KHOTBAH TAHUN BARU CINA

(A CHINESE NEW YEAR’S SERMON)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Pada Kebaktian Minggu Pagi, 6 Pebruari 2011

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar” (Roma 1:18-23).


Tahun Baru Cina adalah tradisi hari besar yang paling panting bagi orang Tionghoa. Ini juga merupakan sejarah tertua dalam sejarah umat manusia. Perayaan ini telah mulai lebih dari dua ribu tahun sebelum Kristus, ketika Kaisar Huang Ti memperkenalkan kalender pertama. Seperti kalender Barat, kalender Cina adalah kalender tahunan, dengan permulaan tahun yang didasarkan pada siklus bulan. Karena penanggalan ini, permulaan tahun dapat jatuh pada antara akhir Januari dan pertengahan Pebruari. Tahun Baru Cina tahun ini jatuh pada tanggal 3 Pebruari, Kamis lalu. Namun secara tradisional perayaannya berlangsung sampai beberapa hari. Jadi ini adalah waktu yang sangat tepat bagi kita untuk menikmati perjamuan kasih pada hari keempat Tahun Baru Cina.

Siklus lunar sempurna membutuhkan waktu enam puluh tahun dan ini terbentuk dari lima siklus dari setiap 12 tahun. Kalender lunar Cina menamai setiap 12 tahun dengan nama-nama binatang menyusui, binatang melata atau burung – seperti tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam jantan, anjing, dan babi. Tahun ini (2011 M) adalah Tahun Kelinci.

Bentuk kalender ini dan perayaan Tahun Baru juga telah digunakan di negara-negara yang telah dipengaruhi oleh tradisi Cina, seperti Korea, Jepang, Vietnam, Mongolia, Tibet, Indonesia, Macau, Malaysia, Filipina, Singapore, Taiwan, dan Pecinan-Pecinan (Chinatowns) di seluruh dunia. Tahun Baru Cina bahkan nampak telah mempengaruhi festival Tahun Baru di luar Asia Timur, di negara-negara seperti Iran.

Selama empat ribu tahun, Tahun Baru Cina telah mengambil seri kisah legenda dan tradisi, tentang “Nien,” seekor naga yang ganas, yang mana orang-orang Tionghoa kuno percaya, bahwa naga itu makan manusia pada Hari Tahun Baru. Nien disimbolkan hari ini sebagai naga yang menakutkan, yang hanya dapat dibuat takut dengan warna merah atau petasan yang diletuskan setiap hari raya. Kepercayaan ini nampaknya memiliki akar dalam pengenalan lebih awal tentang Setan oleh orang-orang Tionghoa, yang masih memiliki kepercayaan kuat terhadap roh-roh jahat. Alkitab menyebut Setan,

“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia” (Wahyu 12:9).

Namun Setan tidak dapat ditakuti dengan suara petasan atau pun warna merah! Saya berpikir bahwa penggunaan warna merah untuk mengusir naga itu mungkin berakar dalam ingatan lebih awal tentang korban darah – mengacu kepada Darah Kristus. Alkitab berkata, “Dan mereka mengalahkan dia [Setan] oleh darah Anak Domba” – Yesus Kristus (Wahyu 12:11). Untuk memahami bagaimana Tahun Baru Cina telah dirayakan selama berabad-abad kita perlu menyadari bahwa Cina telah melewati empat fase agama.

Ketika saya pertama merasa dipanggil Allah untuk mejadi misionaris bagi orang-orang Cina, saya bergabung dengan gereja Bapstis Tionghoa (Chinese Baptist) di mana saya menerima banyak pelajaran untuk melayani dari Dr. Timothy Lin, seorang sarjana Alkitab Tionghoa yang sebelumnya pernah mengajar bahasa Semitik dan teologi sistematika di sekolah pascasarjana Bob Jones University. Ia pernah menjadi gembala dan guru saya mulai tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Ia pernah pergi menggantikan James Hudson Taylor III sebagai rektor di China Evangelical Seminary di Taiwan.

Dr. David Innes, pendeta dari Hamilton Square Baptist Church di San Francisco, mengenal Dr. Lin di Bob Jones University. Dr. Innes mengingatkan saya tentang garis besar dari Roma 1:18-23 yang pernah dibuat oleh Dr. Lin. Garis besar yang dibuat Dr. Lin tersebut adalah (1) Terang dinyatakan, Roma 1:18-20; (2) Terang ditolak, Roma 1:21-25; (3) Terang ditiadakan, Roma 1:26-32. Saya sedang mengikuti garis besar yang dibuat oleh Dr. Lin ini, namun saya menambahkan poin keempat sebagai poin terakhir.

I. Pertama, Cina pernah menjadi tanah dari satu Tuhan.

Dr. Lin berkata bahwa dunia kuno, termasuk Cina, pada mulanya percaya di dalam satu Tuhan. Dr. Lin mengutip dari Roma 1:18-20. Mari kita berdiri dan membacanya dengan lantang.

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:18-20).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Itu adalah gambaran tentang apa yang terjadi di dunia purba. Pada mulanya “seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya” (Kejadian 11:1). Namun karena dosa, di Menara Babel, “dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi” (Kejadian 11:9).

Ketika kelompok-kelompok manusia diserakkan pada peristiwa Menara Babel, beberapa dari mereka telah menempuh perjalanan jauh ke arah Timur ke tanah yang kemudian sekarang dikenal sebagai Cina. Dr. James Legge (1815-1897) adalah seorang Sinolog terkenal. Ia pernah menjadi professor Bahasa dan Literatur Cina di Oxford University selama dua puluh tahun. Dalam bukunya, The Religions of China (Charles Scribner’s Sons, 1881), Dr. Legge menekankan bahwa permulaan agama Cina adalah monoteisme, percaya pada satu Tuhan, yang mereka sebut Shang Ti (Raja Sorga). Dr. Legge menunjukkan bahwa pada mulanya orang Cina menyembah satu Tuhan, dua ribu tahun sebelum Kristus. Ini berarti sekitar 1,500 tahun sebelum Confucius (551-479 BC) dan Buddha (563-483 BC) lahir. Buddhisme dibawa ke Cina dari India, dan oleh sebab itu, itu adalah agama asing yang pernah dibawa ke Cina. Confucianisme adalah sistem etis dan moral – bukan benar-benar suatu agama. Namun agama yang lebih tua adalah penyembahan kepada satu Tuhan, Shang Ti, yang bertahan selama sekitar 1,500 tahun sebelum Confucius atau Buddha dilahirkan. Berabad-abad kemudian, roh-roh mulai ditambahkan dan disembah, namun Shang Ti masih disembah sebagai Tuhan tertinggi dalam budaya Cina kuno. Pandangan Dr. Legge ini mirip dengan pandangan Dr. Wilhelm Schmidt (The Origin and Growth of Religion, Cooper Square Publishers, 1972 edition). Shang Ti, Raja Sorga, telah menjadi Allah sejati dari Cina purba selama ratusan tahun! Mari kita berdiri dan menyanyikan bait pertama dan terakhir dari lagu pujian nomer 1.

Pujilah, jiwaku, Raja Sorga, Ke bawah kaki-Nya engkau bersujud;
Ditebus, disembuhkan, diperbaharui, diampuni, Siapakah, sepertiku, naikan pujian bagi Dia?
Haleluya! Haleluya! Pujilah Raja kekal!

Para malaikat, menolong kita memuliakan Dia, Engkau bertemu Dia muka dengan muka;
Matahari dan bulan, sujud di hadapan-Nya; alam semesta dan isinya selama-lamanya
Haleluya! Haleluya! Mari memuji bersama kami Allah yang penuh rahmat
   (“Praise, My Soul, the King of Heaven” by Henry F. Lyte, 1793-1847).

II. Kedua, Cina pernah menjadi tanah dari banyak illah.

Namun, berabad-abad kemudian, orang Cina mulai berpindah dari penyembahan terhadap satu Tuhan, Shang Ti (Raja Sorga) untuk menyembah banyak illah atau dewa. Mari kita berdiri dan membaca Roma 1:21-23,

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar” (Roma 1:21-23).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Apa yang terjadi di Cina mirip dengan apa yang sedang terjadi di Amerika. Masyarakat Cina yang paling awal percaya di dalam satu Tuhan, yang mereka sebut Shang Ti, Raja Sorga. Dengan cara yang sama, penduduk mula-mula Amerika percaya di dalam satu Tuhan. Mereka adalah para Musyafir. Mereka adalah orang-orang Kristen yang datang ke Amerika untuk mencari kebebasan beragama. Pada perayaan Thanksgiving pertama mereka menyembah Tuhan, mengucap syukur kepada-Nya atas perlindungan dan pemeliharaan Tuhan atas mereka. Namun hari ini, hanya 400 tahun kemudian, banyak orang Amerika tidak lagi berpikir tentang Tuhan sama sekali pada saat merayakan Thanksgiving. Dan, hari ini, banyak orang Amerika mengikuti sekte-sekte asing dan agama-agama palsu. Banyak orang Amerika sekarang menyebut Thanksgiving sebagai “Turkey Day” (Hari Pesta Kalkun). Dari pada menjadikan hari untuk mengucap syukur kepada Tuhan, bagi orang-orang Amerika ini, Thanksgiving hanyalah hari untuk makan daging kalkun dengan rakus, minum bir dan nonton TV. Jadi orang-orang Amerika ini telah meninggalkan penyembahan kepada satu Allah, sama seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Cina zaman dulu.

“Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar”
       (Roma 1:22-23).

III. Ketiga, Cina telah menjadi tanah tanpa Tuhan.

Pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao Tse Tung dan kekuatan Komunisnya menaklukkan Cina. Mao menyebut para misionaris Kristen sebagai “para aggressor rohani.” Selama sepuluh tahun kemudian semua misionari asing melarikan diri dari Cina atau dibunuh oleh para Komunis itu. Setelah para misionaris asing pergi para Komunis mulai menganiaya orang Cina asli yang telah menjadi Kristen. Banyak orang telah dibunuh. Banyak yang lain melarikan diri ke Taiwan. Ribuan orang Kristen Cina ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Beberapa secara ajaib telah dibebaskan setelah lebih dari dua puluh tahun mendekam di penjara. Pada akhir tahun 1950-an Mao menutup pintu Cina dari dunia. Entahkah ia telah melakukan kesalahan, Presiden Nixon telah membuka pintu Cina bulan Pebruari 1972. Apakah Nixon telah melakukan salah satu titik balik besar dalam sejarah. Generasi masa depan yang akan mengevaluasi kembali Presiden Nixon, bukan hanya karena membuka Cina, namun karena beberapa alasan lainnya.

Dengan semua misionaris Kristen telah pergi, dan orang-orang Kristen Cina diburu dan dipenjarakan, banyak orang tidak percaya kalau Kekristenan akan tetap hidup di Cina (sumber, China: The Blood-Stained Trail, Riley K. Smith, The Voice of the Martyrs, 2008, hal. 62-63).

Namun para Komunis atheistik melupakan apa yang Alkitab katakan tentang mereka,

“Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah’”
       (Mazmur 14:1).

Para Komunis anti-Tuhan ini disebut “bebal” dalam Alkitab. Mengapa? Karena tidak ada manusia yang dapat membunuh Allah! Alkitab menyebut Dia “Allah yang abadi” (Ulangan 33:27). Ini memimpin kita ke poin keempat.

IV. Keempat, Cina sekarang mulai kembali kepada satu Allah yang sejati.

Nabi Yeremia menyampaikan nubuatan yang mengejutkan ketika ia berkata,

“Ya TUHAN…. Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi” (Yeremia 16:19).

Jadi, nabi Yeremia membuat ini jelas bahwa bangsa-bangsa non Yahudi akan datang kepada Allah melalui Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Kemudian nabi lain yaitu Yesaya berkata bahwa orang-orang Cina akan ada di antara orang-orang yang datang kepada Kristus itu pada akhir zaman,

“Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim” (Yesaya 49:12).

“Sinim” (diucapkan si-nim) mengacu kepada Cina baik menurut Strong’s Exhaustive Concordance; Brown, Driver dan Briggs; Gesenius; Dr. John Gill; Keil dan Delitzsch, dan Dr. James Hudson Taylor, pendiri China Inland Mission.

Yesaya 49:12 adalah suatu nubuatan penting, menubuatkan tentang Cina yang akan kembali kepada Allah yang sejati pada akhir zaman. Kebangunan rohani yang sedang mulai di Republik Rakyat Cina hari ini adalah panen terbesar Kekristenan dalam sejarah modern. Diperkirakan bahwa ada sekitar 1,000 orang menjadi Kristen setiap jamnya di Cina, siang dan malam! Pikirkanlah itu! Sekitar 24,000 orang menjadi Kristen setiap hari di Cina saat ini. Kita sedang menyaksikan jutaan orang di Cina datang kepada Allah melalui Tuhan Yesus Kristus.

Kristus datang untuk membawa umat manusia kembali kepada Allah yang sejati, yang pernah disembah oleh nenek moyang kita di zaman purba dari semua bangsa. Kristus telah datang untuk membawa kita kembali kepada Allah. Kristus telah mati di kayu Salib untuk membayar dosa kita. Ia telah bangkit dari antara orang mati untuk memberikan kelahiran baru dan hidup yang kekal kepada kita. Betapa kami berdoa kiranya Anda mau datang kepada Yesus, Anak Allah, dan dipertobatkan! Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu nomor satu pada lembar lagu Anda!

Pujilah, jiwaku, Raja Sorga, Ke bawah kaki-Nya engkau bersujud;
Ditebus, disembuhkan, diperbaharui, diampuni, Siapakah, sepertiku, naikan pujian bagi Dia?
Haleluya! Haleluya! Pujilah Raja kekal!

Pujilah Dia atas karunia dan kebaikan-Nya kepada bapa-bapa kita yang menderita,
Pujilah Dia, tuk selama-lamanya
Haleluya! Haleluya! Muliakan kesetiaan-Nya

Bagai Bapa, Ia selalu berikan hal yang baik dan mengetahui kelemahan kita
Dalam tangan-Nya Ia membawa kita dan menyelamatkan kita dari lawan-lawan kita
Haleluya! Haleluya! Wartakanlah kemurahan-Nya!

Para malaikat, menolong kita memuliakan Dia, Engkau bertemu Dia muka dengan muka;
Matahari dan bulan, sujud di hadapan-Nya; alam semesta dan isinya selama-lamanya
Haleluya! Haleluya! Mari memuji bersama kami Allah yang penuh rahmat
   (“Praise, My Soul, the King of Heaven” by Henry F. Lyte, 1793-1847).

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”

You may email Dr. Hymers at rlhymersjr@sbcglobal.net, (Click Here)
or you may write to him at P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015.
Or phone him at (818)352-0452.

Doa Sebelum Khotbah oleh Dr Kreighton L. Chan.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr Benjamin Kincaid Griffith:
“I’d Rather Have Jesus” (words by Rhea F. Miller, 1922;
music composed by George Beverly Shea, 1909-).


GARIS BESAR KHOTBAH

KHOTBAH TAHUN BARU CINA

(A CHINESE NEW YEAR’S SERMON)

oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar” (Roma 1:18-23).

(Wahyu 12:9, 11)

I.   Pertama, Cina pernah menjadi tanah dari satu Tuhan, Roma 1:18-20;
Kejadian 11:1, 9.

II.  Kedua, Cina pernah menjadi tanah dari banyak illah, Roma 1:21-23.

III. Ketiga, Cina telah menjadi tanah tanpa Tuhan, Mazmur 14:1; Ulangan 33:27.

IV. Keempat, Cina sekarang mulai kembali kepada satu Allah yang sejati,
Yeremia 16:19; Yesaya 49:12.