DOA KRISTUS DI GETSEMANI

(CHRIST’S PRAYER IN GETHSEMANE)

Oleh: Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Baptist Tabernacle of Los Angeles
Kebaktian Malam, 15 Pebruari 2004.

“Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:36-39).


Minggu malam yang lalu kita telah mengikuti Kristus ke dalam kegelapan Taman Getsemani. Kita telah melihat kesengsaraan yang sangat mengerikan dari penderitaan-Nya yang teramat luar biasa di sana.

Pandanglah penderitaan Anak Allah
Rintihan, erangan, peluh darah!
Kasih Allah yang tak terhingga
Yesus, kasih yang engkau miliki!
   (“Thine Unknown Sufferings” by Joseph Hart, 1712-1768).

Spurgeon menekankan kontras antara Taman Eden dan Taman Getsemani:

Mungkinkah kita tidak mengerti bahwa seperti di suatu taman, di dalam Adam kita menjadi rusak, sehingga di taman yang lain melalui penderitaan Adam [yang kedua] kita dipulihkan kembali[?]. Getsemani menyediakan obat untuk penyakit yang disebabkan oleh buah terlarang di Eden (C. H. Spurgeon, “The Agony in Gethsemane,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim, 1971, volume xx, page 589).

Di Taman Eden, Adam telah jatuh ke dalam dosa dan membawa kehancuran bagi manusia, Kristus mengambil bagi diri-Nya sendiri dosa semua manusia untuk memulihkan ras kita yang telah jatuh.

“‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,’ tetapi Adam yang akhir [Kristus] menjadi roh yang menghidupkan”
      (I Korintus 15:45).

“Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Roma 5:19).

Di sana, di Taman Getsemani, Kristus menjadi kambing hitam, menanggung semua dosa keturunan Adam.

“Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun” (Imamat 16:22).

Di gelapnya padang gurun Getsemani, Kristus “mengangkut segala kesalahan [kita].”

“TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6).

Dia adalah

“seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan…. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya”
      (Yesaya 53:3-4).

Semua beban dosa kita diletakkan di atas Yesus. Tidaklah mengherankan bila Ia berkata,

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya”
      (Matius 26:38).

Tidak heran bahwa

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Kemudian, Kristus menjadi penanggung dosa kita di sana di Taman itu.

Banyak dari penderitaan-Nya di bawah beban dosa kita yang melampaui pemahaman manusia. Bahkan para malaikat di Sorga tidak dapat sepenuhnya memahami penderitaan Kristus, di bawah beban dosa manusia. Seperti Joseph Hart menuliskannya dalam lagunya,

Seringkali kita bicara tentang darah Yesus,
Namun, betapa sedikit yang memahaminya!
Tentang penderitaan-Nya yang begitu besar
Para malaikatpun tak sepenuhnya memahaminya

Siapa yang dapat memahaminya dengan benar
Dari awal sampai akhirnya?
Hanya Tuhan dan Tuhan sendiri
Yang sepenuhnya memahami beban itu

Pandanglah penderitaan Anak Allah
Rintihan, erangan, peluh darah!
Kasih Allah yang tak terhingga
Yesus, kasih yang engkau miliki!
   (“Thine Unknown Sufferings” by Joseph Hart, 1712-1768).

Selanjutnya mari kita memikirkan doa Kristus yang dinaikan di Getsemani. Tolong buka Matius 26:38-39. Marilah kita berdiri dan membawa dua ayat ini dengan suara keras.

“Lalu kata-Nya kepada mereka: ‘Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.’ Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki’” (Matius 26:38-39).

Silahkan duduk kembali.

Interpretasi umum tentang doa Yesus ini adalah bahwa Ia sedang berdoa untuk diselamatkan dari kayu Salib. Namun saya tidak berpikir bahwa pandangan ini benar. Saya percaya bahwa interpretasi Dr. John R. Rice dan Dr. J. Oliver Buswell adalah yang benar. Dr. Rice dan Buswell berkata bahwa “cawan” yang Kristus doakan itu adalah agar diselamatkan bukan dari kayu Salib, yang Ia harus pikul hari berikutnya, namun bahwa “cawan” itu berhubungan dengan kematian-Nya malam itu di Taman itu. Dr. Buswell berkata,

Peluh yang sangat ekstrim seperti yang digambarkan oleh Lukas adalah karakteristik dari kondisi goncangan di dalam diri orang yang menderita yang sedang berada dalam bahaya yang akan segera menjatuhkannya dan bahkan mematikan… Tuhan kita Yesus Kristus, menemukan diri-Nya sendiri dalam kondisi fisikal yang shock berat, berdoa untuk dilepaskan dari kematian di taman itu, agar Ia dapat memenuhi tujuan-Nya di kayu salib (Dr. J. Oliver Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion, Zondervan, 1971, part III, p. 62).

Dr. John R. Rice mengatakan hal yang hampir sama:

Jika anda tidak memperhatikan ayat 37 dan 38 [dari Matius 26], arti tentang doa di Getsemani akan hilang. Yesus sangat sedih dan merasakan beban yang sangat berat dan jiwa-Nya “sangat sedih, seperti mau mati rasanya,” itu maksudnya, secara literal berarti sekarat karena penderitaan itu… Yesus berdoa agar cawan kematian berlalu dari pada-Nya malam itu sehingga Ia dapat tetap hidup untuk mati di kayu salib di hari berikutnya (Dr. John R. Rice, The Gospel According to Matthew, Sword of the Lord, 1980, page 441).

Baik Dr. Buswell dan Dr. Rice, keduanya mengacu kepada Ibrani 5:7, dan menjelaskan kepada kita bahwa ayat ini berhubungan dengan doa Kristus di Taman Getsemani (Rice, ibid., Buswell, ibid., pages 62-63). Tolong buka Ibrani 5:7. Mari kita berdiri dan membaca ayat ini bersama-sama dengan suara keras. Ayat ini mengacu kepada Kristus dalam kemanusiaan-Nya. Tolong baca ayat ini dengan suara keras.

“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” (Ibrani 5:7).

Silahkan duduk kembali.

Dr. Buswell berkata bahwa Kristus

berdoa untuk dilepaskan dari kematian di taman itu, agar Ia dapat memenuhi tujuan-Nya di kayu salib. Interpretasi ini akan selaras dengan Ibrani 5:7, dan ini nampak bagi saya satu-satunya interpretasi yang akan menjadi selaras (Buswell, ibid.).

Dr. Rice said,

Cawan yang ditekankan… adalah cawan kematian, kematian malam itu di Taman Getsemani. Ini menjadi jelas khususnya dalam Ibrani 5:7 di mana kita diberitahu bahwa Yesus “telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Tentang kematian di Taman Getsemani Yesus berdoa agar cawan kematian itu berlalu dari pada-Nya pada malam itu sehingga Ia dapat tetap hidup dan mati di kayu salib pada hari berikutnya. Kitab Suci berkata bahwa “Ia telah mendengar!” Allah menjawab doa-Nya (Rice, ibid.).

Kemudian Dr. Rice menekankan tentang pentingnya doa Kristus di Taman itu.

Betapa kita harus mengucap syukur karena Yesus “berdoa sepanjang” malam itu dan memperoleh jawaban doa-Nya. Jika Yesus mati di Taman Getsemani maka kita tidak akan memiliki Injil yang menyelamatkan, karena Injil adalah “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus 15:3-4). Bukan kematian biasa yang akan dijalani; kematian Kristus harus sesuai dengan Kitab Suci… Jika Yesus tidak mati secara literal “sesuai dengan Kitab Suci,’ maka Ia tidak dapat menjadi Juruselamat kita. Puji Tuhan, doa-doa-Nya di Taman Getsemani dikabulkan! Lukas 22:43 menjelaskan kepada kita “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.” Tanpa kekuatan supranatural dari tubuh-Nya, Kristus pasti telah mati di Taman itu malam itu (Dr. John R. Rice, ibid., pp. 441-442).

Dr. Rice membuat suatu poin yang bagus. Jika Kristus mati di Taman Getsemani, Ia tidak dapat menyelamatkan kita – karena Ia harus mati “sesuai dengan” Kitab Suci Perjanjian Lama. Kata tas graphas, “sesuai dengan Kitab Suci.” Sebelum penyaliban, Yesus pernah berkata,

“Bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku”
      (Lukas 22:37).

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata,

“Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”
      (Lukas 24:25-27).

“Bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku.” Kristus harus mati kata tas graphas, “sesuai dengan Kitab Suci.” Jika Ia telah mati di Taman itu, di bawah beban dosa kita, Ia tidak akan menggenapi Kitab Suci Perjanjian Lama – dan, kemudian, Dia tidak dapat menjadi Juruselamat seperti yang telah dinubuatkan!

Marilah kita membuka beberapa tempat di dalam Perjanjian Lama yang telah menubuatkan bagaimana Juruselamat harus mati, “sesuai dengan Kitab Suci.” Pertama, silahkan membuka Yesaya 50:6.

“Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yesaya 50:6).

Jika Yesus telah mati menanggung beban dosa kita di Getsemani, Ia tidak akan menggenapi Kitab Suci ini. Ia tidak akan pernah dicambuk oleh para prajurit Romawi, seperti yang Ia alami pagi berikutnya. Ia tidak akan mengalami di mana janggut-Nya dicabut oleh tangan kejam mereka. Ia tidak akan mengalami rasa malu oleh karena orang-orang meludahi wajah-Nya.

Selanjutnya bukalah Yesaya 53:5.

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).

Jika Yesus telah mati menanggung beban dosa kita di Getsemani, Ia tidak akan dapat menggenapi Kitab Suci ini. Ia tidak akan terluka, atau tertikam. Ia tidak akan diremukan. Ia tidak akan dicambuk sampai setengah mati oleh cambukan sebelum Ia disalibkan.

Selanjutnya bukalah Yesaya 53:9.

“Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat…”
      (Yesaya 53:9).

Jika Ia telah mati di Getsemani, Ia tidak akan dikuburkan di antara orang-orang fasik dan penjahat, seperti Matius 27:57-61 menjelaskan kepada kita bagaimana Dia, setelah disalibkan.

Lihatlah Yesaya 53:12.

“Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yesaya 53:12).

Jika Ia telah mati di bawah beban dosa kita di Getsemani, Ia tidak akan “terhitung di antara pemberontak-pemberontak,” di salibkan di antara dua penjahat. Ia tidak akan “berdoa untuk pemberontak-pemberontak,”seperti yang Ia lakukan ketika Ia berdoa, dari atas kayu Salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Selanjutnya bukalah Mazmur 22. Dalam nubuatan agung ini Mazmur Daud menjelaskan kepada kita banyak hal yang tidak akan terjadi “sesuai dengan Kitab Suci,” bila Kristus mati di bawah beban dosa kita di Getsemani. Lihatlah ayat tujuh dan delapan.

“Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’” (Mazmur 22:7-8).

Pemimpin para imam dan ahli Taurat mengejek Yesus, selanjutnya, ketika Ia tergantung di atas kayu Salib,

“Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah”
      (Matius 27:43).

Lihat ayat enam belas.

“Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.” (Mazmur 22:16).

Tangan dan kaki-Nya tidak akan tertusuk bila Ia telah mati di Getsemani, di bawah beban dosa-dosa kita. Nabi Zakharia juga berkata,

“Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam” (Zakharia 12:10).

“Dan apabila ada orang bertanya kepadanya: Bekas luka apakah yang ada pada badanmu ini?, lalu ia akan menjawab: Itulah luka yang kudapat di rumah sahabat-sahabatku!” (Zakharia 13:6).

Tiga ayat ini, dalam Zakharia 12:10, Zakharia 13:6, dan Mazmur 22:16, semuanya menunjukkan bahwa tangan dan kaki sang Juruselamat harus ditusuk. Jika Yesus telah mati di Getsemani Ia tidak akan mati “sesuai dengan Kitab Suci.” Ia tidak akan menggenapi nubuatan Juruselamat.

Lihatlah ayat empat belas dan lima belas.

“Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku” (Mazmur 22:14-15).

Scofield mengomentari demikian,

Mazmur 22 adalah gambaran tentang kematian melalui penyaliban. Tulang-tulang (tangan, lengan, bahu, panggul) terlepas (ayat 14); peluh yang begitu dahsyatnya disebabkan oleh penderitaan yang luar biasa (ayat 14); hati-Nya hancur (ayat 14); kekuatan-Nya kering, dan rasa hasus yang luar biasa (ayat 15); tangan dan kaki-Nya tertusuk (ayat 16); ditelanjangi dengan tubuh yang penuh luka (ayat 17), itu semua adalah cara kematian-Nya. Semua gambaran tersebut digenapi persis seperti itu dalam penyaliban Kristus… Ketika kita diingatkan bahwa penyaliban adalah bentuk cara eksekusi mati yang diterapkan oleh orang Romawi, dan bukan Yahudi, ini menjadi bukti inspirasi yang tidak dapat ditolak (The Scofield Study Bible, note on Psalm 22).

Namun, satu lagi, lihat Mazmur 22:1.

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Ini adalah perkataan-perkataan persis seperti yang Kristus ucapkan di kayu Salib (Matius 27:46). Dan, kemudian, lihatlah ayat delapan belas.

“Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku” (Mazmur 22:18).

“Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya…dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu” (Yohanes 19:23-24).

Jika Kristus telah mati di Getsemani, prajurit-prajurit Romawi tidak akan mengundi jubah-Nya di bawah kaki Salib itu, dan Kristus tidak akan mati “sesuai dengan Kitab Suci.”

Ini hanyalah beberapa nubuatan Kitab Suci Perjanjian Lama yang digenapi secara literal ketika Kristus disalibkan – dari Yesaya, Zakharia, dan Daud, dalam Mazmur 22. Kristus menggenapi semua nubuatn ini dalam detik-detik terakhir ketika Ia disalibkan. Jika Ia telah mati di Getsemani, di bawah beban dosa-dosa kita, maka tak satupun nubuatan ini yang akan digenapi – dan Kristus akan menjadi seorang penipu yang lihay, bukan Juruselamat umat manusia yang pernah dinubuatkan! Karena jika demikian Kristus tidak akan “mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus 15:3).

Tidak heran Ia berdoa di Getsemani demikian,

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Matius 26:39).

Di Getsemani, Ia

“telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut” (Ibrani 5:7).

Dan Allah mendengar doa Yesus, dan memberikan kekuatan kepada-Nya di sana di Taman itu, karena pencobaan berat itu harus Ia pikul sampai hari berikutnya untuk menebus dosa-dosa kita “sesuai dengan Kitab Suci” – di atas kayu Salib.

Saya ingin menggambarkan tiga pelajaran singkat untuk menutup khotbah ini. Pertama, anda dapat percaya Alkitab. Penggenapan setiap detail nubuatan Perjanjian Lama berhubungan dengan penyaliban Kristus adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa Alkitab dapat dipercaya – benar-benar Firman Allah. Jangan pernah meragukan apa yang anda baca di dalam Alkitab. Kamis yang lalu adalah hari ulang tahunnya Lincoln. Abraham Lincoln pernah berkata,

Saya percaya Alkitab adalah pemberian Allah yang terbaik yang telah diberikan kepada manusia. Ambil semua darinya menjadi sandaran akal, dan jadikan sandaran iman, dan kamu akan hidup dan mati sebagai manusia yang lebih baik.

Pelajaran kedua yang kita pelajari dari Getsemani adalah perlunya “doa yang lama” Yesus berdoa selama tiga periode, sepanjang malam, sampai jawaban itu datang, dan Allah membuat cawan pahit itu berlalu – sehingga Ia dapat pergi ke kayu Salib. Kadang-kadang kita harus berdoa dalam waktu yang cukup lama sebelum jawaban dari doa itu datang. Ini membuat jawabannya bahkan lebih manis ketika Allah mengabulkannya, setelah “Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia” (Ibrani 5:7).

Namun pelajaran yang ketiga dan yang paling penting adalah betapa luar biasanya penderitaan Kristus untuk membayar dosa-dosa kita.

“Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihanku yang ditimpakan TUHAN kepadaku, untuk membuat aku merana tatkala murka-Nya menyala-nyala!” (Ratapan 1:12).

“Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihanku.”

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Pandanglah penderitaan Anak Allah
Rintihan, erangan, peluh darah!
Kasih Allah yang tak terhingga
Yesus, kasih yang engkau miliki!
   (“Thine Unknown Sufferings” by Joseph Hart, 1712-1768).

Sungguhkah Yesus t’lah mati, darah-Nya pun tumpah?
   Sungguhkah bagi yang keji, tersiksa Sang Raja?
Sungguhkah karena dosaku, tersalib Almasih?
   Betapa agung dan penuh rahmat-Nya tak terp’ri.

Tak heran pudar sang surya dan bumipun kelam
   Di saat mati Khaliknya, mengganti yang kejam;
Sungguh besar derita-Mu, tak mampu ku balas,
   Kub’rikan hidupku penuh dengan tulus ikhlas.
(“Alas, And Did My Saviour Bleed?” by Isaac Watts, 1674-1748/
      terjemahan Nanyian Pujian, no. 68).

Lihatlah ke dalam hati dan hidup anda. Pikirkanlah tentang dosa-dosa yang telah anda perbuat, tercatat dalam “buku-buku” Allah (Wahyu 20:12).

Kristus telah membayar hutang dosa-dosa kita di kayu Salib. Darah-Nya adalah satu-satunya yang dapat menghapus dosa anda dari catatan Allah. Maukah anda datang kepada Kristus? Maukah anda disucikan dari dosa oleh Darah-Nya? Maukah anda masuk ke dalam Kristus?

Kami akan senang berbicara dengan anda tentang kerinduan anda agar dosa-dosa anda disucikan oleh Darah Kristus. Ketika kita menyanyikan bait terakhir dari lagu nomer 7, silahkan melangkah ke ruangan belakang. Dr. Cagan akan memimpin anda ke ruang pemeriksaan, di mana kita dapat membicarakan semua ini.

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khobah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik on "Sermon Manuscripts."

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @
http://www.sttip.com

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Lukas 22:39-45.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Thine Unknown Sufferings” (by Joseph Hart, 1712-1768).