KUTUK UNIVERSAL

(KHOTBAH #31 DARI KITAB KEJADIAN)

THE UNIVERSAL CURSE
(SERMON #31 ON THE BOOK OF GENESIS)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan Dr. Eddy Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Malam, 11 November 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).


Hari ini yang kebanyakan dibicarakan sebagai pembicaraan umum adalah tentang ketidak-seimbangan ekologi dan pemanasan global. Ketika mantan Wakil Presiden Al Gore berbicara tentang pemanasan global kelihatannya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan pembakaran bensin dan bahan bakar fosil lainnya sejak tahun 1940-an atau 50-an. Namun masalah yang sesungguhnya kembali ke zaman dulu, ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa di Taman Eden, dan Tuhan berfirman,

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Dalam catatan The Geneva Bible untuk Kejadian 3:17 mengatakan, “Pelanggaran terhadap hukum Tuhan adalah penyebab baik manusia maupun semua mahkluk ciptaan lainnya sebagai subyek kutuk” (The Geneva Bible, 1599 edition, Tolle Lege Press, 2006 reprint, note on Genesis 3:17).

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Kutuk itu adalah benar-benar yang menyebabkan pemanasan global, ketidak-seimbangan ekologi, over populasi, kelaparan, wabah, banjir, gempa bumi, penyakit, kematian dan semua masalah yang umat manusia hadapi di sepanjang sejarah ini.

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Luther berkata, “Pada catatan kisah tentang dosa Adam pertama kali Tuhan mengutuk bumi, seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:20, 21, mahkluk [ciptaan] ditaklukkan pada kesia-siaan… ini berada di bawah kutuk Tuhan” (Martin Luther, Th.D., Luther’s Commentary on Genesis, Zondervan Publishing House, 1958 reprint, volume I, hal. 83). Malam ini kita akan fokus pada aspek negatif dari kutuk itu, dan kemudian penaklukannya melalui Tuhan Yesus Kristus.

I. Pertama, kutuk itu sendiri.

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Nama lain untuk kutuk itu adalah “Hukum Kedua Termodinamika” – hukum entropi. Penyair Robert Frost yang empat kali memenangkan Pulitzer Prize dengan sempurna menggambarkan hukum itu dalam syair termasyurnya, “Nothing Gold Can Stay.


Natur alam hijau yang pertama adalah emas,

Warna yang paling utama terjaga,

Daun-daun mulanya bak bunga;

Namun kini tinggallah kenangan.

Daun menyusut menjadi daun.

Maka Eden tenggelam dalam dukacita,

Kesejukan pagi menjadi panasnya hari,

Tiada emas yang dapat bertahan.

   (Robert Frost, “Nothing Gold Can Stay,” Robert Frost’s Poems,

      Washington Square Press, 1971, p. 227).


Itu adalah puisi yang menjelaskan tentang Hukum Kedua Termodinamika – yang tiada henti dan tiada belas kasihan terus menghilangkan energi bermanfaat, dan dari hidup itu sendiri.

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Dr. Henry M. Morris berkata,

Jadi, seluruh “makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan” [Roma 8:20]. Bumi mulai “semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian” [Mazmur 102:26] dan akhirnya “akan binasa [Ibrani 1:11]. Sejak semua daging dibuat dari tanah sebagai elemen fisik maka itu juga akan menjadi subyek hukum pembusukan dan kematian… itu adalah pengalaman universal yang harus dialami oleh segala sesuatu, baik mahkluk hidup maupun bukan, yang akan segera melusuh, melemah, menua, membusuk, dan kembali kepada debu.
       Kondisi ini begitu bersifat universal yang mana itu telah diformalisasikan kira-kira seratus tahun yang lalu… ke dalam hukum saintifik dasar, yang sekarang disebut dengan Hukum Kedua Termodinamika. Hukum ini mengatakan bahwa segala [sesuatu]… cenderung menjadi terdegradasi atau menurun dan tidak beraturan… [Ini berarti bahwa segala hal materiil] entah itu waktu atau matahari, secepatnya akan menyusut. Organisme-organisme tumbuh menjadi tua dan mati… dalam banyak kasus [banyak spesies] telah menyebabkan kerusakan dan pemunahan bagi spesies itu sendiri… kerusakan lingkungan seringkali menyebakan punahnya beberapa spesies.
       Kemudian, ini benar-benar asal-usul hukum aneh tentang kekacauan dan pembusukan, yang bersifat universal, yang disebut Hukum Kedua Termodinamika. Di sini adalah rahasia dari semua kesalahan yang berhubungan dengan dunia ini. Manusia [berdosa, dan dosanya] menyebabkan kutukan Tuhan atas bumi ini (Henry M. Morris, Ph.D., The Genesis Flood, Baker Book House, 1986 edition, hal. 126-127).

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Jika Adam tidak jatuh ke dalam dosa, seperti yang dikatakan Dr. Morris, “kehidupan binatang akan tetap ada secara konstan… bagaimanapun, sekarang, kehadiran pribadi Tuhan telah undur… menambahkan lebih lanjut bagi kesaksian bahwa dunia [sekarang akan menuju] ke dalam kesia-siaan, sambil menunggu sang Penebus yang akan datang” (Morris, ibid., hal. 126).

Namun alam semesta tidak tetap “konstan.” Pada waktu Kejatuhan Manusia, di Taman Eden, Hukum Kedua Termodinamika mulai bekerja dan seluruh alam semesta yang diciptakan, termasuk bumi ini, mulai “menyusut’” dan tidak ada cara untuk menghentikan tendensi ini. Dr. C. L. Cagan menekankan bahwa seorang ahli fisika dari Jerman Ludwig Boltzmann (1844-1906) telah menyimpulkan, melalui Hukum Kedua Termodinamika, “Bahwa suatu hari nanti tidak akan ada lagi energi yang tersisa [di alam semesta ini]. Semua bintang akan terbakar menjadi debu nuklir dan kehidupan tidak mungkin ada lagi. Seluruh alam semesta akan menjadi ruang hampa, hanya berisi serpihan dari kematian dan partikel-partikel yang melayang-layang. Tanpa adanya kehidupan ini dikatakan akan berlanjut untuk selama-lamanya, karena tidak akan ada lagi yang dapat bertahan dalam kekosongan itu” (C. L. Cagan, Ph.D., From Darwin to Design, Whitaker House, 2006, hal. 95).

Dr. Boltzmann menghabiskan beberapa decade untuk mempelajari mekanik dari Hukum Kedua Termodinamika. Ia sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta dibinasakan oleh nasib yang ia sebut “kematian karena panas” [heat death]. Pandangan ini sekarang diterima oleh banyak ilmuwan. Dr. Cagan berkata,

Since Boltzmann bukan orang Kristen, ia tidak melihat jalan untuk melarikan diri dari [efek-efek Hukum Kedua Termodinamika]. Ia tidak melihat pengharapan… untuk zaman yang akan datang. Ia menjadi begitu depresi atas semua ini sehingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri (ibid.).

Ketika kita mempertimbangkan hasil akhir dari Hukum Kedua Termodinamika, kita tidak hanya berpikir tentang gunuh es yang sedang mencair dan punahnya beruang kutub dan penguin. Ketika kita melihat efek dari Hukum Kedua Termodinamika bekerja di bumi ini dan dalam system solar, kita sedang berpikir tentang akhir dari seluruh alam semesta ini. Alkitab mengajarkan bahwa semua kerusakan ini memilik akarnya dalam Kejatuhan manusia ke dalam dosa, seperti yang dicatat dalam Kejadian pasal tiga.

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Pada akhirnya, Alkitab mengajarkan bahwa kutuk ini akan menyebabkan kebinasaan alam semesta,

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (II Petrus 3:10).

Dr. Morris berkata,

Mungkin ini akan menjadi suatu reaksi pembelahan atom secara global (perhatikan kata “hancur” dalam II Petrus 3:11), atau selain itu mungkin itu merupakan suatu disintegrasi dari ledakan besar yang melibatkan perubahan energi kimia dari semua elemen ke dalam energi panas, cahaya dan bunyi (Henry M. Morris, Ph.D., The Defender’s Study Bible, World Publishing, 1995, note on II Peter 3:10).

Akankah alam semesta berakhir dalam suatu tanah kosong yang dingin, atau kobaran api? Puisi Robert Frost menjawab pertanyaan seperti ini,


Ada yang berkata dunia akan berakhir dalam api,

Ada yang berkata dalam es.

Dari apa yang telah saya rasakan

Saya setuju dengan mereka yang menyukai api….

   (Robert Frost, “Fire and Ice,” ibid., p. 242).


Alkitab berada pada posisi Robert Frost. Alam semesta ini akan berakhir. Semua kehidupan seperti yang kita tahu itu akan berakhir. Dan semua itu baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan akibat dari dosa Adam, Kejatuhan manusia ke dalam dosa, dari apa yang Tuhan firmankan,

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

Namun Alkitab tidak berakhir di sana, dan itu memimpin kita kepada poin kedua dari khotbah ini.

II. Kedua, penaklukan kutuk melalui Kristus.

The Geneva Bible berkata, “Pelanggaran terhadap hukum Tuhan adalah penyebab baik manusia maupun semua mahkluk ciptaan lainnya sebagai subyek kutuk” (ibid). Namun bahwa di mana Yesus Kristus masuk ke dalam gambaran itu. Catatan Alkitab tentang Kristus disebut “Injil” – yang secara literal berarti “kabar baik”! Itu adalah “kabar baik” untuk mengetahui bahwa Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan dunia yang sudah rusak ini, yang dipenuhi dengan manusia yang telah rusak!

Alkitab mengajarkan bahwa Kristus dapat menebus manusia dari kutuk, dengan menanggung dosa manusia itu di kayu Salib. Kitab Suci berkata,

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’” (Galatia 3:13).

Kristus menanggung kutuk itu atas diri-Nya sendiri ketika Ia mati di kayu Salib dalam penderitaan dan Darah. Dr. Morris berkata,

Kristus… telah menjadi kutuk karena kita (Galatia 3:13). Ia adalah “seorang yang penuh kesengsaraan” (Yesaya 53:3); mengalami penderitaan yang melebihi penderitaan siapapun, Ia ditikam, diremukkan dan dihukum bagi kita (Yesaya 53:5), dan sungguh mengenakan mahkota kutukan sebagai mahkota-Nya bagi kita (Markus 15:17); dalam kesengsaraan ketika Ia berdoa, Ia mengeluarkan peluh darah yang mengalir keluar dari pori-pori kulit-Nya (Lukas 22:44), dan “mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan” (Ibrani 5:7). Dan akhirnya. Allah membawa Dia ke dalam “debu maut” (Mazmur 22;15). Oleh sebab itu, karena Ia menanggung semua kutuk itu pada diri-Nya bagi kita [ketika kita bertobat, kita memiliki pengharapan sorga]… “Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya” Wahyu 22:3 (Morris, ibid., hal. 127).

Kristus tidak hanya membayar hukuman dengan menanggung kutuk dari dosa manusia saja – Ia bangkit dari antara orang mati – menang mengalahkan kutuk itu!

“Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kisah Rasul 2:24).

Dan Alkitab mengajarkan bahwa Kristus akan datang kembali! Pada Kedatangan Kedua, Kristus akan mengalahkan atau menaklukkan kutuk dari dosa Adam, dan dunia akan diperbaharui oleh Dia!

Pada hari Natal, sedikit orang yang memikirkan tentang bait ketiga dari lagu terkenal karangan Dr. Watts, “Joy to the World.”


Dosa tak lagi berdaya,

Dukapun ‘kan lenyap.

Anug’rah-Nya melimpah;

Gentarlah kuasa g’lap,

Gentarlah kuasa g’lap

Gentar, gentarlah kuasa g’lap.

   (“Joy to the World!” by Isaac Watts, D.D., 1674-1748

      /Terjamahan Nyanyian Pujian No. 59).


Namun saya berharap Anda mau merenungkan kata-kata dalam bait itu. Saya berharap Anda mau datang kepada Kristus sehingga kutuk dapat dilenyapkan dari dalam diri Anda; sehingga murka Allah dapat didamaikan; sehingga jiwa Anda dapat diselamatkan dari penghukuman dan Neraka oleh Yesus!

Kiranya Anda mau datang kepada Dia melalui iman! Kiranya anda membiarkan kutuk dosa itu dilenyapkan oleh Yesus Kristus! Kiranya Anda memiliki hidup melalui nama-Nya yang suci! Amin.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Kejadian 3:14-19.
Pujian Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Joy to the World!” (by Dr. Isaac Watts, 1674-1748).


GARIS BESAR KHOTBAH

KUTUK UNIVERSAL

(KHOTBAH #31 DARI KITAB KEJADIAN)

THE UNIVERSAL CURSE
(SERMON #31 ON THE BOOK OF GENESIS)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.

“Maka terkutuklah tanah karena engkau” (Kejadian 3:17).

I.   Pertama, kutuk itu sendiri, Roma 8:20; Mazmur 102:26;
Ibrani 11:1; II Petrus 3:10.

II.  Kedua, penaklukan kutuk melalui Kristus, Galatia 3:13;
Yesaya 53:3, 5; Markus 15:17; Lukas 22:44; Ibrani 5:7;
Mazmur 22:15; Wahyu 22:3; Kisah Rasul 2:24.