk akal.

Tetapi saya akan melanjutkan lebih jauh. Para kritikus liberal, yang pernah menjadi profesor di Golden Gate Baptist Theological Seminary, ketika saya kuliah sana dan lulus dari sana, mengatakan kepada kami para mahasiswa, bahwa tidak ada catatan bahwa orang-orang Ibrani pernah berada di Mesir. Saya membawa sebuah foto kepada mereka, menunjukkan orang dengan jenggot membuat batu bata, seperti yang dikatakan dalam pasal lima Kitab Keluaran. Saya menunjukkan gambar-gambar itu kepada para profesor, yang diambil dari dinding sebuah piramida. Namun mereka mengejek dan tertawa, dan berkata bahwa saya fanatik karena saya percaya Alkitab. Tetapi foto dari salah satu pria berjenggot dapat dilihat dalam Historical Atlas of the Jewish People (cf. The Jewish Journal, 4/20/01, p. 11). Karena semua orang Mesir dicukur bersih, orang-orang dengan jenggot membuat batu bata, jelas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi berada di tanah Mesir pada zaman Keluaran! Seorang Rabbi Ortodoks, David Eliezrie berkata tentang artikel Times itu, berhubungan dengan kritik liberal terhadap Kitab Keluaran,

Gaya hidup dan pendidikan mereka menghasilkan pola pikir yang menciptakan perspektif yang cenderung menentang bukti Kitab Keluaran. Hanya ketika mereka sama sekali tidak memiliki alternatif yang akan membuat mereka menyetujui [mengakui] bahwa sesuatu dalam Taurat [Perjanjian Lama] mungkin benar (The Jewish Journal, 4/20/01, hlm. 11).

Sekali lagi, artikel Times sungguh lucu, bukan kepalang, salah ketika mengatakan, “Kasus melawan Keluaran mulai mengkristal sekitar 13 tahun yang lalu... Betapa para sarjana telah mengetahui ini lebih dari satu dekade.” Itu adalah kebohongan. Kritikus Alkitab telah mengatakan hal-hal seperti itu lebih dari 200 tahun yang lalu! Johann Semler (1725-1791) memulai kritik Alkitab ini di Jerman pada abad ke-18. Dr. Harold Lindsell berkata,

Pada tahun 1757 ia [menjadi] kepala fakultas teologi di Halle. Dia adalah orang yang mengembangkan prinsip-prinsip kritik tekstual Alkitab. Ia menyimpang dari ortodoksi ayahnya ketika dia menantang ide inspirasi verbal Kitab Suci (Harold Lindsell, Ph.D., The Bible in the Balance, Zondervan Publishing House, 1979, hlm. 280).

Artikel Times mengatakan bahwa para sarjana liberal baru mengetahui tentang apa yang disebut “kesalahan-kesalahan” dalam Kitab Keluaran beberapa tahun yang lalu - 10 sampai 13 tahun sebelum artikel ini ditulis pada tahun 2001. Ini berarti bahwa para kritikus belum mulai mengkritik Kitab Keluaran sebelum sekitar tahun 1988 atau 1991. Kalau begitu mengapa saya telah mendengar semua ini di Golden Gate Seminary pada tahun 1972 dan 1973 - sekitar 15 tahun sebelumnya? Dan mengapa Dr. Henry M. Morris mengajukan pertanyaan berikut pada tahun 1951, sekitar 50 tahun sebelum artikel Times tersebut dimuat? Pada tahun 1951 Dr. Morris berkata,

Bagaimana mungkin karena tak seorangpun, selama berabad-abad, yang tampak telah memiliki kecurigaan sedikitpun bahwa tulisan-tulisan ini bukan asli ditulis oleh Musa sebelum kritik tinggi modern menyerangnya? (Henry M. Morris, Ph.D., The Bible and Modern Science, Chicago: Moody Press, 1951, hlm. 102).

Dan jika serangan-serangan terhadap Keluaran baru mulai beberapa tahun yang lalu, mengapa Winston Churchill menulis tentang itu pada tahun 1932? Lebih dari 82 tahun yang lalu Churchill telah membela Musa dan Keluaran terhadap kritik liberal Alkitab pada zamannya. Churchill berkata,

Kami menolak, dengan cemoohan, semua orang yang mempelajari dan menciptakan mitos bahwa Musa hanyalah tokoh dongeng yang menjadi dasar keimamatan dan tata sosial, moral dan upacara keagamaan. Kami percaya bahwa pandangan yang paling ilmiah, paling up-to-date dan konsepsi rasionalistik, akan menemukan kepuasan yang paling penuh ketika mempercayai cerita Alkitab [dalam Keluaran] secara harfiah, dan ketika mengidentifikasi salah satu manusia terbesar [Musa] yang paling menentukan langkah maju yang pernah disaksikan dalam kisah manusia. Kami tetap tak tergoyahkan oleh [tulisan] Profesor Gradgrind dan Dr. Dryasdust [kritikus liberal Alkitab]. Kita harus yakin bahwa semua hal [di dalam Keluaran] terjadi sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci... kita bersandar pada jaminan atas “Batu Yang Teguh dari Kitab Suci’ (Winston S. Churchill, “Moses,” in Amid These Storms, New York, Scribners, 1932, hlm. 293).

Churchill bukanlah seorang sarjana Alkitab. Tetapi dia adalah seorang sejarahwan pemenang Hadiah Nobel (1953). Sebagai sejarahwan ia tahu bahwa Kitab Keluaran pastilah didasarkan pada peristiwa-peristiwa riil daripada mitos. Wawasan sejarahnya memberikan dia pemahaman yang jauh lebih besar dari pada “Dr. Dryasdust” atau kritikus lain yang menyerang Alkitab. Ini adalah jenis wawasan yang sama yang membuat dia melihat Hitler sebagai orang gila yang berbahaya, ketika orang-orang Inggris lainnya dan para pemimpin Amerika, termasuk ayah John F. Kennedy, melihat Hitler sebagai “negarawan” besar pada tahun 1930-an.

Alasan sesungguhnya mengapa para kritikus, dan orang seperti Ridley Scott dalam filmnya yang berjudul Exodus, tidak percaya Alkitab adalah karena mereka buta secara rohani. Alkitab berkata,

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14).

Apa yang berasal dari Allah disembunyikan dari “manusia duniawi.” Ketika seseorang merendahkan dirinya, dan percaya Kristus, barulah mata rohaninya terbuka untuk melihat kebenaran Alkitab.

“Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yohanes 5:46, 47).

Yesus Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa Anda. Ia telah bangkit secara jasmani dari antara orang mati untuk memberikan kehidupan. Kristus berkata, “Kamu harus dilahirkan kembali” (Yohanes 3:7). Hanya ketika Anda dilahirkan kembali, dengan kuasa Allah, Anda akan dapat memahami kebenaran besar dari Keluaran, dan seluruh Alkitab. Amin. Dr. Chan, silahkan memimpin kita dalam doa.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.

Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Yohanes 5:39-47.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“I Know the Bible is True” (oleh Dr. B. B. McKinney, 1886-1952).